Reinkarnasi Plagiator

Cerpen Endang S Sulistiya (Bangka Pos, 11 September 2022)

ARIES melempar buku yang baru saja dibacanya. Dengan rona kejengkelan yang luar biasa, Aries kemudian menginjak-injak buku itu sampai benar-benar lecek disiksa sol sandalnya. Beberapa lembaran buku terlepas, kertasnya menjadi sangat kusut dan kotor. Belum puas dengan yang telah dilakukannya itu, Aries meludahi buku tadi sampai merasa puas.

“Dasar plagiat! Tidak punya malu!” caci Aries, kasar.

“Ada apa, Kak?” tanya Caca pada kakaknya setelah mendengar kegaduhan itu.

“Lihat ini! Novel tidak bermutu! Semua tulisannya plagiat,” ujar Aries sambil menginjak-injak buku itu kembali.

Caca melirik sekilas ke arah buku yang sudah lecek padahal baru tadi pagi dia membelikan novel berjudul “Rayuan Dania” itu pada kakaknya.

“Maklumlah kak, penulisnya kan masih penulis pemula,” ujar Caca menenangkan Aries.

“Huh! Penulis pemula sudah punya kebiasaan plagiat! Bagaimana kalau sudah jadi penulis senior!”

“Kalau Kakak gak suka novel itu, baca saja novel yang satunya lagi, Kak. Penulisnya sudah senior dan buku-bukunya selalu best seller.”

Caca mengambilkan satu novel lainnya, karya penulis terkenal. Diberikannya novel itu pada kakaknya. Dia berharap kakaknya tidak lagi mengamuk karena dia masih banyak pekerjaan lain.

Aries menerima novel yang diberikan oleh adiknya kemudian duduk tenang di kursi goyang. Caca masih mengawasi Aries sampai keadaan normal kembali. Tidak berapa lama kemudian Aries kembali bertingkah.

“Apaan ini!” Aries kembali berdiri dari kursinya sambil melempar novel yang dipegangnya ke muka Caca.

Untungnya Caca masih sempat menghindar sehingga novel setebal lebih dari enam centimeter itu tidak melukai wajahnya. Caca mengambil novel yang jatuh di sampingnya.

“Apa yang salah dari novel ini, Kak?” tanya Caca tidak mengerti.

“Itu juga plagiat,” ungkap Aries, geram.

“Tidak penulis pemula, tidak yang senior, semuanya plagiat. Apa tidak ada lagi penulis kreatif dan berbakat di negeri ini?” Emosi Aries meletup-letup.

Caca capai juga meladeni tingkah kakaknya. Caca meninggalkan begitu saja kakaknya menuju kamar. Dia berharap kakaknya bisa tenang dengan sendirinya, toh kehadirannya pun juga tidak membantu. Di hadapan komputer yang tengah menyala, jari-jari Cara menari dengan penuh gairah di atas keyboard hitam.

“Caca, kamu di mana? Aku harus baca buku! Kalau tidak nanti otakku menciut,” teriak Aries, keras.

Caca menghentikan sejenak tarian samba pada keyboard hitam yang sudah mulai mengelupas. Caca membayangkan pasti kakaknya akan mencari-cari ke seluruh rumah demi mendapatkan buku untuk dibaca. Lantas ketika tidak mendapatkan satu buah buku pun, kakaknya akan mengambil buku yang telah disia-siakannya tadi.

Setelah menunggu sesaat dan tidak didengarnya lagi suara gaduh kakaknya, Caca kembali berkonsentrasi di depan layar monitor. Meneliti ejaan kalimat demi kalimat yang tadi ditulisnya. Beberapa lembar kertas usang yang kekuning-kuningan termakan usia menggelepar di meja komputer maupun di lantai.

Selesai menyelesaikan tulisannya, Caca buru-buru menyimpan di my document, juga di flashdisk karena komputer tuanya sering mendadak mati sendiri. Caca bangun dari duduknya, direnggangkannya otot-otot. Diusap-usapnya mata indahnya yang merah berair karena terlalu lama menantang layar komputer.

Caca menuju kamar kakaknya untuk mengecek keadaan pria malang itu. Aries tengah tertidur di kursi goyang dengan tangan masih menggenggam novel yang tadi dilemparkan ke arah Caca.

Caca mendekat ke arah Aries. Mengusap kepalanya dengan perlahan. Demi disaksikannya keadaan Aries, Caca tak dapat membendung air matanya. Segores kisah lalu kembali hadir dari tumpukan ingatan Caca.

Lima tahun yang lalu, Aries adalah seorang Guru di sebuah SMA favorit di Tangerang. Selain aktif mengajar, Aries memiliki ambisi untuk menjadi penulis profesional. Ditinggalkannya pekerjaan tetapnya demi mengejar cita-cita tersebut. Dia meyakini dirinya sangat berbakat.

Aries telah menulis berbagai jenis tulisan dari puisi, cerpen, dan novel. Dia menganggap karya-karyanya adalah masterpiece. Karya-karya yang lahir dari hati, jujur dan tidak ada duanya. Namun dia harus mendapati kenyataan bahwa karya-karyanya selalu ditolak oleh surat kabar, majalah, tabloid juga penerbit. Dia terjengkang dari mimpinya hanya lantaran label penulis pemula. Dia dianggap tak tahu-menahu soal sastra.

Bertahun-tahun mengalami penolakan atas karya-karyanya, Aries bangkit mengejar cita-citanya dengan cara yang tidak sesuai dengan prinsipnya lagi. Dia telah sakit hati, putus asa, dan dendam,

Kemudian, rasa sakit itu menuntun langkahnya. Dia jiplak karya-karya penulis luar negeri untuk mengejar ambisi yang tidak dapat dibendungnya lagi. Karya jiplakan itu diterima oleh penerbit. Respons pasar juga bagus. Sesuatu yang amat sangat ironis.

Selang setengah tahun kemudian, kebusukan itu terbongkar. Aries dicaci, dimaki, dan dihujat sebagai plagiator di tengah kesuksesannya. Tak berapa lama, Aries mengalami keterpurukan yang luar biasa. Dia tidak saja tak lagi dipercaya oleh penerbit, tetapi juga oleh masyarakat pembaca. Keadaan Aries dari hari ke hari semakin memprihatinkan. Aries mengalami stres berat.

Kondisi Aries yang semakin parah membuat kedua orang tua Caca mengalami kemerosotan kesehatan. Keduanya meninggal dalam rentang waktu berdekatan. Tiga hari setelah ibunda Caca meninggal, ayah Caca menyusul kepergian istrinya.

***

Seorang MC perempuan berdiri di panggung yang megah. Ribuan penonton memadati tribune. Di bagian kursi VIP berjejer pimpinan perusahaan penerbitan yang paling sukses di seantero negeri. Beberapa penulis senior juga hadir. Tak ketinggalan produser film, sutradara, dan artis ibu kota.

“Dia adalah penulis yang sangat luar biasa. Novel pertamanya berhasil mencatat rekor penjualan baru. Dan tidak lama lagi karyanya itu akan difilmkan. Mari kita sambut dengan meriah penulis novel trilogi ‘Gugur Bunga’, penulis fenomenal kita: Marisha Putri untuk menerima penghargaan,” koar seorang MC yang juga seorang artis sinetron.

Para penonton berdiri memberi sorakan. Tepuk tangan membahana di dalam gedung. Marisha Putri berdiri dari tempat duduknya dengan anggun. Dengan langkah yang tak kalah anggunnya, dia menaiki satu per satu tangga panggung. Gaun jingganya yang indah melambai-lambai penuh pesona. Semua mata tertuju pada sosok Marisha Putri. Pesonanya telah mengalahkan ketenaran ratu sinetron yang juga hadir di malam itu.

 “Saya sangat bahagia tak terkira menerima penghargaan ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada penerbit, produser film, artis-artis, juga tak lupa kepada fans-fans saya. Terima kasih yang tak terkira saya ucapkan kepada kakak saya yang bertahun-tahun memperjuangkan novel ini. Yang telah menulis novel ini dengan hatinya”.

Tribune penonton mendadak gaduh. Ketidakmengertian menyelimuti wajah mereka. Mereka saling pandang antara satu dengan lainnya dan pandangan terakhir tertuju pada sosok Marisha Putri untuk meminta penjelasan. Para tamu penting yang duduk di kursi VIP juga mengalami kebingungan atas sambutan yang disampaikan oleh Marisha Putri. Mengerti akan situasi tersebut, Marisha Putri mengambil napas perlahan. Ia bersiap membuka lembaran kelam yang selama ini disimpannya.

“Sebenarnya novel ini ditulis oleh kakak saya. Seorang penulis berbakat yang terbawa arus ketidakadilan. Karya-karyanya selalu mengalami berbagai penolakan,” tutur Marisha Putri, tenang. Sejenak ia terdiam, menanti respons dari tribune penonton. Tribune hening, menanti kelanjutan cerita darinya.

“Ambisi besar pada dirinya telah menjerumuskannya menjadi seorang plagiator. Ironisnya karya plagiat itu justru mendapat sambutan baik. Hingga pada akhirnya, kala kebusukan itu terbongkar, masyarakat serta-merta mengeluarkan taringnya. Mereka mencabik-cabik harga diri kakak saya dengan kata-kata paling racun, kejam dan menyakitkan. Sebab perlakuan yang mengucilkannya itu kakak saya kehilangan akal, hidup dalam keterasingan dan meninggal dalam kehinaan.”

Marisha putri menghela napas, lalu imbuhnya, “saya tulis kembali karya-karya kakak saya untuk menunjukkan pada dunia bahwa kakak saya adalah penulis hebat, bukan plagiator seperti yang selama ini dicapkan orang padanya. Dan terbukti sekarang bahwa Aries Eka Saputra adalah penulis hebat meski atas nama saya.”

Marisha Putri turun dari panggung. Sebagian besar penonton masih terpaku di tempatnya. Para wartawan segera berbondong-bondong mengerubungi target demi meminta statement ataupun menghujani dengan pertanyaan.

“Saya hanya berharap kakak saya bahagia dan tenang di alam kubur karena impiannya sudah dapat saya wujudkan,” ucap Caca sembari meninggalkan para pengejar berita. ***

.

Reinkarnasi Plagiator. Reinkarnasi Plagiator. Reinkarnasi Plagiator. Reinkarnasi Plagiator. Reinkarnasi Plagiator.

Arsip Cerpen di Indonesia