Cerpen Akhmad Sekhu (Radar Mojokerto, 01 Mei 2022)
AZAN maghrib tiba. Di kantin Jetlag Cart Corner, Bandara Soetta, dua orang tampak seperti memperebutkan sebuah kotak makanan nasi goreng yang baru saja dihangatkan. Kalau sudah waktunya azan maghrib, semua orang memang buru-buru ingin mendapatkan makanan untuk buka puasa.
Tangan dua orang itu tampak sudah sama-sama memegang kotak makanan tersebut, tapi begitu wajah beradu pandang terlihat mereka sama-sama kaget juga karena keduanya jadi ingat pernah dekat menjalin hubungan spesial di Kampus Hijau Sawo Kecik.
“Mei?! Mei Lan Handayani?!” tanya yang lelaki tampak ingin meyakinkan dirinya bahwa orang yang di hadapannya itu adalah teman dekatnya dulu.
Begitu juga dengan yang perempuan sama-sama mempertanyakan, “Juni?! Juni Riyanto?!”
Beberapa saat mereka berdua saling tatap dengan ingatan terbang ke masa lalu saat-saat indah di Kampus Hijau Sawo Kecik. Kemudian, mereka berdua tersenyum sebagai tanda meng-iya-kan. Setelah sama-sama yakin barulah mereka tertawa berbarengan.
“Kau ambillah dulu makanannya, Jun!” Mei terdengar mengalah.
Juni mengelak, “Kamu saja Mei yang ambil makanan ini.”
“Enggak-lah,” Mei juga sama-sama mengelak karena tak enak hati.
“Ladies first,” tegas Juni mengingatkan.
Mei tertawa renyah, beberapa helai rambut panjangnya berkibaran terkena kipas angin kantin Jetlag Cart Corner, sejurus kemudian langsung menyimpulkan, “Ah, kamu itu Jun dari dulu sampai sekarang nggak berubah, masih saja seperti dulu.”
“Apanya?” Juni sontak seketika bertanya karena penasaran.
“Suka mengucap ladies first,” jawab Mei mantap.
“Hahaha,” Juni tergelak tawa, mulutnya menganga hingga tampak ompong memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal. Setelah itu, Juni mengakui dirinya memang sangat suka mengucap ladies first bukan karena mengalah tapi karena memang suka dengan kata-kata tersebut. “Terdengar easy listening di kuping,” Juni menegaskan.
“Emangnya lagu, easy listening gitu.”
“Tak semua easy listening itu lagu, namamu juga easy listening, Mei Wulandary.”
“Sudahlah, Jun, makanan ini untuk kamu dulu,” Mei mendesakkan pengertian, kemudian menerangkan, “Karena aku tahu kamu pasti puasa jadi secepatnya kamu harus buku puasa. Adab berpuasa itu menyegerakan berbuka.”
“Apalagi aku manis, jadi kamu sekarang berbuka dengan yang manis,” imbuh Mei dengan senyum-senyum setengah bercanda tapi penuh percaya diri.
Juni buru-buru meneguk teh botol untuk menyegerakan berbuka, tapi tak bisa dipungkiri ia kaget karena Mei ternyata memahami adab berpuasa.
Karena reaksi Juni tampak melongo begitu terkaget-kaget, Mei buru-buru mengaku dirinya sekarang mualaf. “Terus terang, aku masuk Islam karena sangat terkesan dengan dirimu, Jun.”
Lebih lanjut, Mei menerangkan keterkesanannya. “Sewaktu kita kuliah dulu, kita dekat, begitu sangat dekat. Tapi kamu tidak memanfaatkan kedekatan dengan berbuat seenaknya, bahkan kamu sangat memuliakan aku sebagai seorang perempuan. Kamu bukan tipe orang yang hidup hebas free seks atau apalah, bahkan sepertinya kamu tidak pernah menyentuh kulitku,” papar Mei panjang-lebar penuh kekaguman.
“Ada adab puasa lagi, yakni berbagi makanan berbuka,” sela Juni tampak tak jumawa dengan kekaguman yang ditunjukkan Mei.
“Jadi mari kita berbagi nasi goreng ini,” ucap Juni kemudian berdiri dan celingukan tengok kanan-kiri mencari-cari pelayan kantin untuk minta piring agar bisa membagi dua makanan yang di hadapannya.
Tapi tak tahunya pelayan muncul dengan menyodorkan kotak makanan lagi.
“Nah, itu buat kamu Mei,” seru Juni tampak girang.
Mei segera meraih kotak makanan itu dan kemudian buru-buru menawarkan, “Bagaimana kalau kita buka puasa bersama di sana di Taman Pencil?”
“Okey,” sahut Juni setuju langsung menuju tempat yang ditunjukan itu. Keduanya sama-sama membawa kotak makanan menunju ke Taman Pensil yang tempatnya tak jauh dari kantin Jetlag Cart Cortner.
***
Ganti tempat di Taman Pensil, Mei dan Juni tak langsung melanjutkan pembicaraan, keduanya tampak masih canggung. Dua puluh tahun berpisah memang bukanlah waktu yang singkat. Setelah sama-sama lulus kuliah meraih gelar sarjana, mereka tidak bertemu lagi. Meski sewaktu kuliah sempat dekat, tapi tentu tak semudah mereka kembali akrab. Seperti ada jarak, keterasingan namanya yang membuat mereka tampaknya butuh waktu untuk kembali akrab bercakap-cakap.
Tanpa aba-aba mereka tampak kompak sama-sama memperhatikan pensil-pensil besar yang berjajar di Taman Pensil. Meski demikian, hati mereka sama-sama deg-degan karena saking tegangnya untuk menghadapi pertemuan yang tak terduga itu.
Mei mencoba segera untuk mengumpulkan sejumlah keberanian, setelah itu barulah angkat bicara, “Jun, setelah lulus kamu kemana tak ada kabar sama sekali?”
Ditanya begitu, Juni tampak terkaget-kaget hingga beberapa saat dirinya hanya terdiam. Wajahnya menunduk tak berani menatap Mei yang sewaktu kuliah dulu sempat dekat dengan dirinya.
“Jun, setelah lulus kamu kemana?” Mei kembali bertanya, kali ini pertanyaannya dipangkas lebih singkat dengan harapan bisa cepat dijawab.
“A-a-aku ke Jakarta,” jawab Juni tergagap-gagap.
Mei tak cepat puas dengan jawaban Juni yang terdengar sekadar asal jawab saja, hingga kembali mendesakkan pertanyaan, “Serius kamu ke Jakarta?”
“Serius,” jawab Juni singkat terdengar tegas, tapi tampaknya masih diayun keraguan dengan jawabannya.
“Kenapa kamu tidak memberi kabar aku kalau kamu ke Jakarta, Jun?!” Mei tampak kecewa, kemudian menerangkan, “Kamu tahu kan kalau aku tinggal di Jakarta?”
Juni terkesiap dan kembali memberikan jawaban dengan argumentasi sekuat mungkin, “Aku tahu kamu tinggal di Jakarta, tapi kata teman-teman, setelah tragedi Mei, kamu eksodus ke Singapura.”
“Kata teman-teman siapa?” Mei tak terima, kemudian meninggikan nada suaranya, “Keluargaku, papi, mami dan adik memang eksodus ke Singapura, tapi aku tetap di Jakarta karena aku menunggu kabar darimu, Jun!”
“Dulu sewaktu kuliah kita dekat, begitu sangat dekat, tapi setelah lulus kuliah kok dengan mudahnya kamu lepas, lepas tanpa ada kabar apa-apa,” Mei menambahkan penuh pelampiasan emosi kekecewaan.
Juni terdiam saja tampak seperti tak berdaya apa-apa, tapi demi melihat Mei terlihat begitu sangat kecewa dan ngambek hingga cemburut itu membuat dirinya terdorong untuk berujar panjang-lebar.
“Mei, krisis moneter yang dulu melanda negeri ini sangat berdampak pada ekonomi keluargaku yang membuat aku tak bisa apa-apa,” kata Juni mengawali pembelaan dirinya. Kemudian memaparkan, “Aku hanya sebentar di Jakarta, tapi kemudian pulang kampung ke Tegal, dan itu pun aku harus menjual kerbau satu-satunya hewan peliharaan untuk dapat bertahan hidup. Maafkan aku kalau aku tak sempat memberi kabar kamu.”
“Ah, kamu Jun, tak seberapa badai kehidupanmu dibanding aku yang bukan hanya untuk dapat bertahan hidup, tapi juga aku bertaruh nyawa,” ucap Mei sinis.
“Semestinya kita saling berkabar dan melanjutkan kedekatan kita dengan hidup bersama, aku menolak ikut eksodus keluarga ke Singapura karena aku ingin hidup bersamamu meski harus tinggal di kampung aku mau asal bersama kamu.”
“Sekian lama aku menunggumu, dua puluh tahun itu bukanlah waktu yang singkat, Jun!” Mei menegaskan.
Kemudian menerangkan, “Aku mualaf dan aku butuh bimbinganmu untuk dapat menjalankan ibadah sebaik-baiknya.”
“Aku pun sama sangat mengharapkan kita dapat melanjutkan kedekatan kita ke jenjang lebih serius,” tutur Juni dengan mimik muka yang sangat serius. “Mungkin sudah suratan takdir kita tak bisa hidup bersama.”
“Iya, sudah suratan takdir kita tak bisa menikah,” Mei meng-iya-kan dengan nada suara merendah penuh kekecewaan.
Mereka jadi kikuk, dan terdiam larut dalam kekecewaan. Adapun, suasana sekitar yang terlihat semakin ramai dengan orang-orang yang menunggu kedatangan dari luar negeri, membuat mereka seperti tersadar karena saking sangat seriusnya bercakap-cakap sampai lupa pada nasi goreng yang dibiarkan begitu saja dan sama sekali tak disentuhnya.
“Makanlah, Jun! Segerakan berbuka,” Mei terdengar mengingatkan.
“Mei juga makan ya, kita sama-sama harus menyegerakan berbuka,” ucap Juni tampak tak mau kalah balik mengingatkan juga.
Keduanya segera makan nasi gorengnya masing-masing, meski sudah tak hangat nasi gorengnya, tapi sungguh nikmat dapat buka puasa bersama sehingga membuat mereka berdua jadi lahap memakannya.
***
“Jun, kamu di sini lagi nunggu siapa?” tanya Mei di sela-sela menikmati nasi gorengnya.
Ditanya begitu, Juni tak segera menjawab karena perlu beberapa waktu untuk dapat jawaban dengan tepat. “Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Juni singkat.
Mei serta-merta kembali bertanya, “Istrimu?”
“Bukan,” Juni menggelengkan kepala, kemudian menerangkan, “Aku dapat job untuk jemput TKW yang baru pulang dari Arab Saudi.”
“Wah kamu sekarang hebat, Jun, ngurusin TKW,” Mei memuji.
“Ah, biasa saja, Mei, kerja di biro TKW, ya memang kayak gini antar-jemput TKW di bandara,” Juni terdengar merendah, kemudian menerangkan. “Apalagi menjelang lebaran sekarang banyak TKW yang maksa pulang.”
Mei menyampaikan ia akan menjemput suaminya yang pulang tugas dari Singapura. “Nanti aku kenalin,” janji Mei.
“Sepertinya aku harus cepat-cepat pergi ke depan pintu kedatangan karena orang yang aku jemput sudah mendarat,” ucap Juni terbata-bata dengan dada yang dag-dig-dug berdegub sangat kencang.
“Wah, sayang sekali,” seru Mei terlihat kecewa.
Sebenarnya, justru Juni yang sangat menyayangkan sekaligus juga cemburu karena ia akan dikenalkan dengan suami Mei yang dulu pernah dekat dirinya. Pada saat demikian, rasanya ia ingin terbang untuk secepatnya menghindar dari perkenalan tersebut. ***
.
.
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2022
AKHMAD SEKHU. Penulis kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971 ini tinggal di Jakarta. Novelnya Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya “Semangat Orang-Orang Jempolan” (siap terbit). Ia masih bolak-balik antara Jakarta-Tegal PP demi istri Wanti Asmariyani dan dua anaknya, Fahri Puitisandi Arsyi, dan Gibran Noveliandra Syahbana, dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk selalu berkarya.
.
MAKLUMAT
Tulisan dalam bentuk cerpen, puisi, esai, atau resensi bisa dikirim ke opini_darmo@yahoo.com
.
Sedekat Mei Juni. Sedekat Mei Juni. Sedekat Mei Juni. Sedekat Mei Juni. Sedekat Mei Juni.