Cerpen Syaiful Anwar Lubis (Waspada, 17 Juli 2022)
KALAU dipikir-pikir benar juga nasihat orang-orangtua dulu; menghadapi persoalan, jangan sampai kalut. Berpi kirlah dengan jernih, agar tidak memunculkan pikiran yang aneh-aneh, bahkan tidak masuk akal. Karena di saat itulah biasanya setan mulai ikut berperan.
Agaknya kekalutan juga yang membuat Sariman berpikiran aneh dan tidak masuk akal seperti saat ini. Bayangkan, penarik beca dayung yang juga petugas pembersih masjid itu, tiba-tiba kepingin bertemu Malaikat. Benar, dan itu bukan hanya terbersit di hatinya tapi sudah menjadi pikiran yang terus terbawa-bawa kapan dan di manapun Sariman berada. Makin dicoba ditepisnya, makin kuat dorongan itu datang.
Orang yang mendengar mungkin menganggap Sariman sudah terganggu jiwanya, atau apalah sebutan lainnya, untuk menekankan bahwa keinginan seperti itu tidak masuk akal. Tapi Sariman tidak terpengaruh, kalau pun ada anggapan miring terhadap dirinya. Sariman memang tidak mengumbar keinginan itu agar orang banyak tahu. Kecuali hanya kepada Solihin yang kebetulan juga bertugas di masjid Al Ikhlas. Solihin sempat bingung ketika pertama kali Sariman menyampaikan keinginannya itu.
“Istiqfar…..istiqfar, Man. Mosok manusia mau bertemu Malaikat. Ngomong opo kowe,” komentar Solihin bernada tidak percaya.
“Aku serius lho, Hin. Apa berdosa kalau kepingin bertemu Malaikat?”
Solihin menggaruk kepalanya. “Soal berdosa enggaknya, aku sih gak paham. Coba nanti tanyakan ke Ustadz Sayuti. Tapi rasanya aneh saja, mau ngapain bertemu Malaikat?” tanya Solihin penasaran.
Sariman tersenyum kecut. “Kalau kusebutkan sekarang, nanti aku malah dianggap lebih gila lagi,” sahut Sariman asal saja.
“Oo, ya sudah. Tapi jangan dibuka ke orang-orang, Man. Takutnya kamu dianggap tidak waras nanti,” saran Solihin.
Sariman mengangguk.
***
Sebenarnya tidak ada yang sangat penting ingin disampaikan Sariman seandainya bisa atau boleh bertemu Malaikat. Satu yang paling utama adalah Sariman kepingin Malaikat menyampaikan pesan kepada Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala agar rezeki Sariman segera diberikan sesuai besaran yang sudah ditetapkan-Nya.
Sariman masih ingat ceramah Ustadz Sayuti beberapa waktu lalu ketika membahas soal rezeki anak Adam di dunia. Ada empat perkara yang ditugaskan Gusti Allah kepada Malaikat saat janin berusia empat bulan atau 120 hari dalam kandungan ibunya. Dua di antaranya adalah, rezeki dan ajal. Untuk rezeki ukurannya sudah ditetapkan, begitu juga soal ajal. Tidak ada tarik-ulur seperti yang terjadi antar manusia di alam fana.
“Seseorang tidak akan sampai ke ujung kehidupannya, jika belum menerima seluruh rezeki yang telah ditetapkan. Itu janji Allah dalam Al Qur’an. Dan janji Allah pasti benar.” Begitu uraian Ustadz Sayuti yang diingat Sariman.
“Itu sebabnya seorang Muslim tidak usah gerasah-gerusuh untuk mendapatkan harta berlimpah di dunia ini. Tidak perlu sampai harus menyikut orang lain, menilap bantuan sosial, atau korupsi ini itu supaya hartanya berlebih. Gak perlu. Apa yang dia paksa untuk diperoleh dengan jalan keburukan itu bakalan habis tanpa dia sadari, karena memang bukan haknya. Lalu kenapa harus sikut-sikutan? Kasihan deh, lu…..”
Geerrrr……, majelis pengajian Senin malam tiap awal bulan itu spontan riuh mendengar kalimat terakhir Ustadz Sayuti yang bernada guyon.
Karena itu pula Sariman kepingin bertemu Malaikat. Apalagi di saat-saat terakhir ini, di tengah pandemi virus yang tidak habis-habisnya. Di saat untuk menutupi kebutuhan makan setiap hari saja Sariman nyaris tidak mampu.
Belum lagi biaya sekolah dua anaknya yang duduk di bangku SMP dan SMA. Syukur si bungsu bersekolah di SD Negeri sehingga tidak perlu biaya uang sekolah atau biaya buku. Semuanya gratis.
Sementara penumpang beca makin hari makin berkurang. Kalau pun ada yang menawar, ongkosnya sangat murah, tidak sebanding dengan jarak yang harus ditempuh kayuhan kedua kaki Sariman, sehingga ia sering menolak, dan calon penumpangnya juga dengan ringan langsung melengos pergi.
Pernah Sariman mencoba mendatangi kenalannya yang tinggal tidak jauh dari kampung Tanah Garapan, tempat Sariman mengontrak rumah sekarang ini, untuk menawarkan diri ikut bekerja sebagai buruh bangunan di kota. Tapi jawaban yang diterima Sariman makin membuatnya bingung.
“Wallah, Man. Aku aja sudah dua minggu nganggur. Pembangunan perumahan di kota lagi dihentikan sementara, karena corona…..” ujar Waliono yang pernah mengajak Sariman membantunya membuat sumur warga.
Tapi sebaliknya, Sariman heran melihat orang-orang ‘berada’ di kampungnya. Mereka sepertinya tidak merasakan dampak akibat mewabahnya virus yang menghebohkan dunia itu.
Buktinya, mereka tetap anteng-anteng saja. Haji Sakirun, misalnya. Hampir setiap sore saat Sariman mengayuh beca melintasi rumahnya, juragan sapi itu duduk dengan nyaman di teras rumah ditemani isterinya sambil menikmati minuman hangat yang terhidang di atas meja di depan mereka.
Kadang Sariman sengaja memperlambat laju beca kalau dilihatnya Haji Sakirun sedang duduk di teras rumahnya yang mewah. Ada terbersit harapan di hati Sariman, kalau-kalau tetangganya itu memanggil dan memberi bantuan, sedekah atau apalah namanya. Namun sayangnya apa yang diharapkan Sariman tidak pernah terkabul. Haji Sakirun cuma tersenyum ke arah Sariman.
Begitu juga Rustam, tuan tanah yang memiliki ratusan pintu rumah sewa, yang tinggal persis di persimpangan jalan masuk ke arah rumah kontarakan Sariman. Atau Zainal Abidin, pedagang besar daging sapi di Pajak Sentral itu, atau Haji Mukhlis pengusaha jual-beli mobil yang shoowroom-nya cukup besar di pinggir jalan lintas Medan-Belawan.
Kenapa hati mereka tidak pernah tergerak untuk mengulurkan bantuan? Padahal mereka mengenal Sariman, salah seorang petugas kebersihan masjid Al-Ikhlas, dan selalu bertemu tiap kali berjamaah.
“Mungkin saja mereka sudah bersedekah dengan orang lain, atau dengan cara yang tidak kita ketahui. Sedekah ‘kan tidak harus diketahui orang lain? Malah bisa jadi ria. Begitu kan, kata Ustadz Sayuti? Masa harus dipaksa sedekah ke aku atau kowe to Man?”
Komentar Solihin saat Sariman melepaskan uneg-unegnya. Saat itu keduanya masih duduk di beranda samping masjid ba’da sholat Isya’ berjamaah. Masjid sudah sepi dari tadi. Sariman baru selesai mengunci pintu-pintu gudang perlengkapan dan mematikan mesin pompa air di kamar wudhu’.
“Bukan ngeles, sih, aku cuma teringat. Ada tetangga di kampung sendiri begitu susah hidupnya dan tiap hari terlihat, kenapa sedekahnya ke orang lain di luar sana?” balas Sariman.
“Susah juga menjawabnya, Man. Soalnya, sedekah itu menyangkut pribadi masing-masing. Tapi mudah-mudahan saja apa yang menjadi harapanmu kepada mereka didengar Malaikat dan disampaikan ke Gusti Allah, hingga suatu saat hati mereka digerakkanNya untuk membantu kowe,” Solihin memberi semangat.
Keduanya kemudian beriringan meninggalkan masjid. Sebelumnya Sariman memasukkan kunci ke dalam kotak penyimpanan agar menjelang subuh besok bisa ditemukan petugas lain yang kebetulan datang ke masjid lebih dulu. Tidak lupa Sariman menutupkan pintu gerbang masjid dan melangkah gontai kembali ke rumahnya.
***
Apakah Tuhan belum mendengar do’aku? Apakah Malaikat belum menyampaikan keluhanku menghadapi kesusahan ini? Apa aku sedang diuji Gusti Allah?
Bathin Sariman bertanya-tanya sendiri tiap kali usai melaksanakan sholat. Begitu berat beban yang dirasakan Sariman. Matanya terpejam ingin menangis. Padahal sholat subuh tadi Sariman sudah menangis panjang saat berdo’a.
Dia tafakkur sedalam-dalamnya memohon kepada Tuhan agar diberi jalan keluar menghadapi kesulitan hidup. Diberi rezeki yang diharapkan bisa mengatasi persoalan di rumahtangganya.
***
Sariman buru-buru menyambar baju koko putih di jemuran ketika mendengar muadzin sudah mengumandangkan azan pertama sholat Jum’at. Baju terbaik milik Sariman yang hanya dipakai untuk Jum’atan pagi tadi dicuci isterinya, karena sudah dua minggu dipakai berturut-turut.
Sariman melangkah tergesa-gesa. Masjid sudah penuh ketika Sariman sampai. Ia langsung mencari tempat yang masih kosong, di sudut kiri bagian luar masjid. Sariman langsung melaksanakan sholat sunnat dua rakaat dan bersimpuh untuk mendengar Khatib menyampaikan kutbah. Namun kali ini Sariman tidak bisa khusuk. Pikirannya terus berkecamuk, terlebih-lebih teringat pesan isterinya pagi tadi.
“Batas waktunya hari ini lho, Bang. Kita sudah telat dua minggu membayar uang kontarakan bulan ini.”
Kalimat isterinya itu kembali terngiang-ngiang di telinga Sariman. Kemana harus mencari uang Rp 300.000 untuk bayar kontrakan rumah? Rasanya tidak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sehari dengan mengandalkan penumpang beca yang dikayuhnya.
“Duh! Malaikat pembawa rezeki, kenapa tidak datang juga?” Bisik hati Sariman.
Sampai sholat Jum’at selesai, Sariman sama sekali tidak menyimak isi khutbah yang disampaikan Khatib dari atas mimbar.
Setelah Jamaah bubar, Sariman bersama beberapa petugas lain langsung menggulung sajadah panjang yang biasa dibentangkan di halaman depan masjid, lalu menggotongnya masuk ke dalam gudang penyimpanan perlengkapan. Beberapa pengurus lain sibuk mengumpulkan kotak infaq, untuk dihitung jumlahnya. Seperti biasa, pendapatan dari kotak infaq akan ditulis di papan pengumuman, sebelum diumumkan ulang pekan depan di depan Jamaah sholat Jum’at.
Selesai mengerjakan tugas-tugasnya termasuk menyapu beranda dan memeriksa kran-kran air di ruang wudhu’, Sariman berselonjor di beranda samping dekat pintu gudang penyimpanan perlengkapan masjid. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya yang sudah sepi. Semua Jamaah dan petugas BKM sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal Sariman di sana, dengan pikiran yang berkecamuk.
Matanya menatap jauh menyeberang jalan lintas di depan masjid yang tetap sibuk dengan lalu lalang kenderaan. Ia menghembuskan nafasnya kuat-kuat seakan ingin mengusir kegundahan yang ada di bathinnya.
Baru saja ia menghenyakkan tubuhnya di lantai masjid, seorang laki-laki mengendarai sepeda motor memasuki halaman masjid. Lelaki itu mengenakan kain sarung motif kotak-kotak kecil berwarna hijau lumut, dan baju koko putih. Di kepalanya masih menempel peci hitam menandakan orang ini juga baru selesai sholat Jum’at.
Lelaki yang ditaksir Sariman seusia dengan dirinya, memarkirkan sepeda motor di halaman samping lalu melangkah ke arah Sariman. Melihat sepintas, rasanya Sariman belum pernah mengenal tamu yang datang ini. Ada perlu apa ke sini setelah masjid kosong? Pikir Sariman. Sariman menunggu lelaki itu mendekat.
Begitu dekat, tamunya menegur dengan sopan setelah mengucapkan salam. “Pak Sariman kan? Saya Husin, Pak,” sapanya sambil mengulurkan tangan. Sariman menjawab salam tamunya. Entah siapa yang memberitahu kalau dia Sariman.
“Benar,” jawab Sariman.
Tangan mereka bersalaman.
“Mari duduk,” Sariman menawari tamunya duduk di beranda masjid. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Terimakasih, Pak Sariman. Saya hanya singgah sebentar, ingin menyampaikan titipan dari Ibu saya untuk disampaikan ke Pak Sariman,” jawab Husin.
“Titipan? Titipan apa?” Sariman membathin.
Sebelum Sariman bertanya, Husin sudah melanjutkan ucapannya.
“Begini, Pak. Ibu meminta saya menitipkan ini untuk Bapak,” ujar Husin sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku baju kokonya, lalu menyerahkannya ke tangan Sariman.
Beberapa detik mata Sariman melirik amplop putih yang sekarang dipegangnya. Hatinya masih bertanya-tanya; Siapa Ibu orang ini sampai harus meminta anaknya menyerahkan titipan untukku? Pikir Sariman lagi.
“Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak. Assalamualaikum……,” Husin membalikkan badan melangkah meninggalkan Sariman.
“Oooo, ya….ya….., silahkan.” Sariman tergagap. “Terima kasih banyak, ya. Sampaikan salam saya ke Ibu. Titipannya sudah saya terima. Semoga Ibu diberi panjang umur dan murah rezeki,” sambungnya.
Tamunya tiba-tiba menghentikan langkah. Ia kembali mendekati Sariman yang masih berdiri dengan benak yang menyimpan banyak pertanyaan belum terjawab.
“Ibu saya sebenarnya sudah wafat dua tahun lalu, Pak. Tadi malam saya bermimpi, Ibu datang dan meminta saya menyerahkan sedekah untuk pak Sariman di masjid Al Ikhlas ini. Dulu katanya Ibu sering menumpang beca Pak Sariman,” jelas Husin. “Mungkin Pak Sariman sudah tidak ingat wajah Ibu saya.”
Sariman tercekat. Ia terbengong mendengar ucapan tamunya. Lidahnya tiba-tiba kelu, tidak bisa mengucapkan kalimat apa pun.
Sampai tamunya meninggalkan halaman masjid, baru Sariman tersadar. Dibukanya amplop putih yang dititipkan Husin. Matanya terbelalak melihat tiga lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang ada di dalam amplop! ***
.
.
Deli Serdang, ba’da Jum’at 23 Januari 2021.
Syaiful Anwar Lubis adalah penulis sastra yang cukup produktif di era 1980 hingga 1990-an. Selain penulis sastra, dia juga dikenal sebagai wartawan dan redaktur di sejumlah media cetak, di antaranya di surat kabar Dobrak dan RCTI. Belakangan, mungkin karena kesibukannya sebagai jurnalis, aktivitasnya menulis sastra mulai berkurang. Tapi sastra ternyata tak pernah hilang dari dirinya. Kini penulis yang dulu karya-karyanya, baik puisi maupun cerpen, banyak dipublikasikan di berbagai media cetak terbitan Medan ini, kembali menulis.
.
Sariman dan Malaikat. Sariman dan Malaikat . Sariman dan Malaikat . Sariman dan Malaikat . Sariman dan Malaikat . Sariman dan Malaikat .