Anak Wandu

Cerpen Puspa Seruni (Solopos, 25 September 2022)

MASIH di bawah kolong dipan, mulut Nami berkomat-kamit. Sibuk sekali. Sementara di ruang tengah sang adik yang baru berusia dua tahun menangis kencang dalam gendongan ibunya, sementara di dapur bapaknya sedang mengeluarkan kotak bumbu dari dalam wadah dan menjajarkan isinya di atas meja, sementara di luar sinar matahari terhalang air hujan yang turun rintik-rintik, sementara di dada Nami jantungnya berdegup kian tak beraturan. Wajahnya pucat, dahinya berkeringat, tangan dan lututnya bergetar, gadis kecil berusia sepuluh tahun itu menyesal. Seharusnya dia tak perlu membicarakan perihal bapaknya kepada sang adik, seharusnya dia tak perlu mengatakan bahwa makanan-makanan yang dibawa bapaknya setiap pulang dari bekerja penuh dengan belatung, seharusnya dia tak perlu mencekoki adiknya dengan cerita-cerita seram seputar bapak, seharusnya Nami diam tetapi kini sudah terlambat. Adiknya menangis kencang, demam dan mungkin sebentar lagi akan kejang. 

“Pak!” Ibunya berteriak, suaranya melengking, membuat Nami menggigil. “Berhenti cari bawang, kita tak butuh bawang!” bentaknya.

Baru kali ini Nami mendengar ibunya membentak bapaknya. Ibunya perempuan yang lembut dan bersuara rendah. Bahkan saat Nami dan adiknya berbuat nakal, ibunya tak pernah berteriak atau membentak. Wanita itu hanya akan membelai kepala Nami dan adiknya, lalu berucap pelan menasihati.

“Tidak, kita butuh bawang,” ujar bapaknya masih dari arah dapur.

Mendengar jawaban bapaknya, Nami semakin yakin bahwa bapaknya memang dekat dengan ilmu hitam. Salah satu temannya di sekolah pernah mengatakan bahwa orang yang bermain ilmu hitam sering menggunakan bawang untuk menangkal hujan, menjinakkan setan atau menangkal kiriman santet. Nami percaya, sangat percaya, bapaknya pasti butuh bawang untuk menjinakkan setan-setan yang sedang mengganggu adiknya. Mungkin saat Nami bercerita tentang bapaknya kepada sang adik, setan-setan yang selama ini membantu bapaknya bekerja menjadi marah dan menyerang sang adik.

Nami bergidik, betapa mengerikannya jika ketempelan setan. Mungkin dia pun akan menangis meraung-raung, melebihi tangisan sang adik saat ini. Dia teringat cerita ibunya, saat Nami baru berusia lima tahun, saat badannya demam, Nami mengigau, menyebut-nyebut kakeknya yang sudah meninggal sepuluh tahun sebelumnya. Masih kata sang ibu, Nami ketempelan roh kakeknya dan membuat dia demam berhari-hari dan dia terus menangis tak berhenti. Nami terus bersembunyi, dengan pikiran dipenuhi dugaan bahwa adiknya juga ketempelan setan-setan yang marah.

“Pak, kumohon. Kita harus membawa Nala ke Pak Mantri sebelum terlambat,” suara ibunya terdengar gemetar.

Nami mendengar suara langkah kaki mendekat dan dia menunggu dengan jantung yang berdebar kencang.

“Aku akan ke warung Mak Inah,” suara bapaknya terdengar pelan, nyaris tak kedengaran. “Mungkin Mak Inah mau memberi utangan bawang,” lanjutnya.

Nami mengintip dari kolong tempat tidur. Dia melihat ibunya menggenggam erat lengan bapaknya sambil menatap tajam.

“Bawang sudah tidak mempan, Pak. Kita butuh obat dari Pak Mantri,” suara ibunya lirih, nyaris seperti bisikan, hampir saja Nami tak mendengarnya. Dia berusaha mendengar lebih baik lagi.

“Tapi…. Nami….”

Jantung Nami seperti berhenti berdetak saat lelaki berkulit gelap itu menyebut namanya. Nami merangsek semakin masuk ke kolong dipan, tak mau bapak dan ibunya melihatnya. Nami semakin ketakutan, dia tidak ingin ditemukan. Terdengar dua helaan napas berat yang hampir bersamaan.

“Anak-anak ini tidak mengerti betapa susahnya mencari uang,” keluh bapaknya dengan suara parau. Ibunya terdiam, menunduk, menatap bocah lelaki dalam gendongannya yang terus menangis dan menggigil.

Masih di bawah kolong dipan, mata Nami memejam erat. Sangat erat. Sementara di ruang tengah sang adik yang mengalami demam sejak kemarin masih terus menangis meski ibunya sudah meletakkan kain kompres di keningnya, sementara di hadapan ibunya lelaki berkaus hitam berdiri dengan cemas, sementara di luar hujan turun semakin deras, sementara di kepala Nami berputar-putar bayangan wajah bapaknya yang keras sedang meraup belatung dan menyodorkannya ke mulut Nami dan adiknya. Gadis kecil itu bergidik, tubuhnya semakin menggigil ketakutan. Nami tidak ingin makan belatung, karena itu dia meminta bapaknya berhenti bekerja.

“Pekerjaan itu tidak halal,” teriak Nami, langsung merobek jantung bapaknya.

Lelaki bertubuh kurus itu tertegun, bagaimana mungkin anak gadisnya berpikir bahwa pekerjaannya tidak halal. Dia yang selama ini menekan rasa malu demi mengisi perut-perut orang yang disayanginya, harus menelan kenyataan pahit dituding anak sendiri. Namun, tentu saja dia tak ingin mendebat anaknya yang baru berusia sembilan tahun. Dia hanya menarik napas panjang, menguatkan hati agar suaranya tak bergetar.

“Ini tidak seperti yang kamu pikir, Nak.”

“Nami tidak mau punya bapak yang suka berdandan. Bapak kayak perempuan. Nami malu.”

Nami berlari ke dalam kamar, mengunci pintu dan tidak mau keluar jika ibunya tak teguh membujuknya.

Nami teringat keributan-keributan di rumahnya beberapa hari teakhir. Dia tidak mau lagi menjadi bahan tertawaan teman-teman di kelasnya.

“Nami anak wandu… Nami anak wandu….”

Semua teman-temannya mengolok-olok, mencibir dan menertawai karena pekerjaan bapaknya. Bapaknya adalah seorang penampil dalam pertunjukan wayang orang. Peran yang dimainkan lebih banyak peran perempuan. Bapaknya fasih berlenggak-lenggok, berhias, bersanggul bahkan bertutur kata seperti wanita. Teman-teman Nami mengetahui itu dan mulai mencemoohnya sebagai anak wandu.

Nami menutup kedua telinganya erat-erat. Suara teman-teman yang mengelilingi dan menertawainya kembali terdengar. Riuh, sangat riuh, hingga membuat tubuh Nami gemetar.

“Kalau makan dari hasil kerja yang nggak halal, sama seperti makan belatung.”

Suara salah satu teman sekelasnya kembali terdengar. Menurut teman-temannya, pekerjaan bapak Nami tidak halal karena dianggap nyeleneh dan menyalahi kodrat sebagai laki-laki. Sejak saat itu, Nami disebut sebagai si pemakan belatung.

“Nami … Nami ….”

Terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamarnya. Nami menahan napas. Suara bapaknya membuatnya tergeragap dan menyeret kembali kesadarannya. Dia masih di bawah kolong dipan, memejamkan mata juga menutup kedua telinganya. Terdengar helaan napas berat kemudian suara langkah kaki yang keluar dari kamar.

“Kita tidak punya uang untuk membeli obat atau memeriksakan Nala ke Pak Mantri, Bu. Ibu, kan, tahu sudah satu minggu ini bapak tidak bisa bekerja.”

Suara lirih bapaknya terdengar.

“Ibu masih punya lipstik, kan? Boleh bapak pinjam?”

Perempuan itu mengangguk.

“Pinjam daster juga, Bu,” lanjutnya.

Meski bingung dengan pertanyaan suaminya, perempuan yang sedang menggendong Nala itu tetap bergegas mengambilkan lipstik dan beberapa peralatan lain yang diminta oleh lelaki yang menikahinya sepuluh tahun lalu itu.

Laki-laki itu sudah mengambil keputusan. Dia mulai memoles wajahnya dengan bedak milik istrinya. Memulas bibirnya, melengkungkan alis, dan mengenakan daster berwarna kelabu yang tipis kainnya.

Nami mengintip dari kolong dipan. Dia terkejut, bukankah bapaknya sudah berjanji untuk tidak berdandan seperti wanita lagi? Bukankah bapaknya mengatakan tak akan mempermalukan Nami lagi?

Kemudian terdengar langkah kaki dan suara pintu depan dibuka. Buru-buru Nami keluar dari kolong dipan mengejar bapak yang berjalan menuju halaman. Hujan sudah mulai reda, hanya tersisa tetes-tetes air dari pucuk-pucuk daun yang masih basah.

“Tidak, Pak. Jangan!”

Nami berlari, menarik daster yang digunakan oleh bapaknya. Hampir saja bapaknya jatuh jika tak berpegangan pada tiang teras. Bapak dan anak itu saling berpandangan. Tetapi Nami segera membuang muka, dia tak mau melihat bibir bapaknya yang dioles lipstik semerah cabai.

“Bapak harus bekerja,” ucapnya lirih menatap Nami.

Nami menggeleng pelan, menatap bapaknya dengan pandangan memohon. Bapaknya hanya bisa menghela napas panjang sambil pelan-pelan melepaskan satu persatu jemari Nami yang masih mencengkram erat daster yang dikenakannya. Nami terisak. Suara-suara dalam kepalanya semakin riuh.

“Nami anak wandu… Nami anak wandu….”

Olok-olokan itu silih berganti dengan suara tawa, memantul-mantul dalam ruang di kepala Nami, membuat kepalanya berdenyut. Sakit. Nami menjerit, memukul-mukul kepalanya.

“Nami nggak mau jadi anak wandu.”

Wajah Nami terlihat meringis, hampir menangis.

“Tapi Nala butuh obat,” ucap bapaknya.

“Tapi Bapak sudah janji nggak jadi wandu lagi, kan?” Nami berteriak histeris, suaranya mulai bercampur isak tangis.

Bapaknya menoleh kepada istrinya yang sedang menggendong Nala. Ibu Nami tak bisa berkata-kata, wajahnya terlihat pucat pasi. Mungkin dia bimbang, dia tahu Nami benar tetapi di satu sisi Nala membutuhkan obat dan bantuan Pak Mantri Kesehatan.

“Kali ini saja, besok Bapak akan kerja yang lain.”

Nami tetap menggeleng. Suara tangis Nala makin lama makin terdengar lirih.

“Bapak selalu bilang kali ini saja, tetapi besok diulang lagi….” suara Nami lirih, nyaris tak terdengar karena lebih nyaring suara sedu sedan.

Lelaki yang sudah berdandan seperti wanita itu tidak menjawab, hanya mengusap kepala Nami dengan lembut, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan anak perempuannya yang masih terus terisak.

Nami membeku, seperti ada retakan dalam dadanya saat menatap punggung bapaknya yang menjauhinya. Langkah bapaknya tidak gemulai, tetapi tegap seperti seseorang yang hendak berjuang ke medan perang. Nami terus menatap bapaknya, dia dapat melihat dengan jelas daster yang dikenakan oleh bapaknya sudah robek di beberapa bagian, bahkan warnanya telah pudar. Nami menoleh kepada ibunya. Setitik air mata menyembul dari sudut mata wanita itu, semakin lama semakin deras. Sementara tangis adik dalam gendongan ibunya semakin terdengar serak, membuat dada Nami terasa sesak. Nami teringat perbuatannya satu minggu lalu. Kemarahan telah membuatnya kalap.

Sepulang sekolah, saat ibunya sibuk di kebun dan bapaknya tidur karena baru selesai ikut pertunjukan wayang, diam-diam Nami masuk ke dalam kamar, mengambil pakaian dan semua hal yang digunakan bapaknya untuk pentas wayang. Nami membawa barang-barang itu ke dapur, lalu membakarnya di halaman belakang.

“Nami nggak mau punya bapak wandu,” ucapnya berulang kali sambil menutup telinganya dengan telapak tangannya.

“Nami anak wandu… Nami anak wandu ….”

Suara-suara itu kembali memenuhi kepalanya. Nami bergeleng-geleng sambil berlari menuju kamar kemudian masuk ke bawah kolong dipan.

Masih di bawah kolong dipan, kedua tangan Nami menutup telinganya dengan rapat. Sangat rapat. Sementara suara teman-temannya yang sedang mengolok-olok terdengar kencang, sementara bayangan bapaknya dalam balutan daster ibunya tergambar jelas, sementara suara tangis adiknya membuat hatinya bimbang. Nami ketakutan. ***

.

.

Puspa Seruni. Penulis tinggal di Jembrana, Bali dan terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2022. Penulis bisa dihubungi melalui FB puspa seruni atau IG puspaseruni07

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia