Aroma Penyair Mahzan

Cerpen Helvy Tiana Rosa (Kompas, 27 Juli 2025)

DI kaki Bukit Seulawah, tinggal seorang penyair tua bernama Mahzan. Rumahnya panggung berlumut, dikelilingi rumpun nilam, dan ilalang yang meninggi. Ia telah lama berhenti menulis di koran, menolak undangan baca puisi, dan menjauh dari ingar bingar dunia sastra.

Mahzan sering duduk di serambi rumahnya, menjemur dan mencium dedaunan nilam. Ia percaya bahwa dalam setiap hela napas nilam, tersimpan kenangan masa kecil, tangis ibunya yang hilang saat konflik, dan peluh petani yang tak pernah dicatat sejarah. Ia ingin tubuhnya menjadi bagian dari aroma itu. Bukan menjadi debu, bukan menjadi tanah, tapi menjadi wewangian. Baginya, wangi lebih abadi dari kata-kata.

Seekor burung punai gunung, dengan warna bulu kehijauan dan dada kekuningan, sering datang dan hinggap di jendela rumah Mahzan setiap pagi. Burung itu tak bersuara, tapi selalu tampak diam mendengarkan ketika Mahzan membacakan bait-bait puisinya dengan suara rendah. Kadang Mahzan mencatat sesuatu di kulit lontar, lalu menaruhnya di dekat sangkar kosong yang tergantung di serambi.

Namun keinginan Mahzan dianggap aneh. Ustaz Mahdi dari surau kampung beberapa kali datang menasihatinya, “Matilah dalam sunah, Mahzan. Jangan buat permintaan yang tak pantas. Mayat bukan untuk dijadikan pameran.”

Mahzan menatap lelaki bersorban itu lama, sebelum menjawab pelan, “Kau kira kuburan biasa lebih syar’i, Ustaz? Lalu bagaimana ratusan jenazah yang tak sempat dimakamkan dalam konflik itu? Bukankah mereka juga wangi dalam doa?”

Ustaz Mahdi mengernyit. “Jangan samakan dirimu dengan syuhada. Kau penyair, bukan martir. Tubuh harus dikembalikan ke tanah. Begitu ajaran.”

“Aku pun ingin kembali,” kata Mahzan. “Tapi bukan sebagai tubuh busuk yang dilupakan. Aku ingin kembali sebagai wewangian yang mengingatkan.”

“Itu ego. Itu riya’. Kau ingin dikenang dengan cara duniawi.”

Mahzan berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi suaranya jelas. “Aku ingin dikenang bukan karena nama, tapi karena makna. Dan kadang makna muncul dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Seperti aroma. Seperti puisi. Seperti doa yang tak selesai.”

Ustaz Mahdi menarik napas panjang, “Ini bukan soal estetika. Ini soal akidah.”

Mahzan bergeming. Mukanya merah. “Terima kasih nasehat Ustaz. Tapi biarlah aku disemayamkan sesuai keinginanku.”

Ia kukuh pada keinginannya. Namun, dalam keheningan malam, Mahzan kerap berdebat dengan dirinya sendiri. Suatu malam, ia bermimpi berjalan di padang pasir tak bertepi. Ia melihat dua sosok: satu mengenakan gamis putih dan menggenggam mushaf yang bersinar, satu lagi mengenakan jubah abu dan memegang setangkai bunga nilam. Sosok pertama berkata, “Tunduklah pada yang tertulis.” Yang kedua berbisik, “Tapi lihatlah apa yang tersembunyi dalam harum daun-daun yang gugur.”

Ketika Mahzan ragu, angin datang menerbangkan mushaf dan bunga itu bersamaan, hingga keduanya luruh dalam debu yang sama.

Pagi harinya, Mahzan duduk lama menatap hasil sulingannya. Ia mencium minyak nilam dengan hati gelisah. “Ya, Rabb,” gumamnya lirih, “Ampuni aku bila ini pelanggaran. Tapi aku hanya ingin mencintai-Mu dengan cara lain.”

Bertahun-tahun ia menyuling nilam: daun dijemur, dikukus, diuapkan ke kondensor bambu. Dari situ menetes minyak pekat dan khas. Ia menambahkan melati hutan dari Lembah Lamno, kemenyan dari Pidie, dan setetes sari bunga tanjung yang ia simpan dalam botol kaca kolonial.

“Bila aku mati,” katanya pada keponakannya, Naufal, “jangan kafani aku seperti lazimnya. Bungkus tubuhku dengan kain putih yang telah direndam minyak nilam terbaik dari Cot Seumeureung. Setelah tubuhku dibersihkan dengan air dan disalatkan seperti biasa, rendam seluruh tubuhku dalam minyak nilam di dalam bejana tanah liat selama tiga hari tiga malam. Lalu, letakkan aku dalam guci kaca besar yang sudah kusiapkan. Biarkan tubuhku menyatu dengan minyak dan cahaya. Jangan dibakar. Jangan dikubur. Biarkan aku menjadi aroma. Biar puisi terakhirku keluar dari tubuh yang membaur dengan wewangian.”

Awalnya Naufal mengira itu gurauan. Ia tertawa kecil saat pertama mendengarnya, dan membatin bahwa pamannya telah terlalu larut dalam dunia simbol. Tapi saat Mahzan menunjukkan guci kaca besar yang dipesan dari Lhokseumawe, tumpukan manuskrip puisi di kertas lontar, dan minyak nilam yang ia rawat seperti anak sendiri, senyum Naufal mulai hilang. Tumbuh ragu di benaknya. Ia menyimpan kecanggungan dan geli itu dalam diam, tak ingin melukai hati pamannya.

“Abeh percaya aroma bisa menyampaikan puisi?” tanya Naufal, suatu senja, dengan nada lebih hati-hati.

“Kata-kata dibaca. Tapi aroma, bau, itu langsung ke jantung. Dan manusia hanya mendengar ketika hatinya disentuh oleh yang tak tampak.”

Setelah Mahzan wafat, Naufal menjalankan wasiatnya. Warga datang, sebagian karena penasaran, sebagian turut membantu prosesi. Sebagian lagi hanya geleng-geleng kepala karena merasa apa yang dilakukan Mahzan berdosa. Guci kaca itu diletakkan di ruang tengah rumah panggung, menghadap jendela. Tak ada yasinan. Tak ada upacara. Hanya keheningan.

Hari itu juga, burung punai gunung yang biasa menemani Mahzan ditemukan mati di bawah jendela. Bulu-bulunya basah seperti habis menangis, dan matanya menatap kosong ke langit, seakan mengikuti kepergian Mahzan ke dimensi lain yang tak terdefinisikan.

Naufal menyambut tamu dengan perasaan campur aduk. Antara malu, bingung, dan khawatir. Ia tak yakin apa yang dilakukannya ini benar. Tapi ia juga tak sanggup mengingkari pesan terakhir pamannya. Malam-malamnya dipenuhi pertanyaan: Apakah ia berdosa? Apakah ia sedang membantu keabadian, atau sekadar mempertontonkan kegilaan?

Yang mengejutkan: setiap orang yang mendekat dan menghirup aroma dari sela tutup guci itu, mengaku mendengar sesuatu.

Seorang gadis muda menangis, “Ia membaca puisi tentang laut dan perahu laju di malam pertama.”

Seorang petani berkata, “Saya dengar suara istri saya yang sudah lama wafat. Ia bilang: jagalah padi, karena itu anak-anakmu.”

Seorang mantan tentara mengaku mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang belum pernah ia hafal. Ia pulang, lalu kembali salat lima waktu.

Berita itu menyebar. Wartawan datang. Sastrawan. Pemburu parfum dari Prancis dan Dubai. Tapi setiap kali mereka hirup aroma dari guci itu, mereka hanya diam, menunduk, lalu pulang.

Beberapa kehilangan suara tiga hari. Ada yang mengurung diri, menulis surat panjang yang tak pernah dikirim. Mereka bilang: puisi itu bukan untuk diumumkan. Hanya untuk disimpan.

Perlahan, kegamangan Naufal berubah menjadi kekaguman. Ia mulai duduk berjam-jam di samping guci, menghirup dan menulis. Ia mulai menyadari: sesuatu sedang tumbuh dalam dirinya. Bukan hanya puisi, tapi semacam ikatan spiritual yang tak pernah ia rasakan selama ini. Suara pamannya datang dalam mimpi. Kadang puisi, kadang doa, kadang hanya bisikan wangi yang menempel di pori-pori. Ia mulai mencatat, mengarsipkan, dan diam-diam menyuling nilam sendiri.

Satu pagi, ia menemukan selembar kulit lontar tergulung rapi di bawah rak buku. Isinya ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis Mahzan dengan minyak nilam. Ayat-ayat itu hanya terlihat jika terkena cahaya pagi. Tapi setelah malam kebakaran, tulisan itu menghilang. Kulitnya tetap utuh. Namun kata-katanya lenyap, seolah ikut larut ke udara bersama Mahzan.

Hingga suatu malam, langit seperti disobek. Petir menyambar pohon nilam tertua di halaman Mahzan. Rumah itu terbakar perlahan tanpa api. Atap mengelupas seperti kulit luka lama. Tak ada asap. Tak ada hangus. Hanya suara dedaunan nilam luruh satu per satu, seperti ayat-ayat gugur dari langit.

Warga kampung berlarian. Namun ketika mereka tiba, langkah-langkah mereka melambat. Aroma aneh melayang dari reruntuhan, menyelinap ke lubang hidung dan menusuk ke dada. Rasanya seperti kenangan yang lupa dibicarakan, seperti doa yang nyaris patah. Seorang perempuan tua terduduk tiba-tiba dan menangis lirih. Seorang pemuda mulai membaca puisi dengan suara serak, meski ia tak tahu dari mana bait itu berasal. Satu per satu, mereka tidak menjauh, tetapi malah duduk bersila mengelilingi reruntuhan, membacakan puisi-puisi sendiri yang lahir spontan. Anak-anak merebahkan kepala di pangkuan ibunya, dan para lelaki menunduk, seperti sedang salat.

Tak satu pun berkata-kata, tapi setiap air mata, gerakan tangan, dan desahan napas terasa seperti bagian dari upacara tanpa imam, tanpa komando. Hanya aroma. Hanya puisi. Hanya kehadiran Mahzan yang tak bisa lagi dijelaskan dengan bahasa.

Naufal datang terakhir. Dadanya berdegup tak menentu. Ia merasa pamannya sedang memanggil. Dari reruntuhan rumah, guci kaca itu berdiri utuh. Mengembun dari dalam. Cahaya kecil tumbuh dari pori-pori nilam. Saat ia membuka tutupnya, sesuatu keluar. Bukan api, bukan asap, bukan suara. Tapi gelombang aroma seperti bahasa yang tak pernah diajarkan siapa pun.

Aroma itu menampar wajahnya lembut, lalu masuk ke dada, seperti ayahnya dulu yang tak sempat berpamitan. Ia tersungkur. Tangannya gemetar. Dan dari guci itu, keluarlah seruan lirih, tak terdengar namun abadi:

“Jika tubuhku tak bisa menjadi puisi,

biarlah ia menguar menjadi wangi,

agar engkau menciumku tanpa sadar,

dan merasa: kehilangan pun bisa dipeluk.”

Naufal menangis seperti anak kecil. Ia mencium tanah. Bukan karena sedih, tapi bahagia karena akhirnya mengerti: pamannya tidak mati. Abeh Mahzan hanya berpindah bentuk menjadi napas.

Saat pagi datang, guci itu sudah pecah. Tak ada kaca. Tak ada minyak. Hanya bau samar nilam, damar, dan tanah basah selepas hujan, menggantung di udara seperti doa yang belum selesai.

Di tanah yang hitam bekas reruntuhan itu, tumbuh tunas-tunas kecil nilam yang tak pernah ditanam siapa pun. Mereka muncul perlahan, seolah berasal dari akar yang selama ini tersembunyi di bawah rumah Mahzan. Setiap daun yang tumbuh membawa wangi yang berbeda, seakan satu bait puisi: getir, hangat, dan dalam. Para tetua kampung menyebutnya “akar yang tumbuh dari tubuh pujangga”.

Sejak hari itu, setiap musim panen nilam tiba, para petani menggubah syair. Anak-anak melantunkan bait dari lapangan. Para janda menyematkan harum Mahzan di kerudung mereka. Dan ketika ditanya dari mana mereka belajar puisi, mereka menjawab, hampir serempak:

“Tadi… angin datang. Membawa suara. Membawa aroma Mahzan.” ***

.

.

Jakarta, 20 Mei 2025

Helvy Tiana Rosa adalah cerpenis, novelis, dan penyair. Dosen Penulisan Kreatif di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, ini telah menulis lebih dari 80 buku sastra. Karya terbarunya: Jantung yang Berdetak dalam Batu (2025) dan Jangan Lupa Jatuh Cinta (2025).

Yusuf Susilo Hartono, wartawan budaya, pelukis, dan penyair. Mantan guru ini pemegang sertifikat Wartawan Utama dari Dewan Pers (2017). Pernah menjadi Pemred Majalah Seni Rupa Visual Arts (2007-2012), Majalah Galeri (2012-2022), dan bergabung di sejumlah media arus utama. Kini sebagai penulis lepas. Buku-bukunya tentang jurnalistik, biografi, seni rupa, sastra (puisi), dan lain-lain. Menjadi Pengurus PWI Pusat (2008-2023). Tahun 2022, menggelar pameran Retrospeksi “40 Tahun Berkarya: Among Jiwo” di Museum Nasional Indonesia.

.
.
Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan. Aroma Penyair Mahzan.
Arsip Cerpen di Indonesia