Arisan Covid

Cerpen Rinal Sahputra (Waspada, 11 Desember 2022)

“JUMLAH kematian meningkat usai program vaksin? Mana buktinya? Bu Jessica jangan seenaknya menyebarka hoax ya!!” Bu Mirna setengah berteriak dengan mata melotot ke arah Bu Jessica.

“Ini silahkan dibaca sendiri! 1.511 nakes gugur melawan covid19!” Bu Jessica menunjukkan data terbaru tentang kematian para tenaga kesehatan akibat covid 19 yang dikupas tuntas oleh salah satu harian terkemuka.

Semuanya membisu. Mereka tahu kalau bu Jessica adalah salah satu penentang program vaksinasi covid 19 yang semakin gencar dikampanyekan pemerintah akhir-akhir ini. Malah beberapa ibu arisan di kompleks ini diam-diam memanggil Bu Jessica dengan sebutan kelompok bumi datar.

“Tapi Bu Jessica, berita ini sama sekali tidak menjelaskan kematian meningkat usai vaksin.” Suara Bu Mirna tidak lagi selantang sebelumnya. Sepertinya dia enggan berdebat dengan Bu Jessica.

“Bu Mirna, tolong dilihat dengan cermat. Itu data terbaru, ketika program vaksin massal sudah dilaksanakan serentak untuk petugas kesehatan. Itu data diambil dari database loh. Bukan argumen pribadi seperti yang selalu Bu Mirna lakukan.” Bu Jessica seolah menyindir kebiasaan ibu-ibu arisan lain yang seringnya bergosip tanpa referensi.

“Bu Jessica sebaiknya tidak langsung asal tuduh. Apakah kematian yang disampaikan oleh surat kabar itu betul-betul berhubungan dengan vaksin? Ini saya kasih contoh ya Bu Jessica, jika ada orang yang meninggal setelah minum madu dan habbatussauda, apakah bisa langsung kita simpulkan madu dan habbatussauda itu berbahaya?” Kali ini Bu Putri ikut unjuk gigi.

“Loh, kok tiba-tiba Bu Putri mengalihkan topik pembicaraan? Memangnya ada peningkatan jumlah orang yang meninggal usai minum madu dan habbatussauda? Jangan mengada-ada sampeyan! Yang terbukti justru kematian meningkat usai vaksin masal dilaksanakan. Analogikanya ngawur dan gak nyambung.” Bu Jessica sedikit mencibir ke arah Bu Putri.

Bu Putri nampak melotot.

“Ibu Jessica yang terhormat, ini saya bertanya sekali lagi, apabila ada seseorang wafat setelah minum madu dan habbatussauda, apakah bisa langsung kita simpulkan madu dan habbatussauda itu penyebab kematiannya dan beracun?”

Pertemuan yang semula dimaksudkan untuk acara arisan ibu-ibu di kompleks tiba-tiba memanas oleh perdebatan tentang vaksin covid 19 antara Ibu Jessica dengan ibu-ibu arisan yang lain. Sebagian malah diam saja, tidak berani menengahi.

“Tetapi realitanya kan tidak ada peningkatan kematian setelah orang-orang minum madu dan habbatussauda? Kalau bikin analogi, yang rasional dong Bu Putri! Sampeyan ‘kan lulusan S2. Masak pola pikirnya aneh begitu?” Bu Jessica menyeruput segelas es cendol dalam sekali teguk.

Rumah Bude Vera memang belum memiliki air conditioner. Kipas angin yang dipasang di sekitar ruang tamu seolah tidak mampu mengusir hawa panas. Di luar terdengar suara lonceng penjual es krim keliling. Bising dan panasnya Jakarta mendadak terabaikan sama sekali.

“Aduh! Bu Jessica, ini saya nanyain logikanya aja. Jangan-jangan Ibu yang enggak paham ya?” Bu Putri masih ngotot dengan analoginya.

“Permisi ya Ibu-Ibu, saya ikutan nimbrung.” Teh Nini sepertinya mencoba menengahi. “Menurut saya, nakes banyak meninggal bukan karena vaksinnya. Tapi mungkin mereka kelelahan saat merawat pasien covid yang semakin membludak.”

“Saya paham. Tapi, para nakes tersebut sudah divaksin loh, Teh Nini. Lalu fungsi vaksin itu apa kalo masih bisa terkena covid 19? Mereka bukan hanya mengalami gejala ringan lo, Teh Nini! Tetapi meninggal setelah divaksin. Mana bukti efektivitas dari vaksin kalo jumlah kematian malah semakin meningkat? Jawab secara ilmiah ya, jangan hanya dijawab dengan pendapat pribadi.”

“Maaf banget sebelumnya. Tapi Bu Jessica ini ahli apa ya sebenarnya? Epidemiologist? Atau ahli vaksin?” Bu Mega yang dari tadi diam saja tiba-tiba ikutan nimbrung.

Bu Jessica terdiam.

“Kalo misalnya ibu bukan orang yang ahli atau paham dengan masalah covid, sebaiknya kita mengikuti orang yang lebih ahli dalam bidang ini. Para dokter dan profesor sudah secara terang-terangan merekomendasikan vaksin. Bahkan banyak juga para ulama yang meminta kita untuk vaksin.”

Bu Jessica tiba-tiba terlihat menangis.

“Saya gak sengaja ngunyah rawit waktu makan risol tadi. Pedasnya luar biasa. Minta air tolong!” Bu Jessica meringis kepedasan.

Ibu-ibu yang lain bergegas menuangkan air untuk Bu Jessica. Bu Mega nampak sedikit merengut karena merasa diabaikan. Teh Nini berbisik pelan pada Bu Putri yang masih sibuk dengan handphone-nya.

“Bukankah di Alquran sudah dijelaskan dalam surat An-Nisaa ayat 59 untuk taat pada pemimpin?” Bu Putri mengangguk setuju.

“Sebenarnya saya juga malas berdebat, Teh Nini! Tapi Bu Jessica tetap bersikukuh dengan pendapatnya.” Bu Putri sedikit mengeraskan suaranya, seolah berharap Bu Jessica ikut mendengarkan.

Bu Jessica masih terlihat acuh. Setelah menghabiskan satu gelas besar air dingin, Bu Jesica kembali menantang ibu-ibu arisan yang lain.

“Ibu-ibu yang cakep, kalau memang vaksin banyak manfaatnya, kenapa banyak yang meninggal setelah divaksin? Saya bukan sedang menyebarkan hoax loh. Ada acuannya di berbagai media.”

Bu Mega langsung menyela, bahkan sebelum Bu Jessica melemparkan tatapan matanya yang sering dianggap sebagai ejekan oleh ibu-ibu arisan yang lain.

“Ada berapa orang yang meninggal setelah divaksin? Dan mana yang lebih banyak, pasien yang meninggal setelah divaksin atau yang belum divaksin? Tidak sedikit pasien yang hanya mengalami gejala ringan setelah divaksin. Kenapa itu tidak Bu Jessica jadikan acuan?” Bu Mega terlihat berapi-api.

Suasana mendadak hening. Teh Nini dengan ciri khasnya yang lemah-lembut mengambil kesempatan itu untuk mengemukakan pendapatnya.

“Ibu-ibu semua, bukankah Islam mengajarkan kita untuk mengambil yang lebih banyak manfaatnya? Menurut Saya yang awam, banyak para dokter dan perawat yang meninggal meskipun sudah divaksin karena mereka kelelahan. Covid ini menular dengan sangat cepat, apalagi masih banyak orang yang enggan untuk divaksin. Pasien yang biasanya hanya 10-20 orang per hari; sekarang bisa sampai ratusan. Sedangkan jumlah tenaga kesehatan yang bekerja tetap sama. Akibatnya para nakes ini harus bekerja siang-malam. Kelelahan dapat memicu penurunan daya tahan tubuh dan terserang covid.”

“Saya sangat paham maksud Teh Nini. Tapi, pertanyaan saya di awal kan tujuan diwajibkannya vaksin anti covid itu apa? Untuk apa divaksin kalo pada akhirnya tidak membuat kebal terhadap covid dan malah pada meninggal setelah divaksin?” Bu Jessica masih belum menyerah.

Ibu-ibu arisan yang lain terlihat sewot dengan Bu Jessica. Tapi kali ini semuanya diam. Bude Vera selaku sang tuan rumah terlihat enggan berkomentar. Mungkin dia berusaha untuk tetap netral.

Dengan suara pelan, Teh Nini berujar. “Sudahlah Bu Jessica! Lebih baik tidak usah dilanjutkan perdebatannya. Makin ke sini kesannya kok makin dipaksakan argumentasinya. Muter-muter gak ada titik temu. Pun, ada jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang-orang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Itu hadist loh ya, bukan hoax atau rekaan saya.” Teh Nini tersenyum ke arah Bu Jessica seolah berupaya untuk menenangkan.

Bu Jessica tidak lagi membantah. Sementara Bu Mega dan Bu Putri terdengar mengomentari jilbab baru Teh Nini. Bu Mirna terlihat sibuk membantu Bude Vera dan ibu-ibu yang lain menyiapkan hidangan penutup. Kerumunan ibu-ibu arisan kembali riuh oleh tawa dan senda gurau. ***

.

.

Rinal Sahputra adalah cerpenis dari Kampong Jeumpa, Sakti, Pidie, Aceh. Rinal Sahputra pernah menjabat sebagai ketua FLP Aceh dan saat ini bekerja sebagai peneliti di Universitas Manchester, Inggris. Kumpulan cerpennya, “Para Perempuan di Tanah Serambi” terpilih sebagai salah satu finalis penghargaan Sastra Rasa 2022.

.

Arisan Covid. Arisan Covid. Arisan Covid. Arisan Covid.

Arsip Cerpen di Indonesia