Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 11 Mei 2025)
SEUMUR hidup yang belumlah seberapa panjang, yang ia cari adalah tenang. Namun, ia juga sepenuh paham, nasi yang telah tanak takkan serta-merta dapat berubah kembali menjadi padi di pematang. Gelisah yang menggelandangnya ke gelanggang pada hari ketika terik memanggang tak bisa berakhir hanya melalui langkah lintang pukang. Ia sudah di sini. Berdiri di atas truk orasi, menggenggam megafon dengan kalut yang menggetarkan tangannya sendiri seusai tak bisa tidur hingga pukul tiga dini hari.
Segala kemelut yang membuatnya menutup naskah skenario jauh lebih cepat dari semestinya, lalu beranjak dari meja menghatur pamit kepada sang sutradara. Langkahnya yang tergesa diiringi tepukan di bahu, penanda segala restu dan doa. Semua pasang mata menatap dengan debar tak menentu. Kecuali milik Raga, manajer yang telah bersetia lebih dari satu dekade membersamainya.
“Dengan segala kerendahan hati, saya hadir di sini hanya sebagai seorang rakyat biasa dengan gelisah yang sama. Gelisah warga negara yang hatinya terkoyak melihat tanah ulayat dirudapaksa sampai kehilangan keramatnya!” suara lantang Elang menembus bentang gelombang manusia. Para pemilik sanubari yang sama-sama mengais sisa harapan terhadap wakilnya di Senayan.
Lelaki itu mengepak sayap pada hari perempuannya belum benar-benar siap. Namun, siapa yang sanggup benar-benar siap jika yang ia hadapi adalah retak? Tidak bagi Khayrra hingga layar ponselnya menyala, menayangkan rekaman yang sudah tersiar ke mana-mana, dan Elang, kekasihnya, berdiri dalam barisan demonstrasi massa.
“Negara ini bukan diwarisi oleh segelintir elite yang haus kuasa dan sumber daya tanpa peduli hari lusa. Negara ini milik kita semua yang bersedia mengelola dengan bijaksana.”
Napas Khayrra terhela. Ada kesal dan sesal yang mengisi palung hati perempuan dengan sorot mata sehangat biji kopi itu. Kesal karena Elang hanya bercerita agendanya hari itu akan reading script dengan sutradara di sebuah kantor rumah produksi belaka. Sesal karena ia tahu lewat media setelah ratusan akun menandai penampilan lelakinya di gedung DPR RI. Sesal karena ia bukan yang pertama mengirim doa agar Elang baik-baik saja. Selamat dunia akhirat meskipun baru saja berbuat nekat.
Semoga Tuhan menjagamu dari seluruh marabahaya.
Merangkum dari seluruh kata, aku menaruh bangga.
Selalu dan senantiasa
Pada akhirnya, kasih sayang membuat Khayrra mengirim pesan lebih dulu. Meski dengan tegukan ludah yang sepat, ia bersegera melangkah menuju sorot kamera untuk majalah ternama, bersamaan Elang yang melompat dari truk yang mengawaki demonstrasi.
Telepon genggam lelaki berambut serupa setandan mayang pinang itu berdering nyaring. Tidak lama setelah ia menepi dari kerumunan yang meneriaki betapa runyamnya kondisi negeri hari-hari belakangan ini. Dari nomor tak dikenali.
“Pulanglah, Nak. Ambil alih kemudi. Selamatkan periuk nasi seribu orang yang tidak hidup untuk dirinya sendiri.”
Suara bapaknya sendiri. Lelaki yang telah lama dianggap Elang mati, bahkan pada setiap kesempatan wawancara di sesi promosi film-film yang ia bintangi atau saat para penggemar mencoba mengetuk kehidupan pribadinya jauh lebih dalam dari semestinya. Elang memberi jarak lewat alasan yang ia karang dengan sempurna. Setidaknya sampai saat ini. Sampai hari sudut hatinya berdebat hebat antara dendam dan kemanusiaan. Sampai Raga menghampiri dengan kabar yang ingin Elang ingkari bahwa ia adalah putra raja tanpa mahkota. Ia yang memilih mangkat dari takhta. Hidup sebagai orang biasa hingga sorot kamera berita menangkap wajahnya di barisan massa pada hari ayahnya digiring KPK.
***
Sejak wajah mantan pejabat tinggi yang kini menduduki kursi direksi itu menghiasi layar kaca, Elang memilih menepi dari semua pemberitaan. Ia berupaya tuli dari segala tuding yang menghampiri, dari kecewa orang-orang yang merasa didustai. Padahal, ia tidak berniat apa-apa kecuali mencari secercah teduh dari gersang perpisahan yang telah menyakitinya bahkan sebelum air susu disapih ibunya.
Ia tidak berminat bertemu siapa pun jua. Tidak Raga, manajernya, tidak pula Khayrra, kekasihnya. Hingga langkah menuntunnya pulang ke sebuah rumah beratap sebatang ketapang kencana berdahan rindang. Tempat ibunya menanti dengan peluk paling lapang ketika hidup hanya menyisakan serpihan keberanian yang tak seberapa dalam diri Elang.
Guring anakku guring
Guring dalam buaian
Uma mangguringakan
Matanya suyuk bawa bapajam
Bapajam janak hampai baisukan
Jauh rarawaian, jauhakan takutan
Kuitan damia manggaduh pian
Kada pacang saurangan manyaluh ari hujan
Kada bataha bakadap basusur jalan
Guring anakku guring
Anakku nang baiman wan parajakian
Allah Ta’ala ampun samunyaan
Ka Sidin sabarataan kasudahan
Mata yang pejam di atas pangkuan itu mendadak terasa panas. Ibunya menyenandungkan kembali syair pengantar tidur berbahasa Banjar Hulu dari tanah kelahiran Elang. Ia mengerjap dengan retina basah, menatap ibunya yang mengusap rambut hitam legam semayang pinang itu dengan penuh sayang. Mata keabuan yang penuh penerimaan ibunya tersenyum dengan sisa gerimis pula.
“Bu,” panggilnya dengan suara parau.
Ibunya hanya bergumam, masih setia mengusap kepala anak lelaki yang rebah di pangkuannya sedari petang hari tadi.
“Kenapa Ibu menerima saat Elang meminta menghabiskan hidup dengan mengikuti cara berdoa Bapak?”
Sekuntum senyum mekar sempurna dari sepasang katup bibir yang dipoles merah muda. Sungguhlah indah seruas wajah yang Elang pandang dari dagu ke dahi itu.
“Karena Ibu sudah menduga, suatu saat hari itu akan tiba.”
“Maksudnya?” Sepasang bola mata menunggu dengan tatapan tanya.
“Kamu dikandung dan dilahirkan saat Ibu masih berdoa dengan cara yang sama dengan Bapak. Tangis pertamamu dihantar Bapak dengan suara azan paling merdu yang pernah Ibu dengar meskipun dikumandangkan dengan suara bergetar. Kalau sembilan tahun lalu, kamu masih berdoa cara Ibu, semata-mata karena hanya itu yang Ibu tahu untuk mengajarimu.
Ketika kemudian kamu memilih sendiri caramu—yang sama dengan Bapak—tidak ada alasan bagi Ibu menolak. Sebab, sebaik-baik manusia bukan perihal caranya berdoa, tapi larik doanya yang mestinya memuat kasih ke siapa saja. Baik cara Ibu maupun Bapak, sama-sama mengajarkanmu kasih bukan?”
“Kalau memang sama, mengapa Ibu dan Bapak memutuskan menempuh jalan yang berbeda?” uliknya bagai tak puas hati.
Namun, seorang ibu, sebagaimana di mana-mana, adalah tanah lapang yang sedemikian ikhlasnya menampung genangan hujan meski sebagai tanah ia mesti tenggelam. Ibunya Elang pun bukan pengecualian.
“Karena tidak pernah ada pendayung paling ulung sekalipun yang sanggup membuat dua sampan berarung bersamaan. Ibu memilih menepi sebelum tenggelam dalam arus pengkhianatan.”
Cekat serasa membelit leher Elang. Udara bagai sempit seketika. Mengimpit dadanya. Ia tahu lelaki itu telah membina keluarga yang tiada memuat dirinya juga ibunya. Akan tetapi, Elang tak pernah tahu, pengkhianatan menyertai alasan ibunya menggendong ia meninggalkan tangga rumah panggung berbahan papan di tepi sungai 32 tahun silam.
“Petang sebelum Bapak digelandang sebagai pesakitan, ia sempat menelepon Elang, meminta pulang. Kalau Elang tidak mau pulang untuk seorang yang telah menyuguhkan pengkhianatan itu, bukan kesalahan kan?”
Ibunya mengangguk. “Memang bukan kesalahan dan memang bukan untuk itu kamu pulang. Bapakmu sudah melunasi rasa bersalahnya seorang diri. Tidak ada yang mewarisi darah dan dagingnya selain kamu. Pulanglah, bukan untuk membela diri siapa pun juga. Akan tetapi, untuk menebus utang hati pada tanah ulayat yang ia tebas, pada gemetar tangis para ibu yang anak bayinya terbatuk menghirup debu, juga tulang belulang yang tidak bisa diziarahi karena nisannya berganti patok-patok batas perusahaan Bapak.”
“Lang,” bisik Ibunya. “Gelanggang Samudera Sjaifroeddin.”
Sesaat segalanya terasa lebih sunyi dari gemerisik dedaun padi. Tiada yang Elang dengar lagi selain deru napas sendiri dan suara ibunya memanggil dengan nama kecil yang telah lama ia tanggalkan tanpa ingin mengingat lagi. Meski jelas tidak bisa. Sebab, takdir bukan ia pemegang penanya.
***
Pagi temaram dengan lembar-lembar surat kabar terhampar di atas meja kaca. Secangkir kopi telah mendingin tanpa sesap berarti. Khayrra duduk menghadapnya. Jemari lentik itu berkali-kali mengeja setiap judul berita yang membuat gegar gempita berbagai media. Tatapnya nanar pada foto seorang lelaki yang bersila di sebuah terpal terhampar di bawah dahan teduh Gandaria. Foto yang disertai bermacam cerca perihal warisan, sengketa, pengkhianatan, kuasa, dan nama ganda yang disandang lebih dari satu dekade.
Semua bicara, sebagian memberi penghakiman, nyaris sedikit yang bersikap biasa. Khayrra berusaha menjadi salah satunya. Menjadi garda pada malam sebelum Elang terbang ke sarang masa kecilnya seusai sebuah akta usaha memuat namanya sebagai direktur utama pengganti ayahnya yang menghadapi pengadilan negara.
“Dosa masa lalu diri dan keluargaku terlalu panjang membentang, Khay. Suatu hari nanti bisa jadi menuntut lebih lantang daripada saat ini. Aku ragu bisa memberikan ketenangan hidup ke kamu.”
“Manusia mana yang tidak punya dosa di belantara kehidupan ini? Bahkan seorang nabi yang paling Tuhan kasihi,” tutur Khayrra. Degup menyertai getar bibirnya. “Apalagi kita yang hidup terlalu dekat dengan akhir zaman. Karena itu, Tuhan menitip doa untuk meminta diampuni dari dosa yang terdahulu dan yang terkemudian, dosa yang kamu nyatakan dan sembunyikan, bahkan dosa-dosa yang Tuhan lebih mengetahui tentangnya daripada kita sendiri. Semata-mata supaya kita tahu, kasih sayang Tuhan melampaui rasa marahnya.”
Elang tak menyahut apa-apa. Diraihnya tubuh Khayrra ke dalam dekap. Membenamkan kepala pada ceruk bahu perempuannya. Lama. Demikian lama. Seperti tidak pernah ingin hari esok tiba dan dunia kecil yang hangat meskipun penuh rahasia punya mereka menjadi milik publik juga. Sebab, Elang pernah terlampau lantang, kini ia hanya ingin pulang dengan tenang. ***
.
.