Puisi yang Memulihkan Perempuan

Cerpen Yusab Alfa Ziqin (Radar Tuban, 01 Mei 2022)

SEJAK mobil keluarganya mengalami kecelakaan di Pantura Sedayu dua minggu lalu, hidup Arumi layu. Tabrakan antara mobil yang ditumpangi bersama papa dan mamanya dengan truk bermuatan ikan itu membuatnya banyak kehilangan. Kedua orang tuanya tak tersisa. Dia hidup sendiri. Telinganya tuli. Tapi kemudian sembuh oleh puisi.

Arumi duduk di teras rumahnya yang berarsitektur Eropa. Memakai rok putih bermotif bunga dan kaos polos berkelir hijau toska, tubuh itu terduduk di kursi peninggalan Belanda. Di hadapannya, sebuah meja besi berdiri ditopang empat kaki. Di atas meja bertaplak kain ungu itu, tergeletak tiga buah buku sastra. Seluruhnya, milik almarhum ibunya. Selama dua hari terakhir ini, waktu gadis 19 tahun itu digunakan untuk membaca buku-buku itu. Sebuah kegiatan yang tak pernah dilakukan selama hidupnya.

“Mengapa aku baru mau membaca setelah keadaanku begini menyedihkan. Lihat. Apa bedanya buku dengan Tuhan. Keduanya acap digunakan untuk pelarian,” keluhnya kepada diri sendiri. Setelah mengeluh itu, lemas jemarinya mengambil satu buku yang terserak di atas meja di depannya.

“Deru campur debu,” bibir tipis Arumi melafalkan judul salah satu buku yang dipegang dan telah tuntas dibaca. Lentik bulu matanya tenang. Mengikuti diam bola mata yang memandangi sampul buku itu tanpa berkedip.

Getar hati Arumi merasa, di antara ketiga buku sastra yang ada di rumahnya, paling mengena di hatinya adalah buku antologi puisi Chairil Anwar. Imbasnya dia ingin membaca lagi puisi Chairil Anwar yang lain. Namun, kondisinya yang dikatakannya “menyedihkan” dirasa tak memungkinkan untuk pergi ke perpustakaan. Kendati jaraknya hanya 600 meter di belakang rumah. Pasca kecelakaan yang dialaminya dua minggu lalu, dia takut melihat kendaraan. Dia juga cemas. Ketuliannya menjadi bahan olok-olok orang.

“Aku yakin perpustakaan kota itu menyediakan tiga hingga lima buku puisi Chairil Anwar. Betapa inginku ke sana untuk mem baca. Tapi, keadaan yang sekarang ini,” Arumi menunduk. Memandangi dada sendiri. Dada yang membulat itu turun naik tergesa, “Tak mungkin aku ke sana,” lanjutnya dengan hati pilu.

Lelah sebab menyerah kepada pikirannya sendiri, Arumi udar dari duduknya. Gontai perempuan bertubuh jangkung dan beresam tubuh bagus itu berdiri. Ujung rok yang sempat melipat karena duduknya tak benar kemudian dikibaskan. Setelah memungut tiga buku sastranya, Arumi masuk ke dalam rumah. Jam lonceng antik di rumahnya berbunyi. Disusul suara serak burung gagak. Tapi Arumi tak mendengar apa-apa. Dia hanya mendengar hatinya berkata, “mari tidur.”

***

Iba. Adalah perasaan pertama yang mengguyuri dada Hanur ketika bertemu dengan Arumi. Dengan tangan gemetar, dilihatnya Arumi memilih buku di jajaran rak perpustakaan kota. Ketika ditanya, perempuan yang—dimatanya—berwajah ayu itu diam saja. Karena penasaran juga karena sifat Hanur sendiri yang pokal, perempuan yang gemetar mencari buku itu ditanya melalui secarik kertas bertuliskan: Sedang mencari buku apa? Mengapa gemetar?

“Buku puisi Chairil Anwar, selain Deru Campur Debu. Engkau tahu di mana letaknya?” Arumi menjawab pertanyaan tulisan Hanur dengan suara parau.

Pertanyan kedua tidak dijawab. Dia hanya mengingat lagi, sedari keluar dari pekarangan rumah, tangannya gemetar melihat lalu lintas kendaraan yang padat. Tremor itu terbawa hingga di dalam perpustakaan ketika mencari buku.

“Tidak ada. Perpustakaan ini miskin koleksi sastra bermutu seperti itu. Bahkan Deru Campur Debu yang kau sebutkan, perpustakaan ini tidak mempunyai,” balas Hanur.

Arummi tertunduk lesu. Dia tidak mendengar apa yang dikatakan Hanur. Dia malu. Dia malu mengatakan bahwa telinganya tuli.

Melihat gelagat aneh Arumi, Hanur menyelidik. Semakin mendekati tubuh Arumi dan, “Mengapa tertunduk begitu? Apa parasku menghawatirkanmu? Apa tampangku ini serupa pencoleng?”

Arumi tetap diam. Dia semakin menyembunyikan muka. Enggan memandang kepada Hanur untuk sekian menit. Waktu yang cukup lama bagi Hanur karena didera penasaran.

“Baik kalau engkau tak mau berbicara. Aku tak bisa membantu. Tak tahu keperluanmu yang lebih jelas,” Hanur berpaling. Berjalan menjauhi Arumi yang mematung. Berdiri di tengah lorong buku yang perpustakaan kota itu.

Baru Hanur melangkah sebanyak empat tindak, Arumi bersuara, “Tunggu dulu,” pekiknya tertahan.

Hanur terkejut. Ketika berpaling kembali kepada Arumi, dilihatnya wajah perempuan itu dilinangi air mata. Segera dia berjalan mendekati perempuan yang menangis perlahan tersebut. “Aku tuli. Itu sebabnya tak kujawab pertanyaanmu. Aku tak bisa mendengarnya,” Arumi menyeka matanya.

“Tulislah pertanyaanmu di secarik kertas yang kau bawa itu,” telunjuk Arumi menuding genggaman tangan Hanur yang mengerat buku tulis, “Aku akan menjawabnya,” tegas Arumi lalu tangisnya mereda.

Membeku. Itu yang dirasakan Hanur ketika Arumi mengungkapkan ihwal ketulian kepadanya. Untuk beberapa saat, Hanur tidak bisa bergerak dan berkata. Bahkan untuk berkedip saja dia tidak tersempatkan.

“Maaf. Maafkan ketidaktahuanku,” frasa pertama yang dituliskan Hanur pada secarik kertas untuk Arumi.

“Tidak. Engkau tidak keliru. Aku saja yang tak mengakui kelemahan diri,” balas Arumi dengan ucapan.

“Perempuan yang mengunjungi perpustakaan untuk mencari dan membaca buku, bukan perempuan lemah,” tulis Hanur menenangkan.

“Mengapa demikian?”

“Perempuan jenis ini tak berani melawan kemalasannya dalam membaca.”

“Bagaimana jika membaca untuk pelarian saja?”

“Sejauh engkau berlari, pelarian itu akan menuju kepulangan juga.”

“Bagaimana jika rumah atau kepulanganku bukan ‘baca dan buku’?”

“Dengan bergumul terus dengan ‘baca dan buku’, engkau ‘tak bisa pulang ke rumah yang lain. Selain ‘baca dan buku’.”

Begitulah komunikasi antarkeduanya.

Dalam sekejap, buku catatan yang ditentengnya penuh guratan tinta bolpoin untuk menjawab pertanyaan Arumi. Sementara itu, interaksinya dengan Hanur itu membuat Arumi lebih merasa hidup. Dia tidak menyangka. Ada seorang lelaki yang bisa memahaminya. Mampu mengajaknya bicara. Di waktu-waktu dan hari-hari berikutnya, kedua mahkluk berlainan jenis ini intens bertemu di perpustakaan kota. Lumbung buku yang koleksinya tidak lengkap dan nihil inovasi literasi ini menjadi tempat sembunyi keduanya dalam berakraban.

“Terima kasih atas buku Aku Ini Binatang Jalang-nya, Nur. Puisi Chairil Anwar di sini lebih menyanyat,” ucap Arumi kepada Hanur suatu kali. Ketika lelaki itu membelikan buku puisi untuknya.

Suatu malam purnama, sebuah janji disepakati dan ditepati keduanya. Pada malam yang sedikit mendung purnama itu, Hanur dan Arumi mendatangi acara sastra di pesisir kota. Memperingati hari wafatnya Chairil Anwar. Riuh angin pantai yang berbisik dan pekik pembacaan puisi karya pelopor angkatan 45 memenuhi acara. Hanur mendengar semua kemeriahan itu. Sedangkan Arumi hanya mampu melihatnnya saja.

Namun, tiba-tiba sesuatu yang lain terjadi. Ketika di atas panggung sederhana seseorang bertopi membaca kalimat terakhir puisi Chairil Anwar berjudul Yang Terampas dan Yang Putus, Hanur melihat muka Arumi mengernyit, matanya menyipit. Begitu pembaca puisi mengakhiri pentasnya, Arumi bertanya kepada hanur, “Apa maksudnya itu?” wajahnya menuntut Hanur.

Hanur hendak menulis jawaban di kertas. “Tidak usah,” cegah Arumi. “Apa maskudnya ‘tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku’,” Arumi mengejar jawaban kepada Hanur.

Hanur, lelaki yang dimintai jawaban ini pun beku. Selain dia tidak tahu apa jelasnya maksud kalimat Chairil Anwar itu, Hanur juga terkejut. Mengapa Arumi bisa mendengar kalimat puisi itu. Apakah ketuliannya selama ini berpura-pura saja.

“Kau sudah bisa mendengar sekarang?” tanya Hanur dan pertanyaan itu dibalas senyum tersipu oleh Arumi. ***

.

.

YUSAB ALFA ZIQIN. Wartawan Jawa Pos Radar Tuban.

.

Puisi yang Memulihkan Perempuan. Puisi yang Memulihkan Perempuan. Puisi yang Memulihkan Perempuan.

Arsip Cerpen di Indonesia