Cerpen Yuditeha (Koran Merapi, 24 Maret 2023)
PROFESOR Syam dipecat. Tidak diperkenankan mengajar lagi di universitas di mana sebelumnya dia menjadi dosen. Surat keputusan itu Syam terima usai dirinya dinyatakan terbukti sebagai pelaku pembunuhan. Alasan lain pemecatan itu karena perilaku Syam yang tidak lagi mencerminkan seorang ilmuwan, yang seharusnya lekat dengan kerasionalan.
Perilaku Syam yang dianggap janggal bermula ketika istrinya meninggal. Syam memang sangat mencintai istrinya. Meski telah dikhianati oleh istrinya berkali-kali tapi rasa cintanya tidak berubah. Bahkan ketika Syam mendapati kenyataan bahwa istrinya dibunuh oleh istri dari salah satu lelaki yang pernah menjadi pasangan kencannya pun tidak membuat cinta Syam goyah. Istri Syam dibunuh di sebuah kamar hotel selagi bergumul dengan suami dari sang pembunuh.
Profesor Syam sendiri dulunya terkenal karena penguasaannya tentang teori genom. [1] Bahkan penguasaan Syam sudah pada level pemetaan dan perangkaian genom manusia dan genom dalam bentuk kehidupan yang lain.
Syam pernah mengemukakan, karena bumi menjadi planet yang mengandung kehidupan, menurutnya keadaan itu meyakinkan dia akan terbukanya jalan bagi teori evolusi terhadap bentuk-bentuk kehidupan. Terkait hal itu Syam mengemukakan sebuah hipotesis bahwa molekul-molekul protein yang terbentuk dari perintah genom dapat memberikan sumbangan bagi struktur dan fungsi organisme.
Dari hipotesis itu Syam menyimpulkan, molekul-molekul protein memungkinkan terjadinya interaksi antar molekul yang sangat kompleks, yang hal itu dia sebut dengan kehidupan. Apa yang dia pelajari sebenarnya adalah pengembangan dari hasil penelitian tiga ilmuwan Perancis, Jacques Monod, Francois Jacob, dan Andre Lwoff. Kepiawaian Syam dalam teori itu mampu memetakan masalah kesehatan manusia hingga menemukan beberapa varian penangkal bagi berkembangnya bakteri yang membahayakan kehidupan manusia, termasuk penguasaan terhadap materi E. Coli. [2]
Namun sejak kematian istri yang sangat dia cintai, persisnya setelah dia kembali dari pengasingan yang dia maksudkan untuk menghilangkan stres akibat istrinya meninggal itu, orientasi keilmuan Syam menjadi salah arah, bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Sekembalinya dari pengasingan, Syam lebih banyak bicara mengenai teori reinkarnasi, di mana hal itu tidak ada hubungannya dengan materi biologi yang dia kuasai.
Ceritanya, tiga hari setelah kematian istrinya, Syam meminta cuti untuk mengasingkan diri. Kecintaan terhadap istrinyalah yang mendorong untuk melakukan hal itu. Kabarnya, pengasingan Syam bertempat di dalam hutan, yang jauh dari permukiman. Syam mendirikan tenda dan hidup di tempat itu dalam beberapa hari. Dengan caranya sendiri Syam berusaha mengenang istrinya di sana. Di waktu-waktu tertentu, dia sengaja melakukan doa dalam meditasinya. Bertempat di bawah pohon yang sangat rindang.
Setiap kali selesai melakukan ritual doa dan meditasi, Syam selalu mendapati seekor ular yang berada tepat di depannya. Ketika pertama kali melihat ular itu dia anggap hanya sekadar kebetulan. Namun begitu setiap selesai berdoa dan meditasi, ular itu ada di depannya, Syam lantas berpikir, mungkin hal itu sebuah isyarat yang, saat itu dia belum tahu artinya.
Karena pemikiran tersebut, Syam memutuskan membawa ular itu pulang, dan ketika dia memegangnya, ular itu pun tidak melakukan perlawanan. Di tempat kediamannya, setiap hari Syam hanya mengamati ular itu, yang dia tempatkan dalam kandang yang terbuat dari kaca. Aktivitasnya itu berhasil mengalihkan perhatian dia dari istrinya.
Apa yang dulu dia yakini tapi belum dia pahami rupanya menemukan jawabannya. Pada suatu hari, ketika Syam sedang saksama memperhatikan ular itu, dia menyadari di bagian kepala ular itu ada warna hitam di samping matanya. Melihat hal itu ingatan Syam langsung tertuju pada wajah istrinya yang senyatanya juga punya tanda lahir berwarna hitam di samping matanya.
Sejak Syam mengetahui hal itu dia kembali mulai menekuni ilmu biologinya, tapi entah kenapa orientasi pembelajaran yang dia lakukan mengarah kepada ilmu reinkarnasi. Bahkan semakin ke sini Syam suka mendatangi orang-orang yang menguasai pengetahuan perihal reinkarnasi tersebut. Sekilas apa yang telah Syam pelajari, dia mendapat pengertian bahwa sesungguhnya jiwa setiap orang akan terus terlahir untuk proses menuju kesucian.
Bagi orang yang semasa hidupnya lebih banyak melakukan hal buruk, bisa jadi jiwanya akan lahir dalam bentuk yang berbeda, dalam hal ini bisa binatang. Konsep yang Syam terima itu mengantarkannya pada kesimpulan bahwa ular yang selama ini bersama dengannya adalah reinkarnasi istrinya, jiwa istrinya telah terbelenggu dalam badan ular. Menurut apa yang Syam pelajari, hal itu sebuah hukuman atas kejahatan yang dilakukan istrinya semasa hidup.
Karena kecintaan Syam terhadap istrinya begitu tulus, dia ingin istrinya terbebas dari belenggu tersebut, tapi Syam tidak tahu bagaimana caranya. Ketika Syam berada dalam masa kebingungan itu selalu menemani ular. Ular itu begitu nurut dengan Syam, yang hal itu membuat Syam semakin menyayanginya. Saking dekatnya hubungan Syam dengan ular itu, sampai Syam tahu apa saja yang diinginkan ular. Dan tampaknya berlaku juga sebaliknya.
Jadilah Syam dan ular itu bisa bercakap-cakap. Keadaan tersebut lagi-lagi semakin membuat hubungan keduanya semakin akrab. Hingga di suatu pagi yang mendung, Syam membopong ular menuju halaman rumah. Di sana mereka bersenda gurau. Di sela-sela keakraban, Syam memberanikan diri menyampaikan apa yang selama ini menjadi keresahannya. “Sesungguhnya kau adalah reinkarnasi dari istriku,” terangnya.
Syam juga menjelaskan tentang mengapa istrinya terlahir lagi dalam badan ular. Dan yang terakhir, Syam menyampaikan keinginannya agar istrinya terbebas dari belenggu itu, tetapi Syam bilang bahwa dia tidak tahu caranya. Usai Syam mengatakan semuanya, dia bisa melihat bahwa ular itu tersenyum, lalu berkata bahwa dirinya sudah tahu bahwa dia adalah reinkarnasi dari istri Syam. Bukan hanya itu, bahkan ular itu justru mengetahui bagaimana caranya agar dia bisa terbebas dari belenggu tersebut.
“Oya? Gimana?” tanya Syam.
Ular itu bilang, satu-satunya cara, dia harus mati, tapi bukan dengan bunuh diri. Lantas ular itu juga mengatakan bahwa sebenarnya Syam bisa melakukannya jika mau. Mendengar penjelasan itu wajah Syam langsung murung. Syam memandang lekat ular itu dengan mata basah. Ular itu tahu perasaan Syam, lalu sebagian dari tubuh ular itu berdiri mendekati wajah Syam yang saat itu sedang berjongkok. Menyadari wajah ular begitu dekat dengan wajahnya, Syam lalu membisikkan sesuatu, “Tentu saja aku tidak tega jika harus membunuhmu.”
Tanpa Syam sadari, waktu itu dia kedatangan tamu, seorang teman dosen. Ketika teman dosen itu melihat adegan tersebut langsung panik, dan tanpa pikir panjang, gegas mengambil linggis kecil tapi panjang yang biasa dipakai Syam berkebun, yang kebetulan berada di dekat mereka. Tanpa ampun, teman Syam membantai ular tersebut, sebagian badan ular tampak remuk. Kejadian itulah yang akhirnya membuat Syam melakukan pembunuhan. ***
.
.
Catatan:
[1] genom: kumpulan gen yang terdapat dalam setiap sel individu organisme. Dengan perkataan lain, genom suatu organisme adalah kumpulan semua gen yang dimiliki oleh organisme tersebut pada setiap selnya.
[2] E. Coli (Escherichia coli): bakteri yang hidup dalam usus manusia untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri ini umumnya tidak berbahaya. Namun, ada jenis E. coli yang menghasilkan racun dan menyebabkan diare parah.
.
.
Yuditeha. Penulis tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.
.
Profesor Syam Beristri Ular. Profesor Syam Beristri Ular. Profesor Syam Beristri Ular.