Cerpen A Warits Rovi (Koran Tempo, 09 Agustus 2025)
JIKA sudah pegang mikrofon dan berpidato, Suring, Kepala Desa Suruni, sering ditertawakan banyak orang. Apalagi ketika rapat di pendopo kecamatan, kepala desa lain akan terus tertawa, terbahak-bahak, bagai menemukan hiburan gratis dari seorang komedian. Tak jarang hingga ada yang harus menekan perutnya karena sakit—saking asyiknya menertawakan Suring. Bahkan ada yang sampai menutup telinga demi tak lagi mendengar pidato lucunya, bukan karena tak suka, tapi karena sudah tak sanggup lagi untuk tertawa.
Warga Desa Suruni tak tersinggung jika disebut-sebut punya kepala desa idiot, bahkan sebaliknya—mereka bangga. Karena mereka memang mengimpikan punya kepala desa idiot, walau sebenarnya Suring itu hanyalah orang polos. Tak cukup syarat untuk disebut idiot karena ia masih bisa membaca dan menulis, meski tulisannya kocar-kacir, mirip potongan mi keriting bertebar jatuh di datar lantai.
Nyaris semua yang berhubungan dengan Suring akan membuat orang tertawa. Jangankan orangnya, tanda tangannya saja lucu; berupa garis tegak vertikal, lalu di ujungnya dioret lingkaran semioval, sehingga mirip raket bulu tangkis. Setiap orang yang melihat, pikirannya pasti menyimpulkan tanda tangan itu adalah gambar raket.
Tapi saat iseng ditanyakan oleh seorang anggota BPD, Suring menjawab bahwa tanda tangan dirinya itu adalah gambar permen kesukaannya, permen bertangkai sedotan padat yang biasanya membuat lidah jadi berwarna. Biru atau merah. Kata Suring, permen itulah dulu yang memotivasi dirinya untuk tetap bersekolah walau nilai rapornya jelek dan 5 kali tak naik kelas.
“Andai tidak karena ingin beli permen itu, aku pasti putus sekolah. Beruntung ada permen itu, sehingga aku tetap sekolah, punya ijazah, dan jadi kepala desa, hahaha,” tutur Suring suatu ketika.
Setiap kali berpidato, tema pokoknya biasanya hanya beberapa kalimat. Selebihnya, dia selalu bercerita tentang kucing kesayangannya: Si Momo. “Daripada beternak tikus, lebih baik beternak kucing, biarkan kucing membunuh tikus, karena tikus merugikan.” Kata-kata itu yang sering ia lontarkan.
***
SURING menjadi kepala desa berangkat dari impian warga sepuluh tahun lalu. Saat itu, hampir semua warga Desa Suruni bermimpi agar punya kepala desa idiot, tepatnya yang polos tapi jujur. Itu semua jadi impian unik dan sudah patut ditertawakan—karena tak lazim ada warga yang menginginkan punya pemimpin yang polos ala anak-anak.
Tapi, bagi warga Desa Suruni, hal itu justru menjadi alternatif yang paling tepat, sebab mereka telah merasakan pahitnya hidup selama dua puluh tahun dipimpin oleh kepala desa yang korup dan diktator bernama Sahmo.
Tak ada bantuan yang sampai ke warga, kecuali hanya beras jelek 2 kilogram per orang tiap tiga bulan sekali, yang diberikan langsung oleh Sahmo. Targetnya hanya demi difoto bersama si penerima bantuan dengan beberapa kali jepretan, lalu disebar, seolah-olah ia pejuang bantuan rakyat, padahal sebagian besar bantuan dikorup dengan liar.
Jalan kampung tak terurus. Aspalnya kocar-kacir, bahkan sebagian dibiarkan berlubang. Saat hujan turun, jalan berlubang itu otomatis jadi kolam dadakan, tempat anak-anak mandi atau melarung perahu mainan. Saluran irigasi pertanian diabaikan. Selokan yang biasanya mengalirkan air ke sawah-sawah jadi kering, hingga pertanian banyak yang gagal panen.
Saat tiba malam hari, warga tidak bisa tidur nyenyak. Hewan ternak jadi sasaran para maling. Hampir setiap malam selalu ada peristiwa pencurian. Saat warga melapor, Sahmo tenang-tenang saja, bahkan ia menyalahkan warga.
“Yang salah bukan malingnya, tapi kalian sebagai warga kurang kompak dan waspada. Jika tidak mau kehilangan barang dan sapi lagi, ya biasakan untuk tidak tidur di malam hari,” ucapnya, seperti tanpa salah.
***
GERAKAN warga Suruni untuk mencalonkan Suring dipimpin oleh Kiai Bahar dan sejumlah tokoh lain yang peduli nasib rakyat. Patokannya hanya satu: Bersatu, tolak uang politik demi perubahan. Awal mula gerakan itu berjalan, mereka yang tidak mendukung Sahmo akan mendapat ancaman dan bahkan siksaan, tapi warga terlampau teguh dalam persatuan. Mereka sudah seperti satu tubuh yang selama ini dipermainkan dalam penjara ketidaknyamanan sehingga, ketika ada yang disiksa, warga yang lain kompak membantu untuk melawan.
Pengikut Sahmo hanya segelintir orang: sekadar mereka yang sebelumnya punya jabatan, didukung oleh keluarganya, namun sebagian ada yang anggota keluarganya diam-diam berpihak kepada Kiai Bahar.
“TOLAK UANG POLITIK. KITA LEBIH BANGGA PUNYA KEPALA DESA IDIOT TAPI JUJUR, DARIPADA KEPALA DESA YANG JAHAT DAN KORUPTOR.”
Begitulah bunyi baliho di beberapa titik di Desa Suruni. Baliho-baliho itu biasanya cepat hilang, tidak sampai 24 jam dari pemasangan, tapi warga menggantinya lagi. Setiap kali baliho hilang, warga akan menggantinya dengan ukuran yang lebih besar, seolah-olah menantang siapa pun bahwa mereka waktunya melawan dan mengubah nasib melalui pergantian kepala desa.
Selain baliho penolakan, baliho pencalonan Suring juga dipampang di mana-mana. Dengan foto memakai baju koko dan peci putih, Suring berpose tersenyum, terlihat gagah walau kepolosannya tetap tampak.
“Mengapa warga desa ini mengusung Suring jadi calon kepala desa? Apa warga desa ini sudah sinting?”
“Warga di desa ini memang sangat goblok. Mana mungkin orang idiot macam Suring menang jadi kepala desa.”
“Kalaupun menang, mana mungkin Suring bisa memimpin desa.”
“Hahaha.”
Obrolan tim sukses Sahmo terdengar ramai di warung-warung kopi yang ada di desa itu, bahkan di setiap kali ada orang ngumpul, mereka mengejek dan memprovokasi pendukung Suring. Saat seleksi pencalonan, mereka berusaha meyakinkan panitia bahwa Suring tak layak jadi calon karena ia idiot, tapi panitia tetap mengecek secara adil. Suring sehat rohani dan jasmani, ia pun bisa membaca dan menulis. Maka, ia tetap dinyatakan sah sebagai calon kepala desa.
***
SETELAH penghitungan surat suara selesai, Suring menangis, meraung-raung, mirip anak kecil yang kehilangan mainan. Ia haru dengan kemenangannya. Ia sendiri tak percaya bahwa dirinya akan menang, sebab modal yang dikeluarkan hanyalah 3 ekor kambing. Pihak lawan sangat terkejut, tak percaya juga karena orang yang selama ini disebut-sebut idiot ternyata benar-benar terpilih sebagai kepala desa.
Kepala desa terpilih biasanya harus menyembelih sapi dan warga makan-makan di rumahnya. Tapi Suring beda. Oleh pendukungnya, Suring malah ditraktir berbagai macam makanan di alun-alun desa. Hampir sehari semalam warga berduyun-duyun datang mengantar makanan dan aneka barang sebagai bentuk ucapan selamat. Air mata Suring kian tak terbendung.
Sebagai orang polos—yang jarang berkenalan dengan kehidupan global—sebagai langkah awal pemerintahannya, Suring menganjurkan warga untuk membeli produk lokal. Ia juga menganjurkan warganya agar melakukan transaksi jual-beli hanya dalam desa, tidak boleh beli ke luar desa, kecuali untuk hal-hal yang memang tidak ada di desanya.
“Ini semua kulakukan agar uang kita juga berputar di desa ini, tidak lari ke luar, sehingga kita bisa kaya bersama-sama,” ujar Suring dengan polosnya, saat ia memberi sambutan di depan warga, masih dengan tubuh yang tegang dan suara gemetar, sebelum akhirnya ia hanya bercerita panjang lebar tentang kucingnya Si Momo dan tak bosan dengan pesan terakhir yang sering diulang-ulang. “Lebih baik kalian pelihara kucing, jangan pelihara tikus,” tuturnya.
Setiap kali ada bantuan, Suring langsung memberikan sendiri kepada si penerima dalam keadaan utuh tanpa dipotong sedikit pun dan tanpa harus difoto-foto. Keuangan desa dihitung secara terbuka di balai dengan mengundang perwakilan warga. Tindakannya yang polos itu sontak membuat banyak orang tertawa, tapi diam-diam mereka juga kagum, karena di balik kepolosan itu, ia sebenarnya—walau tanpa disadari—juga membangun transparasi yang bermutu.
Tak butuh waktu setahun, Desa Suruni dinobatkan sebagai desa paling transparan dalam pengelolaan keuangan dan desa termaju dalam menggerakkan produk lokal. Suring mendapat penghargaan langsung dari bupati saat upacara kemerdekaan.
Saat Suring maju ke pentas untuk menerima piagam, semua orang bertepuk tangan. Suring pun ikut bertepuk tangan walau dalam pikirannya ia masih kurang paham pada jenis prestasi yang diraihnya.
Selain capaian itu, hal unik lain dari Suring adalah tak mau desanya didekati—apalagi dicaplok—desa lain. Saat ada indikasi pencaplokan, biasanya dengan kepolosannya ia langsung mengundang bupati ke lahan itu. Bupati yang sudah lama kenal Suring tentu saja tertawa lucu. Tapi tak setiap ungkapan Suring lucu belaka, di balik itu semua, ia juga menyimpan kebenaran yang polos, sehingga urusan pencaplokan desa bisa langsung teratasi.
Dua tahun di bawah kepemimpinan Suring, banyak perubahan yang terjadi di Desa Suruni. Warganya mulai merasakan banyak kenyamanan sekaligus keamanan. Jalan banyak yang diaspal. Saluran irigasi terbangun dengan baik, hasil panen melimpah.
Yang pegawai harus membeli hasil panen langsung ke petani. Harga belinya lebih murah daripada pasar yang ada di kecamatan, tapi bagi petani harga jual itu lebih mahal daripada dibeli tengkulak. Sehingga keduanya sama-sama merasa puas dan untung.
Uang banyak yang berputar dalam desa. Ekonomi warga perlahan membaik. Malam hari, warga sudah enak tidur karena sudah tak ada maling sejak Suring menggaji khusus tim keamanan.
Suring mulai tersohor ke berbagai daerah. Banyak media—baik cetak maupun daring—yang meliputnya dengan berita yang kalimatnya nyaris sama: Kepala Desa Idiot, Berhasil Membangun Desa.
Oleh Kiai Bahar, berita-berita itu disampaikan kepada Suring melalui layar HP. Suring mengangguk-angguk seraya tersenyum, meski di benaknya tak paham arti kata idiot.
“O iya, Kiai. Itu saya kok disebut idiot. Idiot itu apa artinya ya?” tanya Suring spontan, membuat Kiai Bahar sejenak terdiam untuk mencari jawaban yang tepat.
“Idiot itu singkatan dari kalimat: ide dan inspirasinya oke terus,” ujar Kiai Bahar sambil tersenyum.
“O begitu, hehe. Alhamdulillah saya disebut idiot,” kata Suring semringah. Wajahnya berseri-seri. ***
.
.