Celakanya Pohon Warisan

Cerpen Septri Ledian Lanis (Singgalang, 28 Juli 2024)

KERINGAT menetes di dahinya, jantungnya berdegup semakin kencang. Sudah seperti kelelahan sehabis berolah raga saja ia, padahal perang batinlah yang sedang ia lakoni.

Gentar hatinya, tapi ia tahan-tahan juga rasa itu. Haruslah ia berani, tak boleh ada kata menyerah. Melunak saja ia sedikit, sudah pasti akan binasa pohon itu. Pohon warisan yang sudah terjaga berbilang generasi keluarganya.

Tak terkira malu yang harus ia tanggung jika pohon itu binasa saat ia yang menjaga. Tak mau ia dinilai sebagai genera si paling lemah. Enggan ia di nilai tak punya daya untuk sekedar menjaga apa yang sudah ada. Ia harus bertahan. Ia harus kuat. Ini urusan harga diri. Ini urusan pembuktian diri.

“Jika saudara masih menolak pohon itu ditebang, bersiap-siap saja saudara dimusuhi warga sekampung sampai mati! Apakah mau Saudara?! Apakah sanggup Saudara?! Sudahlah, tak akan mampu, Saudara!” Lagi-lagi pria uzur itu menggertak, mengancamn ya. Pria itu, kepala desa, tetua adat kampung itu pula.

Entah sudah berapa kali ancaman serupa itu ia terima. Bukan hanya dari kepala desa, tapi juga dari orang-orang kampung, mulai dari yang bertahta, berharta, bahkan orang yang biasa-biasa saja.

Kali ini makin gentar ia mendengar ancaman itu. Bagaimana tidak, kepala desa sampai membawa staf-staf balai desa yang penampakannya seperti algojo.

Jangankan mau membela diri seperti biasa, sekedar berkata sepatah dua patah kata pun ia tak sanggup. Kelu lidahnya terasa. Otaknya hanya berisi ketakutan. Ia terlampau bingung untuk berkata apalagi berbuat, selain hanya bisa melawan diri sendiri untuk tak takluk pada rasa takut.

“Kau dengar tidak, Miun?!” hardik kepala desa itu lagi. Serasa lepas nyawa Miun saking terkejut dan takut. Ia rasakan dirinya gemetaran.

Ia tentulah gentar tiap kali diancam-ancam. Sungguh ia teramat tahu diri, apalah ia selain hanya orang miskin, tak berjabatan, tak berkekayaan, tak pula bergelar pendididikan. Ia hanyalah petani, itu pun hanya mengolah sawah milik orang. Demi upah tak seberapa itu, ia bekerja saban hari, agar keluarganya bisa hidup.

“Mau berapa lama lagi kau diam, Miun?! Sudah lama aku beri kau waktu. Nanti sore akan kusuruh orang menebang pohon itu! Terserah kau mau mengamuk sampai mati pingsan. Sudah habis sabarku!” kepala desa itu memuntahkan kemarahan, kemudian pergi diiringi para algojonya.

Ah, lelaki bertahta itu kali ini datang serupa tukang tagih hutang. Enggan masuk ke rumahnya, marah-marah di depan daun pintu, lalu pergi tanpa menghabiskan banyak waktu.

Sekarang hanya ada Miun yang langsung terduduk di lantai rumahnya. Semakin ia merasa beratnya beban yang harus ia pikul karena pohon itu. Stres tak tanggung ia rasakan. Pohon itu akan ditebang. Itulah kalimat yang ia berdetantang-dentang di dalam kepalanya.

Apa yang harus ia lakukan?

Miun sebenarnya sudah mengerahkan banyak upaya. Bahkan upaya yang sebenarnya tak pernah ia tahu bisa ia tempuh. Ia meminta bantuan LSM demi mendapat pendampingan hukum. Awalnya, mana ia tahu soal itu, salah seorang warga yang baru pindah dari kotalah yang menyorong-nyorongkan ide itu padanya.

Sungguh ia merasa cara itu akan ampuh dan pohon tersebut masih akan tetap berdiri kokoh di depan rumahnya. Bagaimana tidak ia berpikir begitu? Toh, lulusan sarjana hukum dari LSM itu orang-orang cerdas. Ia bahkan sudah banyak tahu dari mereka, tentang hak warga, hak untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya, apalagi yang diwariskan turun temurun. Bahkan juga tentang hukum, tentang pasal-pasal.

Sudah ke mana-mana ia didampingi para pemuda-pemuda hebat dari LSM itu. Telah pula ia melapor ke kepolisian. Ah, teringat ia betapa saat itu pertama kali ia berurusan dengan polisi. Pertama ia merasa deg-degan alang kepalang, kemudian ia merasakan dirinya gagah. Ia merasa sebagai orang berani, orang hebat.

Bahkan telah sampai pula ia ke gedung dewan. Ia meminta perlindungan pada para dewan yang terhormat, menyampaikan aspirasi. Aspirasi, kata itu pun baru pertama kali ia dengar. Berada di gedung mewah dewan itu pun baru pertama kali, tangannya yang biasanya hanya menggenggam rumput, tanah dan cangkul telah berjabat pula dengan para pejabat. Betapa ia merasa dengan segala pencapaian itu, pohon itu tidak akan jadi ditebang.

Tapi sekarang keyakinan Miun bahwa cara-cara itu akan berhasil, runtuh. Sampai searang upaya itu belum juga menampakkan hasil.

Belum lagi para tetangganya di kampung sudah menjauhin ya, memusuhi. Kata mereka, Miun menghalang-halangi kemajuan kampung. Ia malah disebut pelit karena enggan menebang hanya sekedar pohon. Sementara para tetangga malah rela memberikan tanah.

Ah, sekedar pohon kata mereka, tak mengerti juga mereka betapa pohon itu pohon warisan. Pohon keramat pula. Bisa kuwalat ia nanti jika pohon itu ia biarkan binasa.

“Sudahlah, biar sajalah pohon itu ditebang, Pak. Apa tak lelah kau melawan? Aku tak mau lagi hidup tak tenang. Sudah berbulan-bulan kita diancam-ancam. Aku tak sanggup lagi dimusuhi tetangga. Tak kasihan kau padaku, pada anak-anakmu?” istrinya menghampiri setelah keluar dari kamar.

Istrinya itu selalu bersembunyi tiap ada yang datang mengancam-ancam. Miun maklum, sebab ia sendiri saja teramat takut. Tapi ia tak pernah bisa maklum tiap kali istrinya meminta berhenti mempertahankan pohon itu. Sedih hati Miun tiap kali mendengarnya.

Hanya dirinya sendiri saja yang paham betapa pohon itu tak boleh ditebang.

Pohon itu sudah berabad usianya. Sudah sejak teramat lama ada di depan rumah warisan leluhur Miun. Rumah yang sekarang ia tempati bersama keluarga kecilnya.

Dari cerita turun temurun ia sudah lama tahu bahwa pohon itu bukanlah pohon biasa. Makanya pohon itu diwariskan untuk dilindungi.

Konon, pohon itu melindungi keluarganya turun temurun agar tetap punya rezeki, walaupun pas-pasan tapi tak pernah kekurangan sampai tak bisa makan dan harus berhutang. Bahkan keluarga Miun tak pernah kekurangan rezeki air saat kemarau panjang. Padahal tetangga di sekitar sana sudah pusing kehabisan air. Sungguh pohon itu memang pohon penjaga rezeki.

Pernah ada paman Miun yang kuwalat karena berencana menebang pohon itu. Mendadak saja ia sakit stroke, mulutnya yang biasanya pedas dan pas pis pus mengeluarkan asap rokok itu pencong. Bertahun-tahun lamanya paman Miun tak bisa bicara jelas selain gumaman yang alangkah susahnya dimengerti. Sampai sang paman meninggal, keadaannya terus seperti itu.

Seorang paman lainnya yang juga sempat tak percaya pada kekeramatan pohon itu. Ingin ditebangnyan pohon itu. Belum sempat si paman melakukan apa-apa, sudah kuwalat saja ia. Istrinya yang lagi hamil keguguran sepulang dari pasar beli bahan makanan sendirian. Sampai akhir hayat kedua suami istri tak dikaruniai keturunan.

Miun tak mau dirinya kuwalat seperti paman-pamannya itu. Betapa pula ia tak mau tiba-tiba rezekinya mampet. Sekarang saja ia sudah hidup bukan lagi sekedar sederhana, tapi pas-pasan. Bagaimana nanti kalau si pohon tak lagi mengamankan rezekinya? Bisa-bisa ia tak makan. Ia juga tak mau seperti keluarga lain yang harus jauh-jauh mencari air bila kemarau datang.

Nah, sekarang pohon itu mau ditebang. Demi pembangunanlah mereka menyebutnya. Mau dibangun saluran iri gasilah katanya, demi mengalirkan ke sawah-sawah orang-orang itu. Kurang ajar benar, pikir Miun. Betapa egoisnya orang-orang itu.

Di kampung itu memang banyak sawah. Ke mana-mana memandang ada saja sawah. Berhektare-hektare luasnya jika dihitung hingga seluruh kecamatan, bahkan sekota, kota lumbung padilah sebutannya.

Tapi keluarga Miun tak pernah punya sawah di sana. Tak sedikit pun, bahkan walau hanya sepetak dua petak saja pun tak ada. Mereka hanya keluarga keturunan buruh tani, hidup dari mengerjakan sawah orang dari generasi ke generasi.

Entah bagaimana ceritanya, mereka tak pernah punya sawah. Kabar-kabarnya sawah hanya punya para tetua adat, lalu dibagi-bagikan pada karib kerabat dan sahabat dekat.

Dari dulu Miun kesal pada para tetua adat, bagaimana bisa keluarganya dari dulu tak pernah kebagian sawah? Sekarang malah dipaksa pula berkorban demi sawah itu. Di paksa menebang pohon dan mengundang takdir buruk. Sungguh benar-benar tak boleh dibiarkan! Maki Miun dalam hati.

Sekarang teramat pusing benar kepala Miun. Modar mandir ia di rumahnya yang sempit itu. Tak sabar hatinya menunggu kedatangan para pemuda LSM itu dari kota. Tadi sudah ia telpon mereka, katanya akan bergegas datang.

Tiap ada mobil melintas, Miun selalu berharap para pemuda LSM itulah yang tiba. Namun seacap apa pun ia berharap, seacap itu pula ia kecewa. Semakin lama, semakin tak sabar saja ia. Dadanya terasa sesak, ia merasa ingin berlari ke kota menjemput para pemuda LSM itu.

Hari sudah beranjak sore. Miun semakin was-was. Semakin cemas karena hujan lebat berpetir-petir. Kenapa pula harus hujan sekarang. Mungkin itulah pula yang menyebabkan para pemuda LSM itu tak kunjung sampai ke rumahnya.

Mungkin saja mobil mereka terpaksa melaju pelan karena takut tergelincir tersebab jalan licin karena hujan. Apakah di hulu kampung telah pula ada air tergenang di jalanan, sehingga tak bisa mereka lewat? Ah, tapi hujan masih belum terlalu lama, sepertinya belum banjir, pikir Miun.

Ingat tentang banjir, amarah Miun kembali meradang. Kata kepala desa itu, banjir akan selalu terjadi jika saluran irigasi tak juga dibangun. Dan Miun jualah yang disebut-sebut sebagai penghambat pembangunan penangkal banjir. Geram benar Miun, mengapa selalu ia yang disalahkan? Orang-orang hanya benci pada dirinya, makanya selalu ia disalahkan.

Sekarang malah Miun yang teramat membenci semua orang, bahkan juga pada istrinya yang semakin sering ikut memaksa.

Tak tahan karena geram dan tak kuat lagi bersabar, Miun pun menyambar payung dan bergegas pergi ke persimpangan jalan, mungkin di sana ia akan lebih bisa bersabar menunggu kedatangan para pemuda LSM itu.

Sungguh di dalam benaknya tak ada solusi lain selain meminta pertolongan mereka. Setidaknya ada yang membantunya menghalangi pohon itu ditebang.

Terburu-buru Miun melangkahkan kakinya menuju persimpangan jalan yang ia tuju itu. Tak gentar ia mendengar berkali-kali petir menyala di langit. Hujan deras tak ia hiraukan. Sesekali payungnya hampir terbawa angin, namun cepat-cepat pula ia genggam lebih erat. Ia harus bergegas. Ia harus menyelamatkan pohon itu.

Sungguh ia tak mau kualat dan akhirnya hidup menderita. Pohon itu harus tetap kokoh berdiri di depan rumahnya. Harus. Tak boleh ada yang menebangnya, tidak sore ini, tidak pula selagi ia masih hidup. Bahkan hingga keturunan bergenerasi sesudahnya. Tidak boleh! jerit hati Miun berkali kali.

Namun tiba-tiba Miun terperanjat, petir besar menghujam langit kampung itu. Ada suara orang-orang berteriak. Jantung Miun terasa sesaat berhenti berdetak. Ia tergerak untuk berlari pulang menuju rumahnya.

Kakinya terus berlari, seraya ia bertanya-tanya dalam hati: mengapa ada asap?

Langkah Miun berhenti saat terlihat pohon warisan itu terbakar karena sambaran petir, tumbang menimpa rumahnya yang sederhana. Api juga terlihat dari arah dapur yang lotengnyo sudah ambruk. Miun ingat tadi istrinya sedang memasak. Sekarang tubuh Miun yang ikut ambruk terduduk di jalanan. Ia lihat istrinya berteriak-teriak di pekarangan rumah, meraung-raung memanggil nama anak mereka.

Miun merasa sekujur tubuhnya lunglai. Pohon itu tumbang. Pohon warisan itu binasa. Sekarang sudah kuwalatlah dirinya. Takdir buruk akan mulai berdatangan. Miun merasa tubuhnya lunglai, ia merasa tak berdaya. Tubuhnya yang terduduk di kubangan tanah basah tak ia hiraukan. Hujan ia rasakan semakin lebat.

Miun merasa nelangsa. Miun histeris, ia berteriak-teriak, melolong serupa serigala tengah malam. Kepedihan hatinya, kemarahannya ia limpahkan demikian rupa.

Miun bisa melihat istrinya lebih histeris daripada dirinya. Perempuan itu masih meraung-raung memanggil anak mereka, Hanif. Kenapa pula Hanif?

Namun Miun tidak mau berpikir, ia tidak mampu berpikir. Takdir buruk itu sudah dimulai. Miun tidak bisa berpikir. Ia sadari hidupnya sudah gelap, takdir hidupnya akan gelap. Pandangan Miun menggelap, tubuhnya kehilangan tenaga, Miun terkapar. Ia tak sadarkan diri.

Di hulu kampung, air menggenang semakin tinggi. ***

.
Celakanya Pohon Warisan. Celakanya Pohon Warisan. Celakanya Pohon Warisan. Celakanya Pohon Warisan. Celakanya Pohon Warisan. Celakanya Pohon Warisan. 
Arsip Cerpen di Indonesia