Cerpen Safry Dosom (Koran Tempo, 02 Agustus 2025)
SETELAH menemukan jenazah Romo Simon di dekat gerbang menuju hutan Poco Leok itu, semua warga kampung L serentak membisu. Setiap orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, terus dihantui oleh rasa takut. Mereka tidak mampu lagi menjelaskan semua peristiwa itu.
Romo Simon yang berjuang bersama mereka beberapa hari yang lalu kini hanya tinggal kenangan. Ia telah pergi dan mungkin semua suara yang mereka teriakkan selama ini akan terkubur bersama tubuh itu. Entahlah. Suara-suara itu akan mati sampai hutan Poco Leok, ibu mereka, akan hancur dilahap oleh orang-orang yang datang dari kota itu.
Beberapa menit kemudian, semua warga kampung L yang menyaksikan peristiwa tersebut segera menurunkan tubuh Romo Simon yang telah kaku itu. Tubuh yang tak bernyawa itu dibaringkan di pangkuan Mama Agata. Melihat hal itu, tubuh Mama Agata semakin bergetar dan air matanya terus mengalir. Ia merenungkan peristiwa itu sama seperti yang telah terjadi pada Yesus, anak Maria, perempuan dari Nazaret itu.
Sebagaimana tertulis dalam kitab suci, setelah Yesus wafat, ia segera diturunkan dari salib dan dibaringkan pada pangkuan ibunya, Maria. Maria menyimpan semua perkara itu dalam hati. Mama Agata juga turut merasakan apa yang pernah terjadi pada Maria dan dalam hatinya terus berpikir sebentar lagi penderitaan akan membunuh semua warga di kampung L.
Sore itu, semua warga kampung L membawa jenazah Romo Simon ke Kapela St. Fransiskus, sebelum keesokan harinya segera dimakamkan di halaman depan Kapel. Tempat pemakaman itu telah diberitahukan oleh Romo Simon kepada Bapa Domi tepat setelah aksi penolakan di kantor bupati beberapa hari yang lalu.
Saat malam tiba, semua warga dari kampung L terus menjaga jenazah Romo Simon yang dibaringkan di dalam Kapela St. Fransiskus. Selain itu, Bapa Domi yang menjabat ketua stasi dengan cepat melakukan pertemuan dengan semua warga yang hadir. Mereka bersama-sama membahas tentang persiapan misa requiem untuk Romo Simon yang dilaksanakan keesokan harinya.
Dalam pertemuan yang dilakukan itu, semua umat di kampung L sepakat untuk tidak membawa jenazah Romo Simon ke kampung halamannya. Hal itu bukan tanpa alasan karena, menurut Mama Agata, sebelum Romo Simon ditangkap oleh orang-orang yang tidak dikenal itu, ia sempat menitipkan pesan kepadanya. “Mama, jika Tuhan memanggilku dengan cara seperti ini, biarkan tubuhku disemayamkan di tempat ini. Agar jiwaku terus berjuang bersama umatku,” demikian pesan Romo Simon, imam muda itu.
***
KEESOKAN harinya, suasana di Kapela St. Fransiskus terus dipenuhi oleh ribuan umat. Halaman depan dan samping kapela terisi oleh para warga yang tinggal di sekitar hutan Poco Leok. Melihat hal itu, dari ruang sakristi Bapa Domi serentak kaget. Ia menyadari bahwa misa requiem untuk Romo Simon tak hanya dihadiri oleh warga kampung L, tetapi semua warga yang berasal dari setiap kampung yang berada di sekitar hutan Poco Leok ikut mengambil bagian dalam misa requiem itu.
Sepanjang perayaan ekaristi itu, air mata semua umat yang hadir terus mengalir. Mereka sama sekali belum mengikhlaskan kepergian pahlawan mereka. Mereka sangat mencintai Romo Simon. Ia adalah imam Tuhan yang selama ini ikut berjuang dan ikut merasakan kesedihan dalam hati mereka. Romo Simon tidak berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi ia telah berjuang untuk kedamaian bagi semua orang.
Setelah perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Romo Sintus, sebagai pastor Paroki St. Maria, semua umat dari setiap kampung tidak meninggalkan kapela kecil itu. Saat itu bukan hanya umat di kampung L yang ingin mengikuti pertemuan, tetapi semua warga yang mengikuti misa requiem itu ikut bergabung.
Menurut sebagian umat yang hadir, mereka siap memperjuangkan hak hutan Poco Leok. Mendengar itu, semua warga kampung L semakin bingung karena sebelumnya semua warga dari beberapa kampung, seperti kampung P, A, C, tidak ikut melakukan penolakan proyek di hutan Poco Leok. Bagi mereka, hutan Poco Leok bukan tana leluhur mereka. Hal itu membuat mereka tetap berdiam diri dan tidak terlibat dalam aksi penolakan bersama warga kampung L.
Namun, setelah kematian Romo Simon, Roh Kudus kembali menerangi pikiran setiap orang. Mereka menyadari bahwa perjuangan Romo Simon dan warga Kampung L tidak hanya memperjuangkan tanah leluhur, tetapi mereka juga berjuang untuk keselamatan ibu bumi, ibu bagi semua makhluk. Hal itu membuat mereka bersatu untuk memperjuangkan keselamatan hutan Poco Leok.
Melihat hal itu, rasa takut dalam hati Bapa Domi dan semua warga di kampung L mulai menghilang. Rasa takut setelah kematian Romo Simon tidak ada lagi. Mereka berjanji akan berjuang bersama untuk membatalkan proyek itu.
***
SETELAH pertemuan di Kapela St. Fransiskus, keesokan harinya semua warga dari beberapa kampung yang dekat dengan hutan Poco Leok bersepakat untuk menutupi jalur menuju hutan tersebut. Mereka tidak mengizinkan orang-orang yang tidak mereka kenal berjalan menuju hutan Poco Leok. Karena sebelumnya banyak orang asing yang datang ke tempat itu untuk melakukan penelitian di sekitar hutan Poco Leok. Namun, kali ini penduduk dari setiap kampung menyadari tindakan itu merupakan satu-satunya cara agar proyek di hutan Poco Leok tetap dibuka.
Warga setempat tahu bahwa para peneliti itu akan mengeluarkan hasil penelitian yang palsu dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa proyek itu tidak akan membawa bahaya bagi lingkungan di sekitarnya. Semua warga tahu bahwa usaha itu merupakan salah satu tindakan yang licik. Para warga juga menyadari bahwa banyak proyek yang telah dilakukan di negeri ini telah membawa bahaya bagi lingkungan sekitar dan membawa penderitaan bagi masyarakat lokal, seperti krisis air bersih, pencemaran udara, dan lain sebagainya.
Bapa Domi juga terus mengajak para Tu’a Gendang dari setiap kampung agar para warga tidak menerima tawaran, baik berupa uang tunai atau hal lainnya, dari orang-orang yang ingin proyek di hutan Poco Leok segera dibuka.
***
“KITA harus menyelamatkan ibu bumi. Kita harus berjuang agar tikus-tikus yang sangat rakus itu tidak menikmati kekayaan tanah ini,” kata Bapa Domi dalam suatu kesempatan ketika sedang melakukan pertemuan dengan semua warga dari setiap kampung. Pertemuan itu merupakan bagian dari persiapan dalam rangka melakukan dialog dengan pemerintah kabupaten dan direktur perusahaan di Kapela St. Fransiskus.
“Jika mereka tetap ingin membuka proyek di hutan Poco Leok ini, kita harus melakukan perlawanan seperti yang pernah dilakukan para leluhur terhadap para tentara Belanda yang pernah menjajah bangsa ini beberapa puluh tahun yang lalu,” komentar Om Tias dengan suara yang lantang.
Mendengar hal itu, semua warga terus berteriak.
“Bunuh semua keparat itu!!!”
“Mereka penipu!!!”
“Monster!!!”
Suasana semakin memanas. Romo Sintus yang ikut dalam pertemuan itu kembali mengucapkan kata yang pernah diucapkan oleh Romo Simon sebelumnya. “Tuhan tidak ingin ada pertumpahan darah dan nyawa di antara umatnya.”
Semua yang hadir serentak diam.
“Romo, ketika kita diam dan tidak berani melawan, para tikus itu akan terus membasmi semua tanah kita. Mereka itu rakus dan tidak pernah puas atas apa yang mereka miliki. Mereka terus merampas tanah kita jika suara-suara mereka tidak segera dicegah,” kata Om Tias, ketus.
Romo Sintus diam.
“Kita harus menyelamatkan ibu bumi ini. Kita harus berjuang bersama agar tanah kita tidak hancur seperti tanah-tanah yang lain di negeri ini. Banyak masyarakat di tanah air ini telah meninggalkan tanah leluhur mereka. Jangan biarkan hati kita dingin dan membeku. Kita harus kuat, tanpa menumpahkan darah dan nyawa. Kita terus bersuara. Berteriak sekuat mungkin. Langit dan bumi pasti bersama kita,” kata Romo Sintus beberapa menit kemudian dengan suara yang sangat tenang.
Akhirnya, hari itu semua warga sepakat dengan saran yang disampaikan Romo Sintus. Mereka siap melakukan pertemuan dengan pihak pemerintah dan direktur perusahaan di Kapela St. Fransiskus.
***
PAGI itu, matahari belum benar-benar muncul di atas hutan Poco Leok ketika semua warga dengan cepat memadati Kapela St. Fransiskus. Sebelum rombongan dari kabupaten dan direktur perusahaan tiba, semua warga yang hadir terus berdoa di depan patung Yesus. Mereka terus berdoa agar Roh Kudus menerangi hati para pemerintah supaya pendapat dan suara-suara kecil mereka didengar.
Pertemuan hari itu berjalan dengan aman. Bapa Domi yang mewakili suara dari para warga terus membaca semua usul-saran dari para warga dengan suara yang lantang. Setelah ia membaca semua usul-saran itu, semua warga yang memadati bagian dalam dan luar kapela terus berteriak agar pemerintah segera mencabut penetapan proyek itu.
Hal itu membuat para direktur perusahaan tidak bisa melakukan sosialisasi dengan para warga tentang proyek itu. Ketika direktur perusahaan ingin menyampaikan sesuatu, para warga terus berteriak dan meminta rombongan meninggalkan Kapela St. Fransiskus.
Akhirnya rombongan dari kabupaten dan direktur perusahaan yang dijaga ketat oleh aparat keamanan yang bersenjata itu segera meninggalkan Kapela St. Fransiskus dengan wajah yang memerah. Ketika rombongan itu pergi, para warga dari setiap kampung terus bersorak riang. Hari itu Tuhan ada bersama mereka.
Namun, beberapa hari kemudian, perasaan bahagia itu serentak menghilang. Rumah Bapa Domi yang letaknya dekat dengan Kapela St. Fransiskus itu hangus terbakar. Bapa Domi dan keluarganya ditemukan tewas. Penyebab kebakaran itu tidak diketahui dengan jelas.
Sejak saat itu, para warga terus membisu. Di dalam kepala setiap orang terus berpikir apakah mereka terus berteriak atau harus diam. Apakah mereka harus melawan atau segera menyerah. Kejadian-kejadian itu membuat mereka sadar bahwa suara-suara mereka akan segera terkubur. ***
.
Catatan:
– Cerpen ini adalah sambungan dari cerpen “Ratapan dari Hutan Poco Leok” yang tayang di Tempo pada 19 April 2025.
– Tu’a Gendang: kepala rumah adat orang Manggarai
.