Kisah Seorang Adipati

Cerpen Zahro Rokhmawati (Radar Blitar, 28 Juli 2024)

AKU ingin menuliskan kisahku selama aku berkesempatan untuk hidup. Nyatanya kehidupanku tampaknya takkan bertahan lama. Bisa jadi hitungan hari bahkan hitungan jam. Maka dari itu aku sempatkan menuliskan ini. Di sebuah daun lontar kering, kutuliskan seadanya dan semampuku. Dengan harapan ibuku akan tahu, bahwa sebenarnya aku telah memaafkannya sedari dulu. Jauh sebelum ibu memohon padaku untuk memaafkannya karena perbuatannya padaku di awal kelahiranku.

Bagaimana bisa aku tidak memaafkan ibuku sendiri. Meski dulu aku memang benar-benar sengaja diasingkan atau bahkan dibuang? Namun, nyatanya karena beliaulah aku bisa hidup sampai detik ini. Rindu yang bertahun-tahun kubendung akhirnya tumpah ruah di permukaan.

***

Dengan diselimuti awan mendung, seorang ibu berjalan menyusuri tepi sungai dengan penuh kegundahan hati. Belum sembuh sakit melahirkan bayi mungilnya yang rupawan tetapi ia terpaksa harus merelakannya untuk membuangnya. Dialah Dewi Kunti.

“Nak…. Maafkan ibu, maafkan ibu yang melepasmu. Ibu hanya berharap kau bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ibu juga yakin kau akan menjadi kebanggaan akan kekuatanmu suatu saat nanti,” ucap Dewi Kunti sembari menangis melepas putra yang baru saja ia lahirkan itu.

Di dalam sebuah kotak, bayi kecil yang malang itu menyusuri sungai Aswa seorang diri. Bayi itu tampak tenang dan tidak menangis. Kegigihannya melawan dunia sudah terbentuk sejak ia dilepaskan begitu saja oleh ibu kandungnya sendiri.

Malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Sesosok lelaki paruh baya dengan ditemani seekor kuda yang gagah mendengar suara tangisan bayi. Sesosok lelaki paruh baya itu bernama Adirata, seorang kusir yang penyayang. Ia melewati sungai untuk pulang setelah seharian berkelana dengan kuda kesayangannya. Setelah mendengar suara tangisan bayi dengan seksama dan ia mulai mengamati di mana keberadaan bayi tersebut, akhirnya Adirata menemukan sebuah kotak yang berisi sesosok bayi malang yang terombang ambing di sungai. Dengan sigap, Adirata langsung menceburkan diri ke sungai dan mengambil bayi malang itu dengan hati-hati.

“Bagaimana bisa kau seorang diri menyusuri sungai ini wahai bayi mungil yang malang?” tanya Adirata dengan tampak berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka bisa menemukan bayi mungil di sebuah sungai sendirian. Akhirnya ia memutuskan untuk bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, Adirata memanggil istrinya untuk segera melihat apa yang ia bawa. Istri Adirata tampak bahagia saat melihat suaminya membawa seorang bayi yang tampan. Mereka pun segera menyiapkan tempat yang paling nyaman untuk bayi malang itu. Adirata dan istrinya dengan semangat menyiapkan kain yang paling lembut yang ia punyai. Beruntungnya Adirata dan istrinya tahu bagaimana merawat bayi meski mereka belum pernah memiliki bayi sendiri.

“Semoga kau senang tinggal bersamaku, Nak. Semoga kelak kau menjadi kesatria yang tangguh.” Begitulah doa yang Adirata dan istrinya panjatkan untuk bayi mungil yang ia temukan itu. Mereka pun menamainya Basusena.

***

“Nak, maafkan ibu… maafkan ibu yang sengaja meninggalkanmu seorang diri kala itu. Sampai kau beranjak dewasa pun semua atas usahamu sendiri,” ucap seorang wanita yang ternyata ibu kandungku bernama Dewi Kunti. Ia berusaha bersimpuh padaku. Dengan sigap kucegah ia melakukan hal itu. Jelas aku menjadi anak durhaka kalau kubiarkan ia bersimpuh padaku yang nyatanya aku adalah putranya

Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Kelu. Inginku marah dan kecewa. Namun, semua sudah terjadi. Tak bisa kuulur waktu tuk meminta ibu tak membuangku saat itu.

Aku pun akhirnya meninggalkan ibuku seorang diri. Kubiarkan dia mencekam kesunyian sembari menunggu jawaban maaf dariku.

***

Hari-hari Basusena dilalui dengan penuh kasih sayang bersama kedua orang tua angkatnya. Basusena kecil sama sekali tidak pernah merepotkan Adirata dan istrinya. Tentu Adirata semakin menyayangi anak angkatnya itu. Belum lagi semenjak kehadiran Basusena, istri Adirata yang awalnya sudah lama belum memiliki keturunan akhirnya mengandung buah hatinya yang selama ini mereka idam-idamkan.

“Nak, apa yang ingin kau lakukan jika dewasa nanti?” tanya Adirata pada Basusena.

“Aku ingin menjadi kesatria yang tangguh, ayah!” jawab Basusena lantang.

“Tetapi, ayah hanya seorang kusir. Apakah kau tidak malu memiliki seorang ayah kusir?”

“Tentu tidak sama sekali, Ayah. Ayah tetap menjadi ayah kebanggaanku!”

Jawaban lantang Basusena membuat hati Adirata terkoyak. Bukan ia tak bahagia memiliki anak angkat yang menerimanya apa adanya. Namun, ia tampak tak mampu untuk berlama-lama menutupi siapa sebenarnya Basusena. Adirata ingin Basusena mengetahui jati diri dan asal muasalnya.

Tahun demi tahun berlalu, Adirata akhirnya merasa sudah cukup waktunya untuk memberitahukan yang sebenarnya terjadi pada Basusena, anak angkat kesayangannya itu. Ia merasa sangat yakin bahwa Basusena adalah keturunan kesatria. Bukan tanpa sebab keyakinannya itu muncul, saat Basusena berusia enam belas tahun, Adirata membelikan sebuah kereta dan kuda untuk Basusena, tetapi ia menolaknya. Basusena lebih berminat pada ilmu perang dan panah. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menjadi kusir seperti dirinya.

Hingga pada saatnya Adirata berbicara dari hati ke hati pada Basusena. Suara sumbang yang keluar dari Adirata tak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya. “Anakku… kau saat ini sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya. Maafkan ayah jika kau berpikir ayah terlambat menceritakan ini semua kepadamu,” ucap Adirata dengan raut wajah yang tampak sedih.

***

Aku ingin mengucap banyak terima kasih kepada kedua orang tua angkatku. Mereka yang telah bersedia merawatku, di mana ibuku sendiri yang membuangku. Meski banyak penolakan yang kualami saat aku ingin mempelajari banyak hal tentang peperangan, tetapi karena beliau berdualah aku bisa bertahan sampai saat ini. Itu semua karena kasih sayang yang mereka curahkan semata mata untukku seorang.

Masih teringat dalam benakku di saat aku masih kecil, mereka berdua tak henti-hentinya memujiku saat aku bisa melakukan sesuatu yang mereka anggap luar biasa. Mereka menaruh harapan sangat besar padaku. Aku juga masih merasa sangat bersalah ketika ayahku membelikanku sebuah kereta dan seekor kuda, tetapi aku menolaknya. Aku bersikukuh tidak mau mengikuti jejak ayah angkatku untuk menjadi seorang kusir.

***

“Pergilah, Nak. Ayah yakin kau akan menjadi kesatria hebat,” ucap Adirata pada Basusena. Dengan menepuk-nepuk pundak anak angkat kesayangannya itu, ia tak kuasa menahan tangis.

Basusena pun bersimpuh pada ayah angkatnya yang selama ini telah menyayanginya dengan sepenuh hati. Ia merasa benar-benar berutang budi pada ayah dan ibu angkatnya itu. Ia hanya berharap suatu saat bisa membuat bangga kedua orang yang sangat berjasa di kehidupannya.

***

Teruntuk ibuku, Dewi Kunti. Aku telah memaafkanmu jauh sebelum kau memohon maaf padaku. Tak perlu kau bersimpuh padaku. Seharusnya akulah, anakmu yang bersimpuh padamu, ibuku. Izinkanku juga meminta maaf untuk tak bisa menuruti permintaanmu. Aku akan tetap bersama Kurawa sampai ajal menjemputku. ***

.

.

Zahro Rokhmawati. Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur.

.

.

MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Bilitar menerima kiriman cerpen dengan panjang maksimal 2.000 kata. Pengirim cerpen harap menyertakan biodata singkat, foto terbaru. Cerpen bisa dikirim ke: radarblitar@gmail.com

.
Kisah Seorang Adipati. Kisah Seorang Adipati. Kisah Seorang Adipati. Kisah Seorang Adipati.
Arsip Cerpen di Indonesia