Cerpen Dody Widianto (Suara Merdeka, 23 Oktober 2022)
BINATANG kecil mirip kumbang tanduk itu ia jimpit dengan telunjuk dan ibu jari. Ia kumpulkan ke dalam kantong plastik. Bersama anaknya, jika petang hampir menjelang, ia rutin mengaduk-ngaduk lubang kecil mirip kawah di sebelah sisi rumahnya yang masih tanah dan berdebu. Selanjutnya ia akan menuju ke pekarangan belakang rumah. Memetik beberapa daun ciplukan (cecendet). Dalam setiap helai cabutan, di relung hatinya yang terdalam, ia tak akan pernah lupa melafal doa.
“Kecemasan dan ketakutan selalu dekat dengan kematian. Sabar dan ikhlas adalah bagian dari kesembuhan. Aku percaya doa-doa yang tulus pada Maha Pencipta adalah obat termujarab.”
Di pembaringan, dalam tubuh lemah penuh ketidakberdayaan, ibunya berusaha meminum rebusan daun ciplukan tadi. Lalu dibujuk mengunyah pisang yang oleh anak lelakinya telah diisi undur-undur tanpa sepengetahuannya. Dokter bilang diabetes. Tubuhya terus saja menyusut hingga kurus kering. Ia hanya ingin ibunya cepat sembuh. Hidup damai bersama menantu dan cucu yang juga dikasihinya seperti dulu.
Beberapa hari yang lalu kakak kandungnya di Jakarta menelepon dirinya. Bertolak belakang dengan segala kesederhanaan yang dialami bersama keluarga dan ibunya, kata orang, kakaknya sudah menjadi pimpinan redaksi sebuah koran terkenal. Bahkan saking bagusnya kinerja koran itu dalam menyiarkan berita yang tegas dan lugas, terkadang mengkritik pemerintah dengan pedas, pimpinannya akan diusung jadi calon gubernur. Tetapi ia bimbang untuk menceritakan kepada ibunya perihal perseteruan kemarin.
“Bukan aku menghina, tidak. Ibu akan lebih terawat di sini. Aku punya lima pembantu. Sebenarnya tak masalah bagiku harus mengirim uang tiap bulan untuk cuci darah ibu. Aku punya keluarga, kau pun punya keluarga. Aku hanya bisa mengirim sebisanya. Aku kasihan padamu.
Terakhir kudengar tetangga di kampung yang memberitahuku bahwa kandang sapimu sengaja dibakar orang tak dikenal tempo hari lalu. Puluhan ayam milikmu mati seperti habis diracun. Pemberitaan di media kadang memang harus menyudutkan beberapa pihak. Namun, kakak akan selalu berusaha menuliskan kebenaran.
Beberapa orang pasti tak suka dengan kehidupan kita. Aku tahu kau sabar dengan segalanya, tetapi kakak mohon sekali ini saja. Biar Ibu ikut aku.”
Saat itu ia bingung untuk menjawabnya. Sebenarnya ia tak merasa kesusahan sedikit pun. Bahkan untuk merawat orang yang dulu pernah menceboki, mengajarinya berceloteh, mengajarinya berjalan, mengajarinya berdoa, tak ada yang perlu ia repotkan. Kenapa kakaknya tiba-tiba meminta Ibu tinggal bersamanya.
“Kita tidak usah bertengkar, Kak. Aku paham, Kakak lebih punya dalam hal harta, tetapi Ibu lebih butuh kasih sayang sekarang. Seperti dulu beliau menyayangi kita. Biarkan Ibu yang memilih. Entah di sana, entah di sini, setidaknya malaikat tak akan pernah bingung mengumpulkan beragam warna doa yang kita lantunkan pagi dan petang untuk kesembuhan Ibu. Surga milik Ibu adalah surga milik kita semua.”
Dan sekarang, suara di ujung sana tak akan pernah bisa menjawabnya. Adiknya tak tahu ia sedang memendam kegalauan. Terkapar tak berdaya sebab punya penyakit yang sama dengan ibunya. Jika waktu tak lagi bisa terulur, jika Tuhan tak mau lagi memberi batas waktu penanggguhan, ia hanya ingin bertemu ibunya untuk yang terakhir kali ketika bunyi elektrokardiogram di sebelahnya terus berdengung lebih kencang. Kemudian menampilkan grafik lengkung hampir terputus-putus.
Dalam satu helaan napas, hatinya masih bisa bersuara dalam duka, “Daff, kau memang adikku yang baik. Setidaknya Ibu beruntung tinggal bersamamu. Dulu tanpa sepengetahuanmu, aku pernah meminta Ibu menjual sebagian tanah miliknya. Berlaku kurang ajar akan menyembelih leher Ibu, jika ia tak mau menuruti kemauanku, ingin membeli ponsel android termahal dan terbaru, tetapi uang itu malah hilang sia-sia dalam kenakalan umurku yang masih remaja. Harta peninggalan mendiang ayah itu seharusnya untuk melanjutkah kita kuliah.
Awalnya aku kira jika hidup kalian aku buat susah, kau akan memintaku merawat ibu. Agar aku bisa menebus dosa pada Ibu, tetapi aku salah. Tentang kebakaran dan ternak-ternakmu yang mati, aku malu untuk berterus terang.
Kini aku merasakan derita yang kalian rasakan. Aku gagal jadi gubernur dan sekarang aku menanggung utang miliaran. Kampanye lalu telah menghabiskan semuanya. Bahkan anak dan istriku pergi entah ke mana. Keculasanku telah melenyapkan segalanya. Sekarang, sebelum segalanya terlambat, aku hanya ingin memeluk Ibu, bersujud di kakinya. Aku sangat rindu sambal tempe dan sayur urap kembang turi buatan ibu. Daff, aku pun ingin meminta maaf padamu. Sungguh.”
***
“Mas, ada telepon dari Kak Ron. Katanya mau ngomong sama Ibu.”
Daff menggeleng. Sudut matanya berair. Sigap menggenggam jemari istrinya, lalu menempelkan ke bawah dagu ibu mertuanya di pembaringan. Ia terperanjat. Kaget. Betapa kematian selalu dekat dengan manusia. Malaikat ternyata lebih cepat dari kata maaf yang seharusnya Ibu terima. ***
.
.
—Dody Widianto lahir di Surabaya. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai media cetak dan online, serta buku antologi cerpen. Buku kumpulan cerpen terbarunya, “Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021).
.
Dua Warna Doa. Dua Warna Doa. Dua Warna Doa.