Dua Cangkir Kopi

Cerpen Sayekti Ardiyani (Kedaulatan Rakyat, 30 September 2022)

“GIMANA kuliahmu, Nang?” tanya Bapak seraya menakar biji kopi dan memasukkan dalam blender kecil.

Tak lama terdengar dengung yang awalnya mengagetkan dari blender. Suara yang sama dengan belasan tahun silam, hanya saja blender itu sudah berganti. Blender lama yang kukenal ketika bocah telah pecah. Tak punya grinder kopi, Bapak selalu menggiling biji kopi dengan blender kecil. Mengeluarkan bubuk kopi, Bapak memasukkannya dalam alat vietnam drip.

Aku masih TK, saat mulai suka menonton Bapak menyeduh kopi. Kadang rasa ingin tahuku muncul. Sebagai bocah, aku penasaran apa yang mereka minum, mengapa aku tidak boleh memintanya? Hingga saat Bapak dan Ibu lengah, aku mencuri-curi minum dari cangkir mereka. Masih setengah cangkir saat tetiba ada tamu datang dan mereka meninggalkan cangkir kopi yang belum tandas.

Bleh, aku langsung memuntahkan sedikit yang kucicipi. “Pahit begini kok mereka berdua sangat enak minumnya?!” Sejak itu, aku tidak sedikitpun berselera untuk meminta kopi buatan bapak.

Aku setia menonton Bapak menyeduh kopi. Tentu saja, ada Ibu yang menunggu bersamaku. Aku selalu memastikan, saat Bapak menyeduh kopi, Ibu pasti duduk di depannya. Dua cangkir kopi, satu untuk Bapak satu untuk Ibu.

Hingga suatu hari, Bapak hanya menyeduh satu cangkir.

“Tak bisa menyeruput kopi, biar Ibu jadi penikmat wanginya,” kata Ibu. “Ah, tapi sampai kapan aku boleh ngopi lagi?” keluh Ibu.

“Sabar, besok juga bisa ngopi lagi.” Senyum Bapak menenteramkan.

Ibu masih menunggui Bapak menyeduh kopi. Perutnya makin membesar. Ibu berhenti menunggui Bapak ketika sibuk mengurus adik. Dari kamar, Ibu masih bisa mendengar dengung blender dan aroma kopi yang menyebar.

Lama-lama, aku menjadi penikmat wangi kopi yang menguar ketika diseduh. Bapak belum memperbolehkan aku minum kopi. Sebagai gantinya, Bapak membuatkan segelas coklat hangat dari coklat bubuk dan kayu manis. Aku baru mulai mencicipi kopi buatan Bapak menjelang akhir duduk di bangku sekolah menengah atas.

“Hmm… ternyata asam.” Aku mengernyit.

“Asal kamu tahu, tidak semua kopi itu pahit. Tergantung jenisnya.”

Aku sering menyimak obrolan Bapak dan Ibu ketika menyeduh kopi.

“Ini jenis Arabika, ditanam di ketinggian 1500 mdpl, dari Seloprojo Magelang.” Ibu menjelaskan kopi yang kusesap. “Yang kemarin itu yang kamu cicipi Robusta Temanggung, 900 mdpl, lebih pahit kan?” tanya Ibu.

Aku mengangguk. Beranjak remaja, aku pernah bertanya, kenapa Bapak yang membuatkan kopi, bukan Ibu. Kalau semua urusan makan dan minum Ibu yang menyiapkan, mengapa tidak dengan kopi?

“Hmm… Ibu pernah baca novel dan Ibu setuju sekali dengan apa yang diutarakan tokohnya. Bapakmu banget.”

Dasar kutu buku, Ibu justru menjawab pertanyaanku dengan kutipan novel. “Membuat kopi itu ritual laki-laki, semua langkah dari memilih beans, grinding, sampai kopinya siap diseduh, prosesnya seperti hidup laki-laki, tugas utama laki-laki adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita dan orang-orang yang dekat dan tergantung pada kita.” [1]

Nah, aku paham kini apa yang disampaikan Ibu waktu itu.

“Gimana kuliahmu? Pertanyaan Bapak belum kamu jawab,” tanya Ibu.

Aku tersentak dari lamunanku. “Lancar, Pak.”

“Sudah mulai kerasan juga di kos?” tanya Ibu yang selalu memantapkan hati anak-anaknya dengan tidak mau khawatir saat anaknya jauh untuk menuntut ilmu.

“Sudah, Bu.”

“Bagus!”

Ibu menerima secangkir kopi yang disajikan Bapak. Wajahnya sumringah.

Ah, masih sama seperti dahulu. Posisi duduk Ibu, sikapnya, dan rona di wajahnya. Meski terlihat kerut-kerut kecil di sekitar matanya, tapi binar itu masih sama ketika menyesap kopi buatan Bapak.

Demikian juga dengan Bapak, meski uban mulai tampak di antara helai-helai rambutnya. Tidak ada yang berubah. Ini seperti reka adegan yang diulang-ulang. Dari aku bocah hingga masuk kuliah. Aku bersyukur dan bangga, menjadi penonton sekaligus tokoh dalam adegan itu. Tetiba terbersit di hati, sebagai laki-laki aku harus mulai belajar dari bapak. ***

.

.

Catatan:

[1] kutipan novel dari Critical Eleven, Ika Natassa, hal. 30

.

.

*) Sayekti Ardiyani, lahir dan tinggal di Magelang.

.

Dua Cangkir Kopi.

Arsip Cerpen di Indonesia