Budi Anarko

Cerpen Kurnia Gusti Sawiji (Kompas, 13 Juli 2025)

DIA tahu bahwasanya pertarungan adalah bayangan yang bertaut di dalam setiap langkah dan gerak-gerik peradaban manusia. Dia juga tahu bahwa nama adalah rantai-rantai yang mengikat umat manusia dengan bayangan-bayangan mereka. Maka dari itu, seyogianya mereka yang terlahir tanpa nama, tetapi menerima adanya nama disematkan ke atas mereka adalah seumpama mengikat diri dengan rantai-rantai. Nama “Anarko” bukanlah namanya, melainkan disematkan kepadanya belasan tahun lalu. Penyematan nama itu lantas diiringi oleh pertarungan yang wajib dipenuhinya.

Sebagaimana Hari Pertempuran tahun-tahun sebelumnya, segenap penghuni Distrik NS-07—tempat Budi Anarko tinggal—ramai-ramai menuju kantor pejabat distrik. Dia yakin, orang-orang di distrik lain juga begitu. Mereka akan melibatkan diri dalam baku hantam dan bunuh-membunuh dengan para petugas kantor distrik, lalu memburu dan berupaya membunuh kepala distrik masing-masing.

Aturannya jelas: siapa pun yang berhasil membunuh pejabat administratif negara, minimal setingkat kepala distrik, berhak mendapat jabatan korbannya. Jabatan itu akan dipegang sampai Hari Pertempuran berikutnya dilangsungkan, dan peraturan yang sama pun berlaku. Jika seorang kepala distrik dibantai oleh lebih dari satu orang, para pembunuhnya akan saling bunuh sampai hanya tersisa satu orang, dan dialah yang berhak menjabat sebagai kepala distrik berikutnya.

Dalam perubahan apa pun terhadap peradaban, Budi Anarko tetap dengan pertarungannya. Sasarannya tidak serendah orang-orang di sekitarnya. Pada Hari Pertempuran tahun ini, dia akan membunuh Sang Presiden. Pemegang kekuasaan tertinggi negara itu berada di Distrik Kapital NS-00 di pulau seberang utara, dan perjalanan mengarungi lautan tinggi dengan cuaca menggelora membuat orang-orang beranggapan bahwa yang berpeluang membunuh Sang Presiden hanya warga Distrik Kapital—itu belum menghitung kekuatan Sang Presiden sendiri, yang konon begitu mengerikan. Tetapi, belakangan, Budi Anarko berhasil menemukan celah untuk ke distrik itu.

Sebagaimana bayangan, Budi Anarko menyusuri perjalanan dari tempat persembunyiannya sampai ke sebuah pabrik. Merangkak, berjalan senyap, bahkan menggunakan gelimangan mayat sebagai tempat bersembunyi dilakukannya dengan lihai. Berdasarkan penyelidikannya, ada hari-hari tertentu di malam hari ketika pabrik itu mengirimkan suku cadang ke distrik-distrik lain. Salah satunya rupanya ke Distrik Kapital. Kontainer-kontainer itu dikendalikan menggunakan sistem akal imitasi—membuat penyelundupan sebenarnya hampir mustahil.

Tetapi, tidak untuk Budi Anarko. Melalui orang dalam, diketahui bahwa sistem pendeteksi kontainer hanya dapat mendeteksi tanda-tanda biologis, seperti detak jantung atau suhu tubuh. Tetapi, Budi Anarko bukan lagi makhluk biologis. Sebagian besar organ tubuhnya dimodifikasi secara sibernetik; jantungnya adalah reaktor mini, otot-otot motoriknya terbuat dari serat titanium, dan tubuhnya sedingin logam. Menyelundup ke dalam kontainer yang dia pahami akan menuju Distrik Kapital tidak ubahnya bertamu dan bertandang ke rumah teman lama baginya. Maka, berjalanlah Budi Anarko demi menuntaskan takdir yang telah disematkan kepadanya.

***

“Kekuatanku berasal dari suntikan ini, yang akan mengubah struktur genetikamu. Kau akan dikuasai kesakitan yang membuatmu merasa bahwa mati lebih baik, tetapi kau akan mendapatkan kekuatan bintang jatuh. Setelah itu, kau akan meninggalkan kemanusiaanmu; aku akan melatihmu sebagaimana aku melatih reguku, dan tubuhmu akan dimodifikasi seperti musuhmu, atau lebih kuat!”

Budi Anarko menjadi dirinya yang sekarang setelah suara itu. Kini, dia menyusuri puing-puing negara yang didiaminya. Sebuah negara yang terdiri atas lima pulau. Awalnya ada belasan ribu pulau, tetapi pada dekade 2030-an, hampir semua pulau-pulau kecil di sana dijual oleh pemegang kekuasaan tertinggi negara demi membayar utang negara kepada kekuatan-kekuatan asing. Satu dekade kemudian, pemanasan global dan perubahan iklim telah mencapai titik jenuh; Bumi jengah dengan perilaku ketombe-ketombe bernama manusia yang semakin bengis, dan jatuhlah bencana itu.

Tsunami, gempa; rentetan bencana alam yang berujung meningkatnya permukaan air laut; menenggelamkan banyak tempat, termasuk sebagian besar wilayah negara itu, meninggalkan hanya lima pulau yang antara satu sama lain dipisahkan jarak ratusan kilometer. Ketidakstabilan iklim membuat cuaca laut tidak menentu; badai dan petir silih berganti, dan berita kapal karam menjadi sama rutinnya dengan sarapan pagi. Ekonomi terjun bebas, negara huru-hara, dan para penguasa tetap tampil tertawa. Rakyat meraung, pemberontakan merebak di mana-mana layaknya wabah.

Proyek Bintang Jatuh. Program penguasa negara dalam membentuk sebuah regu tentara super hasil rekayasa genetika dengan bekerja sama dengan sebuah negara adikuasa di pengujung barat dunia. Hasilnya adalah Laskar Bintang Jatuh; regu beranggotakan sepuluh orang dan dipimpin oleh veteran legendaris Satria Anarko. Regu khusus yang melanglang buana ke seluruh penjuru negara untuk menumpas pemberontakan. Konon, satu orang di regu itu mampu menghabisi satu batalyon tentara elite dalam satu jam. Dan pada malam berdarah itu, satu regu itu berhasil meruntuhkan negara.

“Sang Presiden, dia tidak tahu ada kode rahasia pengendalian pikiran ditanamkan dalam setiap anggota regu. Ilmuwan yang ditugaskan sebagai ketua Proyek Bintang Jatuh rupanya intelijen negara adikuasa itu, dan memiliki misi rahasia melemahkan negara ini supaya mudah dikuasai,” cerita Satria Anarko tua kepada seorang anak lusuh yang sedang lahap memakan sisa-sisa makanannya.

Dia melanjutkan ceritanya dengan mengingat instruksi berkumpul di sebuah bangunan tua di dekat istana kepemerintahan. Instruksi itu tidak muncul dari Sang Presiden, tetapi dari si ilmuwan yang dikatakannya sebagai kepala Proyek Bintang Jatuh. Tidak banyak yang bisa diceritakannya setelah dia dan anggota regunya berkumpul, tetapi ada rincian-rincian kecil diingatnya: mayat bergelimpangan, bau amis darah, dan kepala Sang Presiden tergeletak di atas genangan darahnya sendiri.

“Sepertinya kami masih dalam pengaruh hipnotis itu. Tetapi, salah satu di antara kami, yang juga merupakan teman dekatku…,” kenangnya kembali.

Namanya Balaraja, anggota regu terkuat setelah Satria Anarko sendiri, yang juga memegang kepercayaan sebagai wakil ketua. Tetapi, tanpa diketahui siapa pun, dia memodifikasi tubuhnya secara sibernetik sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda. Pada malam berdarah itu, modifikasi tubuhnya membuat dia berhasil lepas dari kode kendali pikirannya. Namun, alih-alih menyelamatkan regunya, dia tetap membunuh Sang Presiden. Tanpa otorisasi siapa pun, dia lantas meretas sistem penyiaran nasional, kekuasaan terhadap regunya, dan menamai dirinya sebagai Sang Presiden baru.

“Pada malam itu, dia tidak mewakili siapa pun, kecuali kebencian dan keberingasan dirinya. Baginya, kekuasaan sejati lahir dari hukum rimba: jika kau ingin berkuasa, kau harus menghabisi yang berkuasa. Kau harus membunuhnya, dan mengakhiri kegilaannya!” geram Satria Anarko. Bocah lusuh di sampingnya duduk menciut.

Setahun setelah malam berdarah itu, yang tersisa dari Laskar Bintang Jatuh berupaya menjatuhkan Balaraja. Hari itu menandakan Hari Pertempuran pertama, dan satu-satunya upaya dalam menjatuhkan pemegang kekuasaan tinggi negara. Pertarungan besar itu disiarkan ke distrik-distrik di lima pulau. Sialnya, Sang Presiden sudah terlalu kuat dengan tubuh sibernetiknya. Satria Anarko, satu-satunya orang yang selamat—itu pun, dengan luka parah, melarikan diri ke sebuah distrik terpencil. Sejak itulah, tidak ada seorang pun yang mampu atau berani menjatuhkan Sang Presiden setiap Hari Pertempuran diadakan hampir dua dekade lamanya. Tetapi, pertarungan itu tidak berhenti.

“Aku menyelamatkanmu, bocah yang hampir mati kelaparan tanpa dipedulikan siapa pun. Sebagai gantinya, pertarungan ini kuturunkan kepadamu. Kusematkan nama ‘Anarko’ kepadamu, dan terimalah kekuatanku! Dan bunuhlah Balaraja Sang Presiden, pemegang kekuasaan tertinggi negara ini! Itulah pembalasan budimu kepadaku.”

***

Pertarungan di antara Budi Anarko dan Sang Presiden berlangsung sengit dan berdarah. Pada waktu itu, pertarungan- pertarungan lain di seantero lima pulau terhenti. Semua pandangan tertuju kepada sistem penyiaran nasional. Budi Anarko dengan bengis menghabisi semua petugas istana kepemerintahan, meninggalkan jejak-jejak darah dalam setiap langkahnya menuju Sang Presiden. Ketika keduanya saling bertemu, ada semacam perasaan saling kenal di antara keduanya.

“Jadi kau ‘Anarko’, yang akan menghabisiku? Percuma! Misimu itu hanya titipan, kau tidak punya tekad untuk mengubah apa pun! Takdirmu adalah mati di tanganku!” Sang Presiden menggaungkan tantangannya.

Tetapi, setelah pertarungan sengit itu, Sang Presiden, setelah dua dekade berdiri sebagai makhluk tidak terkalahkan, akhirnya tumbang. Di tengah ruangannya, dia tersungkur dengan lubang menganga di dadanya. Lubang yang begitu besar, sehingga siapa pun bisa melihat pemandangan di belakangnya dari lubang itu. Tetapi, dia masih hidup meskipun tidak lama lagi. Meskipun begitu, dia masih berusaha tampil tertawa.

“Kau… akan menjadi… Sang Presiden berikutnya…! Lalu, apa… yang ingin… kau ubah…!? Manusia… adalah makhluk rimba! Kekerasan… adalah cara kita menjadi yang terkuat…!” tanyanya kepada Budi Anarko sembari terengah.

Budi Anarko memandangnya. Keadaannya pun tidak jauh lebih baik. Satu tangannya putus, dan sepotong torso kanannya hancur. Tetapi, sistem sibernetiknya masih bisa sedikit menopang kehidupannya, setidaknya sampai robot medis berhasil mendatanginya. Tetapi, alih-alih memanggil robot medis atau menembak kepala Sang Presiden, Budi Anarko tertawa sekeras-kerasnya. Tidak lama setelah itu, dia acungkan mulut pistol ke mulutnya sendiri. Tidak ada apa pun setelah itu, kecuali bunyi dentuman.

Yang selanjutnya terjadi adalah diam. Sebuah diam yang merasuk dan bergetar di dalam kepala segenap peradaban belantara hewan. ***

.

.

Tangerang, April 2025

Kurnia Gusti Sawiji, guru dan penulis kelahiran Tangerang, Banten. Sebagai salah satu dari 10 emerging writer dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024, Kurnia berkontribusi dalam proyek pameran daring Emerging Writers Festival (EWF) Australia 2024 dengan monolog berjudul A Dust’s Soliloquy (Nyanyian Sunyi Sebutir Debu). Karya solonya yang sudah terbit adalah novel Tanah Seberang (Buku Mojok, 2018) dan kumpulan cerpen Dongeng Pengantar Kiamat (Unsa Press, 2022). Selain itu, cerpen dan esainya telah dimuat di beberapa media, seperti Mojok, Suara Merdeka, dan Kompas. Dapat diikuti di media sosial Instagram: @kurnigs.

Mayek Prayitno, pernah belajar di Modern School Design Jurusan Seni Lukis (2000), FSR ISI Yogyakarta angkatan 2003 dan studi tubuh di Jurusan Antropologi UGM 2008, tinggal di Yogyakarta-Jakarta. Sekarang berkarya sambil bekerja di Jakarta. Sebagai perupa, kurator independen dan menulis di banyak pameran seni rupa. Aktif berpameran di dalam dan di luar negeri. Salah satu penggagas Forum Drawing Indonesia (Indonesia Menggambar). Menulis buku seniman Ipe Ma’aroef dan tulisan kompilasi seniman Nazar. Terlibat dalam berbagai komunitas. Mendapat penghargaan kompetisi seni rupa di Indonesia, China, dan Vietnam.

.
.
Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko. Budi Anarko.
Arsip Cerpen di Indonesia