Bapak Rekonstruksi

Cerpen Fajar Djafri (Kaltim Post, 18 Juni 2023)

Setiap waktu ada orangnya/Dan, setiap orang ada waktunya

KATA bijak menohok telinga, saat mendengar arahan lelaki di hadapan kami. Sepuluh menit lalu, bersama sekian puluh pejabat yang dikukuhkan di auditorium ruangan serbaputih. Pelantikan sumpah dan janji dipimpin Bapak Wali Kota. Kutangkap kalimat sakral berbisik di samping.

Innalillahi waa innalillahi rajiun.” Aku melirik ke arah datangnya suara dari bahu kanan. Lelaki separuh baya menghela napas. Faizal Razak, nama beliau. Ia menangkap kerut di dahi sembari berdesah pelan, “Ini amanah yang akan dipersaksikan di alam akhirat.”

Wow….

“Bapak diamanahkan di bidang apa?”

“Rehabilitasi dan rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” ungkap beliau.

“Saya baru dengar, Pak,” senyumku mengembang.

“Mas sendiri?”

“Lurah Teritip, Pak,” singkatku sembari menjabat tangannya.

“Tanggung jawab besar sebagai pemangku wilayah. Jujur, sigap, tanggap, dan respons cepat permasalahan warga, karena suara netizen lebih tajam dari pena,” pesan Pak Faizal sembari bertukar nomor ponsel.

***

Teritip, September 2022

Konten informasi cuaca ekstrem Kota Balikpapan beberapa hari ke depan mengemuka. Prediksi Hujan lebat disertai petir dan ancaman longsor di daerah berlereng. Sedangkan kelurahan di timur, termasuk Teritip, berada di wilayah pesisir Selat Makassar. Fluktuasi air laut dan anomali bulan purnama saling bertalian. Tatkala purnama, air laut pasang dan menyentuh tiang-tiang rumah warga. Sunnatullah dan sudah alami. Masyarakat pesisir paham situasi purnama.

Ternyata, purnama di langit pekat, tatkala aku menengadahkan wajah.

Malam berselimut mega-mega hitam bergulung-gulung. Udara cukup gerah. Tiada angin yang berembus. Radiasi matahari yang diserap bumi sepanjang siang, dipantulkan kembali di malam hari, sementara awan menghalangi terbebasnya udara tersebut. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca dan mencipta udara gerah. Petir dan halilintar berkelap-kelip di langit malam dan gemuruh guntur memanggil hujan segera turun.

Benar saja, miliaran jarum-jarum berbahan air menghunjam permukaan bumi. Intensitasnya cukup tinggi. Orkestra malam mendendangkan alunan musik dan membunyikan benda-benda yang ditimpanya. Hujan lebat tak terelakkan. Melalui pesan singkat, aku wartakan kepada Babinsa dan Binmas serta ketua-ketua RT agar waspada dan berjaga-jaga.

“Mohon monitor dan evakuasi sekiranya terjadi hal-hal yang mengancam keselamatan warga!”

“Siap… monitor!” balas Babinsa sepuluh detik pertama.

“Monitor, Pak Lurah!” tukas Marsella, ibu RT 30.

Pak Zaipul, ketua RT 33 yang sering kedatangan banjir, “Lanjutkan!”

Diikuti tanggapan beberapa RT di pesisir pantai.

Pukul 02.00 dini hari, hujan makin lebat menghunjam permukaan tanah. Masih setia mencurahkan debit-debitnya. Kelopak mataku terasa berat, lalu kantuk tetiba mengusap-usap pelupuk. Dan aku terlelap sejenak.

“Pak… rumah kemasukan air!” ucap istri menepuk bahu.

Aku tersentak kaget dan terbangun. Belum penuh kesadaran, air sudah menyentuh mata kaki. Yang pertama terlintas adalah listrik, kedua adalah ponsel dan warga. Ternyata beberapa pesan memenuhi grup RT se-Kelurahan Teritip.

“Banjir, Pak Lurah, di rumah warga RT 06,” tulis Bu Nurkumala, ketua RT yang berhijab. Ia juga mengirimkan rekaman video genangan di jalan depan rumah.

“AIR SUDAH MASUK RUMAH….”

“TOLONG PAK… BANJIR SUDAH MASUK SETINGGI BETIS,”

“AMPUN, SUDAH 20 TAHUN, BARU MERASAKAN BANJIR,”

“PAK, ORANGTUA SEDANG SAKIT, BAGAIMANA UNTUK MENGUNGSI?”

“PAK LURAH, KARPET, KURSI DAN TILAM PADA BASAH SEMUA!”

Qadarullah, sudah kehendak Allah SWT. Tiada satu makhluk pun dapat mencegah dan menghalangi.

“Sabar, bapak-ibu dan warga kelurahan, insyaallah besok pagi terang,” tulisku di grup warga. Aku juga merekam genangan air semata kaki yang menyelinap tanpa permisi ke dalam rumah, lalu kusampaikan di grup ketua RT. Bahwa bukan warga saja, saya pun bernasib serupa.

“Kayak apa sudah ini, Pak?” ujar istri prihatin.

Pesan masuk silih berganti memenuhi ruang ponsel.

“Mari sama berdoa, Bu!” balasku berempati dan menyemangati.

***

Pukul 06.00 pagi, hujan telah bersahabat. Menyisakan rinai gerimis-gerimis. Aku menggunakan mantel hujan mengendarai sepeda motor menuju wilayah kerja. Ternyata bukan rumah saja yang digenangi, jalan penghubung tertutup air bercampur tanah. Beberapa motor tidak mampu melanjutkan perjalanan karena kemasukan air. Meski beberapa nekat menerobos genangan setinggi lutut.

“Pak, warga yang rumahnya kemasukan air, apakah kita bantu dengan membelikan sarapan?” usul Babinsa. Serta-merta ia merogoh saku dan mengeluarkan lembaran biru sebagai modal awal

“Tidak usah beli. Kita kerahkan bapak-ibu RT dan PKK untuk pendirian dapur umum. Masak bersama dan buatkan nasi bungkus,” perintahku, lalu lembar merah kuserahkan untuk pembelian bahan makanan.

“Siap, Pak!”

“Hubungi Bu Cinta, ketua tanggap darurat menyiapkan peralatan masak,” imbuhku. Kupercayakan anggota LPM dan relawan mengawasi perlintasan, sementara aku dan Babinsa menyiapkan dapur umum di lokasi terdekat.

“Saya minta bapak-ibu RT menyiapkan dapur umum di rumah RT 29,” putusku mengirimkan rekaman suara melalui ponsel. “Peralatan dan bahan yang akan dimasak sudah siap di TKP,” sambungku.

Satu per satu relawan pun menawarkan diri membantu menyiapkan dapur umum. Kompor bermata seribu, tabung gas, panci, wajan, baskom, cobek, dan pelengkapan lain telah bersatu padu mendukung. Menanak nasi, memotong sayuran, merebus telur, dan mengulek bumbu-bumbu.

Pukul 12.00 siang, 350 nasi bungkus hasil dapur umum telah siap disebarkan kepada warga. Dikoordinasikan ketua RT dengan menyetorkan jumlah warga yang terdampak. Meski berangsur surut, warga memilih membersihkan rumah, tanpa memikirkan asupan makanan. Dan betapa beruntung dan bahagia, ketika nasi-nasi bungkus diperuntukkan kepada mereka.

“Warga saya yang terdampak ada 30 kepala keluarga, sehingga butuh 100 nasi bungkus, Pak Lurah,” lapor Bu Nurkumala, ketua RT 06 yang paling pertama melaporkan kejadian banjir.

“Siap, Bu RT!”

Dua kantong merah besar kuserahkan pada beliau. Dengan kerepotan, dia meletakkan kantong bungkusan di depan kaki sepeda motornya.

“RT 04, 150 bungkus,” ujar Babinsa bagian absensi. Segera permintaan Pak RT disampaikan, tidak lupa membubuhkan tanda tangan sebagai laporan.

“RT 41, 60 bungkus,” sambung Babinsa.

“Pak Lurah, apakah makanan disiapkan sampai malam hari?” tanya Bu Cinta, ketua tim dapur umum sekaligus ketua tanggap bencana kelurahan. Ia menyebutkan beberapa bahan sudah menipis dan habis. Yang tersisa adalah sepanci nasi dan sewajan mi goreng. Lauknya telah bersih.

“Dibungkus saja, siapa tahu ada yang masih butuh,” ujarku seraya meminta mi goreng kecap untuk bersantap siang bersama tim dapur umum, Babinsa, dan relawan lainnya. Indahnya kebersamaan dan nikmatnya makanan jika dimakan berbarengan. Sebentuk ikatan persaudaraan tanpa membedakan pangkat dan derajat.

Ponsel di sakuku berdering, panggilan video tersambung.

“Pak Lurah terima kasih atas makanannya. Mulai semalam saya tidak makan. Beruntung Bu RT membawakan nasi bungkus. Terima kasih banyak,” ujar perempuan berstatus janda dan lansia yang tinggal sebatang kara.

“Saya minta tolong, dinding rumah basah dan lapuk. Semoga ada bantuan kepada lansia,” ujar Nenek Putih melalui ponsel Bu RT 06.

Insyaallah, Nek. Berdoa saja semoga ada uluran tangan dari donatur. Yang penting nenek sehat, yah,” ucapku menghibur.

Tetiba teringat aku pada sosok Faizal Razak, kasi rekonstruksi BPBD. Segera kukontak beliau, dan kuutarakan kebutuhan Nenek Putih.

“Siap, Pak Lurah. Besok pagi kami meluncur ke Teritip!” ***

.

.

Fajar Djafri. Nama pena dari Muhammad Fajar. ASN Pemerintah Kota Balikpapan, mengemban amanah Lurah Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

.
Bapak Rekonstruksi. Bapak Rekonstruksi. Bapak Rekonstruksi. Bapak Rekonstruksi.
Arsip Cerpen di Indonesia