Teror

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 03 Agustus 2025)

AKU cabut dari kantor dengan kepala terbakar. Tak ada yang berani menegurku meskipun aku sudah ngacir 2 jam sebelum jam tutup kantor. Mereka tahu aku marah. Kecewa. Frustrasi. Keki.

Dalam rapat dadakan, karena majalah kami ditegur penguasa akibat kebablasan satu kata yang dianggap melanggar SARA.

Pimpinan menegurku sadis dalam rapat konsolidasi dadakan bersama semua karyawan. Aku yang menulis artikel itu dianggap nekat mau menjadi pahlawan dengan mengorbankan sumber penghidupan semua karyawan.

Memang, aku yang menulis artikel itu. Tapi, kata laknat itu bukan ideku. Itu droping dari Redaktur Pelaksana yang berwenang memeriksa tulisanku. Dia ada dalam rapat, tapi diam saja. Aku tak mengerti kenapa aku dibiarkan menanggung kesalahan yang bukan dosaku. Dan lebih tak mengerti lagi mengapa aku sendiri tidak berusaha menjelaskan bahwa biang keroknya bukan aku.

Di akhir rapat, aku berharap ada yang mengerti aku hanya korban dalam konflik yang memang sedang memanas dalam perusahaan.

Tapi ternyata nihil. Setelah rapat bubar, tinggal aku sendiri dalam ruang rapat seperti sedang meratapi dosaku.

Akhirnya aku tak kembali ke mejaku. Aku perlu dua gelas kopi late untuk menggasak kekecewaanku. Langsung aku terbang naik gojek ke warung kopi Cafe Jetset.

Robin melambaiku dari tempat kasir sambil menunjuk ke meja pojok di ujung yang sudah seperti milikku. Aku mengacungkan dua jari.

Dia tertawa sambil mengangkat terbalik jempolnya. Itu bahasa tubuh kami, bahwa aku lagi suntuk tak mau ngobrol dan menolak diganggu.

Tapi sial. Tempatku ngumpet itu sudah ditongkrongi pelanggan. Padahal meja lain masih banyak yang kosong.

Kalau lagi sial memang suka merembet. Biasanya aku suka menghindar kalau kena hambatan beruntun. Tapi, karena terlalu marah, aku ogah menyerah. Lalu aku duduk saja di meja sebelahnya sambil mendengarkan ocehan dari medsos lewat HP yang volumenya aku umbar berisik.

Berhasil. Orang itu menoleh. Tapi heran, meskipun dia mengerti aku sedang mengusirnya, dia tampak bersahabat. Bahkan minta maaf.

“Maaf, tadi, Pak Robin sudah bilang Anda sudah booking meja ini. Maaf saya hanya perlu duduk sebentar menenangkan pikiran sebelum pulang. Ini memang tempat yang pas sekali untuk membuat kita tidak remuk dan kehilangan akal sehat di metropolitan ini.”

Suaranya begitu bersahabat, seakan teman lama. Aku langsung pindah duduk mendekat meja sekalian agar dia mau cepat-cepat pergi. Sebab, dia pasti penasaran, kenapa aku tak menyerah diumpan dengan kesantunannya yang memang sudah jarang aku rasakan sejak masuk Jakarta.

Dia mengerti bahasa tubuhku, lalu mengemasi tasnya. Mencoba sopan, aku basa-basi menenangkannya.

“Tak apa, Pak, kalau belum rampung. Saya bisa duduk di sana….”

“O, jangan. Saya sudah selesai. Saya hanya perlu satu kata.”

Aku heran.

“Satu kata?”

“Ya, satu kata. Dan itu sudah ketemu.”

“Kata apa, Pak?”

“Mengalah itu, bukan kalah! Bukan kalah! Ya, nggak?!”

Aku heran. Tapi, ketika ia seperti mau duduk lagi, aku langsung mencegahnya.

“Setuju!”

Tapi, dia seperti tidak mendengar jawabanku, lalu memberikan argumentasi yang tampaknya akan panjang sekali sehingga dia harus duduk kembali. Aku terpaksa bertindak untuk menghindari lanjutan khotbahnya.

“Betul, Pak! Setuju! Orang yang mau menang baru puas kalau kita kalah. Kita mengalah pun dia sudah cukup puas, padahal orang mengalah itulah sebenarnya pemenangnya!”

Orang itu terkejut dan berteriak kegirangan.

“Yes! Minta maaf kepada orang yang seharusnya minta maaf kepada kita, itu! Itu bukan saja kemenangan hebat, tapi juga luar biasa indah!!”

Dia meraih kembali tasnya yang semula sudah diletakkan, lalu menjabat tanganku. Mengguncangnya keras, seperti menemukan orang yang mendukungnya, lalu bergegas pergi.

“Kok ngelamun, Bung!”

Robin muncul dengan senyum lebar.

“Mana late gua?!”

“Merek yang Ente doyan nanggung lagi diambilin. Ngelamun saja dulu, nunggu kan nambah nafsu.”

“Ah, lu dasar amatiran, gimana mau bersaing sama Starbucks? Itu, si Oom yang tadi nyerobot singgasana gua siapa, sih? Penasaran gua!”

Robin bingung.

“Si Oom yang mana? Nggak ada siapa-siapa, kok!”

Aku lihat di jalan orang itu mengejar bus. Aku tinggalkan Robin karena orang itu seperti … terlambat … dia kabur bersama bus.

Tapi, di pinggir jalan merapat mobil Bos, Pemimpin Redaksiku. Dia membunyikan klakson memanggilku.

Aku terpaksa menghampiri.

“Sore, Bos.”

Dia tak menjawab, tapi memberi isyarat supaya aku masuk.

“Mau ngopi, Bos?”

“Cari kamu. Mereka bilang kamu pasti di sini!”

“Ya. Yang punya kafe teman sekelas saya dulu. Ada apa, Bos?”

“Mereka semua bilang kamu mau resign! Betul?”

“Siapa mereka?”

“Semua yang tadi ikut rapat. Betul?”

Aku tak menjawab.

“Betul?”

“Menurut Bos, bagaimana?”

“Yang penting pendapatmu bukan opiniku. Betul kamu mau resign?”

“Tidak.”

“Bagus! Jadi kamu mengerti?”

“Tidak.”

Dia terkejut

Lho! Jadi kamu tak ngerti?!”

O, my God! Dia saja langsung nulis surat. Belum dibuka sudah kebaca isinya mau resign.”

Aku menghela napas.

“Oke, sekarang saya ngerti.”

Thanks kalau kamu mengerti. Aku tidak sampai hati mempermalukan orangtua yang pernah dapat penghargaan Adinegoro di depan seluruh karyawan. Tapi, aku juga tidak bisa tidak menyerang balik terornya yang nyaris membuat kita semua kehilangan nafkah. Dan kamu dengan akting kamu yang sama sekali tak berkutik sudah bikin ideku jadi berjalan mulus! Ayo kita ngopi di Starbucks! Masak di tempat koboi gembel begini!”

Aku bengong, bingung.

Untung Robin muncul langsung menyodorkan dua kopi late, sambil mengundang masuk.

“Silakan masuk, Bos, sebuah kehormatan bagi Jetset dikunjungi kandidat pemenang hadiah Pulitzer mau singgah.”

Bos hanya nyengir, sadar dia menghadapi orang gelo. Lalu menawarkan mengantarku pulang. Tapi aku menolak dengan sopan.

“Maaf, Bos, kebetulan saya lagi ada ribet dengan Ana.”

“Ribet apa?”

“Tadi pagi waktu mau berangkat ke kantor, HP saya hilang. Ternyata sejak semalam disandera Ana.”

“Katanya ada WA misterius dari yang mengaku bernama Carla.  Ia mengatakan janin yang ada dalam perutnya adalah anak saya. Dia bilang tidak mau menuntut asal saya tahu saja.”

“Tapi itu betul-tidak, siapa tahu…?”

Robin mau ngorek lebih jauh, tapi aku diam saja. Bos janji kalau ada yang bisa dibantu dia siap, asal jangan resign. Robin mengedipkan sebelah matanya, tapi aku pura-pura tak lihat.

Begitulah akhirnya aku tenggelam di Jetset sampai malam. Robin menghujaniku dengan berbagai saran gila. Tapi aku tak peduli.

Tiba-tiba, aku ingat apa kata si Oom yang menduduki kursiku.

“Minta maaf kepada orang yang seharusnya minta maaf kepada kita, itu! Itu bukan saja kemenangan hebat, tapi juga luar biasa indah!!”

Robin terkejut.

“Siapa?”

“Oom yang tadi membajak kursimu. Ini.”

Ngarang! Itu kan nasihat gue buat elu sendiri yang terlalu konsen ke kerjaan, bisa-bisa elu ditinggal Si Ana, dasar elu lagi konslet, makanya cepetan pulang, kan Si Doi lagi happy wedding day….”

Aku tak mau digilas ocehan Robin. Sampai dia mengaku dialah yang menulis WA dengan nama Carla itu dengan maksud hanya bercanda. Tapi, aku tak peduli. Akhirnya, dengan garang, dia memintaku pulang, sambil mengancam, kalau bandel, dia akan lapor pada petugas keamanan. Baru aku ketawa dan sadar sudah hampir tengah malam. Lalu pulang.

Begitulah akhirnya aku di sini sekarang.

Aku gembira lampu rumah menyala. Itu tanda kamu ada. Aku membuka pintu depan yang tertutup, tapi tak terkunci, sehingga langkahku ringan masuk.

Dengan terharu aku lihat kamu terlena ketiduran di sofa dengan kostum siap keluar rumah. Itu tiba-tiba membuatku merasa bersalah. Apa salahnya kamu yang sudah banyak berkorban, marah? Itu, kan, sangat normal.

Lalu aku duduk di lantai, di dekat kakimu, sambil perlahan melepas sepatumu.

“Maafkan aku, tadi pagi buru-buru pergi sebelum kita tuntas bicara. Tapi, itu bukan karena mau menang sendiri atau menggantung persoalan. Bukan. Tapi karena urusan di kantor memang gawat. Aku dijadikan kambing hitam. Tapi akhirnya beres. Aku mungkin akan menggantikan fungsi Redaktur Pelaksana yang mendadak mundur. Itu berarti kita akan punya mobil. Tapi, hadiah untuk HWD kita bukan itu. Hadiah HWD kita adalah pengakuan dari Robin. WA fitnah itu adalah hadiah ultah buat pernikahan kita yang dia tulis karena percaya setelah berantem kemesraan kita akan meledak. Jadi….”

“Bohong!”

Aku terkejut. Ternyata Ana sudah bangun,

“Si Robin Hood sialan kamu itu pembohong!”

“Ana! Si Robin memang gila, tapi dia hanya supaya kita tetap tidak kehilangan, kehilangan kemesraan, biar sudah 10 tahun belum ada buntutnya. Karena dia yakin setelah bertengkar kita akan baik seribu kali lebih mesra.”

“Bohong! Bohong! Kamu kok mau saja dikibulin!”

Dikibulin apa?”

“Si Robin bukan Carla.”

“Memang, tapi WA dari Carla itu Robin yang tulis untuk memancing kemesraan kita.  Kamu sendiri, kan, ada, waktu dia ngomong begitu di rumah kita ini waktu baru pindahan. Ya, kan?”

“Tidak! T-i-d-a-k!”

“Apa yang tidak?”

“Si Robin gelo bukan Carla!!”

Aku mulai senewen.

“Kalau bukan, menurut kamu siapa? Kamu mencurigai siapa? Kamu mau menuduh siapa?”

Ana terdiam. Aku mulai marah. Tapi kemudian Ana meraih tanganku dan meletakkan di perutnya.

“Aku.” ***

.

.

Astya Puri 2, 140725

Putu Wijaya, lahir 11 April 1944 di Puri Anom Tabanan, Bali. Wartawan/Redaksi Tempo, penulis, sutradara film dan teater. Doktor honoris causa dari ISI Yogyakarta. Menulis 40 novel, 50 lakon, 100 monolog, sekitar 1.000 cerpen. Penghargaan dari negara, FFI, DKJ, IKJ, koran, SEA Write Award, Fullbright, Habibie Award, Ubud Writers and Reader Festival, dan lain-lain. Mendirikan Teater Mandiri sejak 1971.

Yuswantoro Adi, pelukis kelahiran Semarang, 11 November 1966. Tinggal di Yogyakarta. Selain melukis, juga menulis dan mengajar.

.
.
Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. Teror. 
Arsip Cerpen di Indonesia