Nam Harus Diusir dari Surga

Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 23 Desember 2022)

NAM sudah berubah, tak bisa lagi disebut manusia. Agar tak membuat kerusakan lebih luas, juga biar tak menularkan keburukan-keburukan pada yang lain, maka dia harus dikeluarkan dari surga ini.

“Gus, jangan lupa, tanggal 25 sudah dekat. Natal sudah dekat. Nam harus diusir dari surga,” begitu pesan salah satu temanku, yang mulai muak dengan keberadaan Nam, mengingatkan.

Surga? Ya, kami suka menyebut gedung megah ini, tempat kami melayani anggota dewan ini, adalah surga. Sebab di sini, hanya ada kenikmatan dan kenyamanan hidup, meski tak sama persis dengan surga. Benar, perbuatan Nam telah melampaui batas, meresahkan. Satu bulan lalu, tujuh orang temanku, para pekerja keras, jujur dan loyal kepada atasan, dikeluarkan, dan harus bekerja di kantor kecamatan. Mereka menolak patuh pada Nam, dan Nam memfitnah mereka di depan atasan.

“Jahr, Sirr, Gham, Kun, Syim, Dul, dan Jhin memiliki selingkuhan di luar sana. Mereka menemui selingkuhan mereka saat melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Ini penyalahgunaan anggaran, Pak, dan mereka berbahaya bagi organisasi.”

Kalau tak salah begitu yang dikatakan kepada Barbar, atasan tertinggi kami. Dan kalimat itu, sudah menyebar luas. Semua temanku tahu kalau mulut Nam-lah yang mengeluarkan kalimat itu. Kami semua waspada.

Tanggal 25? Natal? Ya, pada hari itu, penguasa kota ini akan melakukan mutasi pegawai besar-besaran. Dan aku sudah menyusun rencana untuk Nam.

“Guk, sepertinya si Nam ini butuh tempat sunyi?” kataku pada teman dekatku saat kami berdiskusi empat mata dalam sebuah ruangan.

“Ya, Nam memang butuh tempat khusus. Biar dia juga merasakan penderitaan orang tak berdaya,” jawabnya dengan nada serius.

“Neraka bagian mana yang pantas buat dia?”

“Neraka yang pantas buat dia adalah kantor kecamatan di pulau terjauh kota ini.”

“Duh. Pasti dia menderita. Apa itu setimpal?”

“Belum. Seharusnya dia dilenyapkan dari muka bumi, kalau perlu dikubur hidup-hidup,” kata temanku yang sebenarnya memiliki dendam kesumat kepada Nam. Guk mengalami kerugian ratusan juta gara-gara ulah Nam. Tiga proyek Guk dibatalkan karena Nam mengadukan soal praktik jual beli proyek yang dilakukan Guk.

“Aku harus menghadap siapa menurutmu?” tanyaku.

“Ke Sudar. Hanya dia yang mampu menundukkan penguasa kota ini. Dan hanya kau yang mampu menundukkan Sudar.”

Atas saran Guk, temanku yang paling setia padaku itu, aku pun membuat janji bertemu dengan Sudar. Memang benar, hanya aku bisa yang bisa menundukkan Sudar. Kenapa? Karena Sudar adalah teman karibku sewaktu masa sekolah dulu. Tapi, meski begitu, aku sadar posisi, dan selalu berusaha menempatkan posisi dengan benar. Aku staf, dan dia seorang anggota dewan kota.

Dan hari ini, aku dan Sudar akan bertemu. Dalam ruang ber-AC aku tunggu kedatangannya, dan tak lama berselang dia datang.

“Sudah lama menunggu?” Dia langsung bertanya.

“Lumayan,” jawabku.

Dia duduk di dekatku, membakar ujung rokok, dan kemudian berkata, “Waktuku tak banyak. Lekas katakan apa yang kau mau.”

“Dia harus keluar dari kantor ini,” kataku.

“Siapa?” tanyanya.

“Nam.”

“Nam siapa?”

“Dia temanku, istri dari salah satu pejabat penting di kota ini. Dia staf yang pangkatnya tinggi, satu-satunya pegawai yang sudah S2, tapi keberadaanya tidak terlalu berguna.”

“Kenapa dia harus dikeluarkan?”

“Dia telah merusak stabilitas kantor ini. Semua temanku merasa terancam. Kau juga pasti sudah tahu soal nasib tujuh temanku. Dan mungkin, suatu waktu Nam juga akan mengusik hidupmu, dan membongkar semua rahasiamu.”

“Ya, aku dengar soal tujuh staf kantor ini yang dikeluarkan. Tapi aku tidak punya waktu untuk tahu apa alasan mereka dikeluarkan.”

“Nam memfitnah mereka, dan Barbar yang dungu itu, mau saja percaya semua perkataan Nam.”

“Baiklah,” jawabnya. “Dan kalau sudah tidak ada lagi, aku mau pulang karena di rumah sedang ada tamu.”

“Baiklah, Kawan,” jawabku, dan Sudar pulang.

Aku kembali ke ruangan.

Esok harinya, aku dapat kabar dari Sudar, bahwa Nam sementara waktu tidak bisa dimasukkan ke dalam daftar mutasi pegawai besar-besaran nanti karena kena serangan stroke mendadak. Stroke ringan. Aku terkejut dan sedikit bercampur rasa bahagia. Lalu, selang beberapa menit dari kabar itu, aku mendapat pesan yang mengejutkan.

“Kamu jahat. Aku mencintaimu, tapi kenapa kau mau mengeluarkan aku dari kantor.”

Begitu isi pesannya dan seketika tubuhku gemetar. Pesan itu dari Nam. ***

.

.

Asoka 2022

Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di berbagai media. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring (Intishar, 2017).

.

Nam Harus Diusir dari Surga
Arsip Cerpen di Indonesia