Tak Ada Piala Dunia di Hati Rahma

Cerpen Endang S Sulistiya (Kedaulatan Rakyat, 16 Desember 2022)

SEKONYONG-KONYONG Rahma terjaga dari tidurnya. Wanita tiga puluh delapan tahun itu tampak agak gelagapan. Beberapa saat ekor matanya memindai seantero kamar.

Plafon, lampu, dinding hingga korden. Ingatan Rahma memberi peringatan bahwa ia belum salat Isya. Sepulang kerja ia langsung makan lalu istirahat sejenak sambil main HP. Saking lelahnya ia pun lantas ketiduran.

Masih dengan posisi terbaring, jemari Rahma meraba-raba sekeliling kasur. Mencari ponselnya. Sampai di genggaman, jam digital menyuguhkan informasi yang diingini Rahma. Pukul 02.13 WIB. Sejenak Rahma merasa lega karena masih tersisa waktu untuknya menunaikan salat Isya.

Gegas Rahma beranjak dari ranjang. Saat menguak pintu kamar, ragu tiba-tiba menyerbu benaknya. Ia mendadak tak yakin berani ke kamar mandi.

Sempat terpikir oleh Rahma untuk membangunkan ibunya. Namun pikiran itu segera ditepis olehnya. Ia tentu tidak lupa terkait daya tahan ibunya yang terus melemah. Sedikit beban pikiran saja, bisa langsung membuat ibunya jatuh sakit.

Membulatkan tekad, Rahma menegakkan langkah menuju kamar mandi satu-satunya di rumah. Sialnya kamar mandi tersebut berada di bagian paling belakang dari dua rumah joglo limasan.

Di antara keberanian yang kembang-kempis, Rahma sampai juga di kamar mandi. Sengaja Rahma tidak menutup pintu saat melakukan aktivitas. Agar kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ia bisa gegas lari.

“Gol…!”

Rahma yang tengah menggosok gigi terperanjat. Bukan karena kerasnya sorak tetangganya, tetapi lebih kepada hampa yang serta-merta menyentak benak Rahma.

Hingar bingar event sepakbola empat tahun sekali itu kali ini telah lenyap. Tidak ada euforia Piala Dunia di hati dan rumah Rahma seiring menghilangnya sosok laki-laki. Ayah Rahma sudah tiada, akhir tahun 2018, silam sementara suaminya telah dihempaskannya usai Lebaran tahun ini. Tak akan ada lagi sorak kegembiraan ataupun jerit kekesalan yang menggema dari rumahnya selama kompetisi itu berlangsung.

Sejatinya Rahma sangat mencintai Faisal suaminya. Bahkan menurut teman-temannya, Rahma sudah tergilagila. Meski Faisal hanya lulusan SD, bekerja serabutan, mahar dan hantaran pernikahan yang di bawah standar; Rahma tak geming. Rahma senantiasa optimis dengan cintanya dan pernikahannya. Termasuk saat ujian berupa belum ada keturunan terus membuntuti.

Sayangnya setan tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan anak manusia sedangkan manusia acap kali kurang waspada. Rahma tergelincir pada suatu pagi. Rahma sedang di rumah seorang diri setelah suaminya berangkat kerja ke proyek dan ibunya pamit pergi ke sawah. Usai beresberes dapur, lalu Rahma menyapu kamar, ruang tengah hingga teras.

Saat berada di teras, Rahma yang luwes kerap menyapa tetangganya yang melintas di jalan desa. Bahkan Rahma tak segan-segan berteriak lantang kepada tetangga yang dikenalnya akrab.

“Mau ke mana?” teriak Rahma kepada Marzuki, tetangga beda RT. Marzuki lebih muda lima tahun dari Rahma. Namun begitu Marzuki sudah punya dua anak balita.

Refleks Marzuki memberhentikan motornya. “Cari sarapan,” jawab Marzuki.

“Lah istrimu?”

“Lagi mengambek. Pulang ke rumah orang tuanya. Anak-anak dibawa semua.”

“Wah, jadi bujangan lagi dong!”

“Ya beginilah, bujangan sengsara. Mau sarapan saja susah.”

“Aku ada nasi goreng kalau mau,” cetus Rahma tanpa pikir panjang.

Perbincangan terkutuk itu pada akhirnya berujung bencana. Pertemuan antara dua insan berlainan jenis itu terus berulang dan berulang hingga menjurus ke perselingkuhan.

Marzuki punya ribuan kalimat puitis untuk meluluhlantakkan fondasi keimanan dan kesetiaan Rahma. Rahma sendiri mulai terngiang kembali saran dari dukun bayi cabul. Bahwa jago lain bisa jadi sebagai solusi permasalahan rumah tangganya. Satu lagi, boleh jadi yang sebenarnya mandul adalah Faisal.

Maka dua insan, seorang wanita bersuami dan seorang pria beristri, berakhir di dalam kamar. Setan hampir bersorak menang seandainya Faisal tak cepat datang. Namun ternyata insting Faisal cukup tajam. Dua hari terakhir ia mencium gelagat aneh dari Rahma. Hingga pada pagi itu Faisal bertekad menemukan kebenaran.

Amarah Faisal tak terbendung. Ia menampar pipi Rahma dengan keras. Diperlakukan kasar secara semenamena, Rahma yang anak tunggal dan biasa dimanja tidak terima. Singkat cerita Faisal yang notabene hidup menumpang kemudian diusir dengan alasan KDRT. Begitulah, asal-mula tidak ada piala dunia di hati Rahma. ***

.

.

Endang S Sulistiya, menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS. Tergabung dalam grup Diskusi Sahabat Inspirasi. Menyukai menulis sejak SMP.

Tak Ada Piala Dunia di Hati Rahma. Tak Ada Piala Dunia di Hati Rahma.
Arsip Cerpen di Indonesia