Cerpen D Hardi (Koran Tempo, 26 Juni 2022)
JIKA itu bukan Bill, lelaki bocah paling mencolok di seantero kota, dan jika lelaki bocah itu tak pernah didakwa atas kasus pembunuhan dua puluh tahun silam, mungkin cerita seganjil apa pun dari mulutnya bakal dilahap orang bulat-bulat. Kebanyakan menganggap omongannya tak lebih bagai racauan mabuk, kecuali Edward, pendengar setianya nomor satu.
“Semua orang tak percaya padaku.”
“Ceritakanlah, Bill.”
“Makhluk molek itu menyapaku dengan anggun. Langkahnya seperti peragawati. Ia mengambil tempat di sebelahku bersama semilir wangi. Belum pernah kucium aroma seperti itu di dunia ini. Untaian rambutnya bak sutra murbei. Dan punggungnya Ed, kau tak akan percaya kalau tak melihatnya langsung.” Bill menenggak tandas gelas dingin bir yang mencair.
“Tiada punggung seindah milik istriku seorang.”
“Punggungnya mengeluarkan sayap, Ed! Bulu-bulunya putih. Seperti putih susu yang lembut.” Kedua tangan Bill merentang, berkepak-kepak seakan-akan elang botak di langit terik Lordsburg.
“Kau lihat seseorang di sudut itu?” tuding Edward ke arah dekat jendela, “Siapa dia?” seolah-olah menguji kewarasannya yang kadang membingungkan.
“Itu Jack Roth. Mana lupa aku dengan bajingan sok jago macam dia.” Sekumpulan orang datang dan duduk di meja khusus, berderai lepas tawa mereka bagai penakluk alam liar Barat.
“Dia memang jago, Bill. Bapaknya bakal maju lagi untuk wali kota.”
“Dia boleh punya apa pun, kecuali malaikatku.”
“Jadi siapa namanya?”
“Nama?”
“Ya, mamacita semerbak berbulu putih susu itu.”
“Kami berbincang dengan sedapnya sampai lupa kutanyakan nama.”
“Lain kali tanyakanlah nama. Siapa tahu yang kau temui buronan psikopat atau iblis gurun,” goda Edward, menyelipkan beberapa dolar di atas meja. Keduanya beranjak. Jack dan lainnya hanya melempar tatapan dingin.
Di luar, langit biru cerah. Angin sepoi-sepoi bertiup, memotong bait lagu O Fair New Mexico, mereka berpisah arah di bawah ciuman matahari keemasan. Seperti biasa, Edward akan berbalik, memastikan lelaki bocah itu lancar menyeberang jalan. Kota dibelah banyak jalan namun begitu lengang. Dan kelengangan kadang membikin sembrono, layaknya rasa sepi.
Jika kau berkendara dari Arizona menuju Texas di jalan I-10, kau akan melewati kota ini. Hanya melewatinya. Kota kecil berdebu yang terik dan sepi. Entah mengapa, akhir-akhir ini menjadi terasa lebih sepi. Toko-toko banyak tutup. Beberapa tempat malah bagai kota mati. Pengunjuk rasa di sebuah negara dunia ketiga masih lebih banyak jumlahnya. Sebagian orang pindah ke Sierra Vista yang lebih dekat. Sebagian lain ke Tucson atau Albuquerque. Sebagian memilih tetap bertahan.
“Ada nilai lebih dari sekadar latar film Stagecoach. Dulu, industri tambang dan kereta api begitu dominan menopang ekonomi lokal sampai Eisenhower dengan jalan rayanya yang membelah-belah Amerika membikin awal dari akhir sebuah kenangan. Kota-kota kecil di New Mexico lama-lama akan punah, ramal paman tua Pablo. Ia kerap menceritakan kenangan masa lalunya setiap kali Edward bertandang ke rumah Bill.
“Tapi mempermudah orang-orang melancong jauh.”
“Yeah, seperti kata Steinbeck, memungkinkan kita melancong dari New York ke California tanpa menemui apa pun, kecuali beton-beton!” Mata lamur Pablo seperti bicara; ini tentang seni bernostalgia. Bukan angka-angka. Bukan statistik.
Lelaki tua yang sentimental. Kadang Edward sangsi, benarkah Bill anak kandung Pablo? Kulit mereka berlainan, namun keduanya sama-sama lihai merayakan getir. Bill langsung menggelinjang begitu melodi banjo disetel, apa pun suasana hati. Demikian pula Pablo.
Di setiap acara pertemuan, ia akan percaya diri naik ke atas panggung, berdendang lagu patah hati Ernest Tubb yang ceria. Bila itu dihadiri Nyonya Linda, mata sebagian orang akan bolak-balik menengok keduanya. Cerita yang sampai ke telinga Edward kecil, istri juragan motel itu cinta kandasnya Pablo yang abadi. Ia menunggu, dan akan selalu menunggu bidadarinya sampai ribuan muson berlalu. Chicano kabil yang malang. Bokek dan malang. Nyonya Linda yang baik pun tak sampai hati. Ia menolong Pablo dari jurang melarat. Pablo diterima bekerja mengurus motel keluarga. Sampai suatu ketika sang suami wafat oleh kanker, Pablo seperti dekat meraih impiannya. Namun Nyonya Linda kadung menganggap Pablo kakak terbaik yang pernah ia kenal dengan tulus. Tak lebih. Lelaki itu pun setengah tegar bernyanyi: “Oh the sun’s gonna shine, in my life once more… Love’s gonna live here again…”
***
“Karena tak ada yang percaya mantan narapidana.” Edward menjawab pertanyaan istrinya. Eva hanya penasaran, mengapa Edward begitu setia berkawan dengan lelaki bocah itu. Ia sulit berhitung. Buta warna. Impulsif. Susah membedakan mana kijang mana bison. Lebih banyak tertawa saat gerombolan Jack dulu kerap merisak, “Kau anak yang dipungut orang gunung kelaparan. Beruntung tak dimakan hidup-hidup.”
Sewaktu Jack menghajarnya di pesta ulang tahun kedua belas anak juragan ternak yang ditaksirnya karena Bill mengacau ketika ia terlalu asyik menikmati musik, hanya Edward yang sudi merangkul. Ketika Bill tiba-tiba jadi tertuduh pelaku penembakan seorang pekerja di sebuah pembangkit listrik, hanya Edward yang duduk menghadiri persidangan.
Bocah dua belas tahun penyuka cokelat dan gula-gula menembak orang?
Maka warga lebih percaya mitos Henry McCarty alias William H. Bonney alias Billy the Kid—bajing loncat legendaris—pernah menjadi tukang cuci piring di dapur hotel lokal ketimbang cerita tentang malaikat yang turun ke bumi dari mulut lelaki bocah tambun, berkepala setengah plontos dengan langkah agak pengkor yang setiap usai melumat taco pedas di kafe Don Juan, sisa babi asapnya menyempil di sela gigi seri ketika menyeringai.
“Ceritakanlah tentang malaikatmu.” Jen kecil menatap Bill, ketika ia menyeropot sup hangat secara nikmat. Eva mengelus-elus perutnya yang semakin buncit. “Aku yang bilang,” sahut Edward, masih mengunyah sesuatu.
Bill mengelap mulutnya dan mengembus sejenak. “Apa yang ingin kau ketahui tentang malaikatku?”
“Apakah ia bercahaya?”
“Berkilauan lembut seperti matahari senja di danau.”
“Apakah ia cantik?” Jen semakin antusias.
“Seperti peri surga.”
“Seperti Mama?”
Bill ragu-ragu melirik Eva, lalu Edward.
“Serupa tapi tak sama cantiknya.”
“Jawaban aman.” Eva menukas.
“Tunggu, apa ia punya tongkat, sayap, dan tanduk hitam?” Wajah Jen berganti penuh selidik.
“Dia bukan Angelina Jolie.”
Edward hampir saja tersedak kacang polong.
“Jadi kapan kau terakhir kali bertemu dengannya?”
Bill menggeser-geser bokong, belingsatan. Mulut tergagap. Diam sebentar, wajahnya mendadak bersemu merah. Ingatannya berkelebat.
“Tak begitu lama.”
Dua puluh enam mil dari Road Forks, malam itu.
Waktu hampir menggelincir pagi. Bunga aster bermata biru, berkulit tempaan matahari, terbujur lepas di bawah bulat Bulan Stroberi. Anjing melolong pilu. Udara menyusup masygul tembus jendela. Menampar sepi dua pasang hati: tak ada lagi yang boleh pergi. Helai-helai bulu berserakan, putih, seperti putihnya susu. Di tepi rebah, segalanya tuntas; basah amonia.
“Mawar bermekaran indah di bulan ini.”
“Kau terlalu puitis.”
“Apakah kita akan bertemu lagi?”
“Di dalam mimpi?”
“Berjanjilah kau akan datang lagi.”
“Aku tak bisa berjanji untuk sesuatu yang tak pasti.”
“Perasaanku sangat pasti.”
“Seberapa sangat?”
“Sangat sekali.”
“Maka aku harus mematahkan kedua sayapku.”
“Apakah itu sakit?”
“Sakit sekali.”
“Seberapa sakit?”
“Sesakit perpisahan yang terlalu dini.”
***
Deru motor tua berhenti di halaman. Edward hafal betul suara mesinnya. Dulu ia dan Bill sering dibonceng ke festival tahunan. Ia layangkan kapak sekuat tenaga membelah kayu, tak mau kelihatan kalah dari lelaki yang kini hampir menginjak kepala tujuh itu.
“Gaya tradisional, hah.”
“Sesekali bagus buat lengan.” Edward membenamkan ujung kapak di batangan.
“Proyekmu lancar?”
“Rehat dulu. Properti sedang anjlok.”
Pablo duduk di kursi reyot, mengeluarkan secarik pamflet: Festival Rodeo di Hidalgo.
“Aku mendaftar hanya kalau Jack duduk di kursi penonton. Kita semua tahu siapa yang bakal menang.”
Pablo tak bereaksi lebih jauh. “Buat Eva kalau begitu. Ada kategori cewek. Menambah koleksi pialanya.”
“Aku tak ingin anak kedua kami celaka.”
Pablo terbengong sesaat sebelum terkinjat jenaka. “Benarkah?! Sejak kapan?”
“Masuk trimester dua.”
“Ya ampun. Berapa lama kita tak jumpa?”
“Cukup lumayan.”
“Selamat, Ed. Selamat.”
“Kami bahagia, tapi kondisi sekarang….”
“Anak adalah berkah, Ed. Keajaiban. Patut disyukuri. Bahkan jika kelak dia mendapat masalah …” Pablo berhenti sebentar, “kau ingin sekali dapat menggantikan tempatnya saat itu juga.”
Suasana hening sesaat. Pablo seperti ingin mengatakan sesuatu yang tertahan. Bukan sekadar informasi perlombaan kuda gila.
“Ada sesuatu, Paman?”
“Akhir-akhir ini aku tak bisa tidur. Bill cerita tentang hal aneh padaku. Tidak mengejutkan, tapi sungguh mengherankan. Maksudku, kau tahulah, Bill. Begini, dia cerita bahwa dia bertemu dengan seseorang, ehm, sesuatu … apalah itu. Ia memiliki sayap putih, cantik jelita, dan Bill tiba-tiba bicara soal masa depan. Pernikahan. Bukankah aneh? Dia tak punya siapa-siapa selain aku, dan kau. Aku mendadak takut, Ed.”
“Apa yang Paman takutkan?”
“Kau tahu Nyonya Linda, kan. Sebelum suaminya mangkat, Nyonya Linda sempat ribut kecil dengannya tentang hal ini. Ia cerita padaku. Suaminya pernah bertemu sesosok yang mirip dengan apa yang Bill ceritakan!”
“Ini sudah tak masuk akal.”
Sesuatu berdesir di kepala Edward. Bibirnya menjadi kelu.
“Bill yang malang, aku takut sesuatu yang buruk menimpanya.”
Benak Edward seakan-akan menyuruk ke masa silam. Minggu ketiga bulan Juli. Bill tiba-tiba memperlihatkan sepucuk senapan.
“Aku mengambilnya diam-diam di gudang.”
Keduanya takjub. Keduanya pergi ke daerah bukit. Siang kerontang. Suasana sepi. Itu hanya percobaan iseng dua bocah belasan. Edward mencobanya satu kali. Hanya satu kali saja ke arah, dan waktu, dan hari yang salah.
Minggu seharusnya semua orang pergi ke gereja.
Dan bukan Bill yang seharusnya duduk di sana, di depan wajah gamang para juri dan hakim yang mulia.
“Aku ingin berterima kasih, kau membantunya bekerja. Aku bilang padanya, kau harus baik dan setia pada Edward. Ikatan kalian sangat kuat melebihi pertalian darah. Seperti aku dan Nyonya Linda.”
“Tuhan. Aku sudah cinta anak itu sejak pertama aku menemukannya.”
Kerongkongan Edward terasa kering. Rahangnya mengeras.
“Dia sudah melakukannya, Paman.”
Sudah sejak dulu kala. ***
.
.
Bojongsoang, Juni 2022.
D Hardi adalah seorang cerpenis. Sejumlah karyanya telah tersiar di berbagai media cetak dan digital. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Palindrom (Poiesis/2021). Ia tinggal di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat.
.
Malaikat Lordsburg. Malaikat Lordsburg. Malaikat Lordsburg. Malaikat Lordsburg. Malaikat Lordsburg. Malaikat Lordsburg.