Semahu Labur

Cerpen Marselinus Hosea Astro (Radar Madiun, 22 Mei 2022)

PADA suatu hari, di deretan perkampungan yang indah, dengan hutan-hutan hijau dan rumah-rumah yang begitu megah, tersebutlah satu kampung bernama kampung Semahu Labur.

Semahu diambil dari nama orang tua, sedangkan labur diartikan sebagai lebur karena kampung tersebut hancur lebur disambar petir. Kampung ini dinamai mengikuti nama orang tua atau tokoh penting pada masa itu. Ia adalah Nekmahu. Nekmahu hidup bersama seorang anak kecil yang tak lain adalah cucunya. Ayah dan ibunya sudah lama meninggal. Begitu pula dengan sang kakek. Nekmahu dan cucunya hidup berdua dengan keadaan serba kekurangan.

Pada masa itu penduduk kampung mengadakan pesta adat atau acara syukuran atas berkat Tuhan yang melimpah. Acara diadakan selama tujuh hari tujuh malam melalui tahapan-tahapan ritual adat. Butuh waktu tiga hingga tujuh tahun untuk mempersiapkan acara.

Nekmahu ikut bergotong royong mempersiapkan agenda tersebut. Setelah selesai membantu, si nenek pulang dengan membawa kerak nasi dan sedikit lauk untuk cucunya.

Sesampainya di rumah, cucunya memakan kerak nasi dan lauk pemberian neneknya. Cucunya pun ketagihan. Ia minta tambah. Padahal, semua makanan yang dibawa sudah diberikan. Karena si cucu tetap saja merengek, akhirnya nenek mengajak cucunya ke tempat pesta.

Dengan baju seadanya, sepasang nenek-cucu itu datang ke pesta. Para tamu menyambut mereka dengan tatapan tak suka. Sang cucu menarik tangan nenek ke arah meja makan yang berbaris rapi. Ia rupanya sudah lapar, dengan lahapnya memakan daging-daging yang disediakan di atas meja. Nenek yang asyik bercakap-cakap dengan warga kampung sampai lupa akan cucunya yang sedang makan. Setelah satu piring daging dilahap, ternyata anak tersebut belum kenyang juga. Ia pergi ke dapur untuk mencari lebih banyak makanan. Di sana ia menemukan satu kuali penuh dengan daging. Begitu senang hatinya. Segera saja ia melahap apa yang ada di depannya.

Tanpa disadari sang anak, beberapa pelayan mengamati gerak-geriknya. Mereka begitu dongkol. Mereka merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran pada anak rakus tersebut. Diambilnya getah kenoan, diolesinya dengan bumbu lauk, lalu diberikannya kepada sang anak.

Getah kenoan adalah getah kayu yang dikeringkan. Pada zaman dulu digunakan untuk menghidupkan kayu api di dapur.

Setelah sekian lama mengobrol dengan warga, nenek pun menyadari bahwa cucunya sudah tidak ada di lokasi. Nenek mengira cucunya sudah kembali lebih dulu ke rumah. Nenek pun bergegas pulang.

Di tempat lain, si cucu yang tadinya diberi getah kenoan, menggigit dan mengunyahnya dengan lahap karena dikiranya daging. Belum sampai makanan masuk ke kerongkongan, si cucu kebingungan mencari neneknya yang tak kunjung ketemu. Ia akhirnya pulang. Sesampainya di rumah, si cucu langsung menemui neneknya. Ia bertanya mengapa makanan yang ditelannya tak kunjung dapat dikunyah.

Nenek pun melihat apa yang dimakan cucunya. Nenek langsung tahu bahwa itu adalah getah kenoan. Nenek pun bertanya pada cucunya mengapa ia memakan getah. Si cucu pun bercerita semuanya, mulai dia memakan daging di kuali, bertemu dengan pelayan, sampai memakan daging pemberian pelayan tersebut. Si cucu mengaku penglihatannya tidak begitu jelas karena hari kelewat malam, sehingga tidak menyadari bahwa apa yang diterimanya dari pelayan adalah getah kenoan. Mendengar penuturan cucunya, nenek pun murka. Ia merutuki para pelayan yang telah berbuat setega itu pada cucunya.

Dikisahkan bahwa Nekmahu memelihara seekor anjing dan seekor landak. Seketika itu juga diperintahnya landak untuk menggali lubang seukuran orang dewasa. Setelah itu, dipanggilnya anjing. Ia mendandaninya dengan memakaikannya baju. Ia menyuruh anjing untuk menghampiri orang-orang yang ada di pesta tersebut.

Semua orang tertawa terbahak-bahak melihat ada anjing menari-nari seperti manusia di tengah-tengah keramaian. Sementara Nekmahu dan cucunya—sembari membawa sebatang bibit kelapa dan sebiji telur ayam—masuk ke dalam lubang yang digali landak.

Sesaat setelah keduanya masuk lubang, pesta yang mulanya dipenuhi riuh tawa seketika berubah mencekam. Cuaca yang sebelumnya terang berubah gelap gulita. Lidah api beriringan dengan gelegar petir; menghantam, menyambar, dan meluluhlantakkan perkampungan hingga lebur. Suasana hening seketika. Semua berubah menjadi batu, termasuk pelayan-pelayan jahat dan warga kampung.

Sementara, Nekmahu dan cucunya selamat karena sebelumnya telah masuk ke dalam lubang. Lubang yang digali landak itu tembus sampai kampung yang jaraknya jauh dari Semahu Labur. Sebatang bibit kelapa yang dibawa sepasang nenek-cucu itu ditanam di ujung lubang di mana mereka keluar. Sebiji telur ayam sudah menetas menjadi ayam jantan. ***

.

.

MARSELINUS HOSEA ASTRO. Anggota Komunitas Aur Kuning Madiun.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia