Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 02 April 2023)
SEPERTI anjing peliharaan Natsume Soseki, ia dinamai Hector. Kenapa begitu? Sebab, pemilik sebelumnya menggandrungi karya-karya Soseki, dan sang pengarang mengagumi Hector si pahlawan Troya. Pemiliknya dulu pamanku yang tinggal di kota wisata Kawagoe. Aku mengadopsi Hector setelah tidak ada satu kerabat pun yang mau merawat anjing itu. Warna bulu Hector putih, tubuhnya besar khas Siberian husky pada umumnya. Selalu mendongak tiap kali mendengar langkah orang mendekati genkan atau saat ada yang bangkis.
Hector tidak ada yang mau merawat karena ia dijuluki anjing terkutuk dalam keluarga kami. Sebab, sudah dua majikan terdahulunya meninggal di usia muda saat masih memelihara dirinya. Pertama, sepupu jauhku yang meninggal tiga tahun lalu pada usia 21 tahun. Kemudian pamanku di Kawagoe yang hidup sendiri mengembuskan napas terakhir pada usia 42 tahun, dua bulan lalu. Lantaran desas-desus itu pula, tiap tamu yang mengunjungi rumahku agak segan. Yah, mereka yang tahu tentang “anjing terkutuk” tampak takut. Kentara takutnya. Lebih-lebih dari teman-temanku atau keluarga istriku. Ibu mertuaku bahkan pernah menyuruhku membuang Hector atau memberikannya kepada seseorang. Tapi aku tak tega.
Kukatakan pada ibu mertuaku bahwa Hector sudah seperti keluarga bagiku. Masa-masa aku tinggal di Kawagoe sebagai pelajar tingkat akhir yang pendiam selalu ditemani Hector yang begitu ceria bersamaan saat diriku membaca novel-novel era lama.
Bawaan Hector sebagai anjing terkutuk telah menghidupiku setelah upacara kematian pamanku. Aku menikah muda, kini telah menjalani hidup rumah tangga selama lima tahun. Keuanganku stabil. Warisan juga banyak. Aku sadar bahwa diriku mengambil Hector dengan perhitungan demikian. Sekalipun percaya tidak percaya pada takhayul yang didesas-desuskan di antara keluarga besar kami.
Minggu pertama Hector bergabung dengan keluargaku, aku seperti diawasi dari belakang tiap kali anjing itu berdiri tegak bak patung di penjuru ruangan keluarga. Ia seolah selamanya berada pada titik tertentu, menatap kami dan mengawasi, seakan meneropong diriku hingga kedalaman, aku merasa begitu. Meski aku tak lagi asing dengan Hector karena pernah menghabiskan waktu beberapa tahun dengannya, di kehidupan baruku bersama keluarga kecilku, Hector tampak asing, berjarak. Mungkin karena intensitas pertemuan kami yang terpotong tiba-tiba setelah aku memutuskan menikah di usia muda dan kini kembali bertemu ia setelah memilihnya jadi peliharaanku. Perasaan ganjil ini tak bisa kuungkapkan dengan kalimat yang tepat.
Tapi, selain hal-hal negatif yang dilekatkan pada Hector, anakku Natsuko sangat akrab dengan anjing itu, dan istriku mengabaikan desas-desus tentang anjing terkutuk. Itu hanya kebetulan tak terhitung. Sesuatu yang kadang muncul dalam kehidupan, katanya. Sifat fatalis diriku yang timbul-tenggelam dengan mendengarkan fakta bahwa sepupu dan pamanku mati muda dengan memelihara Hector awalnya sempat kuyakini sebagai hal yang ajek. Namun, dengan sandaran dari istriku, aku mulai menganggap kutukan itu sebagai omong kosong belaka. Sifat fatalisku semakin dalam kusamarkan. Boleh jadi lantaran seorang lelaki berkeluarga, pandangannnya pada dunia sedikit banyak tergeser ke arah yang lebih baik.
***
Rumah kami terletak menjorok ke dalam kawasan hutan yang masih dilindungi. Dengan pengaruh keluarga lalu izin dari pihak berwenang, aku berhasil mendirikan bangunan dua lantai berfasad arsitektur modern nuansa gotik. Bangunan dua lantai itu sudah dua tahun kutempati bersama keluarga kecilku. Meski sepi tak ada tetangga, hutan asri dan angin yang sejuk sangat berpengaruh bagi kebahagiaan dalam keluarga kami. Aku, istri, dan anakku biasa keluar pagi sekadar jalan-jalan di sekitar hutan. Ada sebuah danau buatan di selatan rumah yang jaraknya lima menit jalan kaki di luar area hutan. Danau ini ramai dikunjungi saat akhir pekan untuk acara berkemah yang harus mendapat izin lebih dulu atau acara memanggang. Kami sering menghabiskan waktu bersama di sana, dan kini setelah bertambahnya anggota keluarga, makin ramai pula pagi di akhir pekan dalam hidup kami. Aku dan istriku mengawasi Hector dan Natsuko bermain kejar-kejaran dengan riang gembira.
Di taman kanak-kanak tempat Natsuko sekolah, Hector yang tidak dikenali sebagai anjing terkutuk sangat diidolakan teman-teman Natsuko. Hector melompat dari kursi belakang mobil yang kukemudikan, keluar menghampiri anak-anak manis yang terkesan pada kelembutan anjing itu, sementara Natsuko dengan bangga memperkenalkannya. Ibu guru Natsuko memuji-muji Hector sebagai anjing tangkas. Di taman kanak-kanak, yang tak seorang pun tahu fakta anjing itu, ia jadi begitu berharga, dinanti-nanti sekian anak yang antara iri dan terkesima pada Natsuko dengan peliharaannya yang bagus.
Rasa sayangku pada Hector akhirnya diuji dengan kedatangan sepupuku Satoshi, yang berusia sepuluh tahun lebih tua dariku. Suatu sore, dia muncul di kediaman kami. Dari Satoshi, baru aku tahu: Hector pernah ditemukan menunggui tuannya, yaitu sepupuku, yang telah mati selama seminggu. Dengan setia ia menunggu sampai ada keluarga yang sadar akan adanya mayat. Saat itu, sepupu jauhku, adik kandung Satoshi, tengah berdiam diri di rumah ketiga keluarga mereka dengan hanya ditemani Hector setelah banyak masalah mendera dalam hidupnya.
“Mayat Kenji dikerubungi Lethe diana.”
Satoshi berdiri. Menunjuk salah satu lukisan di dinding ruang tamu. Lukisan kakek kami. Perempuan telanjang berbalut tato kupu-kupu di punggung.
“Seperti itu.”
Aku mendesah.
“Yah, rumahmu dekat hutan. Kupu-kupu semacam itu katanya suka tubuh makhluk mati.”
***
Hector telah setahun hidup di keluarga kami. Natsuko semakin pandai menulis dan membaca. Kusangkutkan kehadiran Hector dengan kesuksesanku dan istriku menambahkan sayur-mayur pahit di makanan Natsuko sampai putriku berangsur-angsur menerima makanan pahit. Lidah anak kecil amat sensitif dan otomatis akan menandai rasa pahit sebagai bahaya bagi mereka, tapi aku dan istriku sesabar mungkin mencoba memasukkan sayuran seperti paprika pada makanan Natsuko agar dia terbiasa. Kalau pada keluarga lain, aku tak tahu seberapa toleran mereka pada anak-anaknya. Baru kudengar dari istriku beberapa waktu kemudian bahwa beberapa orang tua murid di taman kanak-kanak bertindak sekolot mungkin memaksakan makanan pahit bagi putra-putri mereka. Aku senang mendengar bahwa kami cukup sabar pada Natsuko, dan karena ada Hector pula, putriku makin mudah menerima sayuran pahit. Jadi, tidak ada lagi kecemasan tentang anjing terkutuk setelah aku menyaksikan perkembangan menggembirakan pada diri putriku selama akrab dengan Hector.
Dari waktu ke waktu, ibu mertuaku dan sebagian keluargaku tidak lagi menautkan isu anjing terkutuk pada Hector setelah secara langsung melihat kedekatan anjing itu dengan putriku. Ibu mertuaku malah tergugah setelah Hector menjulurkan lidahnya yang panjang dan menjilati wajah keriputnya. Rasa sayang timbul pada Hector. Anjing itu kini dielukan. Hari-hari kami diisi dengan waktu yang terasa panjang tapi singkat yang berkutat di sekitar Hector. Setiap aku ada dalam jam sibuk di kantor, foto yang kulihat adalah putriku dan Hector yang saling memeluk dan menampilkan impresi kehangatan. Waktu di luar Hector seakan tidak nyata dan ia berubah menjadi pusat dalam hidupku.
Sampai Hector merenggut pusatnya sendiri, aku tetap mengingat hari-hari penuhku bersama Hector, anjing pamanku tercinta, anjing yang disayangi putri manisku yang amat kucinta.
Hector membuka pintu, menggonggong padaku, dan istriku mengambil koper kerjaku lalu mantel juga sepatuku diletakkan pada genkan. Di ruang tamu, sudah ada Natsuko yang tengah menggambar.
“Ayah, ibu, aku, Hector.” Gambarnya tak simetris, kepala-kepala berbentuk aneh, senyum mengerikan yang diterakan dari tangan polos malaikat kecil yang hidup hanya demi dirimu, tapi pada masa depan entah untuk siapa. Tapi sejelek apa pun, gambar anakmu sendiri seperti harta karun tak ternilai yang disajikan kepadamu untuk sewaktu-waktu kau pamerkan sebagai harta milikmu paling berharga.
Aku menaikkan Natsuko ke pundakku. Anak itu memeluk kepalaku yang berminyak, lalu mengatakan rambutku bau. Aku tertawa dan dari pintu yang lain muncul istriku memakai celemek yang juga tertawa dengan kami, sementara Hector menggonggong dan mengibas-ngibaskan ekor.
Namun semua itu seperti lesap seketika, setelah berhari-hari kulewati dengan perasaan yang entah apa namanya—hampa. Semua bagaikan dongeng yang diceritakan orang lain. Barangkali dongeng tak sempurna dari kedalaman salju musim dingin awal tahun. Atau dari matamu yang terlalu lama menatap bunga tsubaki musim dingin yang menakutkan sekaligus indah.
Hingga Hector menggonggong di dekatku. Terasa dekat sekaligus jauh.
Sepasang mata anjing. Lidah yang terjulur. Tawa anak perempuan. Tangis anak perempuan. Suara guntur disertai hujan. Mati lampu di rumah kami. Tak ada siapa-siapa selain suara anjing mengguguk. Sesekali suara anak perempuan. Natsuko, anakku. Lalu dari ledak sesaat petir, dapat kulihat tangan terjulur dari balik sofa. Ketika kudekati, ada banyak darah di sekitarnya. Tubuh istriku terbujur, aku gemetar ketakutan. Gemetar hebat sampai semua rasanya menekan-nekan kepalaku.
Ketika aku membuka mata, wajah Satoshi yang kali pertama muncul.
“Kau sudah sadar?”
“Di mana aku?”
“Tenang, ini tempat terbaik untukmu.”
Aku berusaha bangun, tapi sesuatu memancang diriku. Baru aku sadar kedua tangan dan kakiku terikat kuat di atas tilam putih. Tubuhku terselimut baju putih dan ada banyak orang di sekitarku mengenakan jubah putih. Lampu yang bersinar terang di atas kepalaku benar-benar memuakkan.
“Lepaskan aku!”
“Tenang, kawan. Istrimu sudah tidak apa-apa. Begitu pula anakmu. Kau perlu istirahat di sini untuk sementara.”
“Apa yang terjadi pada istriku?”
“Kau tak sengaja melukainya. Istrimu terus menangis tadi—”
Seorang berjubah kuning menghentikan ucapan Satoshi. “Maaf, Pak, tidak usah dikatakan lebih jauh. Akan berdampak buruk bagi pasien.”
“Apa maksud ini semua?!”
Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan dan Satoshi tidak lagi mengikutiku. Wajahnya tertunduk dan dari ingatanku yang telah lalu tampak wajah riang Hector serta hari-hari kami bermain bersama sebagai tuan dan peliharaan. Kami berdua dengan aku yang selama ini selalu menyayanginya. Apakah ini saat aku terkena kutuk darinya? Aku tak bisa lagi menemui Hector. Barangkali pula aku tak bisa lagi bertemu dengan Natsuko. ***
.
.
Jalan Pramuka No. 45, 2019
Bagus Dwi Hananto lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Mengarang novel dan cerpen. Novelnya yang telah terbit berjudul Tokyo Red (2022).
.
.