Daun

Cerpen Yuditeha (Kompas, 20 Juli 2025)

STASIUN kecil itu hampir tenggelam oleh senja. Cahaya jingga memantul pada besi tua yang menghitam, membentuk bayangan panjang dari kursi-kursi semen yang terkelupas. Beberapa orang berdiri di ujung peron, menunggu kereta seperti menunggu alasan yang tepat setiap kali tak bisa kembali.

Di antara mereka, seorang perempuan dengan mantel hijau lumut duduk sambil memeluk tas jinjing kecil. Namanya Lindu. Ia datang dari kota yang jauh, tapi tidak benar-benar meninggalkan apa pun. Kota itu tidak memeluknya, dan dia pun tak pernah punya cukup alasan untuk memeluk balik.

Duduk di sampingnya, seorang lelaki tua dengan koran usang di pangkuan. Lelaki itu tampak seperti fosil yang sabar, nyaris punah tetapi enggan lenyap. Ia tidak mengganggu. Tetapi, sesekali matanya melirik Lindu seolah sedang menimbang, apakah perempuan itu patah karena cinta, atau patah karena hal yang lebih besar, seperti misalnya kenyataan?

“Kereta telat dua puluh menit,” gumam lelaki itu akhirnya, seperti pembuka doa.

Lindu hanya mengangguk. Ia tidak terburu-buru. Tidak ada yang menunggu di ujung sana. Keterlambatan adalah bentuk lain dari kemurahan waktu.

Tiga hari lalu, ia meninggalkan rumah sepupunya di kota. Rumah yang dindingnya penuh kalimat motivasi, dan lantainya licin seperti ingatan yang dibersihkan terlalu sering. Di sana, ia bertahan dua minggu, cukup lama untuk paham bahwa hidup tidak harus punya tujuan kalau sudah cukup dengan ilusi aktivitas.

“Kalau kamu bingung, ikut seminar,” kata sepupunya sambil menyodorkan brosur. “Banyak yang tercerahkan.”

Lindu menatap gambar seorang motivator botak dengan senyum seperti toko roti yang sedang sepi. Ia hanya mengangguk dan pura-pura mencatat tanggalnya. Di dalam hati, ia menertawakan kata tercerahkan, seperti anak kecil yang menemukan boneka rusak di dalam kotak amal.

Malam itu juga ia memesan tiket ke Serayu Barat, kota kecil yang pernah ia lihat di peta, tapi belum pernah ia kunjungi. Tidak ada yang spesial di sana kecuali jembatan tua dan pasar basah yang masih menggunakan timbangan besi. Ia menyukai tempat-tempat yang belum sempat diperbaiki. Di sana, kerusakan terasa lebih ikhlas.

Di Serayu Barat, ia bermalam di penginapan kecil milik pasangan tua. Kamar nomor tiga. Dindingnya abu-abu gelap dengan satu lukisan bunga matahari yang warnanya sudah memudar seperti janji anggota dewan yang telah pensiun. Lindu suka tempat itu karena tidak ada yang berusaha membuatnya betah.

Pagi harinya, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang jagung. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah batu besar di bawah pohon asem. Di batu itu, ada lelaki duduk dengan kamera tua tergantung di leher.

Lelaki itu memotret daun. Bukan daun yang masih segar di ranting. Tapi daun-daun kering yang jatuh di tanah, yang sebagian sudah sobek, sebagian lagi robek separuh seperti sebagian kenangan yang sengaja dihilangkan.

“Kenapa memotret daun mati?” tanya Lindu, tanpa basa-basi.

“Karena daun hidup terlalu sibuk berfotosintesis,” jawab lelaki itu, santai.

Namanya Badai. Ia tinggal di rumah kecil di ujung desa. Pernah jadi jurnalis majalah gaya hidup sebelum akhirnya berhenti karena merasa semua orang hanya ingin tampak hidup, bukan benar-benar hidup.

“Mereka bahkan rela lapar asal terlihat kenyang,” ujar Badai sambil tertawa pelan.

Lindu mengunjungi Badai tiga kali selama dua hari. Mereka tidak berbicara tentang masa lalu. Tidak ada pertanyaan dari mana atau hendak ke mana. Mereka hanya berbagi hal-hal kecil, seperti secangkir kopi pahit, cerita tentang ulat yang pura-pura mati, dan tentang pemilik toko kelontong yang suka menyisipkan kutipan Alkitab pada struk belanjaan.

Pada malam ketiga, Lindu menginap. Meski rumah Badai memiliki kamar dengan dua ranjang, mereka lebih memilih tidur di lantai, berjeda oleh lampu minyak dan tumpukan majalah lama yang mengeluhkan tren diet terbaru.

Badai tidak menyentuh Lindu. Tapi ia berkata sesuatu sebelum tidur, sesuatu yang cukup kabur untuk jadi teka-teki, cukup terang untuk terasa seperti pelukan: “Aku suka kau ada di sini.”

Keesokan harinya, Badai menghilang. Tidak ada jejak. Kamera tuanya tergantung di paku dekat pintu, dengan satu foto baru di dalamnya, foto Lindu, sedang duduk di batu, menatap sesuatu yang tidak terlihat kamera.

Pemilik toko kelontong berkata melihat Badai pergi ke stasiun pagi-pagi sekali. Tapi tidak ada yang tahu ke mana tujuannya. Lindu tidak bertanya. Ia tidak marah, tidak kecewa. Ia hanya berjalan pelan kembali ke penginapan dan memesan kopi. Kali ini tanpa gula. Ia merasa gula hanya memperhalus pahit yang sebenarnya perlu diterima utuh.

Dan begitulah ia kini duduk di peron, menunggu kereta yang datang entah dari mana, dan menuju ke mana. Ia menggenggam tiket dengan nama kota yang belum pernah ia dengar. Seorang petugas stasiun lewat, menempelkan pengumuman baru. Kereta menuju Natar ditunda karena perbaikan rel.

Lindu menatap papan pengumuman itu seperti menatap masa depan, menggantung, bergemeretak, dan ia merasa hal itu lucu.

“Bu, kota Natar itu di mana, ya?” tanya anak muda di sebelahnya, dengan koper besar dan tatapan seperti kucing yang kehilangan sarangnya.

“Entahlah,” jawab Lindu sambil tersenyum. “Mungkin tempat orang-orang yang tersesat merasa diterima.”

Kereta akhirnya datang. Lindu naik. Ia duduk dekat jendela, yang ketika kereta berjalan, ia menatap ladang yang lambat laun menghilang. Angin masuk lewat celah kecil, membawa aroma asing, seperti musim yang belum sempat diberi nama.

Di luar, daun-daun kering beterbangan, lalu jatuh. Seorang penumpang di seberangnya memotret mereka dengan ponsel.

“Buat Instagram,” katanya, tanpa diminta. “Keren, ya? Kaya lukisan.”

Lindu mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi di dalam pikirannya, ada satu kalimat yang muncul begitu saja: Mungkin daun itu tak pernah ingin jatuh. Mungkin ia cuma ingin lebih lama menatap langit. Namun kalimat itu tidak ia ucapkan. Ia menyimpannya seperti ingatan tentang seseorang yang tidak pernah benar-benar hadir, tapi selalu terasa.

Kereta terus melaju, dan di kejauhan, di luar jendela, siluet sebuah bukit muncul samar. Di atasnya, berdiri satu menara kecil dengan bendera compang-camping yang berkibar malas. Di depan menara, sesosok lelaki berdiri sendirian. Ia mengenakan jas hujan meski tidak sedang turun hujan. Rambutnya panjang, ditiup angin dari arah yang aneh, arah yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu cuaca atau peta navigasi. Lindu menatap sesaat. Sosok itu tidak terlalu jelas, tapi ada sesuatu dalam keheningan yang menyertainya. Seperti tokoh dari mimpi yang pernah ia temui tapi tidak ia kenali.

“Badai,” bisik seorang perempuan tua di bangku belakang. “Itu namanya Badai. Orang- orang bilang ia menunggu kereta yang tak pernah berhenti.”

Lindu menoleh, tapi si perempuan sudah tertidur. Atau mungkin pura-pura. Ia kembali menatap ke luar. Menara sudah tak terlihat. Mungkin hanya fatamorgana. Atau mungkin tidak. Kereta terus bergerak, membawa suara besi yang menggertak seperti napas seseorang yang tertahan terlalu lama. Dan sore mulai jatuh, dengan cara yang tidak dramatis sama sekali. Tapi ada yang sempat membuatnya terkejut, tepat ketika ia hendak berpaling, sehelai daun tersangkut di kaca jendela, seperti sengaja. ***

.

.

Yuditeha, penulis yang tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Akbar Linggaprana lahir di Yogyakarta pada tahun 1956 dan sejak kecil menunjukkan bakat dalam seni rupa, terutama menggambar dan prakarya. Ia menempuh pendidikan di SMSR dan STSR “ASRI” Yogyakarta, serta aktif mengikuti pameran seni sejak masa sekolah. Karier militernya dimulai tahun 1981 sebagai prajurit TNI AU, tetapi ia tetap setia berkarya sebagai pelukis dan penulis. Setelah pensiun pada 2015, Akbar kembali fokus pada dunia seni dan kerap diundang dalam pameran ataupun sebagai juri dan narasumber. Pada 2025, ia bergabung dalam proyek SBY Art Community untuk pameran Art For Peace and A Better Future menyambut 80 tahun kemerdekaan RI.

.
.
Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun. Daun.
Arsip Cerpen di Indonesia