Cerpen Ranang Aji Sp (Kedaulatan Rakyat, 04 Maret 2022)
SETELAH selesai mandi, Jahuri segera mengemasi barangnya untuk menemui teman-temannya. Tapi, dia termangu cukup lama di depan meja kayu hitamnya ketika tak menemukan sebatang rokok pun di bungkusnya. Tentu saja ini membuatnya tak nyaman. Karena pertemuannya dengan teman-teman miskinnya pasti membutuhkan waktu lama, dan itu artinya membutuhkan rokok. Apalagi itu soal jalan keluar dari kemiskinan, harus banyak asap. Pikirannya agak berkabut, dan dia mulai ragu untuk pergi.
Karena masih gamang dan penasaran, tangannya mencoba merogoh setiap saku baju dan celananya. Dia mengeluarkan semua isinya, dan hanya menemukan uang kertas dua ribuan sepuluh lembar, uang receh lima ratusan berjumlah enam koin, korek gas warna merah tua, dan batang korek yang ujungnya penyet dengan ujung menghitam karena sering digigit, dan kena debu kantongnya.
Semua kekayaannya itu dia hitung secara hati-hati. Semuanya bernilai empat kali naik angkot, dan dua batang rokok eceran. Korek gas dan batang korek tak dihitung sebagai kekayaan untuk sementara. Wajahnya kecewa. Setelah itu dia duduk di kursi dan mencoba mempertimbangkan untuk pergi, atau membeli rokok.
Pikirannya mulai menghitung-hitung, tapi hatinya mempertimbangkan lain. Dan begitulah, akhirnya Jahuri memutuskan membeli empat batang rokok kretek. Setidaknya dia punya modal untuk memulai, sebelum akhirnya merepotkan rokok temannya.
***
Teman-teman Jahuri, semuanya hampir sama keadaannya. Punya masalah keuangan akut sepanjang tahun-tahun yang kering, dan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. Setidaknya, keadaannya itu sudah berlangsung selama sepuluh tahun jika dihitung dari usia mandirinya. Mereka tak pernah menemukan jawaban mengapa itu menimpa mereka—kecuali mereka memang pengangguran.
Ketika Jahuri sampai di rumah Andi yang sempit, dan hanya berisi dua kursi tua, di sana sudah duduk di karpet lusuh berdebu warna biru kemerahan; Madan dan Nano. Jahuri meminta teman-temannya berkumpul untuk membahas nasib mereka. Dia punya gagasan untuk memecahkan masalah nasib buruk mereka, dan artinya itu keuangan. Katanya, mereka bisa meminta bantuan seorang kiai yang dia dengar mampu membuat mereka kaya.
“Uang balik,” Jahuri menyebutnya.
“Apa itu?” tanya Nano.
“Kiai itu bisa memberikan uang seratus ribu, setiap kali kita belanjakan akan balik lagi.”
“Wah, bagus itu, tapi syaratnya apa?” Andi kini bertanya setelah selesai menyuguhkan kopi.
“Semua ada syaratnya, tapi nanti kita bisa dengar langsung dari kiai,” jawab Jahuri.
“Pasti berat syaratnya,” Madan menyela pesimis. “Tapi tak masalah, boleh itu,” Madan mengoreksi tanggapannya.
Jahuri tertawa mendengarnya. Dia meraih gelas kopinya, sambil berkata, “Lebih berat kalau masuk penjara karena gagal merampok.”
Madan meraih bungkus rokoknya dan disela Jahuri yang meminta sebatang. Madan melemparkan sebatang rokok yang diminta dan bertanya, “Tempatnya di mana itu?”
“Tuban,” jawab Jahuri sembari menyalakan rokoknya.
“Jauh sekali,” keluh Andi.
“Nanti di sana kita diberi doa-doanya untuk dibaca. Tapi syarat lain, kita harus menebus maharnya,” Jahuri menjelaskan. Matanya menatap Andi.
“Berapa?”
“Lima juta untuk seratus ribu, dua setengah juta untuk lima puluh ribu, dan sejuta untuk dua puluh ribu.”
Informasi terakhir ini membuat ruangan kecil itu sepi. Mereka kecewa. Jahuri mencoba menjelaskan fungsi dan manfaatnya bagi mereka. Katanya setiap jumlah mahar menentukan berapa nilai balik yang akan diberikan. Jahuri menghitung, bila lancar, meskipun mereka hanya bisa mengambil nilai terkecil, yaitu dua puluh ribu, dalam setahun saja, mereka bisa kaya. Tapi, meskipun hitungan itu masuk akal, tapi tetap tak mampu membuat mereka senang.
“Uang dari mana aku,” kata Andi sambil tertawa.
“Mungkin patungan,” usul Jahuri. Meskipun dirinya juga tidak yakin bisa mendapatkan uang untuk patungan.
“Bagaimana?”
Usulan itu pun tak ada yang menanggapi. Semuanya diam. Dan rokok tinggal sebatang. Ayam berkokok di luar. Lalu, terdengar suara Madan meberikan usulan lain. Katanya, kita cari yang mudah saja. Tapi, sepertinya tetap saja tak ada yang mudah. Madan mengusulkan menemui Nyai Blorong. ***
.
.
*) Ranang Aji SP, menulis fiksi dan esai. Tinggal di Magelang.
.
.