Cerpen Asqo L Fatir (Koran Tempo, 10 April 2022)
Cerita 1
Alkisah, di sebuah pulau yang masih hijau, tinggallah seorang bocah yang memulai cerita pendek ini dengan permainan petak umpet. Di balik pohon yang tumbuh di bantaran sungai, bocah itu terus menghitung maju, sementara teman-temannya bersembunyi. Lalu bocah itu merasa tubuhnya tiba-tiba berguncang setelah hitungan kesepuluh. Karena penasaran, ia kembali menyentuh pohon yang bereaksi itu dan menempelkan satu daun telinganya. Namun, sebelum ia mendengar lebih jelas teriakan seseorang meminta tolong, seutas akar melilit dan menggantung tubuh bocah itu ke atas—serupa dengan kepompong.
Cerita 2
Dengan penuh rasa takut dan penasaran, seorang remaja perempuan berumur belasan tahun perlahan membuka rok abu-abunya yang masih melekat. Inilah saat yang tepat bagi mereka untuk bercinta. Jalanan begitu sepi dan pandangan tertutup pohon besar. Situs sejarah berupa reruntuhan itu siangnya selalu ramai dikunjungi. Namun, setelah tiba malam hari, dengan penerangan yang sangat minim, lokasi itu menjadi tempat mojok remaja yang bolos sekolah dengan pacarnya. Pasangan itu laki-laki dan perempuan. Setelah dua tahun, mereka akhirnya memberanikan diri menuntaskan nafsu. Namun, saat kekasihnya mulai berbaring di rerumputan, pohon di depannya tiba-tiba merunduk dan ribuan kunang-kunang bertebaran di udara.
Cerita 3
Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki berjalan memanggul segulung tikar. Geraknya sempoyongan dan kepalanya terasa sangat berat. Matahari mulai tinggi dan ia memutuskan bersandar di sebuah pohon di pinggir jalan. Sekilas dilihatnya rerimbun daun yang diselipi cahaya, dan seperti wahyu, di kepalanya tiba-tiba tebersit sesuatu. Laki-laki itu membuat sebuah kotak berlubang dari kardus dan memaku sebuah tulisan “Pohon Keramat”. Tidak selang berapa lama, orang-orang yang lewat kemudian berdoa dan meletakkan uang ke dalam kotak. Siasat laki-laki pengangguran itu rupanya menuai hasil. Ia pun menyambung nyawa dari pemberian orang-orang yang tertipu. Namun, pada suatu hari, laki-laki itu terlelap. Ia bermimpi ditimpa pohon berulang-ulang. Setelah terbangun dengan tubuh kuyup oleh keringat, ia tak lagi melihat pohon menjulang di depannya. Pohon itu seperti memiliki kaki dan pergi dari tempatnya berdiri.
Cerita 4
Laki-laki plontos itu mempercayai dukunnya yang mengatakan bahwa kejayaannya belum berakhir. Ia seorang mantan kepala desa yang senang berjudi di tempat pemancingan. Tapi malam itu rupanya bukan malam terbaiknya. Sejumlah uang yang tak sedikit ia pertaruhkan telah kandas. Namun rasa penasaran terus menggelitik hatinya untuk terus maju. Sedangkan laki-laki itu tak lagi punya harta untuk dipertaruhkan. Pikirannya buntu dan dengan gegabah mempertaruhkan anak semata wayangnya yang jelita. “Jika kau dapat ikan lebih besar dariku, ambil saja anakku. Aku tidak akan mempertaruhkannya kalau aku tidak percaya diri. Kau tahu bagaimana putriku begitu aku jaga. Tapi kalau kau kalah, aku ambil kebunmu yang 2 hektare itu.” Lawan yang ia tantang hanya menunjukkan senyum kecut. Setelah itu, seekor kunang-kunang terbang di atasnya.
Cerita 5
Seorang pemburu kroto menemukan pohon aneh di tengah hutan. Awalnya ia mengira hanya pohon dengan sarang semut besar yang menggantung, sampai ia menusukkan galah yang biasa dipakai menyengget kroto dan mendengar suara mengerikan di dalamnya. Lalu sesuatu yang terbungkus itu lamat-lamat meneteskan sebuah cairan merah. Darah! Ia merasa ngeri dan melaporkan apa yang terjadi kepada kepala desa yang baru dilantik sebulan lalu. Ia sangat yakin akan rintihan yang sampai ke gendang telinganya. Pemburu kroto itu kemudian datang dengan beberapa orang. Kepompong itu diturunkan, lalu dibelah di tanah. Namun kepompong itu kosong, hanya ada cahaya putih dahsyat yang menidurkan siapa pun yang melihatnya.
Cerita 6
Seorang dukun yang mendengar kabar tentang pohon aneh itu datang melihat-lihat. Sejujurnya, ia berupaya meningkatkan kesaktian dengan menggegel batangnya. Bukan buahnya! Sudah lama dukun berjenggot lebat itu mencari pohon kunang-kunang yang tertulis dalam buku mantra yang hilang. Namun, seolah dipagari sesuatu, mata dukun itu tak pernah bisa melihat keberadaannya, bahkan dengan bantuan jin sekalipun. “Haaahh! Tak bisa! Pohon kunang-kunang tak mau meredup. Semakin dicari, ia semakin menyatu dengan cahaya. Dulu memang pernah ada bocah yang bermain petak umpet mendapatinya sebagai pohon biasa. Tapi itu dulu dan tentu pohon kunang-kunang yang memilihnya.”
Cerita 7
Pemuda itu sudah berniat menikahi kekasihnya. Keduanya saling cinta. Namun orang tua kekasihnya bersitegang menggagalkan pernikahan karena perjudian di tempat pemancingan. Selain pemuda itu menanggung malu keluarga karena undangan sudah disebar, hatinya remuk mengingat kekasihnya berinai untuk orang lain. Ia melempar batu jalan dengan penuh amarah. Setelah melewati sebuah pohon keramat, pemuda itu mampir. Pandangannya kosong. Semakin membara amarahnya, daun-daun di pohon itu semakin ribut. Ia mulai merasa pohon itu mengerti perasaannya. Lalu ia mengeluarkan uang pecahan dua ribu dan berdoa.
Cerita 8
Seorang petani baru selesai mencangkul sawahnya. Hujan tiba-tiba turun dari langit sehingga ia mesti berteduh di bawah sebuah pohon, meski istrinya selalu mengingatkan keberadaan pohon kunang-kunang. Petani itu hanya mengangguk tanpa meyakininya sedikit pun. Hujan mulai gerimis dan ia memutuskan gegas beranjak pergi. Namun sesuatu terdengar dari dalam pohon. Awalnya ia merasa hanya suara merpati sampai bulu roma mendadak berdiri, dan tanpa pikir panjang, cangkul yang ia pegang dihantamkan pada batang pohon. Sebuah cairan kental mengenai wajahnya. Ini bukan getah! Petani itu teringat cerita istrinya. Petani itu lantas melarikan diri. Namun sebuah akar panjang melilit dan menggantung tubuhnya. Saat itulah cahaya terang menyatu dengan kilat di langit. Dan ia tertidur entah sampai kapan.
Cerita 9
Dengan brokat hitam, perempuan jelita itu duduk di bantaran sungai merenungi kutukan yang menimpa dirinya. Tubuhnya kini dipenuhi batang pohon. Ia sudah pergi ke beberapa dokter, tapi tak ada yang bisa menghentikan batang-batang itu tumbuh. Dulu ia pernah mencintai seorang laki-laki yang berjanji melamarnya di sebuah situs sejarah. Tapi perempuan itu justru harus menikah dengan pria yang tak pernah ia cintai. Ia sama sekali tak bisa membantah keinginan bapaknya. Perempuan itu hanya bisa menangis ketika suaminya menggauli sambil menyiksa berulang kali. Setiap kali perempuan itu pulang dan mengadu, bapaknya justru menghardik dan menyuruhnya kembali menemui sang suami. Hingga suatu malam, dengan tubuh dipenuhi luka, perempuan itu nekat melarikan diri. Tak ada yang ia bawa dari rumah besar itu selain dirinya. Dengan tubuh lelah, perempuan itu terduduk. Ia melihat seekor kunang-kunang terbang ke sebuah pohon berbuah aneh. Awalnya ia bertanya-tanya pohon apa itu. Namun rasa lapar membuatnya memakan buah itu dan tiba-tiba langsung mengantuk. Setelah terbangun dari tidurnya, perempuan itu terkejut melihat kakinya sudah menempel di tanah dan tubuhnya dipenuhi dahan.
Cerita 10
Seorang anak kecil berusaha menangkap kunang-kunang di halaman rumahnya. Ia sebenarnya sudah mendengar cerita tentang pohon kunang-kunang. Tapi ia terbius oleh serangga api itu. Entah kenapa, setiap kali anak kecil itu melihat kunang-kunang, ia seperti melihat kakaknya yang hilang di bantaran sungai. Bahkan dengan polosnya anak kecil itu mengajak kunang-kunang yang hinggap di lengannya bermain. Ibunya tampak memanggil-manggil anak kecil itu. Tapi kunang-kunang di sekilingnya justru bertambah lebih banyak dan lebih banyak, lalu terbang ke suatu tempat. Anak kecil itu pun perlahan mengikuti kunang-kunang yang terbang ke sebuah hutan dan mengabaikan ibunya.
Cerita 11
Jawara dengan ikat kepala hitam itu mengeraskan suara ketika yang lain hanya bisa saling melempar pandangan. Ia telah yakin akan tekadnya yang membara setelah anaknya tertidur dalam kepompong. Beberapa hari ini, ia mencari informasi tentang pohon kunang-kunang. Ia menemui paranormal, sejarawan, peneliti pohon, serta tetua desa untuk dimintai pendapat dan hanya ada satu hal yang perlu dicoba. Ia mengumpulkan warga dan berkata, “Pohon itu lemah. Ia hanya berdampingan dengan kunang-kunang yang memberinya energi. Kau mengerti maksudku?”
Cerita 12
Tak ada cara selain menebang pohon itu! Anak-anak di desa sudah semakin habis dan koloni kunang-kunang semakin meningkat. Beberapa yang nekat mengampak pohon kunang-kunang selalu berakhir dengan kepompong yang menjadi kunang-kunang. Pohon itu pun menjadi begitu leluasa berkeliaran di desa. Bahkan ada yang memujanya sebagai dewa dan memberikan sesajen. Ketika warga sudah mulai berpikir menerima kutukan yang menimpa desanya, seorang laki-laki berjubah biru tiba-tiba turun dari langit membekukan semua kunang-kunang yang beterbangan di desa. Lalu ia menghunuskan sebuah golok panjang dan menebas pohon itu.
Cerita 13
Dan cerita pendek ini berakhir dengan seorang bocah yang memanjat pohon jambu hingga ranting-rantingnya patah. Bocah itu memetik beberapa buah dan melemparkan ke temannya yang menunggu di bawah. Namun jambu itu gagal ia tangkap dan menggelinding hingga masuk sebuah liang. Tangannya terus mengoreh dan ia mulai merasa telah memegang sesuatu. Sebuah buku lama yang sudah sangat lusuh. Ia membuka lembar demi lembar dan mendapati satu halaman yang sobek. Karena tak mengerti, anak itu melempar begitu saja buku tersebut dan mencari kembali jambu yang jatuh ke liang. Namun ia justru menemukan buah aneh yang terlihat lezat. Anak itu tertarik, kemudian memakan buah itu dan matanya tiba-tiba terasa berat. ***
.
.
Serang, 2022
Asqo L Fatir adalah penulis kelahiran Serang, Banten, 28 Maret 1996. Ia menulis puisi, esai, dan cerpen yang dimuat di media lokal serta nasional. Mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 28 bersama Gol A Gong dan Toto St Radik. Alumni Universitas Banten Jaya.
.