Mayat Itu Cantik Sekali

Cerpen Ede Tea (Suara Merdeka, 08 Januari 2023)

MAYAT itu cantik sekali. Tubuhnya serupa bunga Calla Lily. Putih bersih dengan leher panjang serupa angsa. Bibirnya ranum dengan alis yang simetris. Entah apa penyebab kematinnya. Ia telentang begitu saja di bawah pohon angsana di tepi ladang. Tak ada yang tahu identitasnya. Tak ada yang berani menyentuhnya, sebab ia terlalu cantik.

Aku adalah orang pertama yang menemukan wanita itu saat hendak pergi ke warung kopi milik Paman Im. Semula aku kira hanya sebuah boneka. Dan saat aku dekati memang nyaris seperti maneken yang sering aku temui di toko pakaian. Namun, saat aku perhatikan lebih saksama, dia memiliki pori-pori dan darah. Darah itu mengalir keluar dari bagian tubuhnya. Berwarna pekat dan anyir. Aku segera menjauhinya. Khawatir bisa menimbulkan masalah baru.

“Ada mayat di ladang!” teriakku ketika sampai di warung kopi.

Semua orang berpaling dan menatapku dengan tajam. Aku melihat Darmoso yang seketika bangkit dari duduknya. Amiru yang menyemburkan kopi dari dalam mulutnya. Serta Paman Im yang tampak biasa saja.

“Mayat siapa?” ujar Darmoso kemudian.

Aku terdiam sesaat. Mengatur napasku yang tersengal. “Seorang wanita cantik. Aku tidak mengenalinya!”

Berbagai ekspresi aku temui dari wajah mereka. Antara tidak percaya dan rasa penasaran yang menggunung. Hanya Paman Im yang satu-satunya tidak tertarik mendengar ceritaku. Dengan wajah datar itu ia keluar dari dalam warung. Lalu membetulkan letak kopiahnya yang sedikit miring.

“Aku ingin melihatnya!” ucap Paman Im kemudian.

Aku segera mengangguk, lalu memutar badan. Paman Im berjalan mengekori langkahku. Disusul oleh Darmoso dan Amiru setelahnya. Sepanjang perjalanan itu, warga yang melihat ketegangan di wajah kami seketika ikut penasaran. Satu demi satu warga pun mulai mengikuti langkah kami untuk melihat mayat cantik itu.

Berita itu sontak saja merambat lebih cepat dari jerami yang tersambar api. Kini warga mulai berbondong-bondong mengikuti langkahku. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, dengan berbagai golongan dan status. Semua ingin melihat mayat itu. Mayat seorang wanita tanpa identitas.

Setibanya di ladang langkah kami terhenti. Semua orang merapat mengelilingi mayat wanita itu. Ada yang takjub melihat kemolekan tubuhnya. Namun, tak sedikit pula yang memasang wajah penuh iba. Mereka tidak menyangka wanita secantik itu bisa mati dengan cara yang mengenaskan.

“Di antara kalian, apa ada yang mengenali wanita ini?” ujar Paman Im membuka suara.

Semua orang kian tajam memerhatikan wajah mayat itu. Mereka menggali informasi dari dalam isi kepala masing-masing. Tapi setelah itu mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Begitu juga denganku. Aku tidak ingin berurusan dengannya.

“Aku tidak mengenalnya, tapi aku pernah melihatnya berjalan sendirian di jembatan,” ungkap seorang lelaki bernama Purno.

“Kapan?” tanya Paman Im sedikit menginterogasi.

“Kemarin sore. Sekitar pukul lima. Aku melihatnya berjalan sendirian menuju jembatan dengan wajah muram. Seperti punya banyak masalah.”

“Lalu?”

“Awalnya aku ingin menyapa. Namun, hari sudah sore. Aku khawatir istriku mununggu terlalu lama di tempatnya bekerja. Jadi, aku urung berhenti.”

Hening. Ada jeda yang cukup panjang setelah itu. Matahari yang semula bertengger di atas kepala kini perlahan bergeser ke tepi barat. Semua orang masih enggan untuk beranjak. Mereka terkesima melihat mayat wanita cantik itu.

“Jadi, kau satu-satunya orang yang perlu dicurigai!” Darmoso angkat bicara.

“Apa?” nada Purno mulai meninggi. “Jangan asal bicara kau, Darmoso. Kenapa kau menuduhku seperti itu?”

“Ya, bisa saja kau pelakunya. Hanya kau yang pernah melihat wanita ini. Apalagi kita semua tahu bahwa kau gemar bermain perempuan. Mungkin saja sore itu kau tidak menjemput istrimu yang pulang bekerja, melainkan mengajak wanita ini ke ladang.”

“Kurang ajar kau, Darmoso!”

Keributan pun terjadi. Purno meninju wajah Darmoso dengan tangannya yang berotot. Aku segera menarik tubuhnya agar tidak melakukan pukulan kedua. Sayangnya tubuhku tidak cukup bertenaga untuk itu. Begitu juga dengan warga lain yang tidak bisa menghentikan gerak Purno yang seperti kesetanan. Akhirnya wajah Darmoso babak belur. Darah segar menetes dari lubang hidungnya.

“Sudah, hentikan! Jangan seperti anak kecil. Apa kalian tidak malu berkelahi di depan sebuah mayat?” kata Paman Im melerai perkelahian.

Aku segera membantu Darmoso bangkit. Lalu menyodorkan selampai untuk mengusap darah yang masih menetes dari hidungnya. Hari semakin sore. Dan mayat wanita cantik itu masih saja tergeletak di sana. Tantu kami sudah menelepon polisi. Namun, berhubung desa kami terletak jauh di pedalaman sehingga akses untuk masuk memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sejujurnya, aku sangat berharap agar mayat wanita itu segera dikuburkan.

“Aku justru curiga denganmu, Im!” ucap Purno penuh penekanan. “Sejak awal kau tampak begitu tenang. Apa mungkin ada yang kau sembunyikan?”

Aku segera berpaling menatap wajah Paman Im. Dari awal aku sudah merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Ia terlihat santai dan begitu tenang. Dan berkali-kali juga aku melihatnya memandangi mayat itu dengan tatapan yang tidak biasa.

“Aku tidak mengenalnya!” sahut Paman Im kemudian. “Tapi aku melihatnya bersama seorang lelaki tadi malam!”

Sontok semua warga terkejut-kejut. Begitu juga dengan aku. Tiba-tiba saja keningku berair.

“Semalam saat perjalanan pulang dari warung, aku melihat seorang lelaki memapah wanita ini. Aku tidak tahu siapa lelaki itu. Dan tidak cukup banyak keberanianku untuk mendekatinya. Aku merasa bersalah. Andai aku bisa mencegahnya malam itu.”

Seketika aku menelan ludah. Semua berpaling ke arahku. Kenapa mereka menatapku seperti itu?

“Kau orang pertama yang menemukan mayat ini, Mat. Dan kau bilang tidak sengaja melihatnya saat hendak ke warung kopi Paman Im. Tapi, bukannya rumahmu tidak melewati ladang ini?”

Seketika itu tubuhku membatu. Terbayang ketika semalam aku menemukan wanita ini menangis sendirian di jembatan. Ia teramat patah hati karena ditinggal pergi oleh kekasihnya yang amat dicintai. Dan aku tidak bisa melawan segala gejolak di dada, sebab kecantikan wajahnya teramat memesona. Akulah orang yang mengajaknya pergi di ladang ini dan secara tidak sengaja membuatnya kehilangan nyawa.

Tapi, kalian tidak bisa menuduhku tanpa bukti. Aku akan tetap mengunci mulutku rapat-rapat. Apalagi menceritakan kisah ini kepadamu. Tidak. Terima kasih! ***

.

.

Ede Tea lahir di Bogor. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia ini bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

.

Mayat Itu Cantik Sekali. Mayat Itu Cantik Sekali.
Arsip Cerpen di Indonesia