Retorika Atlantis

Cerpen Nia Laili (Suara Merdeka, 02 Oktober 2022)

1220 5th Ave, New York, NY 10029, Amerika Serikat. Ini bukan deja vu! Namun, apa nama yang pantas untuk mendefinisikan peristiwa ini? Peristiwa ketika aku berjalan dengan sangat tenang sembari menatap peta Indonesia yang terpampang gagah di Museum of the City of New York.

Aku mengamati peta besar itu hingga rombongan lain menyalip lajuku. Sejak kapan ada peta Indonesia di museum kota metropolitan terbesar dunia?

Kilatan cahaya tiba-tiba menghapus warna hijau pada peta dan aku mampu melihat sejarah peradaban asing, ketika pesawat terbang melintas dan wilayah dalam bingkai itu tampak glamour di tempa emas dengan bengunan kuno yang begitu indah menakjubkan. Slide-nya berganti pada tiga dimensi view peta dunia dari kejauhan. Tampak seperti lapisan lingkaran, atau terasiring aku juga tak begitu paham. Menurutku itu bagaikan struktur tata kota yang terbenahi. Aku tak begitu cakap mendefinisikanya. Yang pasti ini sangat luar biasa. Suara ledakan gunung berapi tiba-tiba terdengar.

Sedetik kemudian air laut berangsur-angsur menenggelamkan kota yang sedang menghipnotisku. Terdengar jeritan parau dari gambar yang kini terlihat sepertii vidio film bioskop empat dimensi.

Aku memejamkan mata dan pergerakan itu masih berlangsung hingga kota pada bingkai itu setengah tenggelam. Menenggelamkan tokoh-tokoh yang berpakaian aneh seperti prajurit dan perempuan-perempuan kuno yang berbalut kain seperti gaun ala kadarnya.

“Niria!” Pangil Dorly, si gadis pirang Manhattan. Dia mendekat, “let’s go.” Dia berseru sembari menarik tanganku.

“Wait,” lirihku penuh pinta.

Sejak kehadiran Dorly, peta Indonesia yang tadi kulihat hilang tanpa bekas. Dan sederet peristiwa itu malah tampak seperti khayalan, ilusi, atau bahkan fatamorgana yang kini juga lenyap. Aku kembali pada dunia nyata, New York.

“What happen?”

Aku tahu Dorly khawatir padaku karena aku masih mematung di tempat. Beberapa kali mengedipkan mata, menatap lukisan dalam bingkai. Sungguh, demi apa pun aku benar-benar melihat peta Indonesia dan sekelebat peristiwa mengerikan itu. Tapi kenapa sekarang mereka hilang dan malah berubah menjadi lukisan kanvas bergambar kapal dan rakyat New York?

“This picture is amazing,” seruku, menutupi realita.

Aku tak mungkin menceritakan hal tak wajar itu pada Dorly. Dia masih terlalu asing untuk sekadar tahu siapa aku. Dorly pun menjelaskan secuplik pengetahuannya mengenai lukisan hasil cat air yang merebah di kanvas. Lukisan indah karya Samuel Waugh (1814-1885), yang menggambarkan kedatangan kapal Jung di pelabuhan New York pada bulan Juli 1847.

Dorly lagi tersenyum, kemudian mengangkat kedua alis mengajakku lekas pergi dari museum ini. Kuakui museum ini sangat luar biasa dengan benda-benda estetik kuno seperti sepeda, patung, miniatur, dan semua koleksi seni kuno ala negeri Paman Sam.

Aku melaju bersama Dorly dan orang-orang rombongan, menelisik di mana Jays? Aku harus bicarakan ini padanya. Hanya dia yang tahu apa yang tengah terjadi pada otakku?

***

Malamnya aku bercerita pada Jays mengenai sekelebat peristiwa tadi, dan apa reaksi Jays? Dia terbahak renyah dalam tawanya. “Niria… Niria….” serunya sambil menggelengkan kepala.

“Apa kau akan bilang ini ilusi?”

“Kau manusia, dan masih hidup. Masih punya waktu untuk mengenal citra dirimu, bukankah kau sudah terbiasa dengan pengelihatan aneh macam itu? Kalau biasanya yang kau lihat adalah sinopsis masa depan, maka tadi yang kau lihat adalah masa lalu.”

Aku menghela napas, gagal untuk mengerti kalimat yang keluar dari Jays.

“Kau melihat masa lalu Nusantara,” jelas Jays lagi.

Tapi bukankah sejarah Indonesia harusnya diisi oleh peristiwa perang? Penjajahan? Dan kerja rodi? Toh, peradaban Indonesia dulu tak semakmur dan glamour seperti gambar tadi.

Jays lebih dari mampu untuk membaca isi kepalaku. Dia melantunkan salah satu ayat Al-Qur’an. Quran Surah Al-Isra’Ayat 16. Dia beralih duduk di udara.

“Sekarang buka ponselmu, searching buku ‘timeos and critias’ milik Plato.”

Aku menuruti perintahnya. Jays kembali melantunkan ayat Al-Quran yang berbeda dari sebelumnya. Aku melirik tertegun ke arahnya.

“Apa? Insecure, ya?”

Laki-laki memang selalu kepedean. Sifat kelewat ge-er ini bahkan melekat pada makhluk macam Jays.

“Makanya mumpung masih jadi manusia, belajarlah banyak hal. Jangan kalah sama bangsa Jin.”

Aku berdecak malas, mempunyai teman tak kasat mata yang super jahil macam Jays. Dia sering membantu memang, tapi lebih sering lagi merepotkan dan rutin membuatku senam jantung dengan parasnya yang niat diubah-ubah. Menjengkelkan bukan?

“Atlantis?” aku beralih topik.

Memperlihatkan nama benua yang terpampang dalam subjudul buku Plato.

“This rigt!” Jays terbang mendekat. “Atlantis is Indonesia, you know?”

“Atlantis adalah sebuah peradaban yang memiliki kemajuan komunikasi dan transformasi yang sangat maju pada zamannya. Tanahnya subur hingga pertaniannya maju, emas dan mineralnya menumpuk menjadikan penduduknya kaya dan mampu melancarkan banyak ekspedisi ke daerah yang sangat jauh terasuk Athena. Lha, pas mereka lagi preapare buat perang ngelawan Athena, terjadilah bencana alam yang bermula dari meletusnya gunung berapi dan muncul juga banjir.

Peradaban besar Atlantis habis dalam waktu kurang dari sehari semalam. Itu tersingkap dalam Al-Quran Al-Isra Ayat 16. Allah menghabisi sebuah negara mewah sampai sehancur-hancurnya.”

“Lalu, apa sangkut-pautnya sama Indonesia ?” aku hanya mengecek seberapa jauh pengetahuan Jays. Karena aku sebenarnya sudah mulai paham perihal banyaknya dugaan bahwa Atlantis adalah Indonesia, dari banyak artikel yang tersebar.

“Allah berfirman lagi tuh, dalam AlQuran Surah Al-Mu’minun Ayat 42: Kemudian kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. Siapa yang punya tanah paling subur? Yang punya sumber daya emas dan mineral banyak? Indonesia, kan? Indonesia adalah Atlantis. Ditinjau dari musimnya, curah hujannya, dan lokasi keberadaannya. Ini seni bicara Atlantis yang bercerita padamu. Ini adalah retorika Atlantis.”

Yah, dia benar. Ini seni bicara yang disuguhkan Atlantis padaku, agar aku paham besarnya peluang seharusnya Indonesia menjadi negara yang sangat maju dan sangat mungkin mengalahkan kemajuan Amerika (JIKA) sumber daya manusianya tidak serakah dan tamak. Indonesia telah mendapatkan warisan melimpah dari peradaban Atlantis. Harusnya dia berkembang lebih dewasa dengan apa yang dia miliki, bukan?

Aku bangkit dan berjalan maju meninggalkan Jays. Menikmati suasana malam di kota yang tak pernah tidur. Dan tepat di titik tengah high line, aku berpapasan dengan Dorly. Aku melihat aura aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aura biru keunguan itu tanda bahwa Dorly bukanlah anak sembarangan.

“Why?” tanya Dorly setelah menyapaku.

Aku buyar dari lamunan.

“I’m oke, sorry.”

Aku mengibaskan tangan dan terseyum.

Dari kejauhan Jays juga sama paniknya denganku. Dia berlari ke arahku, namun kalah cepat dengan Dorly yang merangkul bahuku. Dalam satu kedipan mata, aku sudah tak lagi berada di high line. Dorly membawaku pada suatu peradaban yang baru kupelajari. Atlantis! ***

.

.

 —Nia Laili santri Pondok Pesantren Miftakhurrosyidin Cekelan, Madureso, Temanggung. Juga mahasiswa FSHEI Inisnu Temanggung. Buku antologinya, “Patriot its Me” dan “Rindu yang Tak Pernah Padam”.

.

Retorika Atlantis. Retorika Atlantis. Retorika Atlantis.

Arsip Cerpen di Indonesia