Di Balik Lamin

Cerpen Ratna Puja Ningrum (Kaltim Post, 11 Mei 2025)

RAYA tidak pernah menyangka dirinya akan dikirim sejauh ini. Awalnya, ia hanya seorang arsitek muda yang bekerja di sebuah perusahaan restorasi bangunan bersejarah di Jakarta. Namun, ketika perusahaan mendapat proyek untuk merestorasi lamin tua di Kutai Barat, namanya tiba-tiba dimasukkan dalam daftar tim. Ia menerima tugas itu tanpa ragu, meskipun tidak tahu bahwa di tempat itu, ia akan menemukan lebih dari sekadar bangunan bersejarah.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, ia langsung merasa bahwa lamin ini lebih dari sekadar rumah panjang. Ia melihat bagaimana warga setempat masih menggunakannya untuk pertemuan, acara adat, dan berbagi cerita. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah seorang pria tinggi berkulit sawo matang dengan mata tajam. Warga memanggilnya Gatra.

Gatra tidak menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Lamin ini bukan sekadar bangunan, ini rumah leluhur kami, paham kah nuan?” ujarnya tegas. “Kalau cuma mau diganti dengan bangunan modern, lebih baik pulang jak.”

Raya menahan napas. “Aku tidak berniat mengubahnya,” jawabnya. “Aku hanya ingin memastikan lamin ini tetap berdiri, agar generasi berikutnya bisa melihat warisan budayamu.”

Gatra mendengus dan pergi begitu saja. Sejak hari itu, ia seperti bayangan gelap yang selalu mengawasi Raya dengan tatapan tajam dan penuh curiga. Namun, Raya tidak goyah. Setiap hari, setelah bekerja, ia mendatangi para tetua adat, mendengar kisah-kisah lama tentang lamin. Ia mulai memahami bahwa Lamin bukan hanya sekadar rumah, tetapi tempat berkumpul, berbagi cerita, dan merayakan kehidupan.

Suatu hari, terjadi insiden yang mengubah pandangan Gatra terhadap Raya.

Seorang pekerja yang membantu restorasi lamin mengalami kecelakaan kecil. Potongan kayu berat jatuh dan hampir mengenai seorang lelaki tua yang ikut membantu. Tanpa berpikir panjang, Raya langsung berlari dan menahan kayu itu dengan tangannya. Bebannya terlalu berat, membuat tubuhnya oleng dan jatuh tersungkur ke tanah. Tangannya terluka parah, tapi ia tidak mengeluh sedikit pun.

Gatra yang melihat kejadian itu segera menghampiri. Untuk pertama kalinya, ekspresinya bukan lagi dingin, tetapi khawatir.

“Kenapa nuan nekat begitu?” tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

Raya mengangkat wajahnya, matanya penuh tekad. “Aku tidak ingin ada yang terluka karena proyek ini. Aku juga sudah berjanji bukan, kalau aku akan mengusahakan apapun untuk lamin ini.”

“Nuan tunggu sebentar di sini.” Gatra berjalan tergesa-gesa untuk membawakan Raya kotak obat.

Selepas membawakan kotak obat dari rumahnya, Gatra mulai merawat Raya dengan hati-hati. Bahkan sesekali ia melirik ke arah Raya saat gadis itu meringis menahan sakit. Gatra merasa ada sesuatu yang mulai menjalar di hatinya. Entah, ia tidak dapat mengartikannya. Apakah itu rasa khawatir, takut, cemas atau lebih dari itu.

Sejak saat itu, ada yang berubah dalam sikap Gatra. Ia mulai diam-diam memperhatikan bagaimana Raya bekerja lebih keras dari yang lain. Tidak hanya sekadar mengawasi, Raya turun langsung ke lapangan, tangannya kotor oleh tanah dan keringat. Ia ikut mengangkat kayu, membersihkan ukiran lama, dan memastikan setiap detail tetap sesuai dengan nilai budaya setempat.

Suatu sore, saat sedang mengawasi pekerja yang memasang ulang pilar lamin, Gatra kembali menemukan sesuatu yang membuatnya semakin percaya pada Raya.

Ia berniat mencari Raya untuk membahas sesuatu, tapi langkahnya terhenti ketika melihat gadis itu di ruang belakang lamin.

Raya berdiri di atas sajadah kecil, tengah menunaikan salat. Peluh masih menetes dari dahinya, menunjukkan betapa keras ia bekerja hari itu. Namun, dalam keheningan ruangan itu, ia tampak begitu khusyuk, seakan menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk pekerjaannya.

Gatra terdiam di ambang pintu, tak ingin mengganggu. Matanya menatap lekat sosok Raya, yang selama ini ia kira hanya seorang pekerja kota yang datang dengan kepentingannya sendiri. Tapi sekarang, ia mulai sadar bahwa Raya benar-benar ingin menjaga lamin ini. Bukan hanya dengan pikirannya, tapi juga dengan hatinya.

Saat festival panen tiba, Raya duduk di bawah pohon dekat lamin, menikmati suara gendang dan alunan sampeq yang mengisi udara. Gatra datang dan duduk di sampingnya.

“Aku melihat usahamu,” kata Gatra pelan. “Nuan benar-benar ingin memahami lamin ini, bukan hanya memperbaikinya.”

Raya menoleh dan tersenyum. “Aku ingin memastikan lamin ini tetap hidup. Sama seperti bagaimana kamu menjaganya selama ini.”

Gatra menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk. “Mungkin aku terlalu cepat menghakimi nuan. Aku hanya takut ada yang merusak warisan ini. Tapi sekarang, aku percaya. Nuan tidak sejahat itu.”

Sejak malam itu, hubungan mereka mulai berubah. Gatra sering menemani Raya, menunjukkan ukiran-ukiran khas Dayak dan menjelaskan maknanya. Mereka bekerja bersama, tertawa, dan tanpa sadar, hati mereka mulai saling terikat.

Namun, cobaan datang. Suatu malam, salah satu warga tua menemukan ukiran lamin yang rusak karena kesalahan teknis pekerja. Isu mulai menyebar bahwa Raya tidak menghormati budaya setempat.

“Kita sudah mempercayainya, dan lihat apa yang terjadi!” seorang warga berseru.

Raya merasa hancur. Ia mencoba menjelaskan, tapi tidak ada yang mau mendengar. Gatra menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Aku tidak sengaja,” ucap Raya, suaranya bergetar. “Aku akan memperbaikinya, aku janji.”

Gatra menghela napas. “Aku tahu nuan tidak bermaksud buruk, tapi kepercayaan orang-orang di sini sulit didapatkan. Sekali rusak, susah untuk diperbaiki.”

Hati Raya semakin berat. Namun, ia tidak menyerah. Dengan bantuan Gatra, ia bekerja siang malam untuk memperbaiki ukiran yang rusak. Tetua adat akhirnya melihat ketulusan Raya, dan perlahan kepercayaan itu kembali.

Saat proyek restorasi hampir selesai, Raya menyadari sesuatu. Ia tidak hanya jatuh cinta pada lamin ini, tetapi juga pada seseorang yang begitu mencintai budayanya.

“Setelah proyek ini selesai, nuan akan pergi?” tanya Gatra di suatu senja.

Raya menghela napas. “Seharusnya begitu. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti menemukan rumah di sini.”

Gatra tersenyum, matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. “Kalau gitu, mungkin nuan bisa tinggal lebih lama. Setidaknya, sampai lamin ini benar-benar terasa seperti rumah untuk nuan.”

“Apa boleh?” Raya mencondongkan badannya ke arah Gatra sambil memasang senyum yang manis.

“Tentu saja boleh. Bahkan kalau nuan tidak ingin pulang, aku bisa temani nuan di sini.”

Raya tertawa, menyadari bahwa lamin ini bukan satu-satunya yang telah direstorasi. Hatinya juga telah menemukan tempatnya—di sini, di balik lamin yang kembali berdiri tegak, bersama seseorang yang akhirnya menerimanya dengan sepenuh hati. ***

.

.

Menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga menuangkan jiwa. Itulah yang selalu menjadi prinsip Ratna Puja Ningrum dalam berkarya. Dengan setiap cerita dan tulisan, ia berharap bisa menginspirasi, menghibur, dan memberikan makna bagi siapa pun yang membacanya. Dari perjalanan hidup, patah hati, hingga impian yang ingin diraih, semuanya bisa dituangkan dalam tulisan. Karena baginya, kata-kata adalah jembatan menuju banyak kemungkinan. Untuk kritik dan saran bisa menghubungi kontak berikut, IG : @istoria_kita dan TIKTOK: @istoria_kita03.

.
.
Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin. Di Balik Lamin.
Arsip Cerpen di Indonesia