Cerpen Edy Firmansyah (Media Indonesia, 21 Agustus 2022)
“UMURKU 10 tahun ketika sebuah truk berhenti di depan rumah. Beberapa orang bersenjata laras panjang turun, masuk ke halaman rumah dan memanggil nama bapak. Aku baru pulang dari surau ketika itu. Karena takut, aku bersembunyi di bawah pohon kenitu. Orang-orang itu mulai melempari rumah dengan batu. Beberapa yang lain menggedor pintu dengan popor senapan. Ibu keluar menghadang sambil menggendong adikku. Sebuah tembakan meletus, ibu terkapar. Bapak keluar. Wajahnya dihantam popor senapan kemudian diseret masuk ke truk. Begitu truk pergi, aku menghampiri ibu. Aku memeluknya, memeluk adikku. Tembakan itu merenggut nyawa keduanya. Kejadian malam itu sulit aku lupakan. Bahkan, tidur-tidurku selalu dihinggapi mimpi buruk hingga sekarang.”
Kulitnya sawo matang, rambutnya ikal mayang dan penuh uban, wajahnya seperti penyanyi Elvi Sukaesih, tanpa tahi lalat di dagu. Bajunya berwarna ungu. Meski telah keriput, aura kecantikannya tak kemput.
Nada suaranya gemetar. Seperti juga diriku, ia mungkin masih menyimpan kemarahan. Hanya karena pekerjaan, kemarahanku tak bisa serta-merta aku ledakkan. Aku harus bersikap tenang. Setenang sanca memburu mangsa.
“Kau masih merekam?”
Aku perhatikan alat perekamku. Lampu indikatornya berkedip ungu. Aku mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan sebungkus rokok. Mengambilnya sebatang, meraih korekku lantas menyulutnya.
“Kau tahu, kata orang memiliki rumah di pinggir jalan adalah keberuntungan. Hidup jadi mudah. Tapi di masa itu justru merupakan nasib sial. Rumah di pinggir jalan di masa itu adalah neraka. Samar aku masih menyaksikan truk itu bergerak lalu berhenti lagi. Di sebuah rumah yang tak jauh dari rumahku. Terdengar suara tembakan. Lantas teriakan minta tolong. Tapi tak ada satu pun tetangga yang keluar rumah. Aku tahu mereka mengintip. Tapi tak mau melakukan sesuatu. Mereka hanya menaruh iba. Tapi rasa iba tidak akan membuat segalanya berhenti.”
Malam makin larut di kafe itu. Seorang penyanyi melantunkan Chiquitita, lagu lawas yang pertama kali dipopulerkan ABBA, kelompok musik pop asal Swedia. Aku menatap Imelda—setidaknya begitu ia mengenalkan diri, meski aku tahu nama aslinya adalah Lenina sebelum ia mengganti semua riwayat hidupnya dengan nama baru itu—dan kuperhatikan matanya senyalang serigala, tapi kini tampak meremang seperti petromak kehabisan spirtus. Seolah menahan beragam kepedihan.
Imelda. Sejak beberapa tahun lalu, namanya jadi perbincangan di kalangan jurnalis. Teman-teman seprofesiku menyebutnya sebagai juru kunci. Ia memiliki data sekaligus saksi mata terakhir mengenai apa yang terjadi saat pembersihan orang-orang komunis di Madura sepanjang 1965-1966. Selama peristiwa itu, ketimbang daerah lain, Madura cenderung sepi dari sorotan media. Tak banyak data atau catatan yang bisa diolah. Seolah-olah tak terjadi apa-apa di pulau garam pada tahun-tahun mencekam itu. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.
Berdasarkan satu-satunya laporan yang pernah aku baca berjudul Report from East Java (RfJ) *) yang diterbitkan Jurnal Indonesia milik Southeast Asian Program Cornell University, edisi No 41, April 1986, penghancuran PKI di Madura berjalan mengerikan (gruesome) ketimbang wilayah lain. Massa bergerak membakari gudang-gudang tembakau milik warga Tionghoa karena dianggap yang membiayai PKI selama ini. Toko-toko mereka juga tidak lepas dari perusakan. Beberapa pemimpin PKI ditangkap dan ditahan, termasuk dua pentolan PKI yang sempat melarikan diri keluar Madura.
Sayangnya, laporan itu ditulis anonymous, alias tanpa nama penulis. Ditulis dengan bahasa gado-gado (Indonesia, Inggris, dan Belanda) penulis RfJ menggambarkan secara singkat pemberangusan PKI oleh militer dan organisasi sipil selama Oktober-November 1965 di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, salah satunya di Karesidenan Madura.
RfJ juga menjelaskan kemarahan warga yang mula-mula menyasar orang komunis dan Tinghoa meluas menjadi sentimen anti-Jawa. Dalam pandangan mereka, orang Jawa-lah yang membawa komunisme masuk Madura. Beruntung sentimen bisa diredam aparat militer dengan meminta bantuan elite NU dan Anshor yang memang punya pengaruh kuat di Madura sebab beberapa elite NU merupakan mantan inspektur brigade mobil, satuan elite kepolisian.
Imelda disebut-sebut memiliki dokumen lebih dari yang apa yang ada dalam RFJ. Imelda memiliki dokumen penting mengenai nama-nama orang yang membunuh, baik dari tentara, pimpinan organisasi masyarakat dan keagamaan, maupun sekadar orang-orang gila yang bergembira tangannya berlumuran darah saudara sebangsanya sendiri. Termasuk peta lokasi kuburan massal di Madura. Jelas dokumen itu berbahaya. Setidaknya bisa membuat lubang pantat kekuasaan terserang ambien hebat.
Namun, sungguh sulit menemukan Imelda. Ia pandai bersembunyi dan sepertinya tidak mudah memercayai orang. Mungkin pengalaman hidupnya membuatnya selalu waspada. Sudah banyak wartawan yang mencoba melacak jejak dan keberadaannya. Aku salah satu yang terus memburunya. Untuk mendapatkan berita eksklusif dan aku bisa jadi pahlawan. Namun, hasilnya nihil. Ia seperti hantu. Dibicarakan, tapi tak kasatmata.
Pertemuanku dengannya ialah keberuntungan belaka. Aku baru saja selesai mengemasi barang di kamar hotel dan hendak pulang seusai meliput karapan sapi di Pamekasan, ketika tiba-tiba telepon kamar hotelku berdering.
“Aku punya informasi penting untukmu. Dan aku bersedia diwawancarai hanya denganmu,” kata perempuan di ujung telepon. Aku gagal menanyakan informasi apa. Ia hanya menyebutkan tempat bertemu. Aku menyanggupi.
“Aku tua dan akan mengenakan baju berwarna ungu. Duduklah di meja nomor 7. Meja yang tepat menghadap ke pintu kafe. Jangan terlambat,” katanya. Lalu, telepon di seberang sana ditutup.
Aku mendatangi kafe yang dijanjikan. Tanpa pernah banyak berharap. Terlalu berharap pada narasumber yang tidak jelas memiliki informasi penting macam apa hanyalah buang-buang tenaga. Hanya sekaleng bir dan berjanji pada diri sendiri akan pergi setelah menghabiskan kerak bir terakhir. Mulanya aku menduga kafe untuk para manula. Hampir sebagian besar pengunjungnya orang-orang usia senja. Perempuan tua berbaju ungu banyak berseliweran. Seolah hari itu ungu ialah sebuah dresscode. Nyatanya tidak juga. Beberapa anak muda duduk di sudut ruangan sembari bersenda. Para penyanyinya pun masih cukup muda dengan suara bulat dan melenakan.
Aku sudah berada di pintu untuk keluar ketika seorang perempuan menghadangku di pintu itu.
“Larawati, kita masih punya janji bertemu, bukan?” katanya sembari menyebut namaku. Aku sedikit terkejut.
“Awalnya aku punya janji dengan seseorang. Sekarang sudah tidak lagi. Waktuku habis,” kataku.
“Aku hargai kesabaran Anda. Perjumpaan kadang memang tak pernah tepat waktu. Aku minta maaf karena keterlambatan itu. Bisakah kita mulai?”
Aku diam sejenak. Apakah perempuan ini yang meneleponku? Mendadak ia menyeret tanganku kembali duduk di tempat semula. Di sinilah kami sekarang. Dua orang perempuan. Tua dan muda. Bermuka-muka dalam sebuah sesi wawancara yang menggetarkan jiwa. Namun, aku harus tetap tenang. Setiap ketenangan selalu membuahkan keberhasilan.
“Lantas apa yang Anda lakukan setelah malam itu?”
“Aku berjalan ke arah truk itu pergi. Berjalan terus melintasi malam. Berharap melewati kantor polisi atau tempat apa pun yang memiliki telepon. Aku ingin menelpon pamanku dan meminta ia menjemputku. Aku melewati rumah terakhir yang dikunjungi orang-orang di truk itu. Rumah itu porak-poranda. Pintunya masih terbuka. Namun, tak ada satu pun penghuninya. Beberapa gerombolan orang datang. Menjarah barang-barang di rumah itu sambil berteriak-teriak merdeka lantas mereka pergi.”
“Apakah Anda tidak membual?”
“Apakah tampangku mirip tukang obat di pasar?”
“Tidak.”
“Jadi aku tidak membual. Lagi pula tidak ada gunanya berbual-bual tentang peristiwa yang membuat banyak orang dihantam kesedihan.”
“Apakah Anda selamat hingga sekarang karena paman Anda?”
Imelda menggeleng. Ia mendorong tangannya ke arah asbak lantas dengan lembut menyentikkan juntaian abu rokok yang memanjang mirip tahi ikan mas koki. “Setelah perjalanan kurang lebih lima kilometer, sebuah jip militer berhenti di sampingku. Belakangan aku tahu pengemudinya seorang kolonel. Ia menawarkan bantuan. Aku menerimanya. Kukatakan padanya aku hanya ingin menelepon dan ia mengangguk. Namun, sampai di rumahnya aku dilarang memakai telepon. Aku dikurung di dalam kamar. Namun, ia memberiku makan. Tiap malam ia menggelar rapat dengan orang-orang bersuara berat. Beberapa orang bercerita dengan bangga bahwa ia telah memenggal setidaknya 10 kepala komunis dengan goloknya.”
“Setelah hampir tiga bulan aku disekap dalam kamar. Akhirnya aku diizinkan keluar. Aku mencuci semua pakaiannya, membersihkan rumahnya, dan menyiapkan makan. Ia senang sekali. Pada usiaku yang kesebelas ia memerkosaku. Aku menangis dua hari dua malam. Tapi ia selalu berkata bahwa ia akan menikahiku ketika usiaku 17 tahun. Kolonel itu juga yang mengganti namaku dan membuatkan aku akte baru.”
“Kok lama-lama cerita Anda mirip drama Korea.”
“Bukankah hidup ini hanyalah panggung sandiwara?”
Aku menatap mata Imelda. Kilatan matanya tidak menampakkan kebohongan. Ia bercerita dengan dingin.
“Kaleng bir Anda tampaknya telah habis. Saya akan memesan lagi,” katanya. Ia melangkah ke meja kasir. Berbincang sejenak dengan kasir kemudian membawa dua botol bir dingin. Ia meletakkannya di meja dan aku langsung menyambar satu lantas menenggaknya. Imelda tersenyum. Ia menyulut sebatang rokok lagi.
“Jadi, dari kolonel itu Anda mendapatkan dokumen-dokumen itu?”
“Lebih tepatnya aku mencurinya,” katanya. Ia menunduk. Membuka tas dan mengambil map berwarna kuning dengan tumpukan berkas di dalamnya dan meletakkan di meja. “Semua catatan ada di sini,” lanjutnya.
“Boleh aku melihatnya?”
“Silakan.”
Aku membuka lembar demi lembar berkas itu. Mataku terbelalak. Jadi, dokumen-dokumen itu nyata adanya. Ini akan jadi berita luar biasa. Aku menutupnya dan kembali bertanya.
“Apa maksud Anda dengan mencurinya?”
“Ketika usiaku 17 aku meracuninya. Aku tahu kebiasaannya, setiap akan bercinta ia selalu minum jamu madu dan pinang muda. Aku yang membikinnya.”
Mendadak dadaku berdebar hebat. Kepalaku seperti dihantam bola boling. Mataku berkunang-kunang. Tubuhku gemetar.
“Apa yang Anda lakukan Imelda?” desisku. Tanganku mencoba merogoh ke dalam tas tempat pistolku mendekam.
“Aku tahu Anda seorang agen ganda yang menyamar sebagai wartawan dan hendak membunuhku. Memusnahkan semua dokumen yang kumiliki. Hmmm, tidak semudah itu. Pemerintahmu memang merasa selalu benar. Tapi tak akan selamanya selalu menang,” ujarnya tenang.
Imelda kemudian berdiri. Ia memasukkan kembali map kuning itu ke dalam tasnya. Tanpa menengok lagi, ia melenggang menuju pintu keluar.
“Imelda… Imelda… tolong aku!” Mulutku terus mengeluarkan busa. ***
.
.
Edy Firmansyah, pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Buku Kumpulan cerpen terbarunya ialah Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, Agustus 2021). Sedang menyiapkan buku kumpulan cerpen ketiganya.
.
.