Cerpen Chai Siswandi (Kaltim Post, 04 Desember 2022)
“JIKA itu matahari yang sama. Mengapa ia berubah. Dari mana sebenarnya warna senja terbuat,” katamu menutup basa-basi senja itu.
Kita tak saling menatap.
“Sudahlah, nikmati saja,” sahutku.
Beberapa orang terlihat asyik berswafoto berlatar belakang matahari terbenam. Ombak pantai mulai naik. Menelan bekas jejak-jejak kaki mereka.
Lalu di pengujung sore, kita menjelma siluet. Bayang-bayang yang segera dingin dan pudar. Di Lembayung, masing-masing kita memilih tenda. Lampu-lampu kecil dinyalakan di antara pohon-pohon pinus. Pantai villa itu lalu menjelma seperti pasar malam yang sepi. Hanya ada sedikit tamu malam itu. Beberapa petugas pantai, mempersiapkan api unggun.
Setelah mandi dan ganti pakaian, entah siapa yang mulai, kita berdua sudah duduk di hadapan api unggun itu. Mencari hangat. Kau tak seperti biasa, berpakaian kasual, celana panjang bukan rok panjang seperti biasa. Tapi tetap anggun di mataku. Selalu.
Teman-teman yang lain belum keluar tenda. Kau dan aku duduk di atas potongan batang kayu bulat yang rendah. Petugas pantai mengirimkan dua cangkir kopi yang dipesan. Aromanya hanya samar-samar. Laut gelap mengirimkan angin bergaram. Api berkobar-kobar. Bayang-bayang kita lalu lalang dipermainkan cahaya api.
“Sepertinya laut makin pasang. Angin juga makin deras. Ini kamu pakai saja jaketku, Put, nanti kau masuk angin,” kataku seraya melepas jaket.
“Tidak usah, aku nyaman begini.”
“Dan semestinya, memang kau tak perlu begitu padaku,” jawabmu agak ketus.
Samar kulihat kau menggenggamkan tanganmu pelan. Seperti hendak menegaskan sesuatu. Aku diam saja, tak jadi beranjak memberikan jaket yang sudah kubuka.
Lalu tiba-tiba katamu, “Kau seharusnya tahu, kita tidak pernah mungkin,” sembari melempar pandang ke laut gelap, berhenti bicara seperti tertahan.
Aku hanya tersenyum.
“Ya, tenang saja, aku tahu itu sejak dulu, Put. Maka itu bersikaplah biasa saja,” kataku. “Biarlah ini menjadi bebanku sendiri. Tak usah terlalu kau hiraukan.”
“Ya justru itu. Aku tak tahu,” jawabmu. “Aku tak tahu caranya bersikap biasa. Kau baik. Malah terlalu baik. Maka itu aku berusaha tak menerima kebaikan-kebaikanmu itu. Aku gak mau seolah memberi harapan. Harusnya kita menjaga jarak, walau aku juga tak mau itu terlalu dibuat-buat, tapi juga susah bersikap seolah tak ada apa-apa,” tambahmu lagi.
“Kau tahu, Put. Aku ingin, dan memang sayang padamu, dengan perasaan yang menyala. Meski kau tak ingin, dan tak mungkin membalas perasaan yang sama. Dan itu bukan sesuatu yang pamrih. Biarkan ini jadi masalahku sendiri. Menahan gemuruh di dadaku ini.”
“Mungkin, adalah buah kesalahanku sendiri, akibat bermain-main soal perasaan. Lalu perasaan itu benar-benar menerkamku. Anggap saja ini kutukanku, karmaku sendiri. Maka, biarkan ini menjadi persoalanku, usah kau hiraukan.”
“Bersikaplah biasa saja, setidaknya seperti sahabat,” ucapku.
Obrolan itu terputus. Makan malam telah sedia. Beberapa teman, mulai muncul dan menyapa. Menghentikan pembicaraan kita yang kapan entah bisa dilanjutkan.
Kopi dan malam seperti tak bertuan. Kita terhanyut di pikiran masing-masing. Api unggun tinggal bara. Beberapa kelomang merayap, lalu menyelinap di pasir.
***
Aku pernah mendengar cerita soal paus-paus kerdil yang melewati selat Timor. Mamalia laut itu senantiasa kembali ke sana tiap akhir tahun. Meski akan tersakiti, mati diburu atau mati patah hati sebab ditinggal mati pasangannya yang tertombak. Mereka tetap akan kembali, memelihara siklus kesakitan itu.
Antara sadar dan tidak, kayaknya aku terjebak siklus serupa. Meski sadar kita semakin berjarak, kau dan aku adalah sebuah kemustahilan. Tetap saja aku memelihara harapan perjumpaan. Sepulang kerja kadang aku pergi ke kafe tempat kita pernah ngopi, memilih meja dan menu yang sama. Kadang teringat-ingat percakapan-percakapan kita, meski hanya basa-basi, yang entah membahas apa. Atau melewati jalan-jalan yang pernah kita lewati dulu, sendirian. Entah untuk apa. Berputar-putar dalam siklus kosong. Dan pada akhirnya harapan itu tumpas.
“Mas, aku menikah bulan depan. Mohon doa dan restunya ya,” ketikmu di WA yang kau kirim.
“Selamat menempuh hidup baru, Put. Samawa,” ketikku standar.
“Ini sekaligus undangan ya, Mas.”
Lama baru kujawab.
“Maaf, Put, mungkin aku gak bisa datang. Jatah cutiku habis.”
“Oh, ya udah. Ga papa. Makasih,” tutupmu.
Hatiku menggelepar.
***
Sebenarnya, cuti itu tidak habis. Aku mengambilnya bersamaan hari pernikahan itu. Lalu menyiapkan perbekalan, mengisi ransel. Membeli sepatu gunung baru. Celana dan jaket. Bersiap untuk pendakian.
Sudah lama sekali tak mendaki gunung, terakhir sudah lebih 10 tahun lalu, jelang lulus kuliah. Entah sekarang, apakah napas dan kaki masih kuat dibawa jalan menanjak. Tapi apa boleh buat, tiket sudah dibeli. Teman-teman lama siap mengantar dan menemani di pendakian nanti. Dan ada gejolak di hati sendiri yang harus diredakan.
Meski pernah bilang ada rasa tak menuntut balas, rupanya aku tak setangguh yang kukira. Kurasa ini sejenis patah hati. Dan patah hati paling parah itu bukan karena selesainya hubungan. Tapi, ketika setelah itu masih menyisakan angan-angan. Yang tipis sekalipun.
Angin gunung berjejalan di pengujung tahun ini. Desember habis begitu saja dilontarkan waktu. Aku mematikan handphone agar tak berupaya scroll story, atau melihat segala ucapan selamat.
Kami mendaki melewati sabana yang luas. Padang rumput itu tuan, ada di ketinggian. Tempat para pendaki dan peziarah menemui dirinya sendiri. Jika angin dingin yang turun dari lereng-lereng bertiup, rerumputan akan bergerak seperti gelombang yang bergulung-gulung. Seperti menari. Seperti permadani.
Kadang kupikir sabana itu gusar. Seperti halnya diriku. Angin membuat cabang-cabang santigi gunung yang tumbuh rendah meliuk-liuk, membuatnya berbunyi menderu-deru. Lalu diam lagi.
Padang Edelweis—bunga abadi, yang senantiasa mekar kala jalur-jalur pendakian dibuka. Sempat terpikir memetiknya, untuk kusuntingkan sebagai karangan bunga pernikahanmu. Sayangnya, aku menyukainya seperti aku menyukaimu. Sama-sama tak baik dipaksakan untuk dimiliki.
Aku berbaring di antara sabana-sabana, bayang-bayang rumput yang bergerak-gerak menimpa wajahku yang lelah, oleh ransel dan perjalanan menanjak yang panjang. Teman-teman mulai mendirikan tenda. Yang lain memasak.
Sinar matahari menembus sela-sela kamp kami, dan awan serasa dekat sekali. Keheningan alam raya, adalah teman perjalanan yang paling baik guna meredakan pahit cerita-cerita berlalu. Laki-laki sepertinya perlu juga sesekali menyendiri, di sabana, di gunung, pantai atau di mana saja. Untuk batinnya sendiri. Untuk luka-luka yang disembunyikan.
Kau tahu, kala angin gunung menerpaku. Rasanya, degup jantungmu dihantarkannya. Memelukku.
***
Sebuah pesan WA masuk, “Mas, apakah kau sibuk?” aku sedang di kotamu, bisa ‘kan kita ketemu sore ini? Penting.”
Dan bodohnya aku, seperti kerbau yang ditarik tali hidungnya, mengiakan. Pertanyaan pada pesan itu terbaca seperti perintah yang tak bisa kutolak. Padahal sudah lebih dua tahun berlalu, tanpa ada komunikasi dan tegur sapa.
Di sore yang hangat dan terang, kita berjumpa sebagai kawan. Di kafe itu, mengalun jazz ringan. Lampu-lampu neon gantung, menyala sejak siang. Meja dan kursi kayu berplitur. Kita memilih duduk di sofa, bersebelahan. Meski aroma mocha dan espresso memenuhi ruangan itu, aku masih mengenali wangi parfummu. Kita lantas cuma menikmati minuman, obrolan hambar dan kaku. Hanya basa-basi senja. Soal kabarmu, kabarku, kabar suamimu.
Kopi kita sama-sama habis. Lalu sama-sama terdiam. Hanya ada suara mesin grinder kopi, suara kasir yang melayani pembayaran sembari memastikan pesanan pelanggan, suara kendaraan di jalanan menembus jendela-jendela kaca. Di luar tak ada hujan dan angin.
“Mas, apakah kau masih sayang aku?” pertanyaan tiba-tiba itu menyentakku. Aku tak tahu harus menjawab apa.
“Temani aku malam ini, Mas,” seraya kau mengamit tanganku. Darahku berdesir. Di kafe itu, jazz masih mengalun ringan. Namun jantungku berdetak kencang. Kencang sekali.
Tak ada iblis yang menggoda kami, hanya denganmu sore itu aku kehilangan akal sehat dan pertimbangan. Dan sebelum senja benar-benar habis, kita sudah memesan kamar hotel yang menghadap jembatan dan sungai.
Peluh memenuhi keningku. Aku tak pengalaman. Bergumul dan tenggelam dalam lenguhmu. Dan kau tahu, saat kau mendekapku, dan degup jantungmu menempel di kulitku. Tubuhku rasanya ringan sekali seperti di bulan, mars, atau tempat-tempat tanpa gravitasi. Aku merasakan lagi keheningan alam raya. Damai sekali.
“Jika ini hati wanita yang sama, mengapa ia bisa berubah? Dari apa sebenarnya rona pipimu terbuat?” kataku.
Kali ini kita saling menatap.
“Sudahlah, nikmati saja,” sahutmu. ***
.
.
CHAI SISWANDI. Petani, tinggal di Kota Bangun, Kukar.
.
Basa-Basi Senja. Basa-Basi Senja. Basa-Basi Senja.