Cerpen Susanto Aboge (Suara Merdeka, 21 Agustus 2022)
“RAMANDA, aku mau dikawinkan dengan Kakang Prabu Duryudana, tetapi ada satu syarat. Saat siraman nanti, aku ingin Kakang Arjuna yang memandikannya,” kata Banowati kepada Prabu Salya.
“Apa tak ada persyaratan lainnya. Itu mustahil,” kata Raja Mandaraka menatap tajam putrinya. Ia tahu betapa Arjuna dan Banowati memang sudah saling cinta mati.
Mendengar hal itu, muka Duryudana merah padam. Ia tahu bahwa cinta Banowati memang hanya untuk penengah Pandawa. Namun demi mendapatkan sekutu politik, ia rela melakukan pernikahan politik meski harus bertepuk sebelah tangan. Bahkan hingga akhir hidupnya, Duryudana tak pernah mendapatkan cinta istri sahnya.
Saat pinangan itu terjadi, Arjuna berada di luar istana. Sejak saat itulah, sebagai ksatria Arjuna tak dapat membedakan lagi apa arti kemenangan atau kekalahan. Apa guna cinta sejati tanpa ikatan suci.
Sebagai lelaki saat itu, ia lebih banyak mengutuki diri. Kesaktian, kemahirannya memanah seolah tak berguna. Daya hidup dan kejantannya seakan rontok, saat kekasihnya diboyong raja durjana Kurawa.
Hingga kemudian yang bisa ia dan Banowati lakukan hanya menahan rindu terlarang. Melampiaskan cinta dalam persembunyian tanpa kepuasan. Selalu saja, persetubuhan raga itu terasa hambar dan tak pernah terpuaskan.
“Kelak kau akan tetap kuperistri secara sah. Itu pasti, meski di Kurusetra nanti. Lambat atau cepat, kekasihku. Itu pasti. Aku berjanji?” kata Arjuna.
Mereka tahu, setiap kali pelampiasan rindu terlarang itu terjadi dan dituntaskan, selalu ada seseorang yang mengawasi. Mata Aswatama.
***
Peristiwa itu seolah baru kemarin sore terjadi di hadapan mata Arjuna. Banowati, perempuan yang dicintainya sejak pandangan pertama itu kini telah kaku dan dingin di pangkuannya. Kematian benar-benar menjadi pemutus kisah cinta sejatinya.
Duryudana telah mati, Kurusetra telah sepi, namun apa arti kemenangan Pandawa. Apalah bedanya dengan kekalahan? Banowati, perempuan jelita pujaan manusia dan dewa itu harus berakhir di tangan Aswatama, si pengecut. Malam pernikahan yang tiga hari lagi terjadi, kini tak mungkin terjadi. Sekali lagi Arjuna gagal memenuhi janji. Perempuan yang dinantikannya selama bertahun-tahun kini telah mati.
Mayat Aswatawa, teliksandi Kurawa itu tergeletak. Namun di mata Arjuna, mata pengecut itu melotot usai nyawanya terbetot oleh pasopati yang tertendang bayi Parikesit. Tak hanya itu, melihat Aswatama tertawa melihat penderitaannya.
“Aku tidak mati, aku telah memenangi perang ini!” teriak Aswatama terdengar menggema di telinga putra ketiga Kunti ini.
Sekelebat peristiwa demi peristiwa yang seolah berlangsung kemarin sore itu terputar kembali di depan Arjuna.
“Kalau aku tak mendapatkan Banowati, maka lebih baik Banowati mati suatu saat nanti hingga semua tak akan mendapatkannya. Baik Duryudana ataupun engkau Arjuna,” kata Aswatama saat memergoki Arjuna dan Banowati bercumbu di bawah pohon kamboja belakang kaputren suatu malam.
Sambil membobong mayat Banowati menjelang pagi itu, Arjuna bangkit. Sambil menatap langit, ia berteriak sekeras-kerasnya.
“Beginikah para dewa, puaskah kalian dengan kekalahan kami sebagai manusia! Apa guna rupawan jika terus digulung penderitaan. Apa guna kemahiran dan kemenangan jika itu hanya nisbi tak berarti,” teriaknya.
Tertatih-tatih ia keluar dari tempat pingitan Banowati. Tubuh Banowati yang dingin dan kaku masih dibopongnya. Ia tak menangis, justeru ia tertawa melihat sekelilingnya. Matanya semakin tertuju pada mayat Aswatama.
Di hadapannya, mayat Aswatama itu masih tertawa. Semakin dekat semakin keras tawanya. Sekuat tenaga ditendangnya mayat putra kesayangan Mahagurunya itu.
Saat bergulingan, mayat Aswatama itu seakan membelah diri menjadi begitu banyak mengelilingi Arjuna. Tawanya pun semakin nyaring beringinan tidak henti-hentinya terdengar di telinga Arjuna.
“Aku benar-benar kalah, Dewa. Tertawakanlah aku sebagaimana Aswatama menertawai aku. Aku Arjuna bukan apa-apa. Aku Arjuna bukan siapa-siapa. Puaslah kalian mempermainkan kami,” kata Arjuna sambil kemudian menekuk lutut. Tetapi mayat Banowati yang dingin masih dibopongnya.
***
Pagi itu, Kurusetra tak lagi menjadi arena perang anak darah Bharata, tetapi berubah menjadi arena obong jenazah para ksatria yang gugur di peperangan. Tak terkecuali di pihak Pandawa. Pagi itu mereka sibuk mempersiapkan ritual obong pada jenazah Drestajumna, Pancawala, dan Srikandi. Namun sebelum upacara dimulai, Yudistira, Bima, Nakula dan Sadewa berpandangan. Ke mana saudara tengah Arjuna?
Ya, sebelum matahari tampak, Arjuna tak lagi memangku dan membopong mayat Banowati. Arjuna telah pergi menjauhi Kurusetra. Sendiri? Tidak! Ia bersama Banowati yang telah dimasukannya ke dalam peti yang ditutup kelambu putih tembus pandang di atasnya.
Arjuna pergi dengan kereta kuda yang dia pakai saat perang melawan Karna. Sebagai lelaki, ia tak mau belapati untuk wanita yang dicintainya. Ia tak mau ikut obong mengikuti Banowati. Baginya Banowati masih hidup atau harus hidup bersamanya. Ia bertekad akan mengadu pada dewa.
Pagi itu, ia tak butuh lagi gita-gita dari Prabu Dwarawati, titisan Wisnu yang menjadi kusir kereta perangnya. Kini kereta kuda itu dipacunya sekencang para saudara Bayu berlari. Sesekali ia menengok ke belakang, memastikan peti berisi kekasihnya itu aman terpatri di kursi kereta.
“Kita akan ke nirwana Diajeng Banowati. Kalau tak bisa bersatu di dunia, kita bisa bersatu di sana. Jangan khawatir kekasihku,” katanya bergumam.
Setelah berhari-hari ia memacu kudanya, tibalah ia di Kaki Mahameru. Kereta kuda terhenti. Arjuna melirik ke peti. Ia buka peti yang ditutup kelambu transparan. Entahlah kenapa berhari-hari mayat kekasihnya ini tak berbau. Bahkan justru yang muncul adalah wangi kasturi dan cendana.
Usai mengecup kening jenazah Banowati, Arjuna terhenti memandang puncak mahameru yang menjulang. Puncak mahameru tak tampak. Yang terlihat hanyalah awan gemawan layaknya kapas bergumul menutupinya. Arjuna memandang lagi ke peti itu.
Akhirnya ia panggul peti kekasihnya itu. Semampu tenaga sekuat cinta, ia terus berjalan mendaki Mahameru. Entahlah apa yang dipikirkannya. Tapi sesekali ia mendengar tawa Aswatama. Arjuna terus-menerus mendaki gunung keabadian itu bersama cintanya. Peti itu terus dipanggulnya. Salju putih ditapakinya selangkah demi selangkah.
Tawa Aswatama selalu saja mengiringi. Dari perjalanan itu Arjuna melihat Kurusetra telah sepi. Padahal beberapa hari lalu bubungan asap terlihat jelas di lokasi pertumpahan darah Bharata yang terlihat cuma seujung kuku itu.
Puncak Mahameru masih jauh. Masih panjang terjal dan licin salju yang harus ditempuh. Arjuna terus berjalan. Di tengah perjalanan Narada muncul. Sambil terkekeh ia bertanya pada Arjuna.
“Apa yang akan kau cari di sini cucuku. Bukankah cukup petualanganmu di dunia fanamu,” tanyanya.
“Eyang, saya akan terus berjalan sampai aku tak kuat lagi berjalan. Aku ingin mengetahui seberapa kuat waktu menentukan segala?” katanya.
“Aku masih bersama Banowati meski sekadar jasad. Aku ingin bersamanya mengabadi sebagaimana putih salju ini,” katanya.
“Eyang kenapa manusia diciptakan di dunia untuk menderita. Mengapa lebih banyak orang harus hidup tidak dengan cinta yang dianggapnya sejati?” katanya.
“Apa hakikat kemenangan dan kekalahan? Untuk apa manusia diberi rasa cinta sementara secara semena-mena dewa menghalanginya? Haruskah sesekali dewa dan manusia berganti posisi. Dan yang terakhir, kalau bisa aku ingin Banowati dihidupkan lagi,” kata Arjuna sebelum ia roboh bersama peti Banowati yang dipanggulnya di atas salju putih Mahameru. ***
.
.
Purwokerto, 2020-2022
Susanto Aboge adalah nama pena dari Susanto, yang lahir di Banyumas 17 Juli 1984. Lulusan Sosiologi Unsoed Purwokerto 2008 itu, selain menjadi jurnalis di Suara Merdeka Biro Banyumas juga aktif di LTNNU Banyumas, Sekolah Kepenulisan Luar(K)otak, Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI). Cerpen, esai, dan puisi termuat di sejumlah media massa dan online. Sebuah buku kumpulan karya jurnalistik Pitutur Kiai Ronggeng- Wawancara Ahmad Tohari terbit 2020. Beberapa kali menjuarai lomba karya jurnalistik nasional dalam kurun waktu 2015-2020.
.
Kematian Banowati. Kematian Banowati. Kematian Banowati. Kematian Banowati. Kematian Banowati.