Cerpen Cinta Maulida Azbi (Suara Merdeka, 12 Januari 2023)
YANG mereka tahu, dia hanyalah seorang wanita yang cinta menjahit. Dia bisa menghabiskan waktu dari pagi hingga ke pagi lagi hanya untuk menjahit. Tak lelap tidur bila sehari tak menjahit. Tak lapang pikiran bila sehari tak memegang jarum dan benang. Menjahit seolah sudah seperti kebutuhan pangan penopang hidup. Bila sehari saja tidak dilakukan, dia menjadi gila dan merasa mati. Namun, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tidak akan pernah tahu.
***
Wanita itu seperti biasa terlihat ragib mencatuk jarum di kain yang dia jahit. Dari jendela kaca tempat dia menjahit, terlihat sepasang kekasih akan memasuki toko gaun pengantin yang terletak di depan rumah wanita itu. Cukup lama mereka di sana. Mencari dan memilah gaun-gaun putih membosankan yang hampir terlihat sama tersebut.
Sebab tidak ada gaun yang cocok, mereka keluar dari toko. Wanita itu masih mengintip kegiatan sepasang kekasih tersebut. Mereka berbincang lama. Namun setelah itu, mereka mendatangi rumah jahit wanita tersebut.
Kring Kring Kring
Lonceng pintu berbunyi sembari sang calon pengantin pria membuka pintu. Wanita itu berbalik dari meja jahitnya dan menyambut kedatangan calon pelanggannya.
“Apa Anda menerima jahitan gaun pengantin?” tanya sang calon pengantin pria.
“Ya. Sebelumnya saya pernah dua kali menjahit gaun pengantin.”
Wanita itu mendongak untuk memerhatikan wajah sang calon pengantin pria. Tubuhnya tinggi, bentuk mukanya lonjong, dan bermata sipit dengan model rambut klasik. Sekilas wanita itu tertarik dengan calon pengantin pria tersebut. Namun, mengingat dia sudah memiliki dambaan hati, wanita itu memilih menjauh. Dia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang. Ditambah lagi, sang calon pengantin wanita berparas sangat cantik. Mereka cocok bersanding.
Beberapa hari sekali, sepasang calon pengantin itu mendatangi rumah jahit wanita tersebut untuk memeriksa keadaan gaun. Namun, beberapa hari belakangan, sang calon pengantin pria selalu datang sendiri. Katanya, sang calon pengantin wanita ingin beristirahat dan melakukan perawatan sebelum hari pernikahan.
“Apa Anda sudah punya kekasih?” tanya sang calon pengantin pria membuka topik pembicaraan.
Wanita itu terdiam sejenak sembari masih menjahit manik pada bagian rok gaun. Kemudian dia menoleh dan berkata, “Belum. Lagi pula saya tidak cukup cantik untuk memiliki kekasih.”
Wanita itu sadar diri. Wajahnya tidak terlalu cantik dan memiliki bekas luka. Bahkan, bekas luka tersebut tidak bisa ditutupi dengan bedak atau riasan wajah. Banyak pria yang tidak terlalu tertarik padanya. Tidak sedikit juga ada yang mencela rupa wanita itu. Karena itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjahit. Namun, orang-orang hanya tahu dirinya gila dan cinta menjahit.
“Tidak. Menurut saya Anda cantik. Setiap wanita itu cantik. Anda akan menemukan pasangan yang mencintai Anda,” ucap sang calon pengantin pria.
Untuk pertama kalinya, hati wanita itu menjadi lebih hangat saat bersama seorang pria. Dia sangat ingin memiliki pria ini. Namun, lagi-lagi dia harus patah hati.
***
Suatu malam, wanita itu kehabisan benang untuk menjahit bagian akhir gaun. Karena ingin menyelesaikan gaun tersebut malam itu juga, wanita itu pun mencari toko benang yang masih buka. Hingga akhirnya dia menemukannya terletak sangat jauh.
Namun, setelah membeli benang tersebut, dia melihat sepasang kekasih tengah berciuman di belakang toko alat musik yang sudah tutup. Wanita itu mengenal wanita yang sedang memadu kasih dengan seorang jejaka tersebut. Dia adalah sang calon pengantin wanita.
Keesokan harinya, wanita itu meminta sang calon pengantin wanita datang sendiri ke rumah jahitnya. Dia berkata ingin sang calon pengantin wanita mencoba gaunnya terlebih dahulu sebelum ditunjukkan kepada sang calon pengantin pria.
Sang calon pengantin wanita selesai mencoba gaunnya dan menyatakan bahwa dia sangat suka. Namun, saat berbalik dan akan mengganti pakaian, wanita itu sontak bertanya, “Apakah Anda mencintai pria yang akan Anda nikahi?”
Wanita itu bangkit dari duduknya dan menghampiri sang calon pengantin wanita. Sang calon pengantin wanita tersenyum dan berucap, “Tentu saja.”
Wanita itu menatap tajam sang calon pengantin wanita sembari melangkah makin mendekat pada sang calon pengantin wanita.
“Lalu, apa yang Anda lakukan kemarin malam bersama pria lain?”
Kedua mata bulat sang calon pengantin wanita membesar setelah mendengar ucapan wanita itu. Dahinya berkeringat. Seseorang telah mengetahui rahasia busuknya.
Wanita itu dengan cepat mendekati sang calon pengantin wanita dan menusukkan jarum beracun pada lehernya. Sang calon pengantin wanita seketika terjatuh. Dia tidak bisa bangkit. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Wanita itu membiarkan saja sang calon pengantin wanita tergeletak di lantai.
Wanita itu memandang cermin besar di depannya dan terpikir sesuatu. Dia mengambil gunting dan memotong wajahnya dan wajah sang calon pengantin. Kemudian, menjahit wajah itu pada daging wajahnya sendiri. ***
.
.
Serambi Kompak, 8 April 2022
— Cinta Maulida Azbi, lahir di Tanjungbalai pada 18 Mei 2002. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi Program Studi Gizi Universitas Negeri Medan. Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak)
.