Imigran Gelap

Cerpen Vito Prasetyo (Koran Tempo, 26 Juli 2025)

PENERBANGAN dari Moskow hari ini harus ditunda. Cuaca sangat buruk di Bandara Domodedovo Mikhail Lomonosov. Badai angin disertai gumpalan hujan lebat menutupi jarak pandang. Semua maskapai penerbangan tidak berani mengambil risiko. Di lobi dan ruang tunggu, hampir semua orang memilih duduk dan berdiam diri. Tidak ada yang mampu mengubah kondisi, selain pasrah dan menunggu kondisi normal. Hampir semua orang tampak cemas, meski mereka sedang berdiam diri. Rata-rata menutupi tubuhnya dengan mantel tebal.

Tidak ada pilihan bagi Amira selain menunda perjalanan. Seharusnya ia besok menghadiri konferensi genosida di Damaskus. Sepanjang hidupnya, baru kali ini Amira menyaksikan badai angin dan hujan yang begitu mengerikan. Mungkin ini yang dinamakan Katastrofe. Tapi Amira hanya mengira-ngira. Ia pernah membaca tentang badai itu, dan belum pernah mengalaminya. Sempat terlintas dalam benak, ia ingin mencari alternatif. Andai ia naik kereta cepat, jarak tempuh begitu jauh, dan itu pasti melelahkan.

Bisa jadi peristiwa alam ini bagian dari rencana Tuhan agar manusia bisa melakukan perenungan. Nyatanya, pikiran manusia senantiasa bergolak dengan keserakahan cinta, materi, dan kedudukan. Setelah berjam-jam Amira berlindung diri di bandara, cuaca mulai bersahabat. Angin tidak lagi sekencang seperti beberapa jam lalu. Tetapi kabut tebal di langit masih kelihatan. Hujan pun perlahan mulai reda.

Masih saja tidak ada informasi resmi untuk dibuka penerbangan. Jam di pergelangan tangan Amira sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Artinya, sesaat lagi senja menghampiri. Hanya lampu-lampu yang mulai dinyalakan, membuat perasaan Amira bisa sedikit lega. Mungkin, sama seperti yang dialami orang sekitarnya.

Amira segera berkemas untuk kembali ke apartemennya. Setelah sebelumnya menuju loket reservasi untuk konfirmasi penerbangan ulang. Dengan kondisi semacam ini, begitu sulit untuk memastikannya. Bukan hanya Amira, sekumpulan orang yang berdiri mengantre juga mengalami hal yang sama.

“Selamat menikmati istirahat Anda.”

Hanya itu yang diucapkan petugas maskapai penerbangan yang bertugas di loket reservasi. Petugas maskapai yang berada di loket tidak bisa memberikan kepastian. Sialnya, semua jaringan perangkat elektronik di bandara mengalami gangguan.

“Manusia sudah diperbudak oleh teknologi.” Ini yang terlintas dalam pikiran Amira.

“Bagaimana kalau jaringan listrik satu negara padam, orang pasti tak mampu berbuat apa-apa. Ini mengerikan!” Pikiran Amira semakin berkecamuk dengan hal-hal yang tidak mampu dijawabnya.

Jika satu negara listrik padam, apa yang bisa diperbuat, negara pasti angkat tangan. Amira tidak berusaha mencari tahu jawabannya. Perasaannya berkecamuk, antara gelisah, geram, dan entah apa lagi. Ia berjalan, tidak ada pilihan selain pulang, kembali ke apartemennya. Hanya untuk kembali pulang, tidak mudah bagi Amira untuk mendapatkan taksi. Kondisi ini betul-betul membuatnya semakin geram. Seharusnya Amira sedikit bersabar, sopir taksi juga pasti banyak yang tidak berani mengambil risiko di tengah badai yang melanda. Mungkin badai itu terjadi di beberapa wilayah sekitar Moskow.

Rasa lapar mulai melanda perut Amira, hampir jam sembilan malam ia masih di lobi bandara. Begitu sulit mendapatkan taksi. Amira mulai putus asa. Tetapi nasib baik masih menghampirinya. Setelah beberapa kali mengutak-atik aplikasi di ponselnya, akhirnya ada taksi yang menjemputnya.

Sebetulnya di pelataran parkir, ada beberapa taksi yang mangkal, tapi entah apakah ada sopirnya atau tidak.

“Antarkan saya ke Klimovsk apartemen.”

“Baik, Nyonya. Itu di kawasan Leo Tolstoy,” jawab sopir taksi.

“Anda rupanya sudah mengerti jalan-jalan di kota ini,” balas Amira.

“Sepertinya begitu, Nyonya.”

“Jangan panggil saya nyonya. Saya belum menikah,” Amira sedikit menjelaskan statusnya. Sopir taksi tidak menjawab, hanya tersenyum kecil, bukan bermaksud untuk menertawakan Amira. Itu terlihat dari kaca spion mobil. Dan Amira pun tidak ingin tampak akrab kepada sopir taksi yang ditumpanginya. Ia kemudian diam. Bagaimanapun juga ia tidak ingin kelihatan merendahkan diri di hadapan orang asing yang sama sekali belum dikenalnya.

Mobil taksi yang Amira tumpangi terus melaju dalam kecepatan sedang. Sehabis badai hujan dan angin, jalan begitu licin. Sesekali sopir taksi melirik ke arah Amira yang duduk di jok belakang melalui kaca spion. Sorot mata Amira begitu tajam, tapi tatapannya penuh ketakutan. Dari kaca jendela mobil, masih tampak butiran air yang melekat. Sepanjang jalan yang dilewati, cuacanya masih berubah-ubah. Kadang ada angin agak kencang dan sesekali disertai hujan.

Sopir taksi yang terus waspada dengan kondisi cuaca semacam ini, tetap memacu mobilnya. Ia kemudian menghidupkan radio. Bagaimanapun juga ia harus mengetahui berita terkait situasi terkini di sekitar Moskow. Hampir semua stasiun radio melaporkan tentang badai tornado yang baru saja melanda Kota Moskow. Amira pun terkesiap mendengar berita itu, ia sadar jika apa yang diperkirakan tadi siang, yang ia kira badai katastrofe ternyata salah. Sebagai seorang yang bekerja pada agen spionase, analisis ini tentu tidak profesional. Ia harus cerdas dan akurat dalam menangkap segala situasi di sekitarnya.

“Tolong suara radionya agak dibesarkan sedikit,” Amira sedikit memerintah, meski ia tidak bermaksud demikian.

“Anda sepertinya bukan orang Eropa?” sopir taksi bertanya pada Amira, dari aksen Amira ketika bicara terkesan agak kaku.

“Ya, saya orang Asia,” Amira masih tetap waspada dengan pertanyaan sopir taksi. Bukankah pertanyaan itu bisa menjebaknya?

“Saya juga orang Asia, dari Indonesia,” sopir taksi mencoba meyakinkan Amira, bahwa mereka juga tidak banyak berbeda dari segi budaya.

“Ooh…” hanya itu yang keluar dari mulut Amira.

Badai tornado yang terjadi hari ini, masih terus disiarkan radio dari dalam mobil taksi tersebut. Ini mungkin hampir sama dengan badai tornado yang terjadi pada 1979. Waktu itu, belasan orang jadi korban dan meninggal. Seketika tubuh Amira serasa menggigil. Entah karena berita yang dia dengar itu membuat nyalinya betul-betul ciut. Amira begitu jauh dengan keluarganya yang berada di Abu Dhabi. Selama ini ia bekerja lebih banyak di belakang layar laptop. Seakan tidak peduli dengan lingkungannya; dengan orang-orang sekitarnya. Ia harus membatasi komunikasi dengan siapa saja.

Perjalanan yang cukup memakan waktu menuju apartemennya seperti pembacaan vonis kepada dirinya. Amira sadar, ini mungkin adalah pengalaman berharga sepanjang hidupnya. Mungkin ini saatnya ia harus merenungi diri. Tiba-tiba Amira tersentak, beberapa kali sopir taksi berkata pada Amira, hingga harus mengulang sampai tiga kali. Rasa cemas itu membuat Amira lupa akan sekelilingnya.

“Kita sudah sampai di depan apartemen.”

“Oh, iya.” Amira segera membereskan barang-barang bawaannya. Tampaknya koper Amira cukup berat, hingga jalannya agak sempoyongan. Sopir taksi segera turun dari mobilnya, dan mencoba menolong Amira. Kebetulan Amira juga belum bayar ongkos taksi. Mungkin ia lupa.

***

MALAM itu, Fahri terpaksa menginap di apartemen Amira. Ini karena bujukan Amira, mengingat kondisi Amira yang memang sedang kurang sehat. Tubuh Amira mulai demam tinggi. Perutnya yang menahan lapar, menjadi salah satu penyebab. Di luar sana, kondisi cuaca juga masih kurang bersahabat. Fahri tidak mau mengambil risiko. Barusan ada maklumat dari pemerintah agar semua warga tidak keluar rumah, untuk mengantisipasi badai tornado susulan.

Entah karena rasa iba dan kasihan, Fahri spontan memasak dan menyiapkan makanan, pasti Amira merasakan lapar. Meski mereka sama-sama belum saling memperkenalkan diri. Toh, bagi Fahri, perempuan ini memang butuh pertolongan. Fahri sedikit tersenyum-senyum, ia bukan penyewa apartemen ini, tetapi seolah-olah ia seperti mengerti ruangan apartemen ini. Bukankah rata-rata apartemen hampir sama? Hanya saja, tempat tinggal Fahri berada di pinggiran kota, yang terkesan sedikit kumuh.

Setelah mereka makan malam, mereka baru sadar kalau satu sama lain belum saling mengenal.

“Saya Sabrina.”

“Saya Fahri.”

“Saya berterima kasih, Anda sudah menyelamatkan saya.”

“Sama-sama, saya juga berterima kasih sudah diizinkan menginap di sini,” balas Fahri.

Amira tersenyum, dan sudut matanya mencuri-curi pandang ke laki-laki yang ada di hadapannya. Sorot mata Fahri kelihatan begitu teduh. Ada kesan seorang yang berpendirian kuat. Laki-laki yang berpenampilan sederhana, tapi aura wajahnya bisa membuat kodrat wanita goyah. Perasaan rindu yang bergemuruh di dada Amira seakan ingin meledak. Ia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Ia melupakan bahwa hatinya juga seperti dermaga yang merindukan kapal untuk berlabuh. Apakah Tuhan sengaja mengirimkan sosok Fahri untuk dirinya. Entah!

Seharusnya Amira, yang mengaku sebagai Sabrina, dibawa ke dokter. Dengan kondisi cuaca yang masih darurat, ia hanya meminum vitamin penguat tubuh. Amira merasa tubuhnya agak segar setelah makan dan minum vitamin. Malah Fahri menawarkan untuk membuatkan kopi, tapi Amira menolak. Ia merasa terlalu penat dan ingin segera tidur. Tapi pikirannya terus berkecamuk, apa yang akan terjadi dengannya di saat bersama seorang pria dalam satu rumah. Seharusnya ia melewati malam dengan kebahagiaan, bukan dengan perasaan yang mencekam.

Amira telah lelap, mengusung impian ke sudut-sudut imaji. Jika sesuatu terjadi pada dirinya, mungkin karena Fahri juga di luar kendali diri, bisa jadi ia membiarkan itu terjadi begitu saja. Bukankah Amira juga berharap ada goresan pena di hatinya, yang hingga kini masih memutih tanpa coretan tinta. Sebuah catatan yang kelak menjadi kenangan, meski kadang akhirnya menjadi catatan pilu. Amira berharap Fahri belum memiliki siapa-siapa.

Pagi menyapa wajah mereka. Fahri masih tertidur di sofa. Amira telah menyiapkan sarapan, setelah lebih dulu bangun. Sesaat, mereka telah duduk di meja makan menyantap sarapan. Sorot mata Fahri agak berbeda. Seharusnya ia menikmati wajah Amira yang cukup mempesona. Tapi pikiran Fahri berkecamuk. Semalam, tanpa sepengetahuan Amira, Fahri menemukan selembar kertas penting di atas meja kerja Amira. Ternyata Sabrina adalah Amira Rashid yang membelot dari MI6 Inggris setahun lalu. Dan kini menjadi buronan keamanan Inggris. Fahri mengetahui setelah membaca kode privasi di kertas tersebut, dan Fahri sangat paham kode privasi itu karena beberapa tahun lalu, dia sempat direkrut menjadi agen MI6.

“Anda sebetulnya Amira Rashid…. Bukan Sabrina.” Tatapan Fahri betul-betul menohok lentik mata Amira.

“Anda sebetulnya siapa?” Amira berbalik tanya, dengan tatapan redup seakan kehilangan keberanian.

“Saya hanya seorang imigran gelap,” jawab Fahri datar.

Amira hanya menunduk, ia tak mampu mengelak dan seolah-olah menerima kekalahan telak. Ia seperti telah kehilangan nalar sehat. Nasibnya betul-betul hanya ada di tangan Fahri.

Mereka akhirnya memutuskan menikah, agar Fahri bisa mendapatkan suaka politik, dan bisa kembali ke Indonesia. Fahri juga sebetulnya sudah bosan menghadapi kehidupan hampa sebagai imigran gelap. Entah, apakah karena ia juga membutuhkan kehidupan cinta seperti orang lain. ***

.

.

Vito Prasetyo. Penulis puisi, cerpen, esai, dan resensi buku. Berdomisli di Malang, Jawa Timur.

.
.
Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap. Imigran Gelap.
Arsip Cerpen di Indonesia