Wangi Baju Koko

Cerpen Sule Subaweh (Radar Mojokerto, 17 Juli 2022)

DENGAN tangan gemetar Dullatip mulai menyentuh baju koko kesayangan almarhum bapaknya. Dari baju yang terlipat di atas nampan itu, dia mencium wangi parfum, parfum yang dulu seringkali dipakai ketika akan pergi ke masjid. Gurat penyesalan tergambar di wajah Dullatip saat menggeser dan mengeluarkan nampan berisi baju koko kesayangan almarhum bapaknya dari dalam lemari.

“Bapakmu dipaksa harus mengakui tuduhan orang-orang kampung tentang keterlibatan almarhum dengan organisasi terlarang, PKI,” kata-kata Husni mengiang.

Husni adalah sahabat satu-satunya yang menjadi jembatan berkomunikasi dengan ibunya ketika Dullatip di rantau.

“Bapakmu tidak kuat dengan tatapan sinis dan gunjingan warga.” Husni menarik napas. “Seharusnya dia diam saja dan tutup telinga. Tapi telinga bapakmu lebih tajam dari celurit yang diasahnya.”

Tangan Dullatip terkepal erat mendengar cerita Husni. Dia memang tidak terima dengan kematian bapaknya, tapi dia lebih tidak terima bahkan tidak mau mengakui bapaknya jika benar dia adalah antek PKI.

“Bapakmu mati dikeroyok warga saat melabrak seorang warga yang menyebarkan isu bahwa bapakmu seorang PKI.”

Dullatip memilih tak berkomentar saat Husni bercerita lama hingga teleponnya terputus. Itulah kenapa ibunya memintanya tidak pulang dan tidak mau bercerita tentang kematian bapaknya.

Dullatip yang sedang mengikuti tes ABRI waktu itu harus menelan dua duri setelah dia tidak lolos tanpa alasan yang jelas. Kekecewaaan pada bapaknya mengembang seperti balon yang ditiup hingga pecah. Karena alasan itulah dia mengganti nama cinanya menjadi Dullatip.

“Apakah karena mata Bapak sipit?”

“Mungkin.”

“Mata Bapakmu juga sipit.”

“Hidung bapakku juga mancung.”

Setiap kali Dullatip teringat dengan almarhum bapaknya, apa yang dikatakan oleh Husni selalu terngiang, hingga kemudian mengguncang dan menyiksa perasaan dan pikirannya.

Dan setiap kali ingatan yang bikin dia tersiksa dan pilu itu datang, buru-buru Dullatip menyumpal telinganya dengan telunjuk setiap ingatan itu tiba-tiba datang begitu memilukan.

***

“Jangan berlama-lama memandang baju itu,” Dullatip menoleh ke ibunya yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Baju warna putih, kerah shanghai, panjangnya hampir menutupi lutut itu sudah ada sejak dia kecil. Hingga hampir kepala tiga dia baru sadar bahwa baju koko itu satu-satunya milik bapaknya.

“Itu baju kesukaan Bapakmu,” Dullatip melirik ke asal suara ibunya.

“Itu alasan Ibu tidak memberikan baju Bapak kepada orang lain?”

Ibu Dullatip mengangguk sambil menutup paksa pintu lemari seperti tak ingin mengingat almarhum suaminya.

Dullatip sendiri tidak banyak tahu alasan kenapa baju itu masih disimpan ibunya. Mungkin untuk mengenang atau mungkin atas alasan, hanya baju koko inilah membuat ibu kuat.

Ibu Dullatip membiarkan saja anaknya berlama-lama tinggal di kamar masa kecilnya. Bahkan dia tidak ditegur ketika untuk kesekian kalinya membuka pintu lemari yang di dalamnya tergantung baju koko milik almarhum bapaknya.

Dullatip mengangguk pelan sambil terus memperhatikan baju koko di atas nampan dan di atas lipatan baju itu ada sebuah mangkuk berisi air, bertabur bunga tujuh rupa.

Ibu Dullatip bercerita, setiap hari Kamis malam, mengundang Keh Suki agar membaca ayat-ayat suci dan berdoa di dekat baju koko milik almarhum bapaknya. Keh Suki sendiri adalah guru mengaji Dullatip kecil.

***

Dullatip yang tinggal di rantau bersama istri dan anaknya sengaja cuti pulang kampung. Kota, tempat dia tinggal membuatnya suntuk dan buntu. Dia ingin menenangkan diri dan kembali mengenang masa kanak-kanak dulu di kampung kelahirannya.

Baju koko itu mengantarkan Dullatip menemukan masa lalunya yang menjauh.

“Pas,” serunya di depan cermin melihat baju koko itu menyelimuti badannya. Dia seperti melihat wajah bapaknya pada wajah sendiri. Dia meraba dagu sambil memiringkan kepala lalu mengangguk diikuti ingatannya pada kebiasaan bapaknya, mengoleskan parfum ke lengan, ke nadi tangannya dan menggosokkan ke bagian leher sebelum berangkat ke musala. Dullatip mencium wangi parfum di baju koko almarhum bapaknya yang masih melekat, membuatnya teringat pada kebiasaan bapaknya yang selalu bangun tengah malam.

Hampir setiap malam Dullatip mendengar langkah kaki, kucuran air dan doa yang diucapkan bapaknya seusai berzikir. Sungguh, bila dia teringat suara doa dan zikir yang selalu dibaca bapaknya, dia merasa tersayat dan bayangan almarhum bapaknya tampak. Dia tidak pernah bertanya tentang doa yang tak jelas itu. Bapaknya pendiam. Mereka juga jarang berbicara perihal keinginan-keinginannya.

Seingat Dullatip, waktu senggang bertemu dengan bapaknya hanya ketika waktu menjelang magrib. Begitu jam delapan malam, Bapaknya biasanya sudah tidur kelelahan. Dan bangun tengah malam hingga subuh, seusai salat subuh, bapak Dullatip berangkat melaut, menangkap ikan teri.

Dullatip hampir tidak punya kenangan khusus dengan bapaknya. Kini, hanya baju itu yang mengingatkannya pada masa lalu. Ingatan-ingatan tentang bapaknya mulai berdesakan di kepalanya.

Kadang dia tersenyum kadang murung, lain pula dalam hatinya yang marah pada sikap sendiri selama ini. Dia bahkan tidak sempat menunjukkan kesuksesannya sekarang. Yang paling disesali, Dullatip tidak berada di samping bapaknya sebelum meninggal.

“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi,” kembali ibunya mengagetkannya.

Sambil memasukkan kancing ke lubang baju, Dullatip melirik mengikuti langkah Ibunya keluar kamar. Perlahan dia ingat kebiasaan bapaknya meletakkan baju itu di balik pintu sehabis salat.

Dullatip menoleh ke pintu. Bau amis bercampur parfum kasturi menguar seketika. Di belakang pintu itu bapaknya akan segera mengganti baju dengan kaos lengan panjang lengkap dengan celana training yang biasa dipakai saat melaut. Lalu berangkat sambil menenteng bekal yang disediakan ibunya.

Jika mujur bapaknya akan pulang siang, tapi kalau lagi sial, dia akan pulang jam lima sore. Bau amis itu kini menyengat, tak mau pergi di hidungnya.

“Apakah baju ini baju pemberian, Ibu?”

“Bukan.”

“Lalu.”

“Entahlah. Mungkin beli sendiri atau pemberian juragannya. Ibu lupa. Sebelum ibu menikah baju koko itu sudah ada.”

Dullatip mencoba mengingat asal baju koko itu tapi selalu menemui jalan buntu. Semakin dia menelusuri semakin mengalir ingatan tentang bapaknya, semakin kencang pula debar dadanya.

Dia seperti melihat aktivitas yang selama ini jarang diperhatikannya, seperti kebiasaan bapaknya yang ngaji, membaca surat yasin setiap malam jumat, juga raut wajahnya yang lelah saat tak banyak ikan yang ditangkap.

Ingatan demi ingatan membuat Dullatip diam, tatapannya kosong. Wajah bapaknya terus memenuhi pikirannya. Dadanya bergerak ritmis diikuti ingatan pada bapaknya yang duduk tengadah sambil menyebut namanya berkali-berkali dalam doa.

Dullatip seperti berada dalam dimensi lain. Dia seperti menyaksikan kegiatan bapaknya yang luput dari perhatiannya selama ini. Di sela-sela ingatan itu ada yang keluar dari matanya diikuti ingatannya, yang tak pernah mendoakan bapaknya. D

ari sekian ingatan, hanya ingatan itu yang membuat air di matanya deras. Kesibukan telah menutup bibirnya untuk mengirim doa. Ziarah kubur hanya dilakukannya saat menjelang lebaran.

Dullatip menghela napas lalu kembali melihat baju koko itu dari cermin. Dia melihat kantung matanya yang semakin menebal juga kerutan di wajahnya, bergaris-garis. Napasnya pendek. Rambutnya yang hitam putih ditutupi dengan songkok. Seperti yang dilakukan bapaknya, Dullatip melangkah ke mushola diikuti doa di sisa usianya.

Sepanjang jalan menuju musala, kembali Dullatip teringat dengan tuduhan warga yang membuat bapaknya meninggal. Ingat pula dia aktivitas keseharian bapaknya yang menghabiskan waktunya untuk nelayan.

“Mungkinkah bapak ikut organisasi PKI?”

Dullatip menghentikan langkah. Lamat-lamat wangi kasturi menyeruak dari bajunya yang dihempas angin.

“Tidak mungkin!” serunya sambil bergegas ke mushola.

Kaki Dullatip bergerak cepat diikuti getar dadanya sepanjang jalan. ***

.

.

2022 UAD Jejak Imaji.

SULE SUBAWEH. Bekerja di UAD dan aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya “Bedak dalam Pasir” terbit 2017. Cerpen keduanya akan terbit 2022 di Diva Press.

.

Wangi Baju Koko. Wangi Baju Koko. Wangi Baju Koko.

Arsip Cerpen di Indonesia