Cerpen Dody Widianto (Radar Banyuwangi, 07 Januari 2023)
DARI semua perempuan yang mencoba ingin singgah di teras hatinya ketika itu, Rhien, hanya dia satu-satunya perempuan yang bisa membuat hatinya luluh. Perilakunya santun dan anggun. Sorot matanya teduh bak rimbun dedaunan trembesi. Raut wajahnya seolah tanpa pamrih.
Ia paham, kedua kakinya stroke. Ke mana-mana harus memakai kursi roda. Perempuan mana yang mau dengan lelaki cacat seperti dirinya. Lewat perkenalan di media sosial, pertemuan pertama di kafe itu pernah membuat Rhien terperanjat. Ia pernah menyingkap celana panjangnya, lalu memperlihatkan kepada Rhien ketika kopi panas di meja ia siramkan ke kedua kakinya. Ia tak pernah terlihat kesakitan. Rhien akhirnya tahu jika laki-laki di depannya ketika itu memang telah berkata benar. Dua kaki di hadapannya telah mati rasa.
Namun, ia merasakan gelagat aneh dari tingkah laku istrinya yang sekarang. Mencoba menyelidiki jika memang rasa khawatirnya nanti benar-benar terbukti. Tempurung kepalanya yang sekarang selalu berisikan mendung tebal yang siap menurunkan hujan lebat dari sudut matanya, suatu hari nanti.
“Mau ke mana?”
“Hari ini ada undangan dari ketua Klub Gosip Manjalita. Uang transfer lima puluh juta darimu untuk arisan bulanan sudah masuk ke rekening. Terima kasih ya.”
Perempuan di depannya lembut mencium bibirnya. Ia tak tahu harus dengan tindakan apa membalasnya. Sejujurnya ada sesuatu yang mengganjal hatinya ketika perempuan itu sedang di belakang, mandi. Ada sebuah panggilan dengan nama terpampang di layar ponsel yang tergeletak begitu saja di atas seprai. Foto laki-laki tergambar jelas di layar sana. Ia berusaha diam saja dan pura-pura tak tahu. Mungkin teman bisnis barunya. Mencoba berpikir jernih. Takut jika salah dalam berkata malah membuat situasi semakin runyam.
“Rhien, boleh aku bicara sebentar?”
Sejatinya ia telah bersiap pergi. Namun, berusaha menghentikan langkah ketika tuas pintu kamar itu baru saja akan dibukanya. Ia menoleh. Membalikkan lagi tubuhnya. Mencoba tersenyum, dengan sorot mata yang seolah tak pernah menyimpan dusta.
“Sayang, kau tahu Bawean?” Jujur saja, tadinya ia ingin meninggikan nada suara itu. Tetapi di depan perempuan yang ia sayangi, hatinya tiba-tiba jadi lembek. Mirip tepung adonan roti.
“Maksudmu?”
“Kau paham Bawean bukan?”
Rhien mengerutkan alis. Pura-pura tak paham. Mendekatinya perlahan. Sedikit menundukkan pandangan. Paham jika raut wajah laki-laki di depannya yang masih terduduk di kursi roda seakan berubah. Seolah menahan marah. Memerah mirip bawang cacah. Namun, Rhien berusaha biasa saja. Bersikap elegan. Bahkan, malah mengelus-elus kepala bagian belakang lelaki di depannya itu. Lalu tatap keteduhan itu ia umpankan ke lelaki di depannya. Berusaha menenggelamkannya dalam kelembutan.
“Kemarin aku ada skedul bertemu klien di sana. Teman bisnis baru. Aku tahu sejak pandemi dua tahun lalu, puluhan restoranmu mengalami kesulitan finansial. Kita harus bangkit untuk itu. Mencari cara agar bisnismu tetap bertahan.”
“Kamu tahu, tempat itu sudah lama aku impikan untuk kita datangi di ulang tahun ketiga pernikahan kita. Menyusur indahnya pantai, memandang langit biru. Aku hanya menunggu waktu yang tepat saat kau dan aku senggang. Dari semua orang yang menjalin kerja sama denganmu selalu kau kenalkan padaku. Kau selalu terbuka untuk itu. Aku selalu bilang padamu kunci kelanggengan rumah tangga selain urusan ranjang, tentu saja harus terus komunikasi dan saling keterbukaan. Dalam hal apa pun. Namun, tidak untuk yang satu ini. Andi Tanoko itu siapa?”
Perempuan di hadapannya diam seketika. Betapa laki-laki itu langsung bisa melihat jika urat-urat lehernya seolah sedang berusaha menelan ludah yang terasa getir. Perempuan dengan mata pohon trembesi yang selalu memberikannya keteduhan itu tiba-tiba terus menggugurkan dedaunan. Elusan di kepala itu perlahan mengendur dan lepas.
“Aku yang sekarang memang tak sekuat dua tahun lalu. Barangkali jika stroke ini terus merambat ke atas dan menyerang saraf-saraf di pinggang bawah, suatu hari nanti ‘punyaku’ akan melemah dan tidak bisa berfungsi. Namun, sudah kewajibanku jika aku harus terus membahagiakanmu. Bukankah tiga tahun lalu itu kau pernah bilang padaku jika menyatukan dua cinta itu tidak hanya dilandaskan nafsu, tetapi sebuah komitmen kuat menjaga ikrar suci demi menuju surga bersama sampai maut memisahkan. Menyatukan dua kepala dan dua keluarga. Melengkapi kekurangan dan kelebihan. Kau pernah memberiku semangat ketika itu dan bilang jika semua penyakit di dunia ini pasti ada obatnya.”
“Kau salah paham. Dia cuma klien yang menawarkan kerja sama.”
“Kawanku berhasil meretas akun privat media sosial teman kencanmu itu. Aku menemukan fotomu ke Taman Baluran bersamanya. Berdua saja. Kamu tahu? Selesai menikmati pantai indah sepanjang pesisir Pulau Bawean, sebenarnya aku ingin membawamu menyusuri sabana sambil melihat kijang-kijang berlarian di Baluran, Situbondo. Kita bisa menginap dua sampai tiga hari di kota itu dan bercinta sepanjang hari demi ulang tahun pernikahan ketiga kita. Sekarang, kau telah mengacaukan semuanya. Pergilah. Maaf mengganggu waktumu. Kau pasti telah ditunggu teman-temanmu di depan.” Suaranya mengendur. Tak ingin lagi beradu argumentasi. Sudah cukup semua bukti.
Ia berusaha menoleh. Seolah muak melihat wajah perempuan di depannya. Dadanya bergemuruh hebat. Apalagi ketika perempuan itu perlahan pergi meninggalkannya tanpa satu patah kata pun. Menutup pintu dan tubuh tinggi sintal itu hilang dari pandangan. Ia memutar kursi rodanya, melihat dari jendela kamar lantai dua. Memerhatikan dengan saksama langkah perempuan itu ke depan gerbang, lalu sebuah pintu mobil terbuka. Mobil yang telah menelan tubuhnya perlahan maju dan hilang dari pandangan.
Tak berselang lama, ia memutarkan kursi rodanya ke tepi ranjang. Baru tersadar ada panggilan tak terjawab dari ponselnya di atas ranjang selama melamun di pinggir jendela. Melihat sebuah nama tertera di sana dan berusaha menelepon balik.
“Sam. Terima kasih. Iya, sudah masuk rekening. Setengah M.”
Percakapan itu berhenti tepat saat sambungan suara di sana telah terputus. Ia meletakkan ponsel itu dan kembali ke tepi jendela kamar. Awan hitam tiba-tiba berarak di kepalanya disertai gemuruh. Kabut menggumpal. Halilintar menyambar. Gulungan awan kelabu berjajar. Dan hari ini, hujan deras benar-benar turun dari tempurung kepala menuju lubang matanya. Ia menyadari ada harga mahal yang harus dibayar dari sebuah utang. Entah apa yang merasukinya, demi membalas sakit hatinya, ia rela menggadaikan tubuh istrinya kepada kawan baiknya agar dua restoran terakhir miliknya masih tetap berdiri.
Dalam dada dan bibir yang terus bergetar, di tepi jendela, hujan masih saja turun dari lubang matanya. Menyadari jika kesetiaan perempuan benar-benar akan diuji ketika laki-laki yang dikasihinya sudah tak punya apa-apa. ***
.
.