BELAKANGAN ini Abu rajin mengaso di pelataran pendopo demi menyaksikan Syekh dan lusinan anjingnya berlalu. Sang Syekh sendiri, selepas membaca kitab bersama ratusan santri sekitar pukul sebelas malam, baru keluar dari pendopo menuju pondoknya. Ia sudah dinanti oleh kedua belas anjingnya yang setia, juga dinanti oleh puluhan santri yang tak kalah setia. Bagi Abu, melihat Syekh ibarat menyaksikan terang rembulan. Ada rasa takjub, ada rasa ganjil yang tak bisa ia ungkapkan.
Abu bersyukur pernah meraih punggung jemari sang Syekh. Belasan purnama yang lalu, ketika ia dan para santri lain ditugaskan mengambil air sungai karena sumur pendopo tiba-tiba saja kering. Ia berpapasan dengan Syekh dan anjing-anjingnya saat ia sedang memanggul bejana menuju pendopo. Sebuah pengalaman langka yang terbilang oleh jari. Sama langkanya dengan kejadian sumur yang tiba-tiba kering. Bersama kedua belas anjingnya, Syekh berdiri di tepi sungai dan memerintahkan kedua belas anjingnya meminum air sungai itu.
Setelah mereka selesai mengokop air sungai, Syekh meminta salah seorang santri menggayungi air ke dalam bejana, membawanya ke pendopo, lalu menuangkannya ke dalam sumur yang kering. Sisanya adalah keajaiban. Air sumur pendopo perlahan naik, membubung, dan meluber hingga ke permukaan. Para santri berjingkrak, tugas melelahkan telah selesai. Namun sisanya, seperti Abu, hanya memandang Syekh dari kejauhan dengan rasa hormat yang meletup-letup di dada mereka. Tak ada yang lebih membahagiakan Abu ketika ia mengingatnya.
Lelaki paruh baya dengan janggut dan cambang yang lebat itu datang dari seberang laut. Konon, ia adalah utusan sultan dari timur jauh yang diberi mandat menyebarkan kebajikan dan keajaiban ke negeri bawah angin. Syekh sempat meladeni lusinan penyamun sebelum berada di kampung tempat Abu tinggal. Syekh sampai di pondok beberapa saat sebelum kalibut antara petani, penyamun, dan para pamong terjadi di kampung.
Dan anjing-anjing itu tak lain para gembong penyamun yang telah Syekh taklukkan. Mereka dihukum Tuhan, yang keajaibannya diperantarai Syekh untuk menjadi anjing. Mereka melindungi sekaligus melayani Syekh di mana pun ia berada; ke mana pun kakinya hendak melangkah. Tak ada satu pun yang berani menyentuh kedua belas anjing itu. Seolah-olah para anjing peliharaan Syekh mempunyai kedudukan yang istimewa melebihi anjing kampung lain. Hal itu tampak dari perangai mereka. Tak pernah menyalak, tak pernah mengais sampah, dan tak satu pun tali kekang menjuntai di leher mereka.
Abu mempercayainya. Tapi ia juga membayangkan, jangan-jangan anjing bekas manusia yang semasa hidupnya merugikan itu jauh lebih baik tinimbang manusia bekas anjing yang sifat liar hewaninya masih tertanam dalam tubuh. Mereka senantiasa buas, berahi, dan lapar. Abu membatin, bila kelak mati, apakah aku akan menjadi anjing? Ia ingin bertanya kepada Syekh gerangan apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya, juga pada anjing-anjing itu sebelum dan sesudah kematian. Tapi ia tak pernah mendapatkan kesempatan ini. Belasan purnama yang lalu pikiran semacam itu belum lagi bertunas di kepalanya.
“Mereka tidak menggigitmu?” tanya Abu.
“Tidak, mereka anjing yang baik.”
“Air liur mereka?”
“Mereka tidak menjilat kakiku. Mereka tertidur, sisanya duduk-duduk saja dengan ekor yang dikibas-kibas.”
“Syekh melarangmu menyentuh mereka?”
“Ia diam saja, menyaksikanku bermain dengan anjing-anjingnya dari pekarangan pondok.”
Seperti mendapat mangga yang empuk, harum, dan manis yang jatuh dari langit, Abu cengar-cengir. Hanya dengan bersahabat dengan anjing-anjing itu, Abu mungkin bisa mencuri perhatian untuk berada lebih dekat dengan Syekh. Ia harus menghapus segala keraguan tentang anjing-anjing itu, termasuk rasa takutnya. Ia harus menganggap anjing-anjing itu tak lebih dari anak kucing yang lucu. Meski tampang mereka garang dan buas. Tapi dasar Abu, belum sempat beranjak ia malah merasa jeri setelah mendengar cerita lebih lengkap dari Hamid, temannya yang diajak bicara barusan.
“Begini, Abu, Syekh kita sempat dicurigai jagabaya dan para langlang. Syekh datang bersama sebelas ekor anjing dan satu regu langlang menahan mereka semua di pendopo. Anjing-anjing itu haram, liar, dan membahayakan anak kecil. Kejadiannya begitu cepat. Ada hal yang membuat kaget dari penahanan itu. Syekh tanggalkan segala macam barang bawaan hingga benar-benar tak lagi tersisa satu helai pun di tubuhnya. Ia telanjang bulat di hadapan jagabaya dan langlang. Anjing-anjingnya menyalak dan melolong. Padahal tanah masih terang, dan para pamong itu pun tak memintanya untuk melucuti pakaian. Konon, satu hal lagi yang membuat rahang mereka mengeras yakni ketika menyaksikan tubuh Syekh. Mereka tak menyangka, dari balik kain putih kumal yang dikenakan Syekh, dari rambut kelabu yang dikuncirnya, dari kerut keriput wajahnya, ternyata otot-otot tubuhnya begitu pagan dan kekar. Nyali para pamong itu surut. Seorang ketua langlang, entah kenapa, menghunus pedangnya yang panjang. Ia berteriak di hadapan Syekh sembari menantangnya duel. Tahu siapa yang memenanginya? Tentu saja Syekh, dengan tangan hampa dan telanjang bulat. Ketua langlang itu dibuatnya seperti bayi yang merengek karena mainannya direnggut paksa. Mula-mula bagian hidung, bibir, dan dagunya berubah menjadi moncong panjang dan taring giginya meruncing. Lalu kaki dan tangannya menciut, kemudian dari sekujur tubuhnya tumbuh bulu-bulu hitam, dan suaranya dari semula berteriak berubah menjadi isak, salak, lolong, dan bisu. Ia menjadi anjing kedua belas Syekh yang berwarna hitam dan setia mengikutinya ke mana pun.”
“Panjang sekali ceritamu,” balas Abu.
“Aku belum mengatakan yang sesungguhnya, Abu.”
“Semua ini karanganmu belaka?”
“Pergilah, temui Syekh jika kau tak percaya.”
Abu dongkol. Hamid segera beranjak dari pondoknya, “Lebih baik aku mencari labu di hutan. Kau keras kepala, Abu!” teriak Hamid dari luar. Perut Abu bertalu-talu. Ia sempat berpikir menemani Hamid mencari labu untuk makan siang. Menyambi mengail ikan pun tak apa, meski membunuh hewan dilarang oleh Syekh, ia akan melakukannya diam-diam di belakang Hamid. Tapi Hamid sialan itu, lelaki jangkung yang umurnya selisih empat kali musim panen padi dengan dirinya selalu mengetahui apapun yang Abu tak ketahui. Tanpa Hamid, dirinya merasa seorang kerdil. Keberadaannya membuat Abu rikuh, seolah-olah sepasang mata selalu mengawasinya. Hamid adalah orang pertama yang membuatnya sadar bahwa ia sebatang kara, “Ayah dan ibumu tewas di tangan langlang yang mengamuk. Hanya karena kesalahpahaman dan salah sasaran. Bila tak ada Syekh, mungkin kau tak akan pernah ada di dunia ini,” katanya suatu hari.
Selain Hamid, semua teman santrinya tak pernah menjahili Abu. Ia tak mendapati perlakuan sebagaimana teman-temannya yang selalu dijadwalkan melakukan bersih-bersih sungai dan pendopo. Ia heran namun semua gurunya selalu menghindar bila berpapasan dengan Abu. Hanya Syekh yang kini menjadi bayangan rimbun di kepalanya. Ia harus berani bertamu ke pondoknya dengan lebih dulu menaklukkan anjing-anjing itu.
***
MALAM terang rembulan. Abu mengetuk pintu pondok Syekh. Purnama bertengger, bulat sempurna di sisi kerlip bintang. Sepoi angin membelai tengkuk Abu. Semua anjing Syekh tampak tertidur pulas. Ramuan obat tidur yang ia racik dan ia taburi ke atas irisan daging dimakan habis tak tersisa oleh mereka. Abu bisa melenggang dengan tenang kemudian mengetuk pintu pondok Syekh secara perlahan. Abu ucapkan salam lirih diikuti ketukan. Namun yang menjawab salamnya hanyalah kerik jangkrik yang semakin nyaring dihantarkan desau angin yang tajam.
Tak ada jawaban. Bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam pondok itu. Ia coba dua ketukan dan salam. Sunyi. Hatinya mengajak mengetuk lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum kembali pulang, sebelum Hamid mengetahuinya.
“Abu,” kata suara di belakang punggung.
Abu pun loncat, matanya membelalak pada sosok yang menjawab salam. Bukan dari dalam rumah, melainkan dari belakang punggungnya. Badannya tiba-tiba membeku dan tak bisa bergerak sama sekali. Ia dikelilingi oleh kedua belas anjing itu, yang semuanya menjulurkan lidah, meneteskan air liur seperti tengah kelaparan. Menyeringai.
“Maafkan saya lancang,” Abu terbata-bata, matanya memerah pedih.
Syekh tertawa. Memegangi perutnya. Tawanya lepas, seperti lolongan anjing ke arah rembulan malam yang kini telah sempurna diselimuti awan gelap.
Perlahan seekor anjing hitam mendekati Abu, kedua matanya tajam menatap Abu yang kakinya terpatri di atas tanah seperti patung. Anjing itu mendengus-dengus dan mengitari Abu. Si anjing lalu menjilati kaki Abu, jilatannya, likat liurnya, berkecipak merdu. Kehabisan napas, air mata Abu pun kadung mengering, ia mengucurkan air seni yang membasahi kedua kakinya hingga ke tanah. Syekh tertawa lepas, tubuhnya berguncang menyaksikan seorang santri di hadapannya itu.
“Ampun, Syekh,” pinta Abu.
“Tenang, Abu,” ujar Syekh.
“Ia mau menggigitku.”
“Ah, tidak, Abu. Ia ayahmu.”
“Ayahku?”
“Ya.”
“Mengapa ayahku kau jadikan anjing?”
“Ia langlang yang buruk, tapi aku tak bisa mencegah keburukannya. Takdir Tuhan tak bisa kucegah. Bahkan setelah menjadi anjing sekalipun.”
“Seburuk apa ayahku yang anjing itu?”
“Ia bakal mengawini nenekmu sendiri, membuat sebuah gunung terbalik lalu meletus. Ketika saat itu tiba, kita tak lagi ada di dunia ini, Abu.”
***
“BANGUN, Abu! Segera masak labu ini. Kau mau kita kelaparan?” bentak Hamid, “Bocah dungu! Kau mengompol!”
Abu tersipu. Dengan muka merah padam dan peluh keringat di sekujur badannya, ia bangkit dan berlari menuju sungai. Ia cemplungkan seluruh tubuhnya, ia basahi seluruh helai rambutnya, dan ia tenggelamkan dirinya sampai ke ujung rambut. Keganjilan itu berubah menjadi kesegaran seketika. Ia merasa Hamid baru saja menyelamatkannya dari mimpi, dan tentu saja ia akan memasak labu yang Hamid dapatkan untuk makan malam.
Tapi, tentu saja tidak malam ini. Abu akan mencobanya malam ini mengetuk pintu pondok Syekh saat rembulan bulat sempurna. Saat desau angin hanya membawa kerik jangkrik di kejauhan. Saat ramuan obat tidur telah selesai ia racik dan taburi di atas irisan daging. “Ayah, aku datang. Aku akan membebaskanmu,” batin Abu. ***
Cerpen ini dimuat di Koran Tempo Online, 16 Agustus 2025.