Burung-Burung dalam Genggaman

Cerpen Ubaidillah Annasiqie (Suara Merdeka, 27 Oktober 2022)

MENJELANG pagi. Yusro selalu bersiap-siap melatih burungnya, agar seperti burung punya Rahmat yang mendapat banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri. Yusro tidak tanggung-tangung dalam melatih burungnya. Ia bahkan memberi makan yang lebih mahal ketimbang makanannya sendiri dalam setiap hari. Burung itu bersuara merdu, salah satu yang bikin mencengangkan bagi setiap orang yang mendengarnya adalah suaranya tidak mirip dengan burung-burung lain.

Bagi Rahmat hal itu dianggap biasa. Dia mengira bahwa Yusro masih terlalu kekanak-kanakan dan tidak mungkin bisa merawat burung yang memiliki suara merdu seperti cerita yang ia dengar dari mulut setiap orang. Karena merasa tersaingi, suatu hari Rahmat ingin membuktikan, apa benar burung itu memiliki suara merdu? Namun, ia mengurungkan niatnya tersebut dan memilih untuk tidak mempercayainya. Dia mengira bahwa hanya burungnya yang memiliki suara merdu.

Sementara Yusro, lelaki yang masih cukup muda dalam sejarah persaingan burung-burung merasa dirinya terhina dan tidak terima. Ia akan membuktikan ketika di kontes antarbenua nanti bahwa burung miliknya lebih merdu ketimbnag milik Rahmat, yang sudah sering menjuarai kontes dan mendapat banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Yusro memang tidak seterkenal Rahmat, di mana namanya mencuat bersama burungnya yang diberi nama Darwin, setelah keluar sebagai juara kontes nasional tiga tahun berturut-turut. Namun, tidak sampai di situ, Yusro dalam hal ini memberikan persaingan yang sangat menantang, baginya burung yang ia beri nama Harun akan menjadi kandidat kuat menggeser kedudukan si Darwin. Sebab, ia tak tangung-tanggung melatihnya dengan rutin dan penuh cinta. Keduanya sama-sama akan membuktikan diri ketika kejuaraan tingkat benua nanti.

***

Jauh sebelum kontes tingkat benua dimulai, persaingan antara Yusro dan Rahmat sudah sangat memanas dan menjadi perbincangan dari mulut ke mulut. Bahkan, keduanya memiliki para pengikut besar yang berdiri di belakangnya. Yang mereka juga bersaing. Sementara bagi Rahmat, lagi-lagi hal itu dianggap biasa. Suatu pagi, ia datang ke rumah Yusro yang tak jauh dengan rumahnya.

“Wah, gimana burungmu bisa merdu seperti itu?” tanya Rahmat dari luar pagar.

Ayah Yusro kaget! Karena Rahmat adalah rivalnya yang akan bertemu di kontes antarbenua nanti. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya, dan membawa semua burung-burung. Dengan harapan si Rahmat tidak memberikan dampak buruk kepada burung-burung yang ia pelihara, termasuk si Harun, yang akan bersaing melawan si Darwin milik Rahmat. Yang sudah cukup moncer menjuarai banyak penghargaan.

Melihat Ayah Yusro pergi meninggalkannya masuk ke rumah dengan membawa semua burung-burung. Rahmat tak habis pikir dengan semua itu. Ia pun pulang dengan wajah yang begitu masam. “Dasar Pak Tua!” ucapnya sambil berjalan lurus ke arah warung Bu Muhim. Di mana di warung itu ada banyak sekali para bajingan besar yang mendukung Yusro. Namun bagi Rahmat tetap saja, hal itu dianggap biasa dan terus berjalan ke arah warung. Tak lain untuk membeli gorengan buat sarapan.

“Hey, kenapa kamu ada di sini, jangan macam-macam kamu,” bentak Mat Sala seorang bajingan dengan tato cobra di lengan kirinya.

“Aku barusan memang datang ke rumah Yusro, dan tidak ada niatan apa pun selain keingintahuanku atas burungnya yang bersuara merdu,” ucap Rahmat sambil menjulurkan uang pesanan kopi dan gorengan.

“Kalau sampai ada apa-apa dengan si Harun burungnya Yusro, mati kamu. Ingat itu.”

“Aku tidak takut!”

Mereka yang duduk di warung itu suka emosi, meski masalahnya terlalu kecil. Lagi-lagi Rahmat menganggap itu sebagai hal yang biasa. Ia tak pernah merasa gentar dengan apa pun. Sehingga tak heran, mereka memukul Rahmat hingga babak belur. Untunglah pemilik warung dan beberapa warga di tempat itu segera memisahkan mereka.

“Hanya karena burung kalian sampai segitunya, kepada sesama manusia. Dasar bajingan!” ucap Rahmat dengan napas tersendat-sendat setelah dipukuli.

“Eh, jangan nyerocos terus kamu. Mau kuhajar lagi? Dasar bengik!”

Suasana yang biasanya teduh dan damai, kini berubah menjadi ricuh. Beberapa warga mendatangi warung. Termasuk pendukung setia si Darwin: sang burung kicau yang banyak menjuarai kejuaraan. Di mana di warung masih ada juga pendukung Yusro.

Terjadilah perseteruan yang melibatkan keduanya. Aksi saling baku-hantam pun terjadi, kepala-kepala banyak yang putus, darah-darah berceceran. Sang pemilik warung hanya bisa pasrah menerima semuanya, termasuk beberapa kursi, bangku, dan benda-benda lainnya, rusak akibat bentrok yang terjadi di tempatnya.

Sementara salah seorang warga memanggil polisi, dan berharap agar perseteruan itu mampu diredam, sehingga keadaan menjadi damai dan kondusif seperti semula. Namun sayang, kedatangan polisi tak mampu membendungnya.

Di seberang terdapat tiga truk yang adalah pendukung Rahmat. Mereka semua datang, hanya untuk bertengkar mendukung kebanggaannya dalam keadaan terancam. Polisi sudah berkali-kali menembakkan pistol ke udara. Akhirnya polisi pun menjadi sasaran perseteruan itu, tak heran bila semua polisi harus babak belur, meninggal.

Kejadian itu sangatlah mengerikan, mengingat perseteruan pada pemilihan kepala desa dua tahun yang lalu menghabiskan banyak korban. Yang itu tidak seberapa. Kali ini, tak bisa dibendung, sudah tiga truk pendukung Rahmat yang datang dan banyak yang meninggal, begitu juga dengan pendukung Yusro, yang harus ratusan nyawa melayang. Hanya demi suara burung, nyawa menghilang dan tak mampu dibayangkan. Mengingat kontes burung-burung antarbenua masih terlalu jauh dalam jangkauan, dan hanya kematian dan luka-luka yang paling dekat atas semua itu.

***

Kali ini, Yusro jalan-jalan pagi dengan menggunakan pakaian lengkap. Tiba-tiba ia tak sengaja bertemu dengan Rahmat di jalan. Mereka tak berseteru ketika jauh dari burung-burung peliaraannya. Terlihat Rahmat menyapa dengan wajah yang khas, sedang Yusro hanya bisa senyum. Mereka damai. Namun tidak dengan para pendukungnya.

“Hey!” sapa Rahmat.

“Iya. Sendirian?” tanya Yusro.

“Kamu kan tahu sendiri, tentang peristiwa sepuluh hari yang lalu. Aku tidak berani mengajak teman-teman, atau orang yang mendukung suara burungku, si Darwin,” sambil memperpelan langkah kakinya. “Apa mereka tidak tahu bahwa kita kini biasa-biasa saja dalam menjadi manusia yang saling menyapa satu sama lain.”

“Iya sih. Aku tidak habis pikir, kenapa mereka bisa bertengkar, dan menjadikan kita sebagai alasan kuat dalam perseteruan yang sering dan akan terus terjadi di kemudian hari,” kata Yusro sambil bengong fokus menatap ke depan.

“Dalam hidup memang harus ada sebuah persaingan untuk tumbuh lebih cepat,” ujar Rahmat.

“Tapi, Mat. Bagaimana dengan mereka yang sering bertengkar, hingga mati?” tanya Yusro.

“Yaudah, biarkan saja.”

“Dasar kamu tidak peduli kepada mereka yang menderita.”

Mereka terbengong, dan tertawa serta melepas tawa dengan sekeras mungkin. Di mana tak satu pun pendukung di antara mereka mengetahui kedekatannya yang begitu damai dan adem pagi itu.

Memang ia akan bertemu pada kontes antarbenua di Thailand. Dan Rahmat lebih memilih tidak akan ikut meski menjadi juara bertahan dan telah banyak menjuara berbagai penghargaan. Sebab burungnya yang ia beri nama Darwin harus meninggal terlebih dahulu, karena sudah terlalu tua. Begitu pun dengan burung milik Yusro yang tiba-tiba menghilang dari dalam kurungnya ke kurung yang lain.

Bagi setiap kalangan masyarakat, perseteruan itu akan sangat dikenang sampai kapan pun. Di mana tak ada dalam sejarah suara burung-burung berseteru dan menghabiskan banyak korban yang mengerikan seperti yang terjadi pada Yusro dan Rahmat. ***

.

.

Jogjakarta, 13-14/09/2021

Ubaidillah Annasiqie, lahir di Sumenep Madura. Kini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), Cabeyan, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

.

Burung-Burung dalam Genggaman. Burung-Burung dalam Genggaman . Burung-Burung dalam Genggaman . Burung-Burung dalam Genggaman .

Arsip Cerpen di Indonesia