Kisah Kasih Randuse dan Sumini

Cerpen Rifat Khan (Koran Tempo, 13 November 2022)

BAIK, kisah ini akan kita mulai dengan satu tokoh bernama Hasan. Hasan adalah pemuda berumur 32 tahun. Belum menikah dan sedang tak punya pacar. Hasan hidup sendirian. Orang tuanya meninggal karena kapal yang ditumpanginya tenggelam dalam perjalanan pulang dari Malaysia. Hidup Hasan tentu tak baik-baik saja.

Sebelum terlalu jauh, tampaknya nama tokoh dalam kisah ini terlalu klise. Mungkin kita ganti saja namanya menjadi Randuse. Baik, kita coba ulang. Randuse adalah pemuda berumur 32 tahun. Belum menikah dan sedang tak punya pacar. Randuse hidup sendirian. Orang tuanya meninggal karena kapal yang ditumpanginya tenggelam dalam perjalanan pulang dari Malaysia. Hidup Randuse tentu tak baik-baik saja.

Oke. Tampaknya nama tokoh kita sudah tak klise lagi. Sebagian dari kisah ini adalah tentang ketakutan-ketakutan. Randuse memiliki banyak ketakutan. Ketakutan makan sate kambing, ketakutan melihat burung di pagi buta, ketakutan membawa cewek ke rumahnya meskipun ia sendirian di rumah, ketakutan minum pop ice, ketakutan menengok kembali tinja yang mengapung di kloset saat buang air besar, dan yang paling parah adalah ketakutan untuk jatuh cinta lagi.

Tampaknya ketakutan yang terakhir menjurus ke arah klise. Namun, tak apa, bukankah jatuh cinta dan patah hati masih jadi topik menarik di bumi yang fana ini. Semua ketakutan Randuse tentu ada sebabnya, tapi tak mungkin dijelaskan semua. Salah satu yang bisa dijelaskan adalah ketakutan menengok kembali tinja yang mengapung di kloset. Randuse pernah melihat tinja yang keluar dari duburnya sendiri berbalut cairan warna merah dan seekor binatang kecil menggeliat di sana. Ia merasa ngeri, bahkan sampai tujuh malam bermimpi tentang tinja itu. Di hari ketujuh, ia kemudian bersumpah tak akan lagi menengok tinja yang mengapung di kloset, apa pun alasan atau berapa pun upahnya.

Mengenai ketakutan untuk jatuh cinta lagi, sudah pasti, tokoh kita ini pernah mengalami patah hati yang dahsyat. Patah hati, yang barangkali lebih dahsyat dari ledakan bom atom. Patah hati yang sangat mengguncang dada Randuse. Patah hati yang membuatnya sakit berhari-hari. Patah hati yang membuat jenggot dan kumisnya beruban. Ya, patah hati memang banyak yang merasakan. Namun, bagi Randuse, itu adalah hal tersakit yang pernah dialaminya sehingga membuatnya takut jatuh cinta lagi.

Sebelum membahas lebih jauh tentang asmaranya, sebaiknya kita perjelas kembali siapa Randuse ini. Randuse dibesarkan di sebuah kampung bernama Majidi. Mendiang bapaknya adalah seorang ran; orang yang ditugaskan menjadi juru masak di acara begawe; biasanya saat memperingati sembilan hari meninggalnya seorang warga atau kalau ada acara pernikahan. Bapaknya bertanggung jawab penuh mengatur bumbu dan memastikan makanan siap saji dan enak di lidah warga. Randuse sering ikut bapaknya, bahkan ia sering ikut bergadang. Ia suka memperhatikan segala tingkah bapaknya saat berada di depan perapian. Ia juga sangat menikmati harum aroma kuah ares saat dipastikan matang dan siap disantap. Setelah bapaknya meninggal, Randuse dipercaya menggantikannya.

Warga mengakui keahlian Randuse dan bapaknya sama. Sama-sama enak hasil masakannya. Menjadi seorang ran tentu tak bisa dianggap pekerjaan mapan sebab penghasilannya tak tetap. Kadang Randuse main poker online. Kalau beruntung, ia akan punya uang. Tapi, kalau buntung, ia akan mendekam sambil menangis sendirian di kamarnya. Kadang ia juga mengambil pekerjaan mengetik skripsi. Hanya mengetik, bukan membuat skripsi.

Di masa SMA, ia jatuh cinta kepada Sumini. Sumini satu-satunya gadis yang menggunakan vespa merah untuk berangkat ke sekolah. Randuse mula-mula jatuh cinta kepada vespa Sumini. Kemudian jatuh cinta kepada rambutnya, kemudian jatuh cinta kepada harum tubuhnya, kemudian jatuh cinta lagi kepada tangan Sumini, dan diikuti jatuh cinta-jatuh cinta yang lain kepada segala hal yang berhubungan dengan Sumini.

Sumini, sebagai gadis SMA yang normal, tentu bangga dicintai Randuse. Apalagi saat itu Makiyah, teman sekelas mereka, juga menaruh hati pada Randuse. Dan Sumini tentu merasa jauh lebih menarik daripada Makiyah sebab Randuse tak berpaling dari cintanya.

Makiyah bilang: “Sumini pakai guna-guna.”

Randuse bilang, “Sumini perempuan langka.”

Sumini bilang, “Kalau iri, bilang aja bos!”

Makiyah geram. Ia berencana melaporkan Sumini ke bapaknya, yang kebetulan adalah seorang polisi, atas dugaan pencemaran nama baik. Namun, bapaknya keburu meninggal sebelum laporan ia sampaikan. Bapak Makiyah meninggal karena tenggelam juga, tapi bukan dalam perjalanan dari Malaysia, melainkan saat pergi melaut menembak ikan. Makiyah berduka. Ia berharap Randuse datang melayat dan menemaninya. Namun, tanpa berniat menyakiti, Randuse malah datang bersama Sumini. Makiyah tambah kesal. Ia membanting pintu keras-keras. Orang-orang bilang: “Kasihan sekali ya, dia belum siap ditinggal bapaknya.” Ada juga yang bilang: “Ndak apa-apa, itu kan pintu rumahnya sendiri.”

Randuse dan Sumini pulang. Mereka berboncengan dengan vespa merah. Harum rambut Sumini memenuhi penciuman Randuse. Dada Sumini lekat di punggung Randuse. Mereka sepakat pergi ke Labuan Haji untuk melihat pantai, tapi tak jadi. Ada burung bertengger di batang pohon. Randuse tak suka dan mengajak Sumini ke Taman Kota Rinjani.

Di taman kota, langit tampak murung. Tak ada boneka Upin-Ipin yang biasanya menghibur anak-anak. Hanya ada pedagang cilok. Ia mengajak Sumini pergi lagi. Kali ini mereka pergi ke Pekuburan Kedondong. Sumini bingung kenapa Randuse mengajaknya ke kuburan. Randuse menunjuk sebuah makam dan bilang: “Itu kuburan kakekku.” Randuse kemudian bercerita, semasa hidup, kakeknya pernah menikah ratusan kali. Mata Sumini melotot. Namun, Randuse bilang: “Aku tidak akan seperti kakekku.” Randuse hanya akan menikah satu kali, dengan perempuan yang ia cintai, dan perempuan itu adalah Sumini. Mata Sumini berkaca-kaca. Randuse hendak memeluknya, tapi Sumini menghindar.

Kemudian Sumini bilang: “Ini kuburan, mending cari tempat lain yuk.” Mereka jos ke Tete Batu. Cari penginapan dan patungan bayar kamar. Randuse lupa bawa pengaman, ia pergi sebentar ke Alfamart. Pegawai Alfamart tersenyum dan senyumnya mirip Sumini. Randuse merasa jatuh cinta lagi, tapi ia tepis. Sumini yang asli sudah siap di kamar dan kesempatan tak mungkin ia buang begitu saja.

Saat Randuse dan Sumini bercumbu di kamar, di tempat lain, Makiyah berdoa agar kedua manusia itu celaka. Makiyah percaya bahwa doa orang yang teraniaya cepat dikabulkan. Gemuruh menggelegar, hujan turun deras. Randuse dan Sumini makin asyik bercumbu. Tak terjadi apa-apa. Sungguh. Doa Makiyah mungkin hanya didengar, tapi tak dikabulkan.

Sepulang dari Tete Batu, mereka melewati jalur Terara, lalu tembus ke Sakra. Sumini bilang: “Ibuku suka jajan temerodok.” Di Sakra, mereka mampir ke warung. Randuse memesan tiga mika temerodok saat pemilik warung sedang melayani seorang pemuda berkacamata. Tampaknya pemuda itu sedang meneliti temerodok. Randuse sempat mendengar pemuda itu berkata bahwa ia ditugaskan oleh kementerian. Pemilik warung meminta Randuse menunggu sebentar. Sepuluh menit. Lima belas menit. Setengah jam. Randuse kesal dan mengumpat dalam hati kemudian pergi. Mereka berhasil membeli temerodok di warung lain. Sehabis itu, mereka menuju Kelayu, hendak membeli cerorot. Sumini bilang, “Bapakku doyan makan cerorot.”

Di Kelayu, ada penjual cerorot yang cantik dan agak dewasa. Menurut Randuse, perempuan itu adalah seorang janda. Sesampai di sana, Randuse juga melihat seorang pemuda yang bertanya-tanya soal cerorot. Pemuda ini tak memakai kacamata dan tampangnya mirip pelawak. Mungkin ia juga ditugaskan oleh kementerian. Sumini bilang: “Belum tentu.”

Berbeda dengan penjual temerodok, penjual cerorot segera melayani Randuse. Cerorot dibungkus. Si penjual tersenyum. Entah kenapa, di mata Randuse, senyumnya mirip dengan senyum Sumini. Namun, Randuse langsung menepis pikirannya.

***

Di sekolah, Sumini sering tampak sedih. Makiyah melihatnya dan merasa pasti sudah terjadi sesuatu yang celaka. Makiyah senang. Ia tak tahu, ada dua macam kesedihan. Ada kesedihan yang benar-benar bersumber dari rasa sedih, ada pula kesedihan yang bersumber dari kebahagiaan yang teramat sangat. Kesedihan Sumini mungkin saja adalah jenis kesedihan yang kedua. Sebab, sepulang sekolah, Sumini kerap mengajak Randuse ke Tete Batu. Bahkan kadang Sumini bilang: “Aku punya uang dua ratus ribu, cukup buat kamar.” Sumini bahkan membawa dua bungkus nasi sebagai bekal, untuk menghemat pengeluaran. Randuse benar-benar jatuh cinta kepada ide Sumini itu. Ia berjanji membuat Sumini bahagia dunia-akhirat. Asmara Randuse-Sumini terus berlanjut sampai mereka lulus SMA. Namun, tak ada hal yang selalu berjalan mulus. Sumini yang beranjak dewasa sudah mulai ditekan keluarga.

Bapaknya bilang, “Kamu sekarang sudah kuliah ya, carilah yang setara, yang kuliah atau bahkan yang sudah S-2, atau doktor sekalian.”

Mbahnya bilang, “Apa yang diharapkan dari pemuda semacam Randuse? Sudah kerjaannya ndak jelas, nongkrong tiap hari di pinggir jalan.”

Pamannya bilang, “Masak iya keponakanku yang cantik punya pasangan yang miskin.”

Bibinya bilang, “Besok Bibi kenalkan sama anak kerabat Bibi, gagah dan pekerjaannya bagus.”

Kakaknya bilang, “Randuse itu bangsat, kemarin dia gangguin cewek di jalan, masak iya kamu akan menikah sama dia.”

Hanya ibu Sumini yang diam seribu bahasa. Perempuan itu hanya mampu menatap lekat wajah anak gadisnya. Sumini bingung. Hatinya berkecamuk. Ia termenung di kamar. Dari balik jendela, ia lihat dua burung bertengger di batang pohon mangga. Ia kesal dan melempar dua burung itu dengan bolpoin. Burung langsung terbang. Kemudian suara tit tit penjual es krim. Sumini makin kesal. Ia ingin membanting pintu kamar, tapi pintu kamarnya terbuat dari tripleks tipis dan pasti akan langsung rusak. Ia mengurungkan niat. Ia ingin menelepon Randuse, tapi Randuse pasti masih tidur. Ia tak mau hadir di sesi kuliah online. Ia masuk ke toilet dan berjongkok di sana. Ia lihat kotorannya mengapung. Kuning berbalut merah darah. Seekor binatang kecil menggeliat di sana. Ia mual dan segera menyiramnya.

Telepon berdering. Dari Randuse. Sumini menjawab. Terdengar suara operator meminta Sumini menelepon balik sebab si pemanggil tak punya pulsa. Sumini tambah kesal, ia membanting hape-nya ke kasur.

***

Pada Kamis sore yang kuning berbalut kemerah-merahan, Randuse dan Sumini bertemu di bawah pohon kamboja, lima meter dari makam kakek Randuse. Randuse bilang, “Hanya di dekat kakek aku mampu bicara dengan serius.” Sumini mengiyakan. Mereka saling tatap. Di belakang mereka, daun kamboja berjatuhan. Angin bertiup sedikit kencang dan jantung Sumini berdetak lebih cepat.

“Bagaimana solusinya?”

“Kita menikah.”

“Hah? Menikah? What?”

“Iya,” jawab Randuse.

Ndak mungkin.”

“Segalanya mungkin.”

“Caranya?”

“Kawin lari.”

Hening. Angin bertiup pelan. Selembar lagi daun kamboja luruh. Suara speaker masjid mengumumkan jumlah sumbangan dari jemaah. Marbot menyebutkan nama ibu Makiyah yang menyumbang 20 juta. Randuse tak peduli.

“Iya, kawin lari. Bukankah itu adat?”

Ndak mungkin. Keluargaku sangat menentang itu.”

“Lalu?”

“Ya, kamu cari kerjalah. Buktikan kepada orang tuaku.”

“Baik.”

“Ya sudah, aku pergi.”

“Sebentar. Apa ndak mau mampir dulu beli temerodok atau cerorot buat bapak dan ibumu?”

Ndak. Percuma. Mereka ndak akan bisa disogok dengan itu.”

Sumini pergi. Randuse termenung. Dua lembar daun kamboja jatuh. Angin bertiup lirih. Suara Marbot terdengar seperti suara seng yang terkena rintik hujan.

***

Hari berganti. Musim berganti. Randuse termenung di teras. Berkali-kali ia mencoba menelepon Sumini. Namun, panggilannya tak dijawab. Sudah 20 SMS ia kirim, tak ada balasan. Entah apa alasan Sumini menghindar. Randuse bertanya-tanya, apakah perasaan cinta Sumini sudah lebur dan tak lagi menempel seperti beras yang ia masak dalam porsi besar tiap kali ada orang begawe?

Randuse ingin menangis. Namun, tak jadi. Sebuah pesan datang: ada acara begawe di kampung sebelah. Ia diminta jadi ran. Pekerjaan sebagai ran harus dilakukan dengan profesional. Meski batinnya sedih, Randuse bertekad tetap bekerja maksimal.

Di lain tempat, Sumini sudah berdandan rapi. Mirip Nirina Zubir. Bulu matanya lentik seperti semut yang jalan beriringan. Hidungnya mancung seperti Gunung Rinjani. Bibirnya merah seperti kobaran api yang menyala. Sumini duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat wajahnya seperti menyimpan beban.

Bibinya bilang, “Lelaki yang akan kuperkenalkan kepadamu sepuluh menit lagi akan tiba.”

Mbahnya bilang, “Di depan lelaki itu, kau harus tampak cantik.”

Bapaknya bilang, “Uang lamaran harus banyak, ndak boleh sedikit.”

Pamannya bilang, “Sebentar lagi aku punya menantu orang kaya.”

Kakaknya bilang, “Ingat ya, jatahku harus banyak.”

Hanya ibu Sumini yang diam seribu bahasa. Perempuan itu hanya mampu menatap lekat wajah anak gadisnya.

Hasan, lelaki itu, datang. Hasan seorang pengusaha sukses. Punya sepuluh cabang usaha katering, sepuluh cabang bengkel besar, dan sepuluh cabang keramba penghasil lobster. Sebelum lebih jauh, sebaiknya nama Hasan kita ganti. Sebab, nama Hasan masih saja terdengar klise. Oke, kita ulangi lagi dan coba ganti namanya menjadi Rafael.

Rafael, lelaki itu, datang. Rafael seorang pengusaha sukses. Punya sepuluh cabang usaha katering, sepuluh cabang bengkel besar, dan sepuluh cabang keramba penghasil lobster. Rafael mengenakan jas hitam berdasi kupu-kupu. Beberapa perempuan turut serta di belakangnya membawa bingkisan. Pembicaraan segera dimulai. Proses lamaran tampaknya berjalan mulus, meski hati Sumini sepertinya hancur.

Hati yang hancur juga dirasakan Randuse. Kabar pernikahan Sumini terdengar olehnya. Omongan-omongan keluarga Sumini juga sampai di telinganya: Randuse itu ndak bisa diharapkan. Randuse itu pakai guna-guna. Sudah miskin nekat macarin anak orang. Ndak tahu diri. Dia pikir mudah mendapatkan Sumini. Jelas, ndak sepadan.

Randuse ingin mabuk, tapi malu dilihat orang. Ia ingin menangis, tapi lebih malu lagi pada potret almarhum bapaknya yang terpajang di dinding. Satu hal yang ia lakukan adalah mengambil dompet, mengeluarkan foto Sumini, dan membakarnya. Api menyala, dendam di dada Randuse juga menyala.

Pernikahan Sumini digelar di sebuah gedung mewah. Pernikahan itu tak membutuhkan seorang ran sebab perusahaan katering Rafael siap bekerja maksimal. Randuse diundang, tapi ia tak datang.

***

Hari berganti, musim berganti. Lima tahun berlalu sejak pernikahan Sumini, Randuse masih diselimuti pilu. Bayangan Sumini masih melekat di matanya. Meski ia pernah mencoba mencintai perempuan lain, ia sangat takut akan ditinggalkan lagi. Ia pun memilih diam, hingga perasaan cintanya hilang. Hanya perasaan cinta kepada Sumini yang terus membeku dan menempel di dinding kalbunya. Randuse lebih sering mendekam di kamar, hanya sesekali ia keluar, yakni kalau ada acara begawe dan ia harus menjalankan tugasnya sebagai ran. Orang-orang pun memandang Randuse dengan tatapan tak biasa. Sebab, jenggot dan kumisnya tak pernah dicukur, mirip seperti sahabat-sahabat Nabi di film-film Arab.

Sampai pada suatu pagi yang gerimis, suara pengumuman dari speaker masjid menggema. Rafael meninggal. Kabar yang sangat mengagetkan. Randuse melongo, tapi ada rasa bahagia di hati kecilnya. Desas-desus kemudian beredar: Rafael meninggal sebab kolesterolnya melonjak akibat kebanyakan mengonsumsi lobster; Rafael meninggal sebab tak tahan dengan sikap Sumini selama berumah tangga; Rafael meninggal karena Sumini mencintai laki-laki lain; Rafael meninggal tak wajar. Lihat deh, ada bekas merah di lehernya. Itu paling bekas ciuman Sumini. Bukan, bekasnya panjang. “Saya juga kadang bikin gituan di leher suami saya,” ujar Ijah yang baru dua hari menikah.

Banyak juga pendapat yang mengatakan bahwa Randuse ada sangkut paut dengan kematian Rafael. Abah Rafael atau mertua Sumini meminta acara peringatan sembilan hari meninggalnya Rafael harus diselenggarakan dengan cara tradisional. Harus ada begawe dan memakai ran, tak boleh dengan memesan katering. Randuse diminta menjadi ran. Sebenarnya itu sangat berat bagi Randuse. Namun, menolak permintaan sama dengan mendoakan datangnya bala. Maka Randuse pun menerima.

Di malam kesembilan itu, ia datang. Ibu Sumini menatapnya dengan tajam. Mbah Sumini seperti hendak menerkamnya. Bapak Sumini seakan-akan ingin segara mencekiknya. Ketika bibi Sumini mendekat, Randuse membayangkan perempuan itu mendorongnya ke kobaran api. Hanya pada Sumini, Randuse melihat masih ada cinta.

Perasaan tak tenang mengganggu Randuse. Makanan sudah dihidangkan bagi semua yang datang. Orang-orang saling pandang selepas bersantap. Ada yang menggeleng-geleng. Ada pula yang menatap Randuse dengan ganjil. Masakan Randuse kali ini benar-benar berbeda. Rasanya sangat buruk. Bahkan Bibi Sumini sempat bilang: “Kamu masak sambil mabuk, ya?”

Warga kemudian menduga-duga. Jangan-jangan bakal ada musibah. Jangan-jangan dendam Randuse membuatnya sengaja melakukan itu. Jangan-jangan ada yang sedang hamil. Apa mungkin Sumini hamil? Wah, apa ini sudah direncanakan? Sumini dihamili Randuse dan karena suaminya tahu, ia dibunuh. Wah, ini luar biasa. Baru pertama kalinya terjadi. Huus, bahaya, jangan bikin gosip. Tahu ndak, Rusia sedang menyerbu Ukraina. Ah, ini lebih seru. Ini isu perselingkuhan dan skandal! ***

.

.

Majidi, 2022.

Rifat Khan, penulis yang lahir pada 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat di berbagai media massa. Saat ini Rifat bermukim di Nusa Tenggara Barat. Dia bergiat di Komunitas Rabu Langit, Lombok Timur.

.

Kisah Kasih Randuse dan Sumini. Kisah Kasih Randuse dan Sumini. Kisah Kasih Randuse dan Sumini. Kisah Kasih Randuse dan Sumini. Kisah Kasih Randuse dan Sumini. Kisah Kasih Randuse dan Sumini.

Arsip Cerpen di Indonesia