Juru Masak di Jalan Flincey

Cerpen Farida D Emmy (Suara Merdeka, 26 Juni 2022)

TIGA tahun lalu aku menginjakkan kaki di tanah kelahiran Shakespeare, salah satu tokoh sastra dari beberapa abad lalu. Setelah menikmati secangkir kopi panas, agar kuasa menerjang winter di salah satu restoran tak jauh dari rumah masa kecilnya di jantung kota Stratford-upon-Avon, aku berjalan kedinginan memasuki rumah tua yang dijaga orang-orang berkostum zaman sang pujangga.

Aku mahasiswi sastra yang drop out setahun sebelum seharusnya wisuda. Cita-citaku menjadi novelis dan pernah menerbitkan novel. Kalau nasibku sekarang menjadi pelayan fotokopi milik temanku, tak aneh juga kan kalau aku juga tiba-tiba berkesempatan pergi ke Eropa. Kadang hidup menghadirkan surprise-surprise yang menyenangkan ataupun menyedihkan, seperti halnya nasib novelku yang bertumpuk di lemari buku kamarku.

Begitulah. Biarlah. Nasib tak membuatku berkecil hati. Misi ke Inggris kali ini mungkin kesempatan bagiku menulis novel kedua setelah Musim Dingin di Stratford. Aku tidak akan menulis kisah tentang Misteri Musim Panas di London. Hubungan dekatku dengan Rajiv sejak musim dingin lalu masih baik-baik saja. Tapi kembaliku ke sini bukan karena Rajiv atau bantuannya. Bukan karena mendapat beasiswa kuliah jurusan sastra Inggris seperti angan-anganku. Bukan pula untuk menikmati pizza dan spaghetti di restoran Itali di Brighton.

Kulihat bendera-bendera pelangi berkibar di atap-atap gedung di pusat kota London sejak dari stasiun bawah tanah di area Picadilly Circus. Suasana musim panas mewarnai kehangatan di ibu kota negara yang pernah dijuluki sebagai kerajaan tempat matahari tak pernah tenggelam. Ketenangan, kenyamanan, dan kebebasan orang-orang menikmati mobilitas di jalan-jalan seputar Westminster menyeretku ke suasana mereka.

Berjalan di atas jalan jembatan yang melintasi sungai Thames tanpa Rajiv mengingatkanku padanya. Angin berembus sepoi-sepoi misterius. Langit biru perlahan mendekati senja. Sedang apa Rajiv sekarang? Dari obrolan dulu senja adalah saat dia pulang, lalu menonton acara-acara televisi bersana istrinya. Napasku mendesah berat. Bagaimanapun, he is my guardian angel.

Andai dia tahu aku kembali ke London, aku akan dibunuhnya. Apalagi aku bersama seseorang bernama Adam Dupont. Laki-laki itu kukenal saat musim dingin aku ke sini. Yakni ketika menunggu Rajiv di sebuah kantin di samping Islamic Center di London. Sama seperti Rajiv, Adam Dupont telah lama menjadi mualaf. Dia menolongku saat aku kepayahan menahan dingin serta kesal tak mampu membuka tutup botol obat sakit gigi. Pertemuan singkat kami berlanjut di media sosial.

Tak kujumpai satu pun foto Adam di akun medsosnya. Hanya postingan foto-foto alam dan hewan kesayangan. Atau berita dan gambar miris situasi di Timur Tengah. Suatu malam pada bulan Ramadan, Adam melamar melalui panggilan suara. Aku tidak menolak. Menerima juga tidak. Tetapi niat baik Adam telah menerbangkanku kembali berjalan di tepi Sungai Thames yang beriak-riak misterius. membisikkan kisah-kisah tragis yang terkubur di kedalaman zaman.

Mataku bermanja-manja di kehangatan senja. Di kejauhan bangunan Menara London tampak kelam. Kisah hantu wanita tanpa kepala yang konon kerap gentayangan di area itu membuatku tersenyum. Kuarahkan pandanganku pada sosok yang berjalan mendekat dari arah berlawanan. Penuh percaya diri, sosok itu berdiri di sisi jembatan lalu menatap tenang ke penjuru sungai hingga London of Eye. Pria bertubuh tinggi berkulit putih dan wajah bercambang mengarah ke langit. Kedua tangannya menutup telinga. Suara adzan sayup-sayup mengembus dari mulutnya.

“Kau ini aneh!” Kataku usai dia selesai beradzan.

“Orang tidak akan peduli dengan apa pun yang kita lakukan di sini.”

“Tidak takut disangka teroris?”

Dia tertawa sambil berjalan seperti seorang pemimpin gerilyawan menang perang. Aku mengikutinya. Kami berhenti di sisi sungai. Adam tiba-tiba berjalan menuju kegelapan di satu sisi gedung. Di sebuah taman berhias lampu indah, dan resto-resto unik tertutup penuh orang-orang berkulit putih bercengkerama dan minum-minum. Dia shalat di sudut tersunyi.

Tiga meter di depanku, berderet resto beratap bundar seperti kelambu. Sangat artistik. Orang-orang menikmati gemerlap surga duniawi dengan leluasa. Gelas-gelas wine beradu. Perbincangan tenang diselingi derai kebahagiaan terdengar bergema ringan di sepanjang tepi sungai. Tak tergambar rintih kelaparan dan perang di belahan dunia lain.

Kami kembali ke penginapan. Aku tinggal di hotel kecil, namun nyaman dan moderen tepat di sebelah restoran tempat Adam bekerja. Ia menginap di restoran hampir tiap malam. Bos-nya seorang penganut Yahudi sangat baik dan dia bergantung pada keahlian Adam mengelola restoran yang dikunjungi banyak pelancong dari berbagai negara.

Suatu pagi pada musim panas, kota London bagian selatan masih bergeliat meskipun pukul delapan. Udara masih dingin meskipun cuaca cerah. Jalanan terselimuti sepi. Langkahku menuju stasiun bawah tanah Jalan Flincey di belokan perempatan terhenti tepat di depan kafe Adam bekerja. Dia tidak menelepon sekalipun bangun pagi-pagi untuk membuat adonan roti. Dari korden kafe yang terbuka, kulihat pria bertubuh tinggi mengenakan pakaian koki warna putih sibuk di balik etalase.

Dia sibuk. Terlalu sibuk untuk menengok atau menelepon wanita yang dicintainya. Langkahku ragu untuk menerobos pintu dan menyapa My love. Adam pria Eropa yang ekstrem. Dia sangat menjaga jarak dengan wanita.

Adam menikahi Francoise dua belas tahun lalu dan menceraikannya karena perempuan Perancis itu menikahi teman karibnya. Sejak itu Adam menggelandang tak menentu. Sering ia tidur di mobil setelah berputar-putar mencari tempat parkir yang aman dan gratis.

“Tinggalah di penginapan dekat restoran. Kamu akan dapat diskon, kalau menggunakan namaku. Kebetulan aku kenal dengan waitress penginapan.”

Enam bulan sebelumnya teror bom ramai diberitakan terjadi di beberapa tempat di London. Adam sempat menentang kedatanganku dan berjanji dia yang akan menemuiku di Indonesia. Namun hanya aku yang memungkinkan datang. Ia membujukku segera menikah begitu aku tiba.

Di dalam kereta bawah pikiranku seakan-akan beradu cepat dengan laju kereta. Penumpang tak banyak. Mereka asyik berselancar di dalam telepon genggam masing-masing. Aku pun membuka ponsel, bersamaan dengan sudut mataku menangkap pria muda berambut ikal berwajah Timur Tengah mirip Adam. Kepalanya segera menunduk saat aku balik menatapnya. Adam mengirim pesan menanyakan keberadaanku. Kujawab akan kembali ke penginapan saat dia selesai bekerja. Aku ingin mengunjungi Menara London. Adam melarang. Ia menyuruhku dengan tanda seru sebanyak tiga kali, agar menjauh dari Westminster!

Akhirnya aku turun di stasiun Baker Street dan mencari rute menuju Istana Buckingham. Hingga jam enam sore, aku berada di sekitar istana dan tidur nyaman di atas rerumput hijau di Green Park. Langit berwarna biru cerah ketika aku membuka mata. Kulihat beberapa orang, sendiri maupun bergerombol, masih bersantai menikmati suasana di taman. Membaca buku, mendengarkan musik dari headset, atau tiduran. Dari arah jalan masuk ke taman tampak kulihat orang-orang berjalan cepat dan bergegas seolah-olah mencari rute pulang tercepat.

Waktu Maghrib baru masuk ketika pukul tujuh. Semakin terlihat banyak orang berjalan bergegas. Aku setengah berlari mengikuti mereka yang berjalan ke arah stasiun. Adam memberi tahu akan menjemput di stasiun bawah tanah Jalan Flincey, lalu mengajakku ke rumah salah satu teman. Tanpa mengatakan apa pun, kami tiba di depan rumah di kompleks perumahan bergaya kuno yang sederhana namun tampak menawan. Tanaman-tanaman mawar berbunga dengan kelopak-kelopaknya yang besar berwarna merah segar.

Rumah bercat putih tulang di mana Adam memarkir mobil mengusir kesan klasik dan misterius. Aku mengikuti Adam masuk ke ruang depan dan hatiku gembira bertemu keluarga yang ramah dan bersahabat. Teman Adam, Syahzad, kedua orang tuanya, istri Syahzad, tiga anak Syahzad, dan seorang pemuda adik Syahzad berkumpul menyambut kami. Seorang lelaki seumuran Adam mengenakan baju muslim panjang dan bersorban putih duduk di atas karpet memegang tasbih. Ia tersenyum pendek, menganggukkan kepala, dan mengucapkan salam pada Adam sebelum kemudian keduanya mengobrol berbincang menggunakan bahasa Arab.

Setelah suasana lebih tenang, Adam memberi tahuku kami akan menikah saat itu juga. Aku terkejut namun tak sampai lima belas menit aku menjadi istri Adam. Keesokan harinya Adam membawaku ke sebuah apartemen di daerah Harrow, tak jauh dari Jalan Flincey. Adam memintaku tetap berada di apartemen selama seminggu dan melarangku keluar. Sore hari sepulang kerja, ia akan membawa sekarton bahan makanan.

Aku menikmati suasana di apartemen yang lengang dengan menulis. Pada sore hari kedua keberadaanku di apartemen, aku menyalakan ponsel diam-diam. Pria itu sedang lembur. Adam mempercayaiku sebagai wanita Asia yang terkenal menjunjung tinggi kesetiaan dan kejujuran. Tak ada peristiwa ganjil dan mengejutkan pada dunia sepanjang dua hari ini selain pernikahan yang kurahasiakan dan insiden teror di Westmister tiga hari lalu saat aku berada di Green Park!

Berita mengabarkan beberapa pejalan kaki tewas ditabrak. Ada juga ditikam oleh peneror yang diyakini berwajah Timur Tengah dan telah lama menetap di Inggris. Salah satu pelaku tewas ditembak saat hendak menikam polisi dan dua pelaku lainnya berhasil ditangkap. Dicurigai otak dari aksi ketiga pelaku masih berkeliaran di pusat kota.

Suasana London amat mencekam. Kubaca kembali pesan Adam pada hari kejadian insiden itu. Aku tercenung. Jari-jari tanganku gemetar. Aku mengirim surel pada Rajiv. Tak sampai setengah jam dia menelepon. Tanganku gemetar. Seluruh persendian tubuhku seolah-olah lumer terlalap kobaran api dalam upacara pembakaran yang sakral. Kutekan tombol power telepon genggamku, lalu bergerak cepat menaruhnya di laci meja kecil di sisi tempat tidur.

Grendel pintu apartemen lantai tiga terdengar disusul suara langkah kaki berat memasuki ruangan. Aku menawarkan secangkir teh chamomile hangat saat suamiku masuk. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku bergegas ke luar, mengintip gerak-gerik Adam dari balik pintu. Ia membuka laci meja, tercenung melihat ponselku menyala. Aku memejamkan mata. Berdoa laki-laki di dalam kamar baik-baik saja. Dia tertidur pulas saat aku membawa secangkir teh untuknya.

“Aku merasa ada seseorang mengawasi tempat ini.” Adam terlihat gelisah saat kembali ke kamar setelah berpamitan sepuluh menit lalu. Sebelum pergi, ia memegang kedua pundakku, menyinari kedua bola mataku dengan pijar surgawi. Tak lama kemudian, cahaya kelam berarak kecemasan beriak-riak di matanya.

“Aku berdoa, Tuhan selalu menjagamu.” Lalu laki-laki langkah beratnya menjauh. Suara kunci berputar memupus rencanaku lari dari apartemen. Aku harus meninggalkan Adam secepatnya, sebelum juru masak roti restoran kopi di Jalan Flincey itu ditangkap pihak keamanan. Rajiv akan membantuku. Pasti.

Bagaimana dia mengeluarkanku dari apartemen ini? Satu-satunya pintu telah terkunci. Tak mungkin keluar dari jendela yang langsung mengarah ke jalan raya, sedangkan tempat ini berada di lantai tiga.

Tapi Rajiv mendobraknya mudah. Dengan suara cepat dan wajah tegang, dia menyuruhku segera mengemas barang-barangku. Tergopoh, ia menjinjing dua koper besar menuju mobil. Aku mengikutinya dengan gelisah; jauhkan dirimu dari orang asing itu! Tak perduli orang asing itu suamimu atau bukan!

Mobil lalu-lalang melintas jalan raya antara kios fotokopi dan gerbang kampus. Dua satpam di gerbang kampus mengobrol santai. Gelas-gelas bekas minuman kopi di depan mereka dihinggapi lalat. Sudah lewat satu tahun pandemi berlangsung, namun gerbang kampus kian sepi. Pemandangan ribuan mahasiswa keluar-masuk berganti kesuraman.

Bisnis rumah kos di sekitar kampus yang menjamur tiba-tiba mati dan tak tampak tanda-tanda menggeliat. Penjual makanan bermunculan di pinggir-pinggir jalan, tetapi beberapa toko besar masih tutup. Aku kembali setia dengan pekerjaanku, meskipun hanya dibayar tiga bulan sekali. Melamun menunggu pengguna jasa fotokopi datang, caraku mengendapkan rindu pada juru masak yang raib. Mati atau hidup. Di penjara atau berkelana. Tak tahu aku. ***

.

.

Purwokerto, 28 Desember2021

Farida D Emmy adalah penulis asal Banyumas. Selain aktif menulis, dia adalah seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah negeri di Purwokerto. Saat ini dia tinggal di Dukuh Waluh RT 4 RW 4 Kecamatan Kembaran Banyumas.

.

Juru Masak di Jalan Flincey. Juru Masak di Jalan Flincey. Juru Masak di Jalan Flincey.

Arsip Cerpen di Indonesia