Cerma Azizah Azzahra Jaenuri (Kedaulatan Rakyat, 04 Maret 2022)
ANGIN yang bertiup malam ini ikut menyibakkan jilbab seorang gadis yang sedang berjalan di gang kecil di sudut kota. Wajah gadis itu terlihat sumringah sekali, ia pulang dengan membawa seamplop uang yang diberikan panitia di acara pengajian karena menjadi qori’ah tadi.
Langkah kakinya akhirnya berhenti di sebuah rumah sederhana. Ia mengetuk pintu pelan.
“Assalamu ‘alaikum?” selang beberapa detik pintu itu terbuka, menampakkan anak laki-laki berusia 10 tahun.
“Wa ‘alaikum salam,” jawabnya.
“Ibu mana, Han?” tanya gadis itu sembari masuk rumah dan menutup pintu.
“Ibu jam segini mana udah pulang, Mbak? Pasti masih dikerubungi sama….”
“Huss! Nggak boleh ngomong aneh-aneh, Farhan,” potong gadis itu menghentikkan ucapan adiknya.
Farhan berdecak sebal. Dia hanya berkata jujur.
“Farhan, alhamdulillah Mbak dapet rezeki, nihh. Kamu pengen apa?” ujar gadis itu sambil memperlihatkan amplop coklat, mencoba menghibur adiknya.
“Farhan pengen sepatu baru, Mbak. Temen-temen di sekolah sepatunya bagus bagus. Farhan sendiri deh kayaknya yang sepatunya mangap.”
Gadis itu tertawa kecil, “Iya, oke. Besok yaa kita ke toko sepatu.”
Farhan loncat kegirangan, “Yes! Sepatu baru!”
DUG! DUG! DUG!
Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu. Gadis tadi segera bangkit dan membukakan pintu meninggalkan Farhan yang semula ceria mendadak wajahnya masam. Farhan tahu siapa yang ada di balik pintu.
“Ibu?” Gadis itu membuka pintu, seorang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok dan baju sedikit lusuh masuk tanpa menggubris anak gadisnya.
Wanita paruh baya itu sempoyongan berjalan menuju kamar, bau alkohol dan asap rokok melekat di tubuhnya. Gadis tadi berjalan menyusul ibunya.
“Bu… Ibu. Fatimah tadi dikasih uang sama panitia pengajian, katanya suara qiro’-nya Fatimah bagus.” Ucap gadis itu pada sang Ibu.
Sang Ibu tersenyum miring, “Ya… ya… ya… Fatimah. Apa uangnya sebanyak uang yang ibu dapat? Enggakkan?” lantas wanita itu membanting pintu kamarnya, menyisakan gadis bernama Fatimah itu meneteskan air mata.
Farhan mendekat, memeluk kakaknya. Mereka menatap pintu kamar Ibu mereka dengan sendu. Ah, seandainya Bapak masih ada di sini.
***
Pagi cerah di hari Minggu. Fatimah dan Farhan sudah berada di toko sepatu, sibuk mencoba berbagai model sepatu yang akan Farhan pilih. Seorang pria tiba tiba mendekati Fatimah dan Farhan.
“Eh, kalian anaknya Damayanti, kan?”
Fatimah dan Farhan terdiam, saling menatap. Siapa pria ini? Kenapa dia mengenal Ibunya, pun dengan mereka?”
“Iya, Pak. Ada apa, ya?” tanya Fatimah sopan.
Pria itu tertawa pelan, seperti tak menyangka.
“Kamu yang sering qiro’ di acara pengajian itu, kan?” tanyanya lagi.
Fatimah mengangguk.
“Ya… Bapak harap kamu tidak seperti ibumu, Nak. Ya, benar. Seandainya Suheri, bapakmu masih hidup. Mungkin Ibumu tidak akan menjadi wanita malam seperti sekarang.” Pria itu terdiam sebentar, “Eh, kalian mau beli sepatu?”
Fatimah tersenyum kecut mengiyakan.
“Ha… biar Bapak yang bayar, eh sekalian kamu juga pilih sepatu sana. Ya … itung itung sebagai balas budi teman bapakmu dulu aku, Nak.” ujar pria itu.
Fatimah dan Farhan tersenyum. “Terimakasih, Pak.”
Teman lama Bapak mereka tersenyum, “Kasihan sekali anak-anakmu, Suheri.” Dalam batin pria itu menyayangkan takdir dua yatim itu.
***
Fatimah dan Farhan pulang ke rumah dengan rasa bahagia, apalagi bertemu dengan Om Deni, teman lama sang Bapak yang tadi selain membelikan sepatu juga mentraktir makan bakso bersama.
“Bu… Ibu…,” panggil kedua anak itu.
Sang lbu yang sedang menonton TV menjawab malas panggilan kedua anaknya.
“Apa?”
Fatimah dan Farhan mendekati Ibunya sambil menunjukkan beberapa kantong belanjaan.
“Ibu, tadi aku habis dibelikan sepatu, terus ditraktir bakso sama Om Deni temennya Bapak. Mbak Fatimah juga ditraktir. Ya kan, Mbak?” ucap Farhan antusias.
Fatimah mengangguk, “Iya, Bu. Om Deni baik banget. Jadi keinget bapak dulu sering ngajak kita jalan-jalan trus makan bakso. Ibu inget enggak?”
Damayanti terdiam mendengar celoteh anak-anaknya. Di balik hatinya, ia merasa sangat kesepian selama ini, perasaaan bersalah kepada kedua anaknya ia sadari. Selama ini, sejak suaminya meninggal, ia hanya melampiaskan keinginannya sendiri dan mengabaikan anak-anaknya. Ia yang selama ini tidak peduli dengan bakat qiro’ yang dimiliki Fatimah dan juga Farhan yang butuh bimbingan orang tua.
Damayanti melalaikan kewajibannya. Semua ini harus ia perbaiki.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Damayanti masuk ke kamarnya.
Fatimah dan Farhan saling pandang. “Apa ibu marah ya, Mbak?” tanya Farhan.
Fatimah hanya menggeleng sambil mengangkat bahu.
***
Keesokan harinya saat Fatimah dan Farhan pulang dari sekolah. Mereka mendapati rumahnya sepi. Ibunya tidak ada di rumah.
Farhan mendengus kesal. “Tuh kan, Ibu pergi lagi. Pasti ke tempat itu lagi ketemu sama….” gerutu Farhan.
“Huss… nggak boleh su’udzon. Siapa tau Ibu lagi ke pasar.” jawab Fatimah.
Lama menunggu, namun sang Ibu tak kunjung pulang hingga matahari mulai bergerak ke barat. Azan ashar pun sudah berkumandang dua jam yang lalu.
Saat Fatimah hendak menutup pintu rumah, tak sengaja matanya menangkap sosok wanita berkerudung dan baju panjang berjalan di gang rumahnya. Ia terpaku sesaat. Wanita itu kini berjalan mendekatinya.
“Ibu? Ibu dari mana? Kok pakai baju tertutup gini? Eh, Ibu keliatan lebih cantik pakai jilbab.” ujar Fatimah jujur. Terkesima melihat tampilan Ibunya yang berbeda dari biasanya.
Damayanti tersenyum hangat, “Iya, Nak. Ibu tadi siang dari pengajian, sekalian nganterin titipan kue ke tokonya Bu Sulis. Maaf ya Ibu pulang kesorean,” katanya.
Fatimah dan Farhan hanya saling berpandangan dengan senyum mengembang, bahagia. ***
.
.
Azizah Azzahra Jaenuri. Siswi MA Al Ma’had An-Nur Bantul.
.
.
MAKLUMAT!
AYO kirim karyamu di Rubrik KACA-Kedaulatan Rakyat, edisi Jumat untuk siswa-siswi SLTP-SLTA. Kiriman naskah bisa berupa: Opini tema aktual, Siswa Bicara, puisi – Parade Karya, cerita remaja, profil siswa-siswi berprestasi.
- Cantumkan identitas diri, nama penulis, sekolah, kontak HP/WA, email, nomor rekening.
- Materi tulisan – foto di file sendiri-sendiri. Naskah yang dimuat ada honorarium.
- Materi dikirim ke email: jayadi.kastari@gmail.com.
Terima kasih. (Redaksi KACA-KR)
.
.