Ayah Tetap Kusayang

Cerpen Tyas W (Republika, 10 April 2022)

AYAHKU yang kekar terbaring di ranjang pesakitan. Jarum infus tertancap di lengan kirinya. Wajahnya pucat. Matanya sembap. Terpejam lemah tak berdaya. Detik bunyi elektrokardiografi terdengar nyaring mengisi ruangan steril bernama ICU. Tak satu pun pengunjung boleh masuk kecuali petugas. Sekiranya dua minggu, ayah mendekam di sana akibat asma akut yang diderita. Kondisinya drop, suhu tubuhnya panas, dan napas tersengal-sengal. Ayah harus menjalani operasi di saluran paru-parunya.

Ayahku anak tunggal. Ayah kecil anak yang patuh. Nurutnya minta ampun. Ia lahir dari keluarga sederhana yang menghidupi diri dari berdagang. Kepada orang tua, ayah tak berani membangkang. Sama sekali tidak pernah mengelak. Saking hormatnya, ayah selalu merendahkan tubuh jika mencium tangan orang tuanya.

“Cong, bantu Emak angkat tahu!” suara nenek membawa ayahku bangkit dari tempat duduknya yang saat itu menunggu di dekat ibu-ibu penjual bawang di pasar. Setiap pagi, nenek memang ke pasar. Belanja sayur, ikan, dan tahu untuk dijual lagi di teras rumah. Ayahku diajak serta ke pasar untuk mengangkat tahu putih seember penuh.

Ember biru yang warnanya sudah pudar itu tampaknya bocor. Tetesannya merembet di pundak ayah. Membasahi kaus putihnya yang sudah kusam. Kalau lelah membawanya dengan tangan, ember itu dipanggul di atas pundak. Meski begitu, ayah remaja tak pernah menggerutu. Justru, nenek yang iba melihat tetesan tahu itu membasahi sandang anaknya.

Saat malam, nenek bertandang di dapur. Selain dijual mentah, tahu putih itu digoreng menjadi tahu asin dengan minyak goreng sewajan penuh. Langganan nenek banyak, mulai pengasong hingga kaki lima mengambil tahu untuk dijual di stasiun, warung, dan pasar. Ayah pun begadang sampai subuh membantu nenek menggoreng tahu.

Sama halnya dengan nenek, kakek lebih peka menanamkan tanggung jawab kepada ayah. Ia sangat waspada terhadap pergaulan anak laki-lakinya.

“Cong, sedang apa nongkrong di situ?” kata kakekku saat mendapati ayahku duduk bercengkerama di pos ronda setelah mengantar tahu asin. Lantaran ayah terlambat bergerak, kakek mengulangi lagi perintahnya. Lalu, ayah pun mengekor kakek pulang.

Begitulah cara kakek dan nenek mendidik ayah. Berteman boleh, tapi semacam punya naluri agar tidak terjebak dalam pergaulan yang bisa menyesatkan. Kakek selalu berdalih, tapi dalihnya berisi petuah. Ayah pun tampaknya menjadi berpikir lebih matang. Alih-alih nongkrong di warkop melihat orang membanting kartu remi sembari ngopi dan menyedot rokok dalam-dalam, ayah lebih baik tidur di rumah.

Ayah termasuk orang dengan tekad kuat. Di antara teman-teman sebayanya yang lebih suka main daripada sekolah, ayah ingin tetap meneruskan pendidikan. Meski hanya sebuah buku yang diselipkan di kantong celana, ayah tetap berangkat. Ketekunan itu membuat ayah berhasil menyelesaikan pendidikan hingga ke bangku kuliah dengan jerih payah kakek dan nenek selama berdagang.

Masa depan ayah kini lebih baik. Selama puluhan tahun ayah bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik. Ayah tidak suka berfoya-foya, gajinya teralokasikan dengan baik, terlebih untuk pendidikan anaknya.

Kata ayah, pendidikan itu penting karena bisa mengangkat derajat manusia. Ayah menerapkan di siplin kepada kedua anaknya seperti halnya yang diajarkan nenek dan kakek kepadanya. Bedanya, kedisiplinan kakek lebih keras daripada kedisiplinan ayah. Kakek berani memukul anaknya jika ayah melenceng. Tapi ayah tak pernah sekalipun memukul anak-anaknya. Kemarahan ayah hanya dilampiaskan kepada ibu dengan omelannya yang membelah angkasa.

Aku dan adikku lebih memilih diam di hadapan ayah, kecuali jika sebuah pertanyaan tertuju kepada kami. Aku pun menjawab seperlunya. Tidak berani bertele-tele, apalagi membantah. Seperti ayah kepada kakek.

Keluargaku sebenarnya bisa dikatakan tidak demokratis. Ketakutanku kepada ayah sangat besar. Apa-apa yang kulakukan khawatir membuat ayah marah. Aku tak suka omelannya. Aku juga tidak sependapat jika ayah menyasar emosinya kepada ibu.

Di keluarga ini, ayah adalah pengambil keputusan mutlak. Jika tak sejalan dengan pemikirannya, pendapatku tidak berlaku. Aku dan adikku jadi serbasalah di mata ayah. Sederhananya, sistem kekang-mengekang masih berlaku.

Tapi menariknya, kami selalu mampu mengalah dan menerima dengan lapang setiap keputusan ayah. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada celaan. Hanya berimbas kepada karakter diri kami yang cenderung tertutup.

Jangankan aku sebagai anaknya, ibu pun sangat patuh kepada ayah yang bak majikan. Masih kuingat kisah ini dari ibu. Kisah sepuluh menit. Aku tahu betul aktivitas ibu sedari subuh. Ibu bangun tidur di pagi buta dan langsung ke dapur kesayangannya.

Setelah menyiapkan sarapan, ibu bergegas menyapu lantai. Ayah tidak suka rumah berantakan. Padahal, sebanyak tiga gelas berisi masing-masing air putih, air susu, air madu, dan sepiring kue jamuan selalu terserak satu meja khusus untuk ayah. Alamak! Tak terbayang perabotan pecah belah yang menanti untuk dicuci.

Oi! Tugas ibu tidak berhenti sampai di situ, ia bertandang ke pasar untuk persiapan memasak makan siang. Tak henti-hentinya aktivitas ibu di dapur karena makanan harus tersaji tiga kali sehari dengan menu yang berbeda.

Sepuluh menit kemudian, hanya sepuluh menit selepas ibu belanja, ayah sudah mencari ibu ingin disiapkan makanan ringan. Tak hanya itu, untuk segelas air putih yang habis di meja, ayah pun meminta ibu untuk menuangkannya. Sabarnya, ibu tidak pernah mempermasalahkannya. Ia sudah kebal.

Ibu melanjutkan memasak untuk makan siang. Lantaran banyak bahan yang disiapkan, alhasil masakan disajikan sepuluh menit lebih lama dari jadwal yang biasanya. Sontak, aku kaget mendengar gumam ayah mengomel. Ayah merasa ibu tak peduli dengan keadaannya yang sedang sakit dan menunggu makan siang terlalu lama. Dahsyat. Ini sangat keterlaluan, batinku.

Kebiasaan menggerutu kepada ibu adalah hal yang sejak awal pernikahan dilakukan ayah. Aku tahu karena ibu menceritakan rasa sakit batinnya ketika aku beranjak dewasa. Ayahku seorang yang penyayang, tetapi dengan khas caranya yang keras, tegas, dan disiplin. Rasanya aku paham sekali. Ibu benci watak keras ayah. Namun, ia bertahan. Kuakui kesabaran ibu begitu luar biasa. Aku yakin pahala terus mengalir untuk seorang istri yang sangat taat kepada suami seperti ibuku.

Sejatinya, ayah adalah ayah terbaik yang kumiliki. Ada kebanggaan tersendiri untuk ayah yang super. Rasanya aku tak pantas jika menyakiti hati ayah. Aku mengerti begitu protektifnya ayah tak lain hanya karena ingin menjaga keluarganya. Hanya ia laki-laki di keluarga yang bertanggung jawab menyokong kehidupan istri beserta kedua putrinya. Tanggung jawabnya yang penuh kesungguhan membuatku selalu menaruh hormat kepadanya.

Ayah bekerja siang malam tak kenal lelah. Ia selalu terperinci. Ia bahkan telah membagi hartanya untuk kami agar kelak kehidupan kami tidak sesusah dirinya di masa kecil. Ayah selalu berpetuah. Nasihat ayah begitu dalam. Selalu penuh makna kehidupan.

Terkadang aku hanya bisa menangis dalam diam jika ada ganjalan. Mengapa untuk berkata sekecap saja demi sebuah kebaikan tak berani kulakukan? Sekali-kali muncul kekhawatiran akan menyinggung batin ayah. Tak pantas rasanya bagi seorang anak yang telah dibesarkan hingga lulus sarjana menyakiti hati orang tuanya.

Ah, itu ayahku. Kini, kondisi ayah yang makin menua dengan penyakit asma mengisahkan kesedihan mendalam. Ayah segera engkau sembuh. Doa-doa tulus selalu terlont ar dari mulutku saat ayah hanya bisa kulihat dari balik jendela kaca. Sebegitu ayah adalah ayah yang menakutkan dalam pengasuhan, tapi aku tetap sayang. Ya. Aku sangat menyayangi ayahku yang luar biasa.

“Silakan satu pengunjung boleh masuk ICU,” kata dokter kemudian.

Ibu menyilakanku yang lama tak bertemu ayah. Sekitar satu tahun. Sejak aku mengabdi sebagai pegawai negeri di luar Jawa.

Detik ini aku datang. Aku pun tak menyiakan kesempatan. Hatiku berdesir. Bau morfin dan obat-obatan menyeruak. Ruangan kecil yang steril ini benar-benar dingin. Hanya ada empat dipan pasien. Ketiga dipan kosong. Ayahku sendirian.

Ia membuka matanya samar dengan hidung dan tubuh penuh suntikan selang. Aku tidak tega. Napasnya terengah-engah. Tangannya masih lemah di kedua sisi dipan. Rasa nyeri menjalar sekujur tubuhku. Air mataku bergulir. Begitu pula ujung mata ayah yang basah.

“Ayah segera sembuh.” Lirihku meraba ragu jemarinya.

Aku menepis ketakutan. Kepalaku kini mendekati kening ayah. Baru kali ini aku berani memeluk ayah, meski bukan pelukan sempurna.

“Sabar.” Suara parau ayah tidak asing ditelingaku. Bisikannya tepat di atas gendang telingaku. Aku menoleh perlahan. Dan kini keningku hanya berjarak sekitar dua senti saja dari kening ayah. Sangat dekat. Mata ayah bergerak lembut menangkap cepat mataku yang masih berusaha menangkap sosok mata elang di hadapanku.

“Maafkan ayah.”

Aku menolak kalimat ayah. Ayah tidak bersalah. Ayah tidak pernah salah. Selama ini ayah berjuang demi anak dan istrinya. Rasanya tidak pantas jika ayah meminta maaf kepadaku. Melainkan akulah yang harus meminta maaf dan berterima kasih kepadanya. Ayah telah menggembleng mentalku sehingga menggapai karierku.

“Ayah pasti akan sembuh,” kataku.

Ayahku mulai tersenyum. Wajah teduh dan keriputnya menjadi tergambar jelas. Matanya kini memejam. Air mata menetes dari ujung matanya yang basah. Kurasakan suhu tubuhnya masih panas. Sepertinya ayah ingin beristirahat. Dokter bilang, aku tidak boleh terlalu banyak mengajak ayah berbicara. Aku lega. Ayah terlelap dalam senyumnya.

Namun, aku tersentak. Bunyi elektrokardiografi yang terdengar nyaring seketika melengking. ***

.

.

Catatan:

Cong – sebutan Madura untuk anak lelaki.

.

.

Tyas W, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Tergabung sebagai anggota Forum Lingkar Pena Sidoarjo.

.

Ayah Tetap Kusayang. Ayah Tetap Kusayang . Ayah Tetap Kusayang . Ayah Tetap Kusayang . Ayah Tetap Kusayang . 

Arsip Cerpen di Indonesia