Insiden Makima

Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 06 November 2022)

SETELAH Makima dinyatakan resmi sebagai pemilik klinik kesehatan kecil di pinggiran Tokyo, dia mulai melancarkan hal yang lekat tersangkut pada benak, yang diembannya sejak kecil. Kehendak yang bermula dari mimpi, terus-menerus hadir dalam tidurnya. Seiring dengan bertambahnya usia, Makima kian yakin mimpi yang berulang itu harus dikabulkan. Meski dirasa sinting pada awalnya, kesintingan yang terulang tanpa putus bakal kentara lazim. Mimpinya mengerikan, tetapi Makima menganggap mimpinya sebagai hal normal.

Yang pertama dilakukan Makima adalah memecat seluruh staf klinik tanpa terkecuali. Keputusannya tentu menuai pertentangan hebat. Walau demikian, dikorek macam apa pun, dia tak buka suara. Niatan Makima bulat tak dapat diganggu gugat.

Yang kedua memesan gergaji. Cukup sepuluh gergaji sepanjang lengan. Tak ada yang tahu hal apa yang bakal diperbuat sang pemilik baru klinik pada gergaji-gergaji itu. Sepuluh gergaji dikirim ke klinik kesehatan lewat jalur belakang. Pemesanan tentu saja sekadar diketahui segelintir orang. Sementang pun mereka bertanya-tanya, Makima lagi-lagi tak buka suara.

Dan kemudian memesan banyak stoples kaca. Lalu iklan baris pada kolom Penawaran Jasa:

“KLINIK KESEHATAN XX, TOKYO. MENERIMA JASA MENGAWETKAN KEPALA ORANG TERKASIH.”

Tentu saja, setelah diloloskan editor koran yang menerima segumpal uang dari Makima, pengumuman itu ditarik dan pada edisi esoknya koran mengumumkan ada kesalahan pada iklan tersebut dan dari pihak mereka memohon maaf.

Namun ada saja segelintir orang tertarik pada iklan yang sempat menggemparkan itu. Mereka benar-benar tertarik, dan boleh jadi, selain seks sebagaimana kata Kawabata, orang Jepang suka segala sesuatu yang janggal.

Pelanggan pertama Makima lelaki bertubuh gemuk dengan tinggi tubuh hampir-hampir mengungguli pintu klinik. Orang ini datang pagi-pagi ke klinik dan tanpa perlu menunggu lama sudah dilayani. Makima dan seorang jompo yang dipekerjakannya untuk urusan kasar menerima kedatangan si lelaki gemuk.

Makima duduk tepat di hadapan si lelaki gemuk dan menatapnya lurus-lurus.

“Perlu Anda tahu, iklan saya sudah ditarik dan memang ini hal gila di mata orang kebanyakan, masih berkenan?”

Lelaki gemuk tertawa.

“Anda lucu, orang kemari setelah Anda memasang iklan pun juga bisa dibilang sinting lantaran tertarik.”

Makima tersenyum.

“Hmm.”

Dia menambahkan: “Lantas kepala siapa yang Anda ingin kekalkan?”

Si lelaki gemuk tampak merenung. Dia diam beberapa lama.

“Sayangnya, kepala ini belum jadi kepala orang mati.”

Kembali Makima tersenyum.

“Matsumoto-san bisa. Kami ada peralatan.”

Jawaban Makima yang tenang tak pelak membikin si lelaki gemuk mengernyit. Dia usap-usap dahinya sembari meringis.

“Saya kira Anda bakal terkejut.”

“Di iklan yang sempat beredar, saya tak menyertakan kondisi kepala yang bisa diawetkan. Mengapa mesti kaget?”

Si lelaki gemuk mengangguk beberapa kali.

“Dan harusnya Anda sudah sadar,” Makima mengimbuhkan, “Orang tertarik kemari setelah saya memasang iklan gila begitu bisa dibilang sinting.”

Si lelaki gemuk tertawa lepas. “Anda sudah terlihat ahli dalam bidang ini.”

“Patut Anda ketahui, hal ini merupakan gagasan yang sudah mengawang lama dalam benak saya,” Makima menjelaskan.

***

ADA satu hal paling Makima kenang: anjingnya. Anjing Makima diadopsi dari tetangga. Kakeknya sendiri yang menghadiahkannya kepada Makima saat dia menginjak usia tujuh tahun. Bisa dibilang, itulah satu-satunya kegembiraan nyata yang pernah didapatnya. Sebab, dia tak pernah memperoleh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka orang-orang sibuk.

Tak lama berselang, si kakek yang agak dekat dengan Makima meninggal. Dia sendirian di rumah. Namun ada anjing peliharaan, kesendirian Makima berangsur tawar dengan hadirnya suara lain dalam sunyi kediamannya.

Hari-hari yang dijalaninya terasa menyenangkan bersama si anjing. Ia jenis anjing bertubuh besar dengan bulu seputih salju. Makima begitu menyayangi anjingnya, keduanya senantiasa bersama. Dari kediamannya, Makima menatap dunia yang terasa begitu jauh dan asing, mustahil dijamah. Beruntung hadir si anjing, sekadar mengingatkan bahwa dia masih bisa berpijak ke dunia. Ibarat si anjing menawarkan obat bagi rasa kesepian Makima.

Waktu itu dunia tak seperti sekarang, di mana aturan lama kembali ditegakkan dan orang mesti bertahan buat hidup sehari-hari. Jauh sebelum resesi, dulu ada pandemi yang melanda dunia dan orang bergelimpangan menanggalkan nyawa sebegitu remeh hanya gara-gara bersentuhan atau saling sapa. Mereka dibatasi, berjarak, cuma punya pegangan dua hal yang pada masa kini terasa tak lagi bermakna: telepon genggam serta kepedulian. Keterasingan yang sudah diemban Makima sejak terlahir dalam keluarganya, pada masa-masa itu tambah tebal. Si anjing boleh dikata penyelamat di saat-saat akhir.

Dunia berputar, berubah. Usia bertambah. Si anjing dan Makima pun demikian. Yang satu mati, sedang yang lain bertumbuh dewasa. Si anjing meninggalkan Makima. Melebihi ditinggal si kakek, Makima merasa sedih sangat. Saat itulah mimpi atau bisa dibilang gagasan yang berulang-ulang menerpa otaknya kian gamblang.

Makima mengubur bagian tubuh si anjing, dia potong kepala si anjing dan awetkan dalam stoples kaca. Agar tak ada yang tahu, dia simpan dalam-dalam pada bagian terpojok ruang kamarnya. Enam tahun terlalui dan sehabis kedua orang tuanya meninggal mendadak lantaran kecelakaan, mimpi yang jadi tujuan Makima pun menemukan tempat untuk disalurkan.

***

PINTU belakang klinik selalu menghasilkan derit tak menyenangkan kalau dikuak lebar. Suaranya macam mencekik leher tikus sampai tuntas, kalau dipikir-pikir. Biasanya Matsumoto yang selesai menghirup udara dan minum kopi akan kembali masuk lewat pintu belakang. Sudah nyaris seperempat abad dia mengabdi pada keluarga Makima. Banyak hal sudah dia saksikan, dan keinginan Makima yang beberapa waktu lalu disampaikan kepadanya tak begitu membikin dia terkaget-kaget.

“Nona, karena saya tak punya keluarga, saya tak keberatan melakukan kerja kasar macam itu. Namun, apa Nona sudah benar-benar yakin? Kalau bersinggungan dengan yang begini, pasti hidung polisi bisa mengendus. Biar bagaimana pula ini negara masih ada hukum,” ucap Matsumoto.

Makima cuma tersenyum. Dia bertopang dagu dan menatap lurus ke muka Matsumoto. Makima mengamati kerut-kerut halus pada sekitaran mata pembantu setia keluarganya itu. Sudah lama sekali dia bersama kami, dibatinnya.

“Aku hanya punya kau, Matsumoto-san.”

Matsumoto tersenyum, matanya memicing.

“Cuma ada aku dan Nona di klinik. Sekarang sudah bukan klinik, tapi tempat penjagalan.”

Makima mengangguk. “Disebut begitu juga boleh. Sudah ada pelanggan pertama pula.”

“Apa nanti orangnya dipaksa kemari?” tanya Matsumoto.

“Si target? Aku tak tahu. Kita cuma menyediakan tempat dan tindakan. Aksinya biarlah dipikir oleh pelanggan.”

Selewat jam empat sore, si lelaki gemuk tiba bersama seorang wanita. Wanita ini boleh dibilang jelita.

Si lelaki gemuk memperkenalkan si wanita pada Makima.

“Dia Ami, istri saya.”

Makima menatap si wanita yang tersenyum seraya mengangguk.

“Anda tahu apa sebab dibawa kemari?” tanya Makima.

“Sayangnya saya tahu sekali,” sahut si wanita.

“Usianya sudah tidak lama lagi,” sela si lelaki gemuk.

Makima berbinar. Dia berusaha tersenyum setipis mungkin.

Pasangan itu digiring ke suatu ruangan berpencahayaan amat terang. Ada ranjang besi dan lampu sorot di sana. Juga gergaji.

“Setelah menandatangani surat kesepakatan, mohon tidur di sana. Tidak akan sakit. Tutup mata saja. Semua akan selesai nanti,” terang Makima.

Si wanita tersenyum. Setelah lama berpelukan dan ciuman perpisahan dengan si lelaki gemuk, yang anehnya tak menitiskan barang setetes pun air mata, dia lantas membaringkan tubuh di atas ranjang besi yang disorot lampu.

“Dunia memang indah, salah satunya adanya hal-hal janggal,” ujar si wanita.

“Sesuatu yang terdengar janggal, bila dibiasakan, lama-lama takkan terdengar janggal,” jawab Makima.

Si wanita mengangguk. Dan sekali melambai ke arah si lelaki gemuk. Meraih gergaji, Matsumoto menghampiri si wanita.

***

KLINIK XX makin terdengar. Orang sinting sepenjuru Jepang berdatangan.

Yang mati maupun yang hidup sama-sama menghendaki. Bedanya cuma pada suara. Yang mati diam tanda setuju; yang hidup menerima nasib demi yang terkasih.

Pelanggan kesekian seorang pengarang yang lumayan tenar. Dia datang malam-malam tatkala klinik akan tutup.

“Saya hendak mengawetkan kepala saya. Di sini, kan, tempatnya?”

Makima mengangguk. “Baru sekarang ada yang mengantarkan kepalanya sendiri buat diawetkan. Nanti kami kirim ke mana?”

“Cukup kubur di sekitar sini saja. Dua bagian tubuh saya.”

“Tidak ada tempat? Di mana saja?”

“Tempat saya hanya dalam kepala,” jawab si pengarang.

***

MIMPI Makima sudah menemui jalan ujung. Saatnya mengakhiri mimpi.

“Langkat nanti, klinik aku tutup. Pekerjaan kita sudah selesai, Matsumoto-san.”

Kali ini Matsumoto terkejut.

“Belum mencurigakan siapa pun. Kita sudah jauh, kenapa tiba-tiba menutup klinik, Nona?”

“Tempatkan kepalaku di tempat aku menempatkan kepala Shiro. Kau pernah kuberi tahu dulu.”

Matsumoto tambah kaget.

“Lantas semua yang Nona tinggalkan bagaimana?”

“Buatmu saja. Mulailah kehidupan baru.”

“Saya sudah tua begini.”

“Kamu masih sehat, Matsumoto-san.”

“Saya sudah sinting, Nona.”

Makima tersenyum. Lalu tertawa lirih.

“Begitu pula aku. Ini akhir mimpiku. Aku mohon.”

Matsumoto merenung. Lama dia tidak menanggapi ucapan Makima. Dia lantas menghela napas.

“Baiklah, kalau itu keinginan Nona.”

Dunia berputar, berubah. Dari mimpi, orang bisa yakin lalu meneguhkan apa yang diimpikannya jadi idealisme. Makima telah menetapkan hatinya. Ingatan memeluk dan dipeluk si anjing benar-benar menghangatkan hati sepanjang hidupnya. Sekarang sudah saatnya mimpi itu berlabuh.

Matsumoto mulai melakukan pekerjaannya setelah menyuntik mati Makima. Matsumoto menangis sekaligus tertawa. ***

.

.

Jalan Pramuka, Mlati Lor, 2022

.

CATATAN:

Nama tokoh dan karakter dalam cerita ini diadaptasi dari manga Chainsaw Man karya Tatsuki Fujimoto.

.

.

Bagus Dwi Hananto lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Dia cukup produktif menulis puisi dan prosa. Buku cerita pendeknya berjudul Pengangguran Berbakat Yamada Hikigaya (2019).

.

Insiden Makima. Insiden Makima. Insiden Makima. Insiden Makima. Insiden Makima. Insiden Makima.

Arsip Cerpen di Indonesia