Requiem di Kirov

Cerpen Baron Yudo Negoro (Koran Tempo, 19 Juli 2025)

AKU tidak mengenal Nureyev. Tapi saat ia tampil bersama Royal Ballet Inggris, kabar itu mengingatkanku pada Kateryna Melnyk, apalagi pagi tadi aku menyusuri belakang panggung Teater Kirov, bangunan batu di Leningrad yang selalu lembap bahkan saat musim panas. Ia mengarah ke ruang tanpa jendela, studio latihan di sayap timur. Di situlah aku sering melihat Kateryna sebelum orang-orang KGB membawanya pergi.

“Kau tahu, yang paling konyol dari koreografi resmi itu bukan gerakannya,” katanya dulu, petang hari setelah kami bercinta di belakang panggung. Telanjang, duduk di lantai kayu, Kateryna mengapit sebatang rokok. Rambutnya diterpa kilau perak dari lampu tangga, separuh wajahnya terbenam dalam bayangan tirai.

“Yang konyol, mereka kira orang bisa menari seolah tak pernah terjadi apa-apa.”

Aku selalu diam saat Kateryna membicarakan masa lalu.

Ia lahir pada 1939 di Voronkiv, desa di Boryspil, Kyiv. Ia tumbuh dengan kisah-kisah Holodomor yang dibisikkan ibunya di sela malam. Ayahnya petani keras kepala, menolak menyerahkan tanah dan hasil panen pada negara. Rumah dirampas, ladang disita, mereka lalu hidup dalam kelaparan tenang yang panjang. Saat Kateryna dalam kandungan, ayahnya diseret oleh orang-orang NKVD dan dikirim ke Gulag dan tak pernah pulang.

Kateryna mengangkat kaki, memutar pergelangannya hingga terdengar gemeretak. “Ladang-ladang, dinding dapur, tangisan dalam bantal. Dan sorenya, kami mengubur kerabat sendiri demi sepotong roti.”

“Gerakan mereka terlalu bersih. Tak ada ruang untuk tubuh sepertiku yang pernah kelaparan.”

“Tapi kau sudah terlatih. Kau tidak berniat mengacaukannya, bukan?” tanyaku.

Ia memungut sepatu balet di samping peti properti; bahkan pada gerakan itu pun ia tampak anggun. “Akhirnya aku mengerti kenapa Nureyev membelot,” ujarnya. Ia lalu pergi tanpa menjawabku.

Sejak kepala studio kami, Morozov, menerima memo, Kateryna makin sering menyebut-nyebut Nureyev, bintang Kirov yang membawa pengaruh Barat ke panggung Soviet, dan gemar bergaul dengan kalangan seniman asing.

Saat tur ke Paris bersama Kirov, Nureyev menolak pulang ke Moskow. Ia menyerahkan diri pada otoritas Prancis di bandara, meminta suaka, dan menyatakan ingin berkarya bebas di Barat. Itu pengkhianatan. Nureyev telah meludahi Soviet di hadapan dunia.

Inilah yang membuatku was-was. Apa yang Kateryna lihat dari lelaki itu, yang telah meninggalkan panggung kami? Apa ia ingin sepertinya?

***

MUSIM semi tiga tahun lalu, Kateryna dikirim ke Kirov. Kata orang, ia terlalu anggun untuk gadis daerah. Leningrad saat itu dibasahi lelehan salju. Air menetes dari atap bangunan, kuntum bunga bermunculan, dan pepohonan ditumbuhi daun-daun muda.

Saat Kateryna turun dari mobil, aku tengah merokok di pintu samping teater, menunggu giliran memeriksa pedal piano. Tanpa anting dan lipstik, ia mengenakan mantel kelabu yang dikancing sampai leher. Syal hitam melilit leher, sepatu botnya tampak lusuh meski disemir.

Suatu hari, aku datang ke studio untuk menyetel piano, tapi Morozov memintaku berjaga saja, kalau-kalau ada pedal macet. Maka, aku cuma duduk di pojok, melihat mereka berlatih. Saat itulah kulihat Kateryna lekat-lekat.

Usianya 26 tahun, ramping dan lentur ketimbang siapa pun di studio. Parasnya sebersih salju, tapi murung, dan sorot matanya menyiratkan kegetiran. Ia berbulan-bulan dilatih untuk Hutsul Wedding Dance, yang akan dipentaskan di Festival Seni Soviet akhir tahun.

Lalu, jeda gerakannya mengusikku. Lompatan yang semestinya ringan terasa berat. Jemarinya menegang, putarannya terkesan dingin. Balerina lain goyah, dua balerino terseret-seret tempo, langkah kacau di lantai, dan Irina menyenggol bahu Luda. Kateryna mengakhirinya dengan menurunkan tangan perlahan. Tanpa senyum. Tanpa sapa.

Terengah-engah, Luda berdiri menyeka keringat, memandang Kateryna dengan kening mengerut. Katanya, “Dia mengacaukan kami!”

Galina, instruktur mereka, tak menjawab. Tapi bahunya menegang dalam jaket wol. Semua orang akhirnya menatap Morozov yang berdiri dengan tangan di belakang punggung.

“Yang dia lakukan memang tidak biasa. Tapi itu bukan berarti salah.” Morozov berjalan ke tengah.

“Apa tidak lihat yang baru saja terjadi?” Luda memprotes.

“Silakan sesuaikan. Kalau tidak bisa, mungkin perlu ditinjau siapa sebenarnya yang belum siap,” kata Morozov.

Kateryna duduk di lantai, meregangkan kaki seolah tak ada apa-apa; seolah semua memang bukan apa-apa. Dan sejak itu, aku merasa bahwa ia menari bukan demi panggung maupun penonton. Ia menari untuk sesuatu yang cuma bisa disampaikan lewat gerak tubuhnya.

Dulu, aku memainkan Chopin dan Bartok, duduk satu ruangan dengan pianis-pianis Moskow, mengalunkan lagu-lagu propaganda untuk para pejabat. Tapi kata orang, aku terlalu berani. “Musik kita terlalu sibuk memuja negara,” ujarku suatu hari. Tak ada yang membantah. Tapi kemudian, mereka mencoretku dari daftar tur, mendepakku.

Aku tak memprotes. Protes tak akan menyelamatkanku. Dan sejak itu, aku menghidupi diri dengan menyetem senar, mengoles grafit di palu-palu piano, dan menyetel pedal. Cuma itu yang bisa kulakukan tanpa mengkhianati diri sendiri.

Kateryna mengingatkanku pada diriku dulu. Kami dekat karena berbagi sesuatu yang hampir serupa. Ia berbagi luka, sementara aku berbagi kecewa.

***

LALU, rezim berganti pada Oktober 1964. Perdana Menteri Khrushchev tumbang dalam sidang partainya sendiri, digantikan oleh Brezhnev. Di bawah Brezhnev, segalanya lebih ketat dan diawasi. Teater, musik, lukisan, sastra, semua harus tunduk pada prinsip komunisme Soviet.

Memo itu datang siang di musim dingin awal November, saat orang-orang berjalan dengan mantel tebal, sarung tangan, dan syal. Hampir tiap hari langit kelabu, dan udara dingin meremas tulang. Kami duduk di bangku kayu panjang, balerina, teknisi, dan staf musik. Dengan wajah datar, Morozov membuka map cokelat.

“Seni pertunjukan wajib mencerminkan semangat Revolusi Oktober dan nilai-nilai Realisme Sosialis. Gaya yang terlalu abstrak, bernada pesimis, atau membuat rakyat salah paham, tidak akan ditoleransi. Pelanggaran akan ditindak sesuai aturan Komite Kebudayaan.”

Ia menutup map seperti menutup peti mati. “Luar biasa. Mereka bahkan mengirim ini menjelang festival.”

Kami pun seketika berbisik-bisik. Dan suatu siang, Morozov bicara keras kepada Kateryna seusai latihan, di balik pintu setengah terbuka.

“Harus disesuaikan. Ini balet, bukan requiem. Mereka bilang itu tidak proletar. Aku bahkan tak paham maksudnya!” seru Morozov kepada Kateryna.

Kateryna keluar dengan langkah berderap di lantai kayu, meninggalkan jejak lembap dari sol sepatu yang basah. Aku menyusul lewat lorong, dan kudengar percakapan saat melewati ruang kostum.

“Mereka akan membawanya kalau dia terus keras kepala,” kata Luda.

“Kau akan melaporkannya?” tanya balerina lain.

“Aku? Tidak. Aku terlalu sibuk,” jawab Luda. “Tapi demi kehormatan teater ini, siapa tahu.”

Tentu saja “mereka” yang dimaksud adalah orang-orang KGB. Dan, betapa kejinya Luda, sampai-sampai berniat melaporkan Kateryna. Apa betul ia akan melakukannya, aku tak tahu. Tapi ocehannya membuatku mendidih. Aku mendorong pintu, masuk begitu saja. Wajah Luda langsung berubah.

“Sudah cukup panggungnya, Luda?”

“Bercanda,” katanya. “Kami semua sayang dia. Tapi semua orang punya batas, bukan?”

“Tergantung siapa yang bicara.”

Luda menatapku sebentar, lalu mengangkat bahu. “Hati-hati. Kau juga masih bekerja di sini.”

Aku tak menjawab. Aku berjalan menuju tangga besi di belakang, sudut paling gelap di gedung itu. Di sana, Kateryna masih mengenakan sepatu pointe, terduduk seperti boneka yang terbuat dari kain dan frustrasi.

“Apa katanya?” tanyaku, setelah terlalu lama hening.

“Pilihan,” jawabnya datar. “Koreografi atau pengadilan.”

Aku duduk di seberangnya, di lantai kayu yang sering berderit saat musim dingin. Di sela-selanya, terselip serpih emas dekorasi Swan Lake musim lalu.

“Ubah sedikit.”

“Sulit. Sudah kucoba.”

“Mereka takkan tahu.”

“Tapi—”

“Kau tak harus keras kepala.”

Ia menoleh, menatapku seperti menatap sesuatu yang ingin ia hancurkan.

“Bukan soal mereka tahu atau tidak. Tapi aku tahu!”

Aku diam. Jika kuteruskan, itu sama artinya aku mencoba mencabut keyakinan yang masih ia punya. Maka, kubiarkan ia percaya dirinya sendiri meski itu menuju tebing. Ia telah kehilangan terlalu banyak.

Hari-hari selanjutnya, Kateryna terus berlatih. Tak ada perdebatan, tak ada protes, Morozov tampak puas, Galina pun tak banyak bicara. Segalanya seperti yang diinginkan Komite Kebudayaan. Tapi, entah mengapa, aku was-was.

Saat hari pertunjukan, Kateryna membawa semua ke panggung, tapi tak persis seperti yang mereka harapkan.

Aula Teater Kirov sesak malam itu. Lampu kristal menggantung, menyepuh hangat barisan kursi beludru. Para tamu mengenakan mantel abu-abu, dasi merah, dan pin palu-arit di dada. Di baris depan, pejabat-pejabat pemerintah berjejer.

Tirai terbuka. Orkestra mulai memainkan Hutsul Wedding Dance. Balerina dan balerino masuk dengan formasi rapi dan senyum terkendali. Mereka mulai dan semua berubah saat bagian solo; Kateryna melangkah ke tengah panggung.

Gerakannya seperti menarik penonton menuju tanah luka asalnya. Ia menahan langkah sedikit lebih lama, lengan melengkung lembut, dan tubuhnya condong ke kiri saat berputar, mengganggu tempo balerina lain.

Luda tampak ragu, kehilangan setengah ketukan. Irina terus menoleh ke belakang. Dua balerino tampak bingung saat mengangkat tangan bersamaan; isyarat Kateryna meleset, membuat satu dari mereka tersandung.

“Apa yang dia lakukan,” gumam Galina di sampingku, sorot matanya gamang.

Morozov berdiri kaku di seberang kami, di dekat orkestra. Rahangnya mengeras saat Kateryna menutup dengan langkah lembut dan anggukan pelan ke lantai. Mula-mula hening. Lalu, tepuk tangan serempak pecah, terdengar formal dan ganjil.

Tepuk tangan masih bergema saat aku melihat dua pria berjas memasuki koridor belakang, menghampiri Morozov. Setelah mereka bicara, Morozov menghampiri Kateryna di bangku panggung.

“Mereka ingin bicara denganmu.”

“Aku tahu,” jawab Kateryna dengan tenang.

Kateryna bahkan tak menoleh ke arahku saat beranjak pergi. Aku ingin mengejar, tetapi Morozov menekan dadaku dan menggeleng pelan. “Cukup. Jangan buat menjadi lebih kacau.”

Aku hanya menatap punggung Kateryna yang menghilang dalam lorong gelap. Semua suara seakan-akan padam. Yang terdengar hanyalah langkahnya yang dibawa pergi. ***

.

.

Catatan:

KGB: Badan intelijen dan keamanan utama Uni Soviet.

Holodomor: Kelaparan massal di Ukraina pada awal 1930-an akibat kebijakan Stalin.

NKVD: Pendahulu KGB; polisi rahasia dan pengelola kamp kerja paksa.

Gulag: Jaringan kamp kerja paksa di Uni Soviet.

Hutsul Wedding Dance: Tari rakyat Ukraina yang merayakan tradisi pernikahan suku Hutsul.

Revolusi Oktober: Kudeta Bolshevik tahun 1917 yang mengawali pemerintahan komunis Soviet.

Realisme Sosialis: Gaya seni resmi Soviet yang harus mendukung nilai-nilai komunisme.

Requiem: Komposisi musik untuk mengenang orang yang telah wafat.

Swan Lake: Balet klasik Rusia karya Tchaikovsky tentang cinta dan kutukan.

.
.
Requiem di Kirov.  Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov.  Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov.  Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov. Requiem di Kirov.
Arsip Cerpen di Indonesia