Berebut Janda Kempen

Cerpen Deddy Arsya (Koran Tempo, 18 Juni 2023)

SEORANG perempuan Eropa telah ditinggalkan pada sebuah pulau kecil di lepas pantai kita. Istri Tuan Kempen tak dibawa kapal-kapal Inggris ketika pulau ini mereka tinggalkan untuk bertolak kembali menuju Bengkulen. Sepuluh orang datuk dari Syarikat Sepuluh Bandar kini berkumpul di balairung istana Sultan Raja Baginda. Sang Sultan ialah pemimpin tertinggi dari aliansi itu. Mereka tengah saling bersikukuh dengan nada suara yang semakin tinggi, memperdebatkan dan merapatkan tentang siapa di antara mereka yang paling berhak mewarisi istri bekas sekutu mereka itu.

Kepastian sudah harus segera didapat: siapakah di antara kita yang sudah boleh menghunjamkan kelambit tegak terhunus ke celah sempit di antara dua gelembung lembut bika Eropa yang mungkin begitu empuk? Dalam arti kata, ke dalam pelukan siapa akhirnya perempuan itu berlabuh? Sekalipun Sultan ialah pemimpin yang ditinggikan di antara sepuluh datuk lain, “Tapi bukan berarti hak atas seorang istri dari sekutu kita yang paling tepercaya otomatis jatuh ke tangan Baginda,” kata salah seorang di antara mereka.

Jika pun belum ada keputusan didapat tentang kepada siapa gelenyai daging merah muda rusa betina berjumbai pirang itu jatuh, setidak-tidaknya sudah dapat diketahui bahwa “Setiap kita, datuk-datuk dari sepuluh buah bandar ini, sama-sama punya peluang untuk memperoleh apa pun yang telah ditinggalkan di tanah kita sendiri!” kata datuk yang lain. Tentang siapa yang akhirnya beruntung, “Tinggal memastikan saja melalui sebuah sayembara,” begitulah keputusan akhir yang disetujui bersama hasil dari sengitnya perdebatan di balairung Sultan.

Ketika keputusan itu dibuat, Sultan Raja Baginda tampak khawatir. Kelambit pendek dan kurusnya, bisakah memberi arti, bagi bekas lubang tambang emas yang telah dimasuki kelamin gajah?

***

Ida Belle tidak bangkit dari tidurnya nyaris sudah tujuh hari tujuh malam jika saja seorang dukun perempuan dengan wajah buruk rupa dan setengah mengerikan tidak datang ke biliknya untuk memberinya sejumput daun ketapang muda dicampur seiris pinang kering dan segaris sadah yang sudah dilumatkan di atasnya.

“Kunyah, kunyah, Nyonya, dan telan airnya!” perintah perempuan tua itu.

Tuan Kempen, yang duduk bertegak siku di samping Si Nyonya Muda, mengisyaratkan dengan tangannya dan sedikit lirikan tegas pada mata untuk mengatakan kepada istrinya yang penuh ragu itu, “Tidak apa, Sayang. Tak perlu curiga. Telan saja, telan!”

Tinggam di bandar-badar pesisir barat bagian selatan itu memang tajam. Sudah jadi rahasia umum belaka upas dan racun jadi senjata yang ampuh untuk mencelakai lawan. Tapi, dukun itu dikirim oleh sekutu yang paling setia yang tidak mungkin berkhianat dengan menebar celaka kepada Istri Tuan Besar yang telah banyak membantu perang-perang mereka. Dikirim langsung dari istana Sultan yang mengepalai sepuluh bandar, yang telah menghibahkan Kompeni sebuah pulau kecil di lepas laut mereka, tempat di mana Kompeni kemudian membangun benteng dan pelabuhan di situ, dan menjalankan perdagangan atas emas dan merica di kawasan.

Nyonya Ida belum banyak tahu kosakata Melayu. Catatan kecil berisi kumpulan kata-kata sulit yang dibawanya tidak banyak menolong. Seiring dengan pergaulan kita dengan pribumi akan membuat lidah terbisa, kata Tuan Besar Kempen, mencoba menjinakkan kegusaran hati istrinya itu ketika ia mengeluh tentang lidah Eropanya yang payah beradaptasi. Seorang Nyonya yang terbiasa menghabiskan hari merenda di rumah yang sejuk bercerobong asap nun di negeri dingin yang jauh harus mendatangi negeri kepulauan tropis dengan pantai-pantai penuh hama dengan cuaca berdengkang-panas yang bisa saja menanggalkan kulit pucat Eropa-nya bagai menanggalkan daun pembungkus lepat. Berbagai penyakit juga telah mengirim begitu banyak orang sebangsanya ke neraka ajal tak bertepi. Semua itu berputar-putar sebagai angin ribut kecemasan dalam dirinya.

Bayangan akan itu membuat Ida Belle gusar berminggu-minggu sebelum kapal benar-benar berangkat membawanya ke Timur ini. Begitulah pada awalnya. Ketika sauh pada kapal akhirnya diangkat, Nyonya Ida dikebat rasa khawatir yang lebih parah lagi. Memikirkan berat pelayaran yang akan dihadang di depan, berminggu bahkan mungkin berbulan menyisiri pantai Afrika terus ke arah selatan hingga sampai di Tanjung Harapan, lalu memudiki Laut Pasifik yang penuh monster ganas seperti dalam novel-novel pelancongan, telah membuat Nyonya Ida setiap satu jam sekali harus ke kamar kecil di ujung anjungan untuk buang air. Baik bayangan akan beratnya pelayaran yang senantiasa diintai bronkitis dan diare maupun deraan iklim yang asing di negeri asing yang akan dijumpai dengan berbagai penyakit lain yang tidak kalah mematikannya, sungguh siksaan dahsyat dalam pikiran Nyonya Ida yang tidak biasa terhadap kondisi-kondisi yang berat.

Tapi, Tuan Besar Kempen yang lembut dan penuh cinta telah membuat Ida Belle lebih tabah dan berani dari yang bisa dibayangkannya sendiri menjalani pelayaran itu. Pada akhirnya, kapal bagai dunia kecil yang menyenangkan belaka baginya, ketika segala yang di darat menjadi tak ada, hilang lindap dari pikiran. Yang ada hanya keluasan yang kosong, kehampaan laut yang tanpa batas, begitu menenteramkan dan menenangkan.

Dan kini, ia telah berada di sini, di sebuah pulau kecil antah-berantah di lepas pantai asing. Walaupun tergolek tak berdaya hampir sepekan, di bilik pengap dalam sebuah benteng kecil di pulau kecil milik perusahaan dagang di mana suaminya mengabdikan diri sebagai pemimpin segerombolan pegawai dan seregu tentara pemburu rempah dan logam mulia, Ida Belle telah mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ucapan suaminya benar adanya: “Cinta akan menguatkan apa saja yang memang perlu dikuatkannya, Sayang!” Setidak-tidaknya, kepada suaminya, ia telah pula berhasil membuktikan bahwa dirinya merupakan perempuan Eropa tangguh yang siap untuk menemani Tuan Besar Kempen dalam bertugas ke mana pun, bahkan ke benua di tepi langit terjauh sekalipun.

***

Tidak sampai satu musim pergisiran angin Ida Belle mendampingi suaminya di situ, pada suatu subuh yang celaka pulau itu telah saja dibombardir musuh dengan kekuatan penuh.

Pulau itu sesungguhnya salah satu pangkalan dagang terbaik dan teraman yang dimiliki Kompeni di Sumatera, di mana kapal-kapal aman terikat pada sauh di dermaganya yang tertutup dari hempasan samudra, dikawal dengan 16 pucuk meriam, diawaki oleh sebelas tentara Eropa dan tujuh tentara pribumi.

Namun, semua itu tidak berarti apa-apa ketika sebuah skuadron Inggris yang berangkat dari Bengkulen telah menyisir pesisir ke arah utara dan sampai pada seminggu kemudian di lepas pantai pesisir pulau kecil itu. Begitu Inggris mendekati dermaga, Kempen telah mereka tipu lewat cara yang cerdik: para penyerang memasangi kapal-kapal mereka dengan bendera Prancis dan Belanda, dan ketika pemimpin pulau itu menemui mereka di dermaga sebagai menemui sahabat yang singgah karena kebetulan lewat, para penyerang itu menawannya, menawan seluruh pegawainya, dan melucuti seluruh senjata pengawalnya.

Armada laut Inggris itu lalu menurunkan serdadu dan meriam dari atas kapal-kapal serta mulai membombardir benteng; membakari apa yang bisa dilahap api tanpa perlawanan yang berarti karena serdadu-serdadu VOC di situ telah terlalu banyak minum tuak dan tidak punya semangat berperang lagi.

Semua pegawai Eropa, sipil maupun militer, dijanjikan tidak akan dibunuh atau dicelakai, tetapi dijadikan tawanan perang dan akan dipindahkan ke Inggris.

Kempen jadi bernasib malang, ia mulai memimpin pulau itu di masa kejayaan perdagangan rempah, tetapi berakhir sebagai tawanan di bawah armada laut Inggris.

Ketika suaminya dinaikkan sebagai tawanan ke kapal Inggris, perasaan cinta yang menghambur tajam di dalam jiwanyalah yang membuat Ida Belle meronta-ronta untuk ikut serta dengan Tuan Besar Kempen ke penjara mana pun dia dibawa, sekalipun dengan bayangan akan mendapat perlakuan yang sama dengan seluruh serdadu dan budak yang ditawan.

Tapi, alih-alih begitu, Nyonya Ida justru dilemparkan ke atas perahu pribumi.

***

Iring-iringan kapal Inggris terus menjauh dari pulau itu, menjurus ke selatan, menyisir pantai itu ke arah Bengkulan kembali. Sedang perahu yang membawa Nyonya Ida didayung pelan menuju ke arah yang agak sebaliknya, menyisir tenang ombak teluk menuju ke garis pantai di daratan besar yang tampak di ujung pandangan.

Tak berapa lama diayun-ayun ombak teluk yang nyaris tenang, perahu itu lantas menepi di pinggir pantai di bibir muara sungai. Buaya-buaya sedang berjemur di celah-celah kaki bakau. Arah ke daratan, yang berbatas dengan barisan bukit di belakangnya, sebuah istana megah dari kayu tersadai pada ketinggian batu karang di tengah-tengah delta sungai. Di latar belakangnya, lekuk-lekuk perbukitan terlihat memerah. Pohon-pohon lada sedang berbunga. Panen raya hanya tinggal menghitung hari.

Dari anjungan istana, tampak Sultan Raja Baginda berdiri dengan cangklong berasap di antara cerah bibirnya. Kepundan-kepundan bekas penyakit ketumbuhan entah cacar gorila entah cacar biawak dari masa kecilnya terlihat menonjol pada wajahnya. Dari kejauhan, bekas-bekasnya itu memang tidak begitu terlihat. Tetapi pada jarak dua depa, lubang-lubang itu bagai meninggalkan cacat yang abadi di situ. Sedang, ukiran barisan itik pulang senja pada pembatas anjungan memancarkan pantulan cahaya petang dari arah pantai yang sebentar lagi membenamkan matahari ke dalam pelukan samudra. Samudra Hindia yang terkangkang di depan mata. Laut berombak kecil-kecil saja. Tapi ombak di hati Sultan sedang mengamuk bagai badai menjelang akhir musim barat yang gawat.

“Suruh Mahamantri menghadap!” suara Sultan terdengar gusar.

Mata-matanya telah mengecek nyaris semua kedai makan dan warung kopi di sepanjang jalan kerajaan. Dia juga sudah mengecek setiap tepian dan tempat mandi melalui pesuruh-pesuruhnya. Tak ada informasi apa pun yang telah tersebar. Padahal sayembara akan berlangsung hanya dalam hitungan hari.

Ia mengontak pangeran dari Bandar Pungkasan untuk memastikan, dan menerima jawaban yang menjengkelkan, “Mohon ampun, undangan belum kami terima, Baginda Sultan!”

Ia juga sudah menghubungi pangeran dari Sungai Tunu, dan mendapati jawaban bernada kebingungan, “Walah, kenapa tidak diinformasikan jauh-jauh hari, Baginda, biar kami bisa mempersiapkan kontingen kami dengan lebih baik?”

Pangeran-pangeran dari Taratak, Surantih, Lakitan, Pelangai, dan bandar-bandar lain yang tergabung dalam Syarikat Sepuluh Bandar itu juga memberi jawaban dengan nada keheranan yang lebih-kurang mirip.

Padahal sudah lewat tiga hari dari rapat istana terakhir dilangsungkan yang melahirkan suatu keputusan yang sudah harus dikebut: sayembara harus disegerakan jika tidak hendak perang antarbandar pecah.

Sekarang yang tertinggal ialah kecurigaan, yang semata ditujukan kepadanya: jangan-jangan Sultan tengah mengatur agar dirinya sendiri keluar sebagai pemenang. Jangan-jangan Sultan telah lebih dulu menyorongkan biduknya ke kuala Janda Tuan Kempen itu.

Ya, janda, dengan perkiraan bahwa Tuan Kempen telah mati digantung dalam benteng Inggris di Bengkulen.

***

Kerbau-kerbau paling besar telah datang dari berbagai kandang pangeran. Tak ada kerbau kecil haus-lapar dengan tanduk besi, itu hanya ada dalam mitologi. Ini sayembara adu kerbau yang sebenarnya, jadi mesti seimbang dalam bobot dan ukuran. Ini ialah pertarungan sarat gengsi.

Datuk-datuk dari sepuluh buah bandar itu tidak saja sedang memperebutkan seorang janda. Apalah arti seorang janda jika beribu gadis-gadis muda dan molek tersedia bagi mereka? Ini juga bukan soal badan dan kecantikan. Ini soal wibawa masing-masing datuk yang sedang dipertaruhkan. Poster-poster dibuat sebelum hari pertandingan, umbul-umbul dan berbagai spanduk telah dipasang di berbagai sudut ibu kota kerajaan, seakan-akan seluruh kesultanan sedang bersiap menghelat pesta panen raya yang akbar.

Tidakkah ini semacam persiapan menuju pemilihan raja, sultan yang akan memimpin aliansi sepuluh buah bandar yang masing-masing bandar dipimpin seorang datuk? Ancang-ancang untuk menuju pertarungan yang lebih sengit di antara sepuluh orang datuk besar itu. Pemilihan raja memang masih cukup lama, sekira masih empat musim panen di muka. Tapi pertarungan adu kerbau ini akan dapat memetakan kekuatan pendukung masing-masing datuk, dan juga di sisi lain untuk menjaring pendukung-pendukung baru bagi siapa yang berhasil keluar sebagai pemenang.

Tapi desas-desus justru menyebar lebih cepat dari angin. Isu-isu tentang kecurangan pihak Sultan telah menyebar di antara kontingen para datuk itu.

***

Barisan pasukan meriam memasuki halaman istana dan memuntahkan habis seluruh pelurunya ke tengah-tengah balairung. Sultan baru akan memutar nomor telepon resmi istana untuk menginstruksikan penambahan pasukan ketika sebuah peluru menghantam meja kerjanya, pecahan-pecahannya mengenai keningnya dan membuat luka kecil di situ, darah mengalir hingga ke pelipis sedikit menghalangi penglihatan Sultan.

Para hulubalang istana kocar-kacir di tengah hujan peluru meriam. Pasukan pengawal Sultan itu segera melarikan tuannya ke pintu rahasia di sisi kiri kamar kerjanya, memasuki lorong gelap yang sempit, dan suara napas Sultan menggema pelan ke segala sisi lorong.

Ketika mereka hampir sampai di ujung lorong itu, terbentanglah laut biru dengan langit yang juga biru. Tak ada cacat pada langit ketika itu, biru sempurna, tanpa arsiran-arsiran awan membayang sedikit pun. Pincalang mungkin telah disiapkan pengawal, telah tersadai saja di situ, tersadai pada putih pasir teluk yang hangat.

Siapakah di antara datuk-datuk dari sepuluh buah bandar itu yang telah mengkudetanya? Tidak terpikirkan olehnya saat itu. Dengan kekecewaan yang tak dapat disembunyikan, Sultan masih dapat menatap dari kejauhan, di atas perahu yang melarikannya ke tengah laut lepas, istananya yang pelan-pelan ambruk dimakan api, seperti ambruknya harapan untuk kembali lagi? ***

.

.

Pandai Sikek, 2023.

Deddy Arsya merupakan penulis sastra dan sejarah. Tinggal di Sumatera Barat. Buku mutakhirnya berjudul Merengkuh Djaman Kemajoean: Dinamika Modernitas Kota Kecil (2022).

.
Berebut Janda Kempen. Berebut Janda Kempen. Berebut Janda Kempen. Berebut Janda Kempen. Berebut Janda Kempen. Berebut Janda Kempen.
Arsip Cerpen di Indonesia