Cerpen Teguh Hidayat (Suara Merdeka, 22 September 2022)
SUDAH bisa ditebak, kedatangan Sandalip Jumat sore tidak pernah legeh. Selalu ada makanan yang dibawa untuk rekan-rekan kerja, setiap kali menyempatkan masuk kantor.
Maklum, dia jarang ke kantor karena tempat kerjanya kebagian paling jauh. Dalam seminggu saja, paling cuma dua atau sekali. Tapi karena rutin membawa cangkingan dalam plastik, kedatangannya menjadi pantas ditunggu.
Awal Jumat ini, misalnya, peramah senyum itu membawa plastik hitam. Ketika dibuka isinya cenil yang terbungkus pincuk daun pisang. Warnanya merah muda menarik, rasanya legit, hasil paduan gula dan parutan kelapa.
“Ini aku beli di Mbok Yatimah, pedagang Pasar Pon. Dia ternyata satu-satunya penjual di situ. Walaupun enak, tapi tidak laris juga,” kata Sandalip sembari menyempil cenil.
Jumat kedua, dia membawa gembus mentah. Sampai di kantor, dia membuka kemasan lingkaran adonan ubi yang menyerupai roda itu. Dia yang bertindak menggoreng, office boy menyiapkan piring.
Masak digoreng, roda adonan itu disajikan tidur di piring. Office boy yang melumuri dengan cairan gula merah.
“Mbok Yatin itu memang pintar. Dia memproduksi di rumah, sekaligus mengemas dalam kotak kardus mini. Pembelinya datang sendiri. Katanya laris, tapi untungnya sedikit, capeknya yang banyak.”
Kali ini Sandalip keduluan rekan-rekan mengicip.
Jumat ketiga, Sandalip datang telat. Bajunya basah kuyup kehujanan. Bungkusan daun jati dalam kresek juga basah.
Makanan apa lagi yang dibawa? Itu yang menjadi kejutan. Sejak kakinya menginjak kantor, rekan-rekan kerja harus menunggu setengah jam. Dia masuk dapur mengajak office boy, seraya mengeluarkan bau semerbak dari kegiatan menggoreng.
Giliran sampai di meja kumpul, semuanya mengambil bagian, langsung makan. Setelah habis baru muncul pembahasan.
Satu rekan memandang aneh. Tepatnya lucu, karena makanan hasil racikan kedelai itu digoreng gabung dengan ketupat plastik. Keduanya melekat dibalut tepung dan terigu.
Rekan lain kesulitan memberi nama. Dua jenis makanan, mendoan dan ketupat itu sulit dibuat singkatan. Mendopat, ah, tak nyentrik. Mengambil huruf depan, MK, tidak sinkron dengan makanan.
Belum sempat memberi nama, office boy menimpali. “Itu namanya kampel. Tidak usah pakai singkatan, sejak dulu nenek moyang sudah slametan tumpeng.”
“Mau cari kampel di Pasar Paing. Karena nama itu juga ada di sana,” Sandalip menambah penjelasan.
Giliran Jumat keempat, Sandalip tak datang. Rekan yang sudah memenuhi meja kumpul bingung. Dari satu celetukan kedua, tiga, empat hingga lima, terjadilah diskusi kecil. Isinya seputar makanan lawas yang mulai minggir.
Sangking menariknya diskusi, kebiasaan Sandalip pun jadi bahan pembahasan. Mengapa dia punya kebiasaan membawa makanan lawas?
Widyo yang pendatang menilai kalau kebiasaan Sandalip menjadi teladan. Sebab dia peduli dengan kearifan lokal dengan cara memperkenalkan kepada masyarakat luas.
Muktar berargumen lain. Kebiasaan itu hanya menyesuaikan dengan kemampuan keuangan. Agar efisien, oleh-oleh yang dibawa cukup cenil, gembus atau kampel.
Sebagai warga pribumi, Wanto tersinggung. Kearifan lokal jadi kekayaan daerah yang tidak terbeli. Itu bukan ndeso, tapi identitas.
Diskusi pun masuk ranah perdebatan. Wicaksana mencoba menengahi dengan mengembalikan diskusi semula. Ada apa Sandalip rajin membawa makanan lokal ke kantor?
Akhirnya disepakati, mengundang Sandalip ke meja kumpul. Jawaban langsung dari yang bersangkutan dinilai paling tepat. “Menyimpulkan kebiasaan orang tanpa sepengetahuan yang bersangkutan itu ora ilok.”
Satu pesan singkat dikirimkan ke Sandalip, meminta datang ke meja kumpul. Sesingkat pesan, Sandalip menjawab malas dan simpelnya. “Ok” disertai tiga titik. Maka dalam hitungan jam, sosok Sandalip sampai di meja kumpul.
Kini, kejutan jawab dari kegelisahan rekan Sandalip di meja kumpul segera terungkap. Namun kejutan itu bukan lagi mengenai kearifan lokal yang kerap dibawa Sandalip, melainkan rasa ingin tahu kebiasaan membawa kearifan lokal itu.
“Ora ilok,” ujar Sandalip mengerutkan mulut.
Selanjutnya terbahak. Teman kerjanya pun ikut tertawa, karena petang itu mereka dibawakan kearifan lokal lainnya, rengginang. ***
.
.
—Teguh Hidayat, penulis cerpen asal Lumbir Banyumas. Bekerja sebagai jurnalis
.
Cenil Sandalip. Cenil Sandalip.