Mimpi Aneh Kalimance

Cerpen Ilham Wahyudi (Suara Merdeka, 21 Juli 2022)

SUNGGUH tak ada yang menduga bahwa hari pengambilan sumpah Kalimance sebagai wali kota sebenarnya adalah hari terakhir baginya menjabat wali kota. Begitu juga Kaliance—pasangan Kalimance dalam tarung pilkada Kota Edan—bukan main terkejut dengan keputusan yang diambil Kalimance: benar-benar di luar nalar orang awam apalagi orang politik seperti Kaliance tentunya.

Di mana-mana tempat, semua pasti sepakat bahwa jabatan wali kota adalah jabatan bergengsi yang diincar banyak orang. Tak sedikit yang rela mempertaruhkan seluruh hartanya untuk mendapatkan satu tiket kompetisi menjadi wali kota. Selain itu, jamak pula kita mendengar orang mendatangi paranormal sebagai jalan potong untuk menggapai tujuannya. Sungguh tak habis pikir hal semacam itu masih terjadi dan malah dianggap wajar oleh banyak politikus Kota Edan.

Akan tetapi, berbeda dari Kalimance. Ia sebenarnya menolak cara seperti itu. Menurutnya, jabatan apa pun seharusnya bukan diminta tapi diberikan. Sehingga ketika jabatan diterima, tidak perlu merasa tersandera. Itulah mengapa Kalimance tak pernah bercita-cita menjadi pejabat, apalagi sebagai wali kota. Lantas, mengapa Kalimance bisa sampai diambil sumpahnya?

Adalah Ketua Partai Kita, Bapak Mekalince, yang pertama kali menyorongkan Kalimance maju menjadi calon wali kota. Awalnya Bapak Mekalince hanya bercanda saat dia dan sekretaris partainya Kaliance sedang mampir makan di warung bakso Kalimance. Tetapi dari omongan bercanda itu, Kaliance ternyata diam-diam melakukan survei kecil-kecilan. Dan hasilnya, figur seperti Kalimance yang paling disukai rakyat Kota Edan.

Bagaimana tidak Kalimance disukai rakyat Kota Edan. Cabang baksonya saja tersebar di antero Kota Edan. Ditambah pula ia ramah, supel, rajin menolong, serta baik kepada siapa saja tanpa memandang SARA. Singkatnya, figur yang populerlah. Takut disambar partai lain, Bapak Mekalince tancap gas meminang Kalimance menjadi calon wali kota dari Partai Kita yang dia pimpin.

“Belakangan ini partai kita sulit melahirkan kader-kader populer yang disukai rakyat, Kaliance. Saya melihat Kalimance bak mata air di padang pasir yang tandus dan gersang. Kalau kita tidak segera mengambilnya, nanti dia bisa kering,” kata Bapak Mekalince pada Kaliance sambil membaca data survei yang dipegangnya.

Kaliance hanya mengangguk mendengar Bapak Mekalince bersabda.

Namun, tidak dengan Kalimance. Ia menolak mengangguk ketika Partai Kita menjulurkan ingin kepadanya. Kalimance merasa tidak memiliki kapasitas menjadi wali kota. Apalagi menjadi wali kota di Kota Edan yang terkenal sebagai kotanya para preman.

Kalimance bukan takut pada preman. Lagi pula apa yang harus ditakuti dari para preman kalau Kalimance benar sudah menjadi wali kota. Ia tinggal tangkap saja preman yang coba berani melanggar hukum. Namun yang masih mengganjal ialah soal legitimasi. Menurut Kalimance, seorang calon wali kota haruslah pilihan rakyat langsung, bukan dipilih oleh ketua partai yang bisa saja tidak disetujui seluruh anggota partai. Bukankah sering kita dengar bahwa pilihan ketua partai hari-hari ini banyak mendapatkan pertentangan dari anggota partai yang ujung-ujungnya malah membuat partai terpecah? Itulah yang membuat Kalimance enggan mengangguk setuju. Ditambah lagi ia juga tidak punya pengalaman duduk di pemerintahan.

Akan tetapi Bapak Mekalince tidak kehabisan galah akal. Bukan sekali ini dia menghadapi orang yang kuat pendiriannya. Lagi pula, menggoyahkan pendirian orang lain memang salah satu keahlian Bapak Mekalince. Jangan-jangan itu sebabnya sampai sekarang dia masih langgeng menjadi Ketua Partai Golongan Putih?

“Partai politik adalah perwujudan suara rakyat, Kalimance. Undang-undang telah mengesahkan partai politik sebagai kendaraan rakyat untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Jadi kalau partai politik memintamu menjadi calon wali kota, itu berarti sebenarnya rakyatlah yang memintamu secara langsung. Hanya saja melalui mekanisme partai politik tentunya. Jadi bukan permintaan saya pribadi. Nah, kurang legitimasi apa lagi kamu, Kalimance? Kamu itu populer. Semua orang mengenalmu, bahkan tidak sedikit yang mengagumimu,” kata Bapak Mekalince mengayun-ayun.

“Tapi saya tidak punya pengalaman, Pak. Mengurus pemerintahan tidak seperti mengurus warung bakso. Belum lagi soal visi-misi. Lagi pula saya juga belum bisa meninggalkan bisnis bakso saya ini. Kasihan karyawan saya, Pak,” jawab Kalimance halus menolak.

“Oh, soal visi-misi tidak usah kamu pikirkan, itu urusan Kaliance! Kamu itu tinggal duduk manis saja menunggu arahan dari saya. Pikirkan saja bisnis bakso dan karyawan kamu!”

“Lho, kalau begitu kenapa tidak Bapak saja yang maju menjadi calon? Mengapa harus saya?”

“Kamu ini masih saja lugu, Kalimance. Saya ini sudah sepuh. Tak elok kalau masih mengincar jabatan. Sudahlah, pokoknya kamu ikut saja arahan saya, titik! Bukankah saya sudah kamu anggap seperti orang tua kamu sendiri? Kenapa kamu tidak mau mendengar kata-kata saya!” kata Bapak Mekalince memberondong.

Kalimance terdesak. Ia kehabisan perisai kata menolak permintaan Bapak Mekalince. Dengan berat hati Kalimance menganggukkan kepala meski hatinya masih enggan menunduk.

Hari pencoblosan pun tiba.

Pagi-pagi, ditemani Sitilince, istrinya, Kalimance berangkat menuju TPS memberikan suara. Sepanjang jalan dari rumah Kalimance, para pendukungnya terus mengelu-elukannya. Mereka sudah sejak semalam begadang di depan rumah Kalimance. Mereka juga rela sampai tak mandi dan sarapan demi bisa melihat pemimpin pilihan mereka melangkahkan kaki pertamanya dari rumah menuju TPS. Mungkin karena sudah terlampau lama merindukan sosok seperti Kalimance yang memimpin Kota Edan, sehingga pengorbanan apa pun mereka lakukan demi mengantarkan pilihan mereka ke puncak kekuasaan. Haru sekaligus membuat bulu kuduk merinding menyaksikannya.

Fantastis! Ternyata benar hasil survei kecil-kecilan Kaliance. Buktinya, baru 3 jam setelah waktu pencoblosan ditutup, lembaga-lembaga survei sudah berani secara resmi mengumumkan kemenangan pasangan Kalimance-Kaliance. Mereka pun langsung diarak keliling kota merayakan kemenangan rakyat Kota Edan. Pesta digelar meski pelantikan masih beberapa bulan lagi.

Walakin, setelah pesta selesai, Kalimance mulai sering melamun sendiri di belakang rumahnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi, entah apa! Hanya saja menurut pengakuan Sitilince, setiap kali kembali dari belakang rumah wajah Kalimance tampak muram dan basah. Kalimance juga kesudahannya sering mimpi buruk disertai dengan teriakan minta tolong. Hal ini terus saja berulang. Bahkan sehari sebelum pelantikan Kalimance.

***

Langit cerah. Kota Edan terlihat lebih terang dan cantik dari biasanya, seperti puan belia yang mahir bersolek. Seluruh rakyat saling bertukar senyum paling indah. Pemandangan yang luar biasa untuk sebuah kota yang terkenal dengan keberingasan premannya. Sungguh hari istimewa untuk pemimpin yang istimewa pula.

Pelantikan Kalimance tinggal beberapa saat lagi. Di dalam gedung parlemen, pejabat terkait serta tokoh politik bersiap-siap menunggu saat pengambilan sumpah jabatan Kalimance. Sementara, di luar gedung parlemen bahkan sampai ke alun-alun kota, televisi raksasa telah disiapkan panitia acara agar rakyat Kota Edan dapat menyaksikan langsung momen bersejarah itu. Rakyat pun bersiap menyambut pemimpin baru dengan sukacita.

Kalimance dan Kaliance memasuki gedung parlemen. Para hadirin tamu undangan berdiri memberi tepuk tangan yang meriah. Tak ada yang aneh dari gelagat atau penampilan Kalimance. Ia terlihat seperti calon wali kota pada umumnya yang sudah tak sabar ingin sesegera mungkin dilantik. Namun, semua berubah 180 derajat ketika Kalimance memberikan pidato sambutan pertamanya setelah ia sah dilantik menjadi wali kota.

Tanpa perintah atau instruksi dari siapa pun, Kalimance tiba-tiba menyatakan mundur. Ia beralasan bahwa setelah kemenangannya itu tidurnya sering terganggu oleh mimpi. Mimpi bertemu seorang tua yang terus memintanya melepaskan topeng. Padahal, dalam mimpi itu, Kalimance merasa tak memakai topeng sama sekali. Mimpi itu benar-benar membuat Kalimance takut. Maka, untuk mengakhirinya, Kalimance memutuskan mundur saat itu juga.

Tentu saja semua terkejut mendengar pengakuan Kalimance, sontak gedung parlemen menjadi gaduh. Ada yang bingung tidak percaya dan ada juga yang marah tidak terima dengan sikap Kalimance yang menurut mereka seperti anak-anak karena begitu saja memercayai mimpi. Tapi, bukankah orang dewasa yang biasanya lebih memercayai mimpi?

Marah dengan keputusan Kalimance, pendukung fanatiknya—kecuali Bapak Mekalince yang terlihat tersenyum tipis—melempar Kalimance dengan botol minuman atau apa saja yang ada di tangan mereka. Kalimance coba menepis lemparan pendukungnya. Namun, semakin ia coba menepis, pendukungnya malah semakin buas melemparinya. Kalimance gelagapan. Tak tahu minta tolong pada siapa.

***

Kalimance terbangun karena guncangan tangan istrinya. Ia mengap. Perlahan ia rapikan napasnya yang tersengal-sengal.

“Sudahlah, guyon Bapak Mekalince tadi kok ditanggapi serius sekali sampai kamu terbawa mimpi segala,” Sitilince menyindir lalu melanjutkan tidurnya yang sempat terputus.

Kalimance terdiam. Diam-diam mencari arti mimpinya. ***

.

.

 —Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU Timur dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Buku kumpulan cerpennya, “Ha Ha Hi Hi”.

.

Mimpi Aneh Kalimance. Mimpi Aneh Kalimance. Mimpi Aneh Kalimance. Mimpi Aneh Kalimance. 

Arsip Cerpen di Indonesia