Memoar Luka Seorang Wanita dan Pisaunya

Cerpen Danang Febriansyah (Radar Mojokerto, 11 Desember 2022)

DIA adalah calon suamiku yang ketiga. Tapi kedatangannya yang manis dengan membawa segepok janji yang nyaris diwujudkan itu hanya akan membawa kabar buruk. Dan pada saat itu, aku sudah tak mengenakan sifat baik lagi. Pisau ini sungguh tajam. Mataku berkilat memandangnya.

Selepas perceraianku yang pertama dengan meninggalkan kerikil tajam, aku pulang membawa bocah lelaki kecil yang mirip bapaknya. Hanya dia hartaku yang akan kujaga dengan segenap kebisaanku. Tak ada barang lain yang kubawa selain dia, anak lelakiku.

Namun ketika rasa bangga dan puas serta merasa berhasil memenangkan hak pengasuhan anak, aku kemudian dibikin bingung dengan segenap kebutuhan seorang balita. Selama pernikahan, aku mengandalkan uang dari suamiku yang seorang pengemudi minibus antar provinsi, meskipun hasil dari kerja suamiku itu lebih banyak digunakan bersama perempuan lain—aku tahu ini dari seorang teman yang merasa iba aku selalu ditipu tapi aku tetap setia. Temanku laki-laki itu menganggap aku terlalu bodoh, sebaliknya aku menganggap kesetiaanku adalah hal baik.

Hingga dengan terpaksa aku menyusul suamiku ke provinsi lain dan tinggal di rumah kontrakannya di sana. Dan terbukti, aku memergokinya bersama seorang perempuan yang tak lebih cantik dariku. Sampai di sini aku merasa kebaikanku dan kesetiaanku dimanfaatkan oleh suamiku, dan sampai di sini di satu sisi aku merasa terlalu setia adalah percaya adalah sebuah kebodohan, meski dalam hati percaya bahwa hal itu adalah sebuah kebaikan.

Karenanya aku menggugat cerai.

“Setelah bercerai, biaya anakmu akan ditanggung bapaknya. Itu adalah hal bijak yang seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki.” Seorang teman laki-laki bicara padaku ketika tahu aku resah dengan masa depan anakku.

Tapi rasa lega dari temanku itu tak terbukti. Bapaknya makin menikmati hasil perceraian ini dengan bersuka ria dengan perempuannya. Hingga aku datang lagi pada temanku itu, hanya untuk bilang bahwa kalimat itu tak berlaku padaku.

“Bapaknya tak punya sikap bijak!” ucapku waktu itu.

“Kamu nggak menemuinya?” tanya temanku.

“Sudah beberapa kali aku menemuinya dan meminta hak anak kami. Tapi dia nggak pernah peduli. Keluarganya pun mendukung tindakannya itu. Aku bosan.” Air mataku nyaris tumpah saat itu.

“Kamu harus kuat. Kamu bisa bekerja. Kamu bisa bangkit lagi. Aku tahu kamu bisa,” katanya lagi.

Kemudian temanku itu pergi jauh entah kemana. Ia tak memberi tahu pada siapapun. Hanya ia bilang akan kembali pada sebuah siang yang membara. Dan kalimat-kalimat teduhnya yang sering melegakan hatiku tak lagi kudengarkan.

Aku kemudian memang bekerja, sebagai pegawai honorer di sebuah instansi. Tapi upah yang kudapatkan tak mampu memenuhi kebutuhan anakku. Akupun mencoba membuka kedai makan, karena aku tahu kemampuanku dalam meracik resep makanan. Aku menjadi tahu bahwa ternyata aku mampu meracik makanan yang cukup enak.

Kedai makan pun kubuka, spesial ayam bakar. Pisau tajam yang kugunakan untuk memotong ayam adalah senjata andalanku. Selain sebagai pegawai honorer, aku juga sebagai pengusaha kedai makan kecil-kecilan.

Perlahan kebutuhan anak tercukupi. Namun itu tak lama. Anakku semakin besar dan saatnya masuk sekolah dasar. Tentu biaya akan membengkak. Penghasilan dari instansi tempaku bekerja dan dari kedai makan tak cukup memenuhi kebutuhan kami berdua.

Sampai kemudian salah satu pelanggan kedai makanku menaruh perhatian lebih padaku. Meski dengan postur tubuh yang berantakan dengan rambut yang gondrong dan badan penuh tato, aku melihat mata yang bening saat menatapku. Tak jarang dia membayar dengan uang lebih atas menu yang dimakannya. Setiap datang, dia selalu mengendarai mobil yang berbeda. Itu membuatku cukup tergoda.

Tak ada ikatan apapun, tapi kemudian membuat hubungan kami semakin jauh. Aku sering mendapatkan uang darinya. Ini cukup untuk biaya hidup aku dan anakku. Meski dengan melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Setiap kali dia datang dan meminta sesuatu yang lebih dari diriku, aku mengiyakan, dan pada saat itu selalu saja aku mendapatkan uang darinya.

Aku menikmatinya, meski kemudian tahu, aku bukanlah satu-satunya wanita yang dia datangi dan dia beri uang. Saat itu, aku tak peduli apapun, asalkan segala kebutuhanku terpenuhi. Namun ternyata ia jahat. Ia sungguh posesif. Tak membiarkanku berhubungan dengan lelaki lain, meski aku tahu dia mempunyai banyak wanita. Pada saat yang demikian, perasaanku sedang bertempur habis-habisan dengan akalku.

Hingga ia ditangkap polisi di sebuah hotel bersama salah satu wanitanya sedang mengkonsumsi narkoba. Ia masuk penjara. Dan aku bebas melakukan apapun yang kusuka tanpa diawasi olehnya lagi, meski kiriman uang darinya terhenti. Aku tidak bodoh. Aku menabung sebagian uang darinya. Kini saatnya aku menggunakan uang tabungan itu dan terus melanjutkan usahaku yang berjalan perlahan.

Waktu berlalu. Pelanggan kedai makanku yang lain datang. Seorang lelaki muda yang berkenalan denganku saat aku ingin berubah menjadi lebih baik dengan mengurus anak dan suami, jika aku ditakdirkan menikah lagi. Kebetulan bapakku mengenal orang tua pelangganku yang masih muda itu. Bapak tak menginginkan aku yang berstatus janda berhubungan dengan lelaki yang sering berganti-ganti. Maka tanpa cinta, kami menikah.

Suami keduaku ini ternyata perpaduan antara suamiku yang pertama dan teman kencanku yang sedang dipenjara. Ia tak memberiku nafkah seperti suamiku pertama dan sangat posesif seperti teman kencanku. Hal ini kutahu setelah beberapa bulan menikah.

Pasti, kehidupan pernikahanku yang kedua ini segala kebutuhan tertumpu padaku. Aku berusaha sabar dengan memenuhi dan menuruti kemauan suamiku ini. Tapi aku mengingat kehidupan anakku yang harus terus berjalan.

Aku seakan mendidik dua anak. Ini semakin berat. Bahkan suamiku ini sering menggunakan uang tabunganku, dan uang hasil kedai makan yang kukumpulkan. Dan sikap posesif suamiku semakin mengesalkan dengan mencaci maki teman-temanku yang tak ada hubungan dengan masalah kami tanpa alasan. Bahkan menyuruhku keluar dari pekerjaanku dan menjauhi teman-temanku. Ini tidak masuk akal. Tak bisa aku bertahan dalam keadaan seperti ini.

Untuk kedua kalinya, aku menggugat cerai suamiku.

Kami bercerai, untung saja aku tak mengandung janin dari suami keduaku ini. Dan kehidupanku kembali dengan kedai makan yang kadang tutup kadang buka. Jujur, aku sudah lelah berhubungan dengan laki-laki. Selama yang kutahu, semua lelaki hanya menginginkanku secara fisik saja. Tak ada keinginan untuk mendekati hatiku. Sebenarnya aku bisa lebih jahat dari mereka. Hanya mereka tak menyadarinya. Ini hanya soal waktu. Aku akan menjadi jahat pada lelaki yang benar-benar tepat.

***

Lagi-lagi aku mengenal seorang lelaki dari kedai makanku. Jauh lebih muda dariku, namun dia terlihat serius mendekatiku dalam beberapa hari.

Aku mengenalnya sebagai seorang pejuang dalam keluarganya, kini ia hanya tinggal bersama bapaknya saja. Ibunya sudah tidak ada. Ia juga bekerja di luar Jawa sebagai pegawai di sebuah tambang besar. Bahkan bapaknya juga diajak ke sana dan memiliki tempat tinggal di sana. Ia tak royal dalam memberiku uang seperti teman kencanku, juga tak posesif seperti suami keduaku. Rupanya hal itu untuk menguji seberapa seriusnya aku dengannya. Dengan hal-hal seperti itu, aku merasa ia adalah seorang lelaki bertanggung jawab.

Usia kami terpaut jauh. Ia jauh lebih muda dariku. Kini kami berhubungan jarak jauh. Tak jarang karena kepercayaanku padanya, aku bisa melakukan apapun melebihi perempuan baik-baik. Dan dia sangat bahagia dengan apa yang bisa aku lakukan.

Aku sudah merasa seluruh tubuhku adalah miliknya, maka aku rela dia menikmatinya meski hanya dari gawai ketika kami berkomunikasi. Ia adalah calon suamiku ketiga. Aku yakin itu.

Segala kebutuhan untuk pindah mengikutinya sudah aku siapkan. Aku berencana keluar dari tempat kerjaku sebagai pegawai honorer di instansi meski honorku mulai meningkat. Surat pengunduran diri sudah kubuat. Tinggal menunggu persetujuan dari pimpinan. Calon suamiku yang ketiga ini bilang, aku nggak usah kerja dari pegawai honorer, seluruh kebutuhanku dan anakku yang kini menginjak usia SMP akan dipenuhi.

Dia juga memintaku menutup usaha kedai makan. Setelah menikah dan pindah ke luar Jawa, dia memberiku kios untuk membuka kedai makan jika aku mau. Betapa baiknya dia. Berbeda jauh dengan dua suamiku sebelumnya. Aku semakin percaya padanya. Semua peralatan masak di kedaiku sudah aku jual. Hanya pisau untuk memotong ayam saja yang tak kujual. Aku merasa pisau ini adalah pisau keberuntungan. Karena pisau ini, aku mengenal banyak lelaki, calon suamiku yang ketiga ini salah satunya.

Kelak aku bisa membeli lagi setelah di sana, begitu ucap calon suamiku ini ketika menyarankan aku untuk menjual peralatan masakku.

Sampai kemudian, persetujuan pengunduran diriku keluar. Aku semakin yakin akan pindah mengikuti calon suamiku. Ini sebuah harapan dan doaku selama ini. Aku akan menemukan pelabuhan terakhir setelah terombang-ambing dalam ombak besar rumah tangga.

Tapi entah, komunikasi kami kian jarang beberapa waktu ini. Hal ini membuatku sedikit kacau. Tapi di sebuah malam, ia mengabarkan besok akan datang ke tempatku. Ini sebuah kejutan.

Bukannya aku bahagia dengan kabar kedatangannya ini, tapi perasaanku berkata bahwa kedatangannya ini tidak untuk memberi kabar yang baik. Ini yang membuatku semalaman tidak tidur.

Hari berikutnya, dia memang benar-benar datang. Dia adalah calon suamiku yang ketiga itu. Tapi kedatangannya yang manis dengan membawa segepok janji yang nyaris diwujudkan itu hanya akan membawa kabar buruk.

Kami duduk berhadapan, seakan baru saling mengenal, kami saling diam. Hanya sesekali bertanya kabar, itupun cuma agar ada pembicaraan di antara kami. Sampai kemudian dia terlihat lebih kuat untuk mengatakan sesuatu.

“Aku telah berbohong padamu. Aku minta maaf,” ucapnya pelan dan suaranya bergetar.

Aku sudah siap dengan kabar buruk ini, karena aku memang sudah merasa kedatangannya bukan untuk sesuatu yang baik. Seakan hatiku sudah bisa membaca pertanda alam akan sifat laki-laki.

Aku hanya diam, menunggu dia meneruskan kata hatinya.

“Aku pernah bilang hubungan kita sudah mendapat restu bapak, meski kamu janda dengan anak yang sudah masuk SMP. Tapi sebenarnya bapak tidak merestui,” lanjutnya.

“Dan kamu tidak membiarkanku keluar dari pekerjaanku lalu menjual semua perlengkapan masakku dan menutup usahaku?” tanyaku kubuat tenang. Meski hati ini terbakar hebat.

“Maaf ….” Hanya itu yang dia ucapkan.

“Setelah aku melepas segala yang kupunya, hingga rasa malu pun tak ada, kamu hanya bilang maaf?”

Dia tak mampu berucap.

Aku berdiri, aku lupa belum memberikan tamuku ini minum. Aku menuju dapur. Sebuah pisau berkilat terselip di dinding dapur. Pisau ini sungguh tajam. Mataku berkilat memandangnya.

Aku kembali ke ruang tamu. Duduk di sebelahnya. Merangkulnya hingga dia kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Matanya mendelik, seluruh tubuhnya mengejang. Dan terkapar di sana. Pisau yang kubawa dari dapur telak menghajar jantungnya.

Dia tak menyadarinya. Ini hanya soal waktu. Aku akan menjadi jahat pada lelaki yang benar-benar tepat. Dan calon suami ketigaku ini lelaki yang tepat. Ia telah memporak-porandakan kehidupanku, pekerjaanku, usahaku. Dia membunuh masa depan anakku yang hidup dari hasil pekerjaan dan usahaku. Dia lelaki yang tepat untuk melampiaskan sisi jahatku. Apakah lelaki-lelaki sebelum ini tidak tepat? Jika mereka datang lagi padaku, nasibnya akan sama dengan calon suami ketigaku ini.

Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Aku menghampirinya. Pintu terbuka. Seorang lelaki tersenyum padaku. Seorang teman dengan nasehat-nasehat bijak yang membuatku merasa teduh. Inilah siang yang membara, sebuah waktu temanku ini akan datang.

Kini ia mengajakku pergi jauh. Jauh, dan tak kembali. ***

.

.

DANANG FEBRIANSYAH. Menulis adalah caraku untuk menuju berbagai tempat dan menciptakan kehidupan di sana. Dari Sastra Alit, #Kampus Fiksi dan FLP Solo aku belajar mencipta konflik. Membaca adalah caraku keliling dunia tanpa biaya. Karenanya kuajak semua orang untuk membaca dari taman baca yang kubangun; Fatiha. FTBM Wonogiri adalah tempat Taman Baca Fatiha bernaung.

.

Memoar Luka Seorang Wanita dan Pisaunya. Memoar Luka Seorang Wanita dan Pisaunya. Memoar Luka Seorang Wanita dan Pisaunya. Memoar Luka Seorang Wanita dan Pisaunya.

Arsip Cerpen di Indonesia