Minum Teh Sebelum Mati

Cerpen Moehammad Abdoe (Kompas, 10 Agustus 2025)

SAYA tidak tahu pasti kapan pertama kali berpikir bahwa pria itu akan mati. Tapi saya ingat hari ketika ia memutuskan untuk hidup dua kali. Namanya: Tuan K. Nama lengkapnya—atau yang tercatat di lembar negara—adalah Karsena Yudhatama, seorang anggota dewan dari partai yang warnanya seperti darah encer.

Tuan K tak pernah minum kopi. Ia percaya teh adalah satu-satunya cara untuk memahami manusia. “Karena teh tidak pernah memaksa. Ia pelan, pahit, dan membutuhkan waktu. Seperti politik.” Begitu katanya sambil mengaduk-aduk udara dengan sendok perak.

Saya sekretaris pribadinya. Biasa saja, sebenarnya. Tidak seperti yang kalian pikir: saya tidak simpan pistol di laci, tidak menguntit istri orang, tidak tahu sandi-sandi gelap itu—setidaknya sampai satu malam, ketika Tuan K menyuruh saya mengantarnya ke rumah seseorang yang tak disebutkan dalam agenda. Mobil hitam tanpa pelat, jalanan Senayan setelah hujan, dan aroma ganjil dari jaket kulit yang ia pakai—aroma seperti arsip yang disimpan terlalu lama.

“Jangan catat alamat ini,” katanya tanpa menoleh. “Dan kalau besok saya tidak datang ke rapat komisi, kamu tahu harus bicara apa.”

Saya tertawa gugup. Dia tidak.

Kami berhenti di sebuah rumah tua di belakang Museum Tekstil. Saya menunggu di dalam mobil, menatap kaca spion seperti wartawan tabloid. Tuan K turun dan mengetuk pintu tiga kali. Seseorang membukakan dan saya hanya melihat siluet perempuan. Rambutnya merah tembaga. Tidak seperti politisi—lebih seperti lukisan mahal yang terlalu lama dipajang di ruang tamu yang salah.

Tuan K menghilang ke dalam. Sepuluh menit. Dua puluh. Saya mulai menghitung deret Fibonacci untuk melawan rasa gelisah.

Ketika dia keluar, wajahnya tak berubah. Tapi tangannya menggenggam sesuatu di saku. Sesuatu yang membuat kemejanya menggelembung aneh.

Di mobil, dia hanya bilang, “Mulai sekarang, kita harus main lebih dalam.”

Saya tak bertanya. Sekretaris yang baik tidak bertanya. Sekretaris yang masih ingin hidup juga tidak.

Dua hari kemudian, seorang anggota dewan dari partai lain, Tuan Sardjono, ditemukan tewas di kamar hotel. Overdosis. Media menulisnya sebagai tragedi pribadi. Tapi saya tahu, Tuan K tidak pernah percaya pada tragedi pribadi di tahun pemilu.

Satu-satunya hal yang membuat saya ragu: senyum di bibir mayat itu.

Kematian berikutnya datang seolah menyusul janji temu. Seorang staf ahli, seorang pengusaha tua yang berkali-kali muncul dalam dokumen LHKPN, dan bahkan seorang sopir dinas yang terlalu banyak mendengar percakapan. Semua dengan pola yang berbeda. Semua tampak alami. Tapi satu benang merah: mereka semua, setidaknya sekali, pernah menolak tawaran Tuan K.

Saya tidak menyangka akan sampai pada titik ini: menyimpan lembar-lembar catatan kematian di folder terenkripsi. Merekam percakapan-percakapan yang seharusnya tidak saya dengar. Tapi Tuan K seperti memercayai saya lebih dari seharusnya. Atau mungkin, ia tahu saya terlalu takut untuk berkhianat.

Lalu datang malam yang mengubah segalanya.

“Kamu tahu, mereka sudah mulai gelisah,” katanya sambil menuang teh melati ke cangkir porselen. “Bahkan Kinasih mulai bertanya-tanya.”

Saya diam. Kinasih adalah istri Tuan K. Dulu aktivis, sekarang selebgram spiritual.

“Kamu pernah dengar tentang Teorema Kepatuhan?” tanyanya tiba-tiba.

Saya geleng.

“Semakin sering seseorang mengangguk, semakin sedikit ia memahami apa yang sebenarnya terjadi.” Ia menatap saya. “Dan kamu sering mengangguk.”

Saya ingin tertawa, tapi suara saya tercekat.

“Tapi tidak apa-apa,” lanjutnya. “Orang yang terlalu banyak paham akan sulit untuk dibunuh secara halus.”

Itu kalimat yang tidak seharusnya saya dengar. Tapi saya sudah mendengar banyak kalimat semacam itu.

Termasuk rencana malam itu.

Namanya ada di daftar: Ganendra Arta Lelana. Mantan jenderal. Kini jadi kepala lembaga audit negara. Pria yang terlalu banyak tahu tentang dana-dana taktis yang melintasi meja Tuan K. Rencana pembunuhannya—jika memang bisa disebut begitu—akan disamarkan sebagai kecelakaan kendaraan. Saya diminta untuk mengatur semua “seolah-olah”. Saya sempat bertanya, “Kenapa saya?”

Dia menjawab: “Karena kamu belum belajar bagaimana caranya jadi penonton di sirkus ini.”

Itu pujian atau ancaman? Saya tidak tahu.

Saya hanya tahu malam itu, saya ikut dalam mobil Tuan K lagi, melewati jalan sepi menuju Cibubur. Dalam remang interior mobil, saya melihatnya membaca catatan kecil. Seperti mantra. Seperti kutukan.

“Kalau aku mati besok,” katanya tiba-tiba, “kamu harus selesaikan ini.”

Saya tidak menjawab.

Ternyata, dalam banyak hal, saya telah dilatih untuk membunuh, hanya tanpa pelatihan militer. Saya menata skenario, menyuap saksi, menulis ulang kronologi, dan menghapus CCTV seolah saya hanya mengatur rapat tahunan. Politik ternyata tak jauh beda dengan logistik konser musik.

Tapi seperti semua drama yang ditulis terburu-buru, ada aktor yang lupa perannya.

Malam itu, mobil yang seharusnya ditabrak dari arah kanan justru menabrak dari kiri. Tuan K yang duduk di sisi itu meninggal seketika. Ganendra hanya luka ringan.

Media menulisnya sebagai kecelakaan. Para simpatisan menyalakan lilin di halaman gedung dewan. Saya duduk di pojok kamar, memutar ulang percakapan terakhir kami, mencoba membaca ulang setiap intonasi, mencari: apakah ia tahu? Apakah semua ini rencana terakhirnya?

Lalu, saya teringat sesuatu. Rumah tua di belakang Museum Tekstil. Saya kembali ke sana dua hari setelah pemakaman. Kali ini, sendirian.

Perempuan berambut tembaga menyambut saya seolah sudah tahu saya akan datang. Di mejanya, ada teko teh. Aroma yang sama. Melati.

“Saya sudah menunggu,” katanya. “Tuan K bilang kamu mungkin datang.”

“Siapa kamu?” suara saya serak.

“Saya yang memberinya pilihan kedua.”

Dia menyodorkan sebuah amplop. Di dalamnya: daftar nama. Tiga puluh dua nama. Beberapa sudah dicoret.

“Satu lagi belum diselesaikan,” katanya. “Tuan K percaya kamu bisa.”

Saya menatap daftar itu. Di baris terbawah: nama saya sendiri.

Saya tidak tahu bagaimana cerita ini berakhir. Mungkin saya akan hidup cukup lama untuk menulisnya sendiri. Mungkin seseorang akan membacakan ini sebagai kesaksian dalam ruang pengadilan yang sunyi. Mungkin tak ada yang percaya.

Tapi saya tahu satu hal: teh terakhir yang saya minum dari cangkir porselen itu terasa berbeda. Lebih pahit. Lebih sunyi. Dan untuk pertama kalinya, saya mulai mengerti kenapa Tuan K memilih teh, bukan kopi.

Karena teh memberi waktu. Tapi juga menyimpan racun paling pelan. ***

.

.

Malang, 19 Mei 2025

Moehammad Abdoe, lahir di Malang, pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka, penikmat film, sejarah, dan sastra. Karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di sejumlah surat kabar dan majalah nasional.

Isa Perkasa, kelahiran Majalengka, 1964, adalah seniman grafis lulusan FSRD ITB. Aktif berkarya dan berpameran di Jepang, Amerika, Eropa, hingga Asia Tenggara, ia kini menjabat sebagai Ketua Institut Drawing Bandung. Karyanya dikenal kritis dan reflektif, meraih sejumlah penghargaan seni bergengsi, antara lain lima besar (juror’s choice) Philip Morris ASEAN Art Awards di Hanoi, Vietnam, pada 1998.

.
.
Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati. Minum Teh Sebelum Mati
Arsip Cerpen di Indonesia