Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Fajar Makassar, 24 April 2022)
UTARI memandang nanar anaknya yang tergolek dalam tidur. Anak yang kulitnya hitam legam terpanggang matahari. Tubuhnya kurus kering, seperti hanya tinggal kulit yang menempel pada tulang. Kulit yang menggelambir karena keriput itu, nampak menua sebelum waktunya.
Sebagai gelandangan, mereka tentu saja makan tergantung dengan apa yang ditemukan hari itu. Jika saja beruntung, maka mereka akan mendapatkan sisa-sisa makanan restoran di ujung jalan. Kalau tidak mujur, jangan harap mendapatkan makan. Sisa-sisa makanan di restoran sekecil itu diperebutkan oleh puluhan gelandangan. Tubuh Utari yang ringkih pasti kalah gesit dengan para gelandangan yang lebih muda, lebih bertenaga, lebih lapar, dan beringas.
Sudah seminggu ini, Galih—anak Utari—tergolek lemah. Badannya panas, wabah demam memang sedang menyerang kota ini. Orang yang makan cukup dan tidur hangat saja bisa terserang demam, apalagi mereka yang makan sedikit dan tidur berteman angin malam. Seminggu ini pula, Utari terus membanting tulang untuk lebih giat mencari sisa-sisa makanan yang tercecer di restoran ujung jalan. Untuk membeli obat, Utari jelas tidak mampu, apalagi membawa anaknya berobat ke dokter. Utari hanya berpikiran, kalau saja Galih makan dengan cukup, pasti demamnya akan sedikit menyusut.
Utari meninggalkan anaknya di sebuah tempat yang mereka sebut rumah. Rumah yang menyendiri karena terletak di sebuah reruntuhan gedung tua yang konon angker. Namun, mereka berdua tidak takut. Mereka berdua lebih takut dengan apa yang disebut angin malam.
“Heh, pergi menjauh! Makanan itu milikku!” teriak Utari mendekati tempat sampah yang juga sudah dikerubungi para gelandangan lain.
“Tidak bisa! Enak saja kamu berkata seperti itu, jelas-jelas kami datang lebih awal!”
“Iya … iya ….” suara kor menyetujui perkataan para gelandangan sebelumnya.
Utari tak menyerah. Jika biasanya ia lantas menjauh ketika sudah kalah cepat dengan gelandangan yang lain. Namun, saat ini jelas ia harus berusaha lebih keras agar Galih bisa makan dan terbebas dari demam.
Tubuh Utari yang ringkih itu kini sudah di antara puluhan gelandangan. Terimpit. Terdesak. Utari terjatuh, tubuhnya terinjak kaki-kaki yang berebut sisa makan siang.
Kaki-kaki itu perlahan beranjak pergi dan Utari yang memar tak kebagian sisa makanan. Dengan menahan sakit, Utari berdiri. Ia ingin memastikan, apakah tempat sampah telah benar-benar kosong. Tubuhnya gemetar. Kini, didapatinya tempat sampah telah bersih dari sisa-sisa makanan, hanya tersisa beberapa sampah plastik.
Tubuhnya yang memar karena terinjak, kini terduduk kembali. Mencoba mengembalikan kekuatan dalam beberapa menit.
“Ini, Mbak.”
Sebuah tangan terjulur. Memberikan kotak berisi nasi. Utari memandang tangan itu—bercahaya.
“Terima kasih,” ucap Utari lemah dan sedikit bergetar.
Pemilik tangan itu pergi tepat saat suara sirine datang mengaung. Itu sirine penertiban. Utari berdiri lalu berusaha berlari sekuat tenaga sebelum tubuhnya berada dalam pelukan sebuah tangan kokoh yang mencengkeramnya kuat-kuat. Tubuhnya meronta. Kotak dalam tangannya terlepas—mengempas tanah. Isinya berhamburan terinjak sepatu PDH petugas penertiban. Mata Utari memerah marah. Berteriak. Meronta seperti orang kesurupan. Hanya satu yang berada dalam pikirannya saat ini—Galih.
Galih masih terbaring lemah di dalam rumah yang bahkan sebenarnya tidak layak disebut gubuk. Demamnya semakin meninggi. Ia terbaring lemah menunggu Utari, yang pagi hari lalu pamit ingin mencarikan makanan untuknya. Namun, semalaman Utari tak kunjung juga kembali. Galih semakin tak kuasa menahan lemas.
***
Seharian ini, bau yang sangat menyengat mengganggu indera penciumanku. Bau menyengat yang tidak enak. Seperti bau bangkai, bangkai tikus mungkin. Terus terang bau ini sedikit menggangguku. Aku beranjak ke teras rumah membaca koran yang belum selesai aku baca tadi pagi.
Ditemukan mayat gelandangan anak-anak tak beridentitas, mayatnya sudah membusuk dikarenakan gubuknya jarang didatangi orang. Diperkirakan gelandangan tersebut meninggal karena kekurangan makan.
Ah, miris memang jika harus membaca hal-hal seperti ini. Masih selalu saja ada masalah kelaparan, kalau saja kita menuruti perintah agama untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, tentu hal seperti ini akan terminimalisir.
Istriku datang. Seperti biasa, ia membawakan secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng.
“Mas, mbok dicari bangkai tikusnya ada di mana, baunya sekarang semakin menjadi-jadi.”
Ah, istriku ini tampaknya tak paham kalau aku sedang berusaha menikmati kopi dan pisang goreng yang baru saja ia sajikan.
“Iya, iya. Akan aku cari.” Aku langsung beranjak dari kursi, lantas menuju sumber bau di dapur.
Aku mencoba mengendus-endus. Sepertinya bau itu berasal dari kolong rak piring yang terletak di dekat kompor. Aku berusaha memindahkan rak tersebut agar lebih mudah mencari bangkai tikus yang mungkin mati terjepit. Rak piring akhirnya bisa kugeser.
Betapa terkejutnya aku, ternyata di bawah rak piring itu ada daging di dalam plastik bening yang sudah membusuk dimakan belatung! ***
.
.
Semarang, Maret 2022
RENI ASIH WIDIYASTUTI kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media. Penulis dapat dihubungi melalui email: reniasih17@gmail.com.
.